Suatu hari, senormalnya hidup manusia, se-keinginan seorang Ibu kepada anaknya, semelihatnya orang kepada diri kita, akan terbentuk diri kita yang memanusia, salah satunya, berpasangan. Sayangnya mencari pasangan tidak semudah menjelaskan mengapa hidung saya pesek, lebih tepatnya bagi saya menerima.
Yang mau dicari itu yang seperti apa dan bagaimana. Sementara atau untuk selamanya. Sebagai teman atau bapak dari anak-anak saya. Sebagai perasaan atau hanya sekedar pembicaraan?
Saya tipikal manusia yang memiliki kepekaan yang baik. Saya cuek dan apatis, saya cengeng dan tidak cantik. Saya menyayangi semua orang di sekitar saya, dengan cara saya sendiri. Saya berperasaan dengan sedikit menggunakan pikiran.
Di masa muda sekarang, komitmen adalah bentuk kejalangan. Bullshit. Ngga bisa mengumbar omongan, karenalah sejak awal baiknya kita cukup bersenang-senang. Suatu hari kalau kita jenuh, kita pergi menangisi masing-masing. Kalau rindu, saling memeluk kembali lalu pergi lagi. Menunjukkan kita masih bicara tanpa salah satu di antaranya, agar tida lagi ada luka-luka di antara kita.
Persetan dengan karma, sekarang semua orang di dunia ini mengabaikannya. Saya peduli dan saya membacanya. Saya enggan menyentuhnya, saya hanya ingin menghiburnya dari layu-layu tubuhnya nan ringkih. Saya trauma kepada waktu, saya bosan..
Saya duduk menunggu, dan bosan..
Karena perjalanannya masih panjang, sekalipun saya bosan, saya harus tetap sabar.,
Selasa, 01 November 2011
Ngaco
Langganan:
Postingan (Atom)