Sabtu, 16 Juli 2011

Ayo Renovasi

Ada hal yang lebih baik dari sakit hati? Tuhan sering bicara, kita yang jarang mendengarkanNya. Setiap manusia memiliki patahan-patahan sendiri terhadap hatinya, kemudian mereka membangunnya kembali. Kita semua punya waktu untuk memainkan drama kecil ini. Yang kita butuhkan hanya kekuatan untuk menghentikan tangis sejenak dan mengadu ke siapapun yang menarik kita, kita akan melihatnya betapa semuanya menjadi baik-baik saja, di luar penglihatan kita.


Saya tidak lebih baik dari siapapun, bahkan saya pernah bilang kalo saya yang terburuk. Saya hanya enggan disalahkan atas apa yang tidak saya lakukan dengan kesalahan, saya adalah salah satunya yang selalu mengusahakan semuanya dengan benar, sekalipun cenderung melampaui batas dan tidak masuk akal, saya membuat semuanya beralasan dan itu semua cukup bagi saya. Saya menyedihkan dan miris, tapi saya enggan peduli dengan pikiran buruk orang selamanya mengenai saya.


Tapi tidak lebih miris bagi siapapun yang kemudian berusaha menjatuhkan saya dengan arogansinya, siapapun yang menyangka saya akan selamanya menyesal. Saya tidak sempurna, saya membutuhkan hal-hal yang baik untuk melengkapi saya, saya bisa saja sejak awal menjadi batu yang segera meninggalkan sungai nan terus dan biasa mengaliri saya, yang kemudian membawa saya kepada dasar-dasar samudera yang menemukan saya dengan yang lainnya ataupun aliran tersebut kembali. Tapi saya masih nyaman dan saya enggan beranjak, mungkin karena Tuhan juga masih enggan menjatuhkan deras hujan yang menjadikan sungai semakin deras menghantam saya.


Saya masih percaya, deras airnya akan membentuk permukaan saya menjadi lebih halus. Namun di satu sisi, akan jauh lebih baik rasanya ketika saya memikirkan sosok laut yang lebih tenang dan dalam yang akan menidurkan saya di dasarnya, bukan?
Saya akan seperti ini kalau ada alasannya, entah bagaimana perasaan seseorang yang sedang merapihkan hatinya kemudian disampaikan pernyataan bahwa ia tidak lagi dicintai oleh satu hal yang sedang ia berusaha perbaiki? Rasanya memang tidak salah, tapi yang jelas itu jauh lebih menyakitkan daripada berada di terpaan sinar ultraviolet tanpa saringan atmosfer yang bergabung dengan jenjangan panas bumi yang murka melalui letusan ribuan gunung berapi di atasnya. Oke, berlebihan.Tapi, itu adalah perasaan yang buruk. Saya belajar banyak, kawan. Toh dari awal bukan saya yang memintanya, saya hanya menjaga rejeki saya, kalo emang bukan rejekinya nggak bisa kan dipaksa, seperti kata seseorang. :)


Berkaca sejenak ya teman-teman, nggak ada alasan yang baik untuk menyakiti hati siapapun dengan segala hal dan pikiran yang kamu miliki, dengan arogansimu, dengan guyonanmu. Semakin dewasa, semakin banyak yang akan menjadi pertanyaan, suatu hari kita akan ditanyakan kepada hidup, malaikat, bahkan Tuhan. Temukanlah, dan jadikan itu idealisme hidupmu, bukan menemukan yg orang lain telah temukan kemudian kau samakan dengan jalan hidupmu secar utuh. Seorang penjiplak idealisme tidak lebih baik daripada maling ayam yg tobat di jalan pulang kemudian mengembalikan ayam curian kepada pemiliknya. Make your own life better :)

