Seperti saya menemukan pintu yang lain menuntun saya keluar, keluar dari ketiadaan yang kian memburu saya sebelumnya.Hidup dalam sebuah jarak, jarak yang begitu panjang yang kian menghilang ketika kita mencoba untuk meraihnya. Kita tidak akan tiba kepada ufuk bila kita memberitakannya terus-menerus, dia akan jenuh dan menghindar, dia akan beranjak semakin jauh. Kita tidak akan pernah berhenti.Analoginya adalah kita semua ingin mencapai titik untuk diam dan tiada lagi perjuangan. Tapi hidup tidak lagi lelah untuk memberi riaknya kepada kita, menyampaikan buih untuk kita mencari cara bertahan dan meraih yang lebih. Di mana kita akan sampai kepada bentuk yang tiada pernah ada dalam benak kita sebelumnya dan menyelamatkan kita dari kehidupan yang lampau.Jarak itu berupa masa lalu. Hidup saya yang dulu kian lalu. Ketahuilah, saya bukan yang terbaik. Saya bukan manusia sempurna yang bicara mengenai keseluruhan hidupmu. Saya terbelakang mengenai kedewasaan dan tidak terbiasa sendiri. Begitu banyak kehidupan yang telah saya tempuh, begitu banyak pelosok hati yang saya jamah, begitu banyak percakapan di antara masa-masa yang dulu. Dan, ada dan ketiadaan mereka semua sekarang. Saya, juga bukan penari dengan kostum besarnya di panggung. Saya bukan pemapar keindahan, bahkan jauh dari definisi itu sendiri. Saya begini apa adanya.Ada jarak di antara kita. Perbedaan yang menikung tajam, hati saya dan kamu. Dan ketika kita menemukannya di persimpangan, saya ingin kita tidak lagi menongolkan hasrat kita kepada belakang saya, juga tidak belakangmu. Saya ingin hanya kita yang terpadu, hanya kita yang beradu, ke masa yang akan mendatangi kita.Ada jarak di antara kita, di masa-masa kita berkabung, saat tiada mengenal satu sama lain. Kita terasing dan begitu jauh, hingga kita saling melihat. Saya rasa akan seperti jarak yang membentang, butuh waktu-waktu yang memperbaiki kesemuanya, butuh waktu-waktu yang mendekatkannya. Jarak ini harus kita tempuh berhubung keinginan saya dan kamu yang kali ini menggebu..Keyakinan itu melebihi jarak nantinya, kita harus percaya. Selama saya masih baik bagi kamu. Dan kamu yang baik untuk saya. Kita akan mencapai ufuk bersama, kita tidak akan kemana-mana. Kita menunggu waktu, menghalau mimpi.Teruntuk jarak dan kesemuanya yang saling mengantara saya dan siapapun.
Selasa, 22 Mei 2012
Distance
Berduka sedalam-dalamnya.
Berduka
cita sedalam-dalamnya kepada hasrat menulis saya. Blog saya nganggur dan kosong
melompong, isinya membosankan bin nggak karuan. Saya nggak ngerti gimana lagi
menyusun sebaiknya perkataan dalam pikiran saya menjadi tulisan yang baik lagi
inspiratif. Ya, nggak salah dong kalo saya berharap kelak tulisan saya berguna,
bagi masyarakat kepo maupun bangsa iseng ngga punya kerjaan.
Saya
kan juga bukan penulis professional, sebenernya menulis juga seharusnya
bukanlah menjadi sebuah masalah. Berikut, hasrat yang timbul tenggelam di
kepala saya mengenai karir menulis saya. Sejak kecil, saya bergaul dengan
fantasi, zaman dulu mana udah ada website-website reachable, film disney aja
terbatas. Jadi, ceritanya zaman dulu saya terpaku dengan bacaan untuk mencapai
imajinasi saya, baik yang Ibu selalu belikan, majalah Bobo dari uang tabungan
saya setiap hari, buku-buku di perpustakaan sekolah sampai perpustakaan mobil
keliling, sampai senekat-nekatnya zaman SD saya ke perpustakaan di Koni Pusat
di Tanah Abang sana. Apa pun saya tempuh demi mencapai kepuasan saya mencapai
fantasi tersebut. Sesuatu yang bersifat imajiner dan menginspirasi saya untuk
lebih baik, zaman dulu motivasinya adalah melihat kisah anak-anak lain yang
lebih berhasil eksis dari saya mencapai segala kesenangan, disayang orangtua,
dan menjadi juara. Demikian zaman SD hingga SMP saya.
Suatu
waktu, pertama kali saya mengenal Bahasa Inggris. Waktu itu umur saya masih 8
tahun, sekitar kelas 3 SD, dan mengikuti kursus, tempat kursus pertama
saya namanya OCI, singkatan dari Oxford Course Indonesia, tentor pertama saya
Mrs. Bachtiar. Dia tipikal wanita tua klasik seperti di dongeng-dongeng, dia
mengajarkan saya pertama kalinya lagu Alphabet, Baa-baa black sheep, Uncle
John, sama My Bonnie, lagu-lagu anak-anak bertema ke-Inggris-Inggris-an. Bahkan
dia bercerita banyak tentang dongeng-dongeng anak-anak dalam versi Inggris.
