Rabu, 21 Desember 2011

Smoke Your Sunday Morning

Saya bukan perokok dan saya sangat benci asap rokok, terlebih ketika saya harus menghadapinya ketika saya habis mencuci rambut saya. Bondan bilang ketika saya merokok, kulit saya berbeda.

Setelah hampir setengah tahun saya hanya menjadi perokok pasif dan menjadi bualan antara orang-orang yang saya katakan useless, saya menjadi terpekur ketika ia menghadapi di ujung bibir saya. Dan saya diam, termenung dan membacanya. Saya seperti munafik, dan dalam hati saya dengan sungguh-sungguh mengatakan.. Damn, I still love to. Saya menikmatinya dalam-dalam hingga air-air di pelupuk mengeram dan keluar. Alasan tolol adalah ketika Minggu pagi saya diserang dengan kebosanan, saya menanjaki balkon dan menghirupnya..

Ada syarat yang tertanam dalam diri saya ketika saya menyentuhnya. Mengenai kegalauan..

Kali ini mengenai kehilangan. Kehilangan diri saya yang lama, entah mengenai saya merindukan masa lalu akan diri saya yang jauh kekanak-kanakan dari masa sekarang, atau sekedar sedang merasa kosong. Saya merasakan kesemuanya dalam-dalam. Dengan pakaian tidur yang sangat buruk saya keluar dan merokok. Saya tidak seperti perempuan seharusnya..

Tapi saya mencoba berapatis, kian semua orang menghina saya, dan memikirkan saya adalah hal yang buruk, tidak ada yang mampu kemudian mengerti pemikiran kegalauan saya yang begitu kepagian saat itu. Entah apa, saya merasa ada yang salah.. Kemudian sebatang kemaluan yang saya sebut sebatang yang penuh dengan rasa malu tersebut habis, saya meringkuk masuk lagi ke dalam liang. Saya terjerembab tidur, tenggelam dalam bantal-bantal kesayangan. Dan seketika vertigo saya kambuh, saya terlelap beberapa menit dan enggan membuka mata setelahnya. Saya membicarakan kepada Tuhan betapa adanya saya pada saat itu.. Dan saya enggan menangis. Saya cuma diam, menatap gelap, tertutup bantal.

Entah, saya merasa berdosa karena rasa ketidak bersyukuran yang bangsat kali itu. Saya merasa sedih sejadi-jadinya. Kalau Tuhan mengambil masa lalu saya sebagai sebuah kebaikan, kenapa saya bisa sampai pada suatu hari itu dan saya merindukannya. Kalau hari ini jauh lebih baik, tidak semuanya terlepas dari masa lalu yang membentuk saya hingga seperti ini.. Then why?

Saya capek. Saya ngga pernah bisa fokus.. Dan saya enggan lagi memanggil vertigo saya. Sejujurnya saya benci keinginan saya merokok, sekalipun itu hanya sekali dalam seumur hidup atau apapun batasannya.. sekalipun saya begitu mencintai saat-saat itu. Saya galau di Minggu pagi, saya ngga mau merindukan siapa-siapa, saya merindukan idealisme Fenti yang lama. Fenti yang dulu. 81212

Selasa, 01 November 2011

Ngaco

Suatu hari, senormalnya hidup manusia, se-keinginan seorang Ibu kepada anaknya, semelihatnya orang kepada diri kita, akan terbentuk diri kita yang memanusia, salah satunya, berpasangan. Sayangnya mencari pasangan tidak semudah menjelaskan mengapa hidung saya pesek, lebih tepatnya bagi saya menerima.

Yang mau dicari itu yang seperti apa dan bagaimana. Sementara atau untuk selamanya. Sebagai teman atau bapak dari anak-anak saya. Sebagai perasaan atau hanya sekedar pembicaraan?

Saya tipikal manusia yang memiliki kepekaan yang baik. Saya cuek dan apatis, saya cengeng dan tidak cantik. Saya menyayangi semua orang di sekitar saya, dengan cara saya sendiri. Saya berperasaan dengan sedikit menggunakan pikiran.

Di masa muda sekarang, komitmen adalah bentuk kejalangan. Bullshit. Ngga bisa mengumbar omongan, karenalah sejak awal baiknya kita cukup bersenang-senang. Suatu hari kalau kita jenuh, kita pergi menangisi masing-masing. Kalau rindu, saling memeluk kembali lalu pergi lagi. Menunjukkan kita masih bicara tanpa salah satu di antaranya, agar tida lagi ada luka-luka di antara kita.