Minggu, 10 Juli 2011

Mati suri di taman- Sore

Ada yang aneh di sebuah sudut mataku.
Wanita yang menelanjangi mataku, matanya deras, dan disambar deru air sungai di belakangnya. Ia terpaku di belakang batu..
Wanita bercermin lewat air yang melaluinya..
Air membelainya hangat-hangat dan wanita menjatuhkan lengan-lengannya kepada langit
Ia mengadah kepada Tuhan yang ia anggap ada..
Ia berlindung pada tiupan angin yang menusuknya dalam-dalam

Wanita itu adalah aku, sebuah roman ciptaan Tuhan. Ia membuka dirinya kepada alam dan berharap satu hal mengikatnya lekat-lekat tanpa ia harus membelikannya sebotol perekat. Wanita itu hampir mati dideru kelam pikirannya, ia mendesah penuh harapan. Ia hanya ingin melewati perasaan dan waktu yang samakin hari menyiksanya.. Ia mencari dunia. Ia mati di tengah perjalanan.

“Tolong, ada yang ingin aku bicarakan. Tidakkah engkau berkasihan kepada hidupku yang telah layu. Aku akan menyusul Tuhan kali ini, menyusul mata-mata yang telah melewati kita semua, tolong berikan mauku..”

“Mau apa?”

“Mau cinta, Tuan. Waktuku akan segera habis, matari akan merenggutku dengan sinarnya. Aku akan merinai seiring suara-suara dunia yang meninggi dan menjemputku esok hari. Aku hanya ingin menjadi cinta, bagi siapapun, dan mati tanpa harus merasa bersalah kepada apapun, kemudian dirindukan, dan aku tidak lagi berkesedihan, pasti akan menjadi cerita yg menarik di akhirat, nanti..” ia tersenyum renyah..

“Aku tidak mengenal apa itu cinta..”

“Cinta, Tuan? Cinta itu ketika kita memadu hasrat, membutuhkan satu sesama lain.. Seperti matamu yang selalu aku butuhkan untuk memperhatikan bentuk tubuh dan jiwaku.. seperti engkau yang butuh aku sebagai pijakanmu hidup.. tempatmu terlelap..”

“Aku tidak butuh cinta.”

“Aku butuh Tuan. Aku tidak ingin melihat wajah-wajah murung di sekitaran sungai ketika aku membasuh seluruh tubuhku. Aku tidak ingin lagi berbicara kepada beruang yang akan menerkamku tentang hatiku yang hilang.. Aku ingin dicintai dengan baik Tuan..”

“Tidak, aku tidak bisa lagi meraihmu.”

Wanita berjalan gontai menjauh.

Baiklah, demikian wanita itu perlahan menaiki awan menuju jalan lain menghapus gelora penantiannya. Hingga akhirnya ia mendalami laut hingga dasarnya menemukan pucuk yang hilang, menyejukkan hatinya selamanya. Ya, awannya mencair dan melepasnya di tengah samudera. Ia ditelan gelombang-gelombang kesukaannya, hingga pada dasarnya ia ditemukan kesejatiannya. Dengan satu hal yang baru atau kepada air-air sungai yang selalu membasuhnya di masa lampau nan bermuara, kemudian menemukannya. Laut mengembalikan segalanya kepada wanita. Wanita harus melewati perasaan dan waktu yang panjang untuk pengembaliannya itu..

Jakarta, Juli 2011- Wanita dengan mata gelap yang berdiri di hadapanku siang itu.

Rabu, 06 Juli 2011

Berlibur Melebur

Halo Happy Holiday, ada yang merindukan saya? Jelas, mata kamu yang terpaku pada layar ini pasti sedang mencari-cari saya, hehe. Tenang, saya juga merindukan kalian. :) Sudah lama saya tidak bicara di Blog, lahan datar yang tidak pernah sedikitpun benar-benar terlihat flat karena yang punya adalah makhluk kejam seperti saya.