Dari
perkenalan-perkenalan tersebut, selain nilai Bahasa Inggris saya di SDIslam
Al-Abror tercinta jadi paling tinggi, hasrat saya mengenai dunia fiktif pada
saat itu menggebu. Saya berpikir bagaimana bisa membuatnya yang seperti itu
semua. Singkatnya dan konyolnya, saya jadi sering menciptakan lirik lagu
asal-asalan ngebayangin diri saya pada zaman dulu se-kece Audy Item, terus
menulis di tembok, di buku catatan IPA, membuat drama untuk classmeeting di
lapangan, ikut lomba nulis se-Kecamatan, menggambar Bobo yang saya tunjukkan
kepada Ibu dan dia dulu begitu memuji saya. Intinya pada saat itu saya berusaha
menciptakan hal-hal yang saya sukai, sekalipun jauh dari kata bagus sebenernya.
Tapi kalo keinget masa-masa itu, saya miris. Betapa bersemangatnya saya dulu. Kalo
ditanya cita-cita zaman kecil dulu, tiap naik kelas, cita-citanya ganti. Jadi
pelukis, jadi artis, jadi dokter, jadi penyanyi, pramugari, penyiar radio,
wiraswasta, model, hairdresser kaya Ibu, dan jadi penulis. Kolom cita-cita,
selalu saya isi lebih dari satu, menunjukkan ke-BM-an saya. Tapi yang ngga
pernah saya tinggalkan, saya selalu pengen jadi penulis.
Semakin
lama, bacaan saya meningkat. Zaman SMP saya selalu jadi pembaca terbanyak di
angkatan saya, hadiahnya lumayan bok, tiap tahun, ya dapet jam, tas, beasiswa,
buku, dll. Bacaan saya saat itu meningkat jadi semacam teenlite Dealova,
majalahnya jadi Gadis. Kemudian, Tetralogi laskar pelangi memulai zaman SMA
saya, bacaan sastra mulai menggeluti hati saya. Yang kemudian keberuntungan
datang di hidup saya, lewat dunia teater. Betapa bahagianya saya menemukan
rumah yang indah di Teater 35. Di sana kemudian, perlahan saya melupakan
bacaan-bacaan dan mulai sedikit serius menekuni saya menulis. Dulu waktu hp
saya 6630, saya selalu nulis di note-nya, di mana pun, kapan pun, setelahnya
saya langsung posting di blog ini. Sebegitunya. Dulu kan ngga ada twitter dan
critanya udah labil banget rasanya kalo terus bergelut di Friendster, saya udah
bosen main FS dari SMP ;P. Oke, lanjut di bagian hidup saya di Teater 35,
banyaknya makhluk-makhluk inspiratif dan sederhana di sana, menjadikan saya
jatuh cinta setengah mati kepada dunia teater, saya selalu cerita betapa
diabaikan oleh Ibu saya mengenai bagian yang satu ini, saya pernah diusir
karena latihan sampai jam 12 malem, saya pernah semiskin-miskinnya sama mereka,
dan tertawa se-terbahak-bahak-nya sama mereka, saya menemukan sahabat-sahabat
pantang menyerah yang jadi bagian diri saya sampai saat ini dan nggak pernah
bisa saya jauh dari mereka. Akhirnya dan singkatnya, saya menulis. The RIP nya
adalah Sang Pentjilan, Really Inspired Person, that’s Ka Ferdi. Saya banyak
menulis, tapi pada saat itu saya juga nggak lagi punya passion pengen kerja
jadi penulis. Saya buntu.
Lulus
SMA, sampailah saya di Solo. Membaca? Tinggal riwayat, baru belakangan ini saya
kembali membaca. Dan kerinduan saya menggebu kembali, tapi saya nggak ngerti
bagaimana kemudian harus menulis. Saya seperti diantarkan oleh kereta naluri
mengenai peradaban. Saya begitu kehilangan akal bagaimana harus membuatnya
kembali seperti semula, saya ngga bisa merubah bahasa saya tapi sebenernya saya
pun ngerasa seperti saya sudah nggak seharusnya ber-bahasa seperti ini. Saya
ingin menjadi klasik, cerdas, dan tidak tidak mudah ditebak layaknya Pram atau
N. Riantiarno, tapi saya ingin juga menjadi modern, out of the box, idiot, dan
kasar seperti Djenar atau Dee. Saya ingin menentukan semuanya dan sayangnya
saya ngga sabaran.
Dan
kemudian saya sadar, selama ini saya menulis hanya sebagai jati diri saya. Saya
membutuhkannya, karena ketika saya ngga nulis rasanya seperti hilang tenggelam
semua suara saya. Tapi kedewasaan yang mengoyak pikiran saya, yang kemudian
menuntut sudah seharusnya saya menulis, bertelur satu hal atau bahkan lebih
yang bisa produktif juga bagi hidup saya. Saya woles aja sih sebenernya, ukuran
saya puas menulis sampai saat ini sebenernya ya cuma tempat ini. Saya ngga peduli
terbaca atau ngga, tempat ini adalah apresiasi penuh mengenai kehidupan yang
saya jalani. Diary adalah spesifikasinya, blog adalah sekedar parameternya
idelisme saya masih mampu tumbuh independent, tanpa pengaruh siapa pun alias
merdeka.
Ya,
idealisme yang saya jual. Sampai saat ini, kita tiba di idealisme
kehidupan bobrok mahasiswi yang bergemul
dengan labilitas hidupnya. Suatu hari nanti ketika saya telah dewasa dan baca
ini, perut saya pasti bakal gemreges bacanya.. Tulisan sampah macam apa ini.
Langganan:
Postingan (Atom)