Persetan dengan karma, sekarang semua orang di dunia ini mengabaikannya. Saya peduli dan saya membacanya. Saya enggan menyentuhnya, saya hanya ingin menghiburnya dari layu-layu tubuhnya nan ringkih. Saya trauma kepada waktu, saya bosan..

Saya duduk menunggu, dan bosan..

Karena perjalanannya masih panjang, sekalipun saya bosan, saya harus tetap sabar.,

Rabu, 26 Oktober 2011

Hujan kedua

Betapa aku merindukanmu, merindukan angin sejukmu. Aku rindu segala tentang kamu. Aku rindu menatap refleksi ceriamu, setelah kau menangisiku.. Aku rindu mengusapmu dan merasa kecewa karenamu membasahiku. Aku rindu kita tertawa dan menatap syahdu. Aku rindu bicara tentang minuman kesukaanku tatkala menatapmu. Aku rindu memeluk selimutku di antaramu. Aku rindu membaca kapan kau akan berakhir meninggalkanku hari itu untuk menemuiku esoknya. Aku rindu mendengar kegaduhan dalam dirimu, menciptakan gejolak cerah nan menggebu-gebu, menunjukkan kuasamu pada langit nan tak jemu menatapku akan dirimu. Aku rindu tertawa melihat sikapmu terhadap orang-orang nan berlindung di bawah gundukan plastik, mengejekmu, dan kau membicarakannya kepadaku betapa kamu tidak menyukainya. Aku rindu menyuruhmu berhenti dan pulang kembali ke langit dan kau menurutiku perlahan, memberi pelukan hangat pelangi merah muda di sudut bukit di ujung sana. Aku rindu semburat itu, menampilkan tawa kita di antara tanah-tanah basah nan sunyi memperhatikan begitu besar hasrat mu kepadaku. Aku rindu menyentuh bulir-bulir airmu nan kau usapkan di kulit-kulitku.

Aku rindu kamu, Hujan. Sudah lama kita tidak bertukar puisi. Ceritakan langit hari ini, apakah ia menghardikmu kembali untuk turun menemuiku yang sakit merindukanmu? Ceritakan bagaimana awan membentukmu begitu indah.. Ceritakan hujan, aku rindu bicara seperti ini kepadamu.. Jadi hujan yang baik bagiku, jadi hujan yang indah untukku. Segera balas pesanku, tidak ada kesempatan bagi kita bertemu di msn atau ym. Segera turunkan aromamu.. Segera balas, ya Hujan.

Hujan satu


“Semua orang membicarakan kamu, semua orang mengira kita tidak baik-baik, padahal kita baik-baik saja. Hati kita yang tidak baik..”

Aku enggan bicara mengenai rindu. Karena rindu sejatinya hanya akan menjadikan aku kelabu

Aku enggan lagi menjadi biru karena mu..

Karena kebiruan itu mengantarkan aku menjadi satu hal yang kembali kelabu..

Pada dasarnya kita memang kelabu.

Pada dasarnya kita cemburu

Pada dasarnya tidak ada bahkan satu hal yang mengantarkan kita sampai ke dasarnya.

“Semua orang membicarakanmu.. Semua orang bertanya kepada hatiku. Dan hatiku enggan menjawab, menanam semua rindu. Hatiku sibuk melihat dunia yang aku sempat abaikan karenamu. Hatiku sibuk menutup dirinya, hatiku bersungguh-sungguh. Menciptakan rima, tentang.. diriku sendiri.”

Aku enggan membagi lagi egoku. Aku enggan menatapmu..

Aku enggan merindukan hati seseorang yang berpaling dariku dan lebih mencintai hati masa lalunya.. Kemarau yang panas.

Aku enggan menyentuh hati yang memerangiku dengan segala alasannya..

Aku enggan lagi menangisi sebuah puisi..

Aku enggan lagi menjadi munafik..

Aku merindukan banyak hal..

Bukan masa laluku, hari ini, atau yang baru saja aku bicarakan. Aku memilih merindukan hujan, kali ini hujan ringan nan mengusap kepalaku, merelakan semua hatiku yang usang dan tertutup.. Aku enggan berlari mencari hati lain yang menjadikan aku pemenang akan takdiri kita yang kian menua. Aku rindu Desember, bukan orang yang menghampiri aku saat natal dan memintaku penuh kasih untuk memeluknya.

Aku memilih merindukan hujan..

Semua orang membicarakanmu..