Bagaimana kalau kali ini kita berkisah mengenai kehidupan saya akhir-akhir ini di rumah? Sebagai mahasiswi perantauan, hari-hari tanpa kuliah kali ini saya manfaatkan pulang ke rumah, beradu kepada kehidupan sebelumnya. Saya pulang ke Jakarta, ke Tangerang, ke hati orang-orang yang merindukan saya. Sejujurnya saya sangat menikmati hari-hari belakangan ini, sekalipun rasa capeknya ngga ketulungan, terutama karena saya masih gemes sama Baby Pedro jadi sering saya bawa ke mana-mana, main ke mana-mana. Selain jadi anak kesayangan ala ala ratu sejagad yang baru pulang kembali, yak ngerti kan gimana saya suka pamer sana-sini kalo dimanjain orangtua saya sekalipun itu udah sering banget dan biasa aja.. ya makanan lah, wejangan lah, apelah.. nyatanya saya juga ngga tega sama umur, sama badan, sama betis, eh.. jadilah saya menerjunkan diri saya ke dunia perbabuan.. jadi supir, ojek, pembantu, baby sitter, dan bla-blah-blaahh.

Saya udah tua, Ibu saya udah lebih tua. Percuma dilahirin kalo ngga ngasih timbal balik sama orang-orang yang sudah membesarkan saya dengan baik seperti ini. Ya kalo ngga ada mereka saya bahkan ngga tau Tuhan dan agama, saya ngga akan tau yang namanya sambel terasi dari mbok pecel adalah jenis makanan paling ngekoss, paling surga di dunia atau ngerti yang namanya dialihkan kesalahan sama orang egois melulu adalah perasaan paling ngehe. Eaa..

Jadilah saya akhir-akhir ini menikmati rumah, nyiapin sarapan ayah dan metlek, nyuciin baju kalo ngga ada tukang cuci, nyapu ngepel, dan anter ibu kerja. Syukurnya bulan depan perusahaannya Ibu yang BUSUK’ itu akan segera ditutup. Jadilah saya akan semakin dituntut sana-sini. Ya sudah saya perkirakan.

Hidup saya ngga mudah, Boy. Saya juga mengalami hal-hal buruk. Kalo diceritain, berarti isi blog ini akan seperti isi blog masa SMA saya, haha. Ya masalah bakal terus ada selama kita masih di panggung Tuhan ini, percaya atau nggak dalam sehari awalnya numpluk sampe besok-besoknya, dari orangtua yang hidup seumur hidup sama saya selama ini, sahabatan bertahun-tahun, dan pacaran sama orang kaya tai yang baru berapa bulan.

Saya nahanin aja, nggak tau mau ngadu sama siapa. Buat ibadah, kadang ngerasanya juga ngga konsen. Makanya saya berusaha sabar, ya biarin sakit-sakit ditahan. Semuanya punya waktunya, dan mungkin kali ini adalah waktu saya untuk menjadi terpuruk. Terimakasih cobaannya mantap kaya soto mbok giyem, sambel tiga sendok, jeruk nipis, kecap, sosis basah, paru, tempe goreng panas, es teh, dan klepon. Percaya atau nggak barusan saya ngeces beneran, jadi kangen Solo. Beda sekali dengan saat ini, percayalah, nungguin slurpee masuk freezer sangat beku di atas kasur sambil ngeblogging sembari diteriakin anak kecil yg nyuruh lo makan otak ayam adalah hal terbusuk di pagi hari. Maaf aja saya punya otak dan ngga doyan otak apapun jenis binatangnya. Oh ya, satu lagi. Liburan kali ini kadang suka terusik sama busuknya kelakuan dan otaknya Metlek si manusia ketek -..-

So Guys, #mukaalay.. nikmati liburan anda dengan baik, dan jangan lupa nonton Teater 35, Selasa 19 Juli 2011 di GOR Bulungan, dengan judul pementasa “When The Sunlight Goes Down..” You rock, guys! #mukagaul

Rabu, 22 Juni 2011

Semangat!

