Selasa, 18 Juni 2013

How I Miss You, Damn



Rasanya seperti kita menelan diri kita habis-habis. Kemudian tidak lagi ditemukan selamanya...  
Hanya kepada mimpi yang dirajut siang itu, ketika kita pertama kali menjejakkan kaki di permadani rumput yang sama, menggerus mendung di atas sana. Dan kita membisikkan nama masing-masing.Rasanya sejak itu pula, aku menemukan bagian diriku yang lain. Yang sebelumnya Tuhan sembunyikan jauh-jauh dan kemudian dihadiahkan padaku di saat yang begitu indah. Sebuah rumah tanpa batas dan aku menjatuhkan diriku kepadanya dalam-dalam. Dan hanyut. 
Rasanya.. 
Rasanya akan seperti apa nanti, kalau kita masih akan saling menyayangi sampai beberapa dekade ke depan nanti.. 









:") :")

Rabu, 05 Juni 2013

Hmm..

Jatuh cinta terkadang menjadi sebuah kesalah besar yang fatal yang terjadi di antara kita. Terlebih kepada manusia yang kerap kali mengeluh dia mudah sekali menyerah dan mati. Manusia seperti itu butuh semangat yang tinggi, setiap detiknya ia hidup dengan cintanya. Hanya saja, terkadang cintanya kadung rapuh, dan segera saja ia menguasainya.
Jadi, terkadang manusia seperti itu tidak tahu ingin kemana. Menjadi marah akan dirinya sendiri. Mengingkari janjinya sendiri. Menjadi rapuh. Menjadi buih, dan berusaha menjadi lupa agar hidupnya berjalan kembali. Namun, sialnya hal yang memalukan itu cenderung nyata, tidak bisa bahkan disingkirkan. Cenderung gelap, tidak bisa ia diterka bagaimana ia ada. Dan terlalu dekat, di hadapan matanya yang sayu.
Jatuh cinta di antara banyak pintu, menjatuhkan, menyesatkan dan mematahkan hati orang-orang yang ingin menumbuhkan hatinya. Dia sudah bersumpah, ia akan menjauhi hal semacam itu. Satu-satunya yang ia lakoni hingga saat ini dan berbuah akan kebingungan semacam ini. Menjadikan ia hilang dan tidak menjadikan apa-apa, hanya membuahkan cemburu juga rindu. Tapi tetap tidak terjadi apa-apa.

Selama tidak ia umbar kisah cinta bodohnya ke sosial media. Selama ia tidak menggeleparkan dirinya sebagai perempuan murahan yang haus akan belaian laki-laki dengan berpindah hati satu dengan lainnya secepat matahari turun ke peradabannya di sore hari. Selama ia tidak ingin dipuja sana-sini bahkan dengan orang-orang yang sebenarnya membencinya.. ia berjalan tenang dengan kisah bodohnya, dengan pintu-pintu yang masih ragu ia buka.. selama belum ada yang membukakan untuknya. Pintu hatinya ia kunci serapat-rapatnya, selama ia belum tau maksud dari cinta selain menciptakan kecewa dan rindu yang penuh siksa. Ia berjalan tenang…