“Kau membasahi perempuan itu, perempuan yang mengabdimu dengan setia, sekalipun kau tipis dan jarang datang. Kau merinainya hingga ia mati kedinginan. Airmu menyeretnya kepada hati samudra yang luas, yang mengantar kepada keabadian dalam sebuah imaji nan telah terburai.. Kau menyakitinya duhai hujan’, sekalipun ia amat merindukanmu..”

Aku berujar, “Karena hanya hujan yang aku nantikan, hujan yang kali ini ringan dan abadi untuk satu musim sementara, hidupku. Hanya hujan yang aku inginkan..”

That BoyFriends! :D

Pernah mendengar sesuatu tentang pertemanan? Apa sih untungnya kita berteman? Apa hanya karena orangtua kita yang menganjurkan? Mengutamakan kebutuhan? Atau sekedar menjadi manusia?

Buat saya, teman itu televisi pribadi saya. Mereka bicara, menyakitkan, dan memperbaiki saya. Dengan aktualisasi hidup mereka, pembicaraan mengenai orang lain, ataupun hal-hal konyol yang terciptakan di antara kita. Kehidupan keseluruhan saya adalah pertemanan.. sampai saat ini..

Di dunia yang asing ini, mereka induk saya untuk berlindung dari segala ketidak-pantasan dunia, mereka tempat saya bertanya dan menyanggah. Sekalipun saya enggan untuk percaya, tapi saya kemudian tidak akan menjadikan mereka sia-sia. Saya harus percaya dan juga menjaga kepercayaan mereka. Mereka adalah kebergunaan yang baik buat saya, ya bagusnya saya memang harus memanfaatkan mereka, memanfaatkan sebagai satu tujuan, tujuan yang baik. Membalas kebahagiaan yang mereka berikan kepada saya..

Kali ini bertolak, melihat kelamin di antara kita. Selama ini laki-laki yang baik selalu ada di sekitar saya, puji Tuhan, alhamdulillahirabbilalamin.. saya selalu diberkahi sahabat-sahabat laki-laki yang baik dan berlimpah. Mereka memimpin saya sholat, membantu membuat PR, mengantar dan menjemput, menatap saya dan membicarakan strategi dalam hidup saya, memberi mimpi dan memeluk saya dengan kedamaian. Mereka menjaga saya, bicara dengan Ibu saya, membacakan saya resensi film yang baik, musik yang buruk, dan bercerita tentang alam. Mereka bicara di dalam hujan, di tepi shelter busway, tentang wanita-wanita pujaannya kepada saya. Mereka menjaga saya, memperhatikan laki-laki yang mendekati saya, memberi restu, dan melarang saya. Mereka menciptakan hinaan terbaik sepanjang masa, menciptakan nick name ala website messenger, mereka membaca idealisme saya, dan membaui saya. Mereka berharap, kedatangan saya, makanan saya, dan masakan ibu saya. Mereka menonton spongebob dan menirukan fantasi anak-anak di hadapan saya. Ya, mereka anak-anak yang sempurna, mereka hidup di Neverland dunia nyata, mereka enggan beranjak, sekalipun kedewasaan memanggil dengan kepastiannya. Anak laki-laki. Mereka berkembang sesuai otak kecil yang selalu mereka elu-elukan. Mereka cengeng. Sebagian ada yang penakut, tapi semangat saya selalu menghapusnya. Mereka sumber berita yang rancu sekaligus mampu mengoyak setiap pikiran, mereka mengalahkan perempuan mendapatkan gossip dan membicarakan lekat-lekat. Mereka memberikan saya sumber tertawaan dan mentertawai saya. Mereka memberi makan saya, mereka memberi kehidupan saya. Mereka dunia kekanak-kanakan saya, dan salah satunya selalu mengatakan bahwa kita semua adalah anak-anak sesungguhnya dan selamanya..

Anak laki-laki itu, mereka. Kadang lebih hebat dari sahabat-sahabat perempuan saya yang dramatis. Mereka jauh lebih dramatis, lebih kuat menanjak jalan di Puncak, lebih kuat menghabiskan tiga porsi nasi HokBen dalam satu waktu, lebih kuat mengangkat box berisi udang ikan berkilo-kilo. Lebih kuat, mencari yang seharusnya tidak dicari, lebih kuat menciptakan pembicaraan yang tidak penting. Lebih kuat merayu saya. Mereka berguna bagi saya, mereka baik bagi saya. Thank God, You Awesome!