Seseorang menjadikan saya tersenyum lagi membaca sekelumit cerita di barisan panjang ke bawah ini. Konyol, tolol.
Meyakinkan saya, bahwa ini baik.
Membuka kembali diri saya, menjadikan saya merasa lebih diterima seperti apa adanya saya.
Saya pikir sudah tidak ada lagi yang membaca tumpukan tulisan-tulisan jalang ini.
Semoga dapat inspirasi lain untuk menulis
Wah terimakasih, boss Miftah!

Now is better than Yesterday

Sekarang, mana pernah peduli.
Sekarang ngga bisa kaya dulu lagi.
Seperti kamu yang merubah saya,
perlahan untuk mendapatkan karmanya selanjutnya.
Terima-kasih- sa---- :)

Selasa, 14 Juni 2011

Laut, Laut, Laut..

Pernah mendengar satu hal mengenai cinta? Selain orang-orang yg saya cintai, hal lain mengenai cinta adalah pantai. Pasir putih, air jernih, ganggang hijau, pepohonan, langit biru di atas laut, bintang dan purnama laut, dan ombak yg merinai. Saya selalu mencintai semua itu.

Saya seorang pecinta alam, sekalipun ngga penah yg namanya ikut organisasi yg berkaitan langsung di dalamnya. Saya mencintai dengan cara saya sendiri. saya tidak luput mencintai dataran tinggi atau pegunungan. Buat saya dataran tinggi memberikan rasa sejuk yang sangat menjadikan saya nyaman berada di sana, udara segar dan bau khas masyarakatnya menjadikan saya istimewa, seriously. Sekalipun alergi udara dingin, buat saya tempat-tempat seperti Puncak dan Tawangmangu tetap menjadi favorit.

Tapi, pantai tetap menjadi pilihan pertama. Khususnya barisan pantai selatan di Negara saya. Saya bukan yg pertama kali ada di sana, tapi betapa saya bersyukur saya telah mengunjunginya. Air laut pantai Indrayanti, Krakal, dan Drini mensugestikan saya seolah-olah saya memiliki kekuatan lain di dalam hidup saya. The sea so much refreshes all parts of my body and mind. Menjadikan saya menghela nafas panjang, sangat panjang ketika melihatnya kembali sekalipun dalam bentuk digital.

Laut mengajarkan saya banyak hal, mengajarkan bagaimana dengan mudah gemericik ombak yang bahkan tidak memiliki warna dapat menjadikanmu hancur seketika, atau hilang ditelannya lekat-lekat. Laut mengajarkan saya betapa pantulan benda di atasnya, sekalipun tidak sedikitpun menyentuhnya namun dapat mempengaruhi jumlah gelora riak ombaknya.

Kita semua belajar dari laut. Betapa hamparan pasir dan air cukup menjadikan kita aman seketika ketika kita di sana. Melihat bagaimana laut memberikan bau khas dan menjadikan tubuh kita terasa lamir karena hempasan angin dan garam di sana. Cuma air dan pasir dan mampu menjadikan kita begitu berbeda, bahkan mendapatkan rasa aman yang tidak sedikitpun kita dapatkan dalam kota yg hiruk pikuk diciptakan teknlologi di dalamnya.

Bagaimana belajar satu hal yg sederhana saja mampu merubah segalanya yg ada pada diri saya khususnya. Betapa satu hal yg sederhana itu bila dimanfaatkan dengan tepat dan baik mampu memberikan energi positif yg baik dan banyak kpd manusia. Sekalipun kemungkinan untuk menjadi mati di sana sangat besar.

Ah laut. Tidak jauh dari idealisme busuk. Idealisme yg tidak nyata. Fana. Menjenuhkan. Sebatas pembicaraan. Laut laut laut suatu hari


Laut laut laut, suatu hari aku akan menjangkaumu lebih erat. Aku akan memelukmu lebih lama. Suatu hari aku akan menerpa hamparan pasirmu dengan lekat-lekat ku tanamkan hatiku di sana.

Laut laut laut, suatu hari aku akan membicarakan dia kepadamu. Suatu hari aku akan membawa anakku memelukmu. Suatu hari langitmu akan begitu dalam menadahiku dengan awan.. menjaga agar cinta kita terpaut dengan aman, tanpa tuan matari yg melirik panas.
Laut laut laut, suatu hari semua bebanku akan kau telan lagi. Samudera-samudera akan membicarakan kita lagi. Batu karang akan menebur ombakmu lagi..
Laut laut laut..

Rabu, 01 Juni 2011

Lau

Saya cuma merenung melihat papan penuh paparan cahaya di hadapan saya. Kelunya sudah saya keluarkan semua. Saya nggak tau harus gimana dan saya bilang sama diri saya sendiri, I don’t need even somebody here, tapi herannya saya bilang sama diri saya kalo saya butuh Prita Raras. *emot mengeluh*

Saya memang butuh diam, berkaca kepada diri saya. Saya mendata bagian mana yg salah dan terus kurang. Bagian mana yg menjadikan saya terus menangis selama ini. I am not the perfect one but I amma the perfect perfectionist one. I need everything can be fine at all, from the small thing, my dreams, life, campus, then you. How limited my life..

Saya bukan manusia yg tepat untuk dijadikan seperti ini. Saya begitu sayang sama kamu, tapi saya nggak tau caranya, saya ngga bisa mempertahaninnya. Saya nggak bisa mempertahanin satu hal yang begitu aja ngelepas saya. Yang masih menjadikan saya sama dengan yg lainnya. Bukankah saya cukup manusiawi? Bukankah saya cukup sama dengan puan-puan lainnya?

Saya sempatkan bertanya sama Tuhan, apa seharusnya sudah 18 tahun dan cinta masih menjadi hal yang sulit, cinta masih sanggup membuat saya menangis.. cinta menjadikan saya mengelap muka dengan celana yang telah saya pakai 3 hari menyangkut di balik pintu, karena begitu banyak air yang meluap di atasnya. Cinta menjadikan saya punya rahasia, cinta menjadikan saya terus berpikir buruk, cinta menjadikan saya menunggu, cinta menjadikan berbasa-basi, cinta menjadikan saya terus menangis usai daily show BigBrother. Oke yang terakhir adalah efek media televisi secara langsung, acara drama itu mempengaruhi otak saya semakin meliuk-liuk.

Saya nggak bisa menjelaskan, tapi kali ini jadi begitu sulit.. sulit..sangat silit. Saya bukan sosok dewasa, saya nggak mau jadi sosok yg sok dewasa. Gimanapun, kamu adalah sosok baik di masa childhood saya, kamu mengajarkan banyak, dan jelas banyak menangisi saya. Di satu sisi saya bisalah bilang sama diri saya buat tahan semuanya, tapi setelah itu saya sadar ngga ada yang bisa saya harapkan. Sosok yang begitu saya rindukan, sudah seutuhnya hilang dan nggak berusaha mempertahankan saya. Trus?

Wah terima kasih, saya bukan perajuk yang baik untuk urusan itu. Saya hanya berbisnis kepada orang yang sayang sama saya dengan tulus. Saya mengharapkan suatu hari saya mendapatkannya.

Saya begitu menghargai semua kenangan, hadiah, dan waktu yang begitu banyak kamu berikan buat saya. Sementara itu berarti banyak buat saya. Salah saya yang nggak bisa pertahanin sosok itu. Sekarang pergi, saya jadi mengamuk pada diri saya sendiri. Salah itu manusiawi, mungkin saya salah.. tapi akan menjadi lebih salah kalau kamu menyesal di suatu hari nanti ketika kamu benar-benar melepas saya karena hal ini. Kamu begitu tahu saya..

Saya minta maaf. Saya nggak bisa jadi seperti yang ada di pikiran kalian semua, selamat membaca kegalauan. Semoga menular.. *meludah*