Sama ketika kita berlari, setiap jejak yang kita setapaki. Ada takdir yang harus kita jalani dalam hidup.
Demikian ketika kita menoleh ke belakang, ada hal-hal yang terlewatkan. Sebagian melambai haru ditinggalkan, sebagian tertawa lepas dibebaskan, sebagai menderu-deru sedih tidak berkesudahan. Tapi kaki-kaki terus menjauh, menarik keras urat nadi di dalamnya. Melaju cepat mencari tujuan. Menghindar dari kesalahan.
Dan ketika kita berlari. Sebagian melihat apa yang menghalangi di ujung jalan. Sebagian menutup matanya dan menyerahkan dirinya tersungkur pada kubangan selanjutnya. Kita mengamati dalam-dalam perjalanan. Ada pula yang menghilangkan dirinya tak tentu arah.
Tidak ada yang salah dalam berlari. Semua orang ingin melarikan dirinya sejauh mungkin. Hanya, tidak ada orang yang tahu pasti seberapa jauhnya orang meninggalkannya, atau seberapa jauh dia meninggalkan banyak cerita dalam hidupnya. Yang terlihat hanya ketika ia melarikan diri, tanpa tahu sebenarnya ia hanya berjarak satu kedipan dengan pelariannya.
Sabtu, 11 April 2015
Melarikan yang Harus Dilarikan.
Filosofi Kopi.
Melihat jalan-jalan yang layu dipijak dan begitu kesepian. Sementara dengung debu yang tanpa henti menyeruak isi kepala. Berputar-putar dengan nada riang. Mencari-cari apa yang hatinya sedang butuhkan..Seperti etalase yang sendu. Kosong namun tetap penuh harapan kepada pelanggan-pelanggan yang murung melewatinya. Pohon baru yang ditanam di tengah kota begitu malas untuk menegakkan batang-batangnya. Tertidur menggapai tanah. Daun-daun yang rontok di kakinya, merenggas dan gosong dimakan jalanan.. dan angin musim panas perlahan kemudian datang..Lampu kota menyala di siang bolong, melawan terik sang matari yang jenuh bersinar.. kulit-kulit dari gedung tua di sudut jalan terbang kian kemari, menua dan usang. Sehingga yang melihatnya, penuh haru dan heran apa yang ada di dalamnya, masih begitu kukuh dengan kisah-kisah yang terlahir di dalamnya.Dalam secangkir kopi di tengah kedai yang begitu sepi menyayat hati. Diiringi deru kipas angin yang termakan debu. Pinggiran roti yang ditinggalkan. Tercelup basah, seperti sepatu hitam yang kukenakan, kuyup mengenaskan terkena cipratan sedan-sedan yang melaju kencang ketika aku menyusuri trotoarnya.
Secangkir kopi di hadapanku tak berhenti memanggil agar aku tak henti menghirup aromanya. Mengagumi butiran-butiran hitam yang berbekas di sudut bibirku. Rasanya manis seperti coklat, yang barangkali orang-orang bilang rasanya pahit seperti hidup. Panas. Membekas. Dan begitu nikmat ketika menyentuh lorong-lorong kerongkongan, menjalar ke kepala. Membangunkan yang mati. Dan membuat kita mencari-cari apa yang kita ingin rasakan padanya. Kopi yang menjadikan seorang menjadi begitu perasa.Seperti yang aku saksikan. Jiwa-jiwa yang sendu. Yang lelah dengan fakta bahwa betapa jauhnya kita sudah berjalan di bumi yang tua ini.
Disuguhkan puing-puing sisaan zaman yang menyedihkan, namun mau tak mau harus ditelan. Semua orang saat ini begitu menyedihkan. Tidak mampu tapi dijalankan. Tidak pantas tapi ingin diakui. Punya kuasa namun menghabisi. Didengarkan tapi tak sanggup mendengar.Kenapa tidak semua orang menjadi secangkir kopi panas yang dipenuhi susu saja? Membagi dirinya untuk yang lain. Seperti seisi kota yang terisi dengan meriah, tidak terpisah. Menjadi satu hal yang dicintai banyak orang, tanpa harus menunjukkan jiwa yang lemah, tua, dan kesepian. Semua orang ingin memilikinya, tanpa harus menunjukkan banyak hal.Hidup begitu mudah dijalankan ketika kita benar merasakan apa yang didalamnya. Tidak sebatas pada hirupan pertama. Tidak berdasarkan sekelebat aroma. Tapi ketika kita benar meletakkannya pada sumber-sumber perasa dan mengenali betul bagaimana rupanya. Dan bagaimana kita menjalankannya. Hidup yang penuh candu, manis sekaligus pahit. Hidup adalah bagaimana kita menenangkan waktu yang menjalarinya, yang menuntutnya menjadi habis.. namun tertahan kuat dan menunjukkan utuh isinya.. berpacu dengan waktu seperti menahan ektraksi kopi. Hidup bertahan untuk tetap mengisi dan terisi.. supaya tidak diacuhkan. Hidup seharusnya berhati-hati, berantisipasi. Seperti ketika kita memburu gelas kopi yang panas.Gelas kopi yang bergaris-garis. Meninggalkan bekas-bekas batas yang aku hirup. Saat ini aku menikmati filosofi kopi ku sendiri.
Rabu, 25 Maret 2015
Halo Again! Now 2015!
I was fucking laugh a lot when I read this silly place. I’m that silly. HAHAHAHAHAHAHA
Melihat diri sendiri semacam ini
adalah hal terbodoh sekaligus paling jenius yang bisa dilakukan. Membaca diri
sendiri yang rumit, yang bahkan masa tua-nya nggak lagi mampu untuk paham satu
jenis kalimat menyedihkan yang seorang gadis remaja beranjak tua tulis di
ruang-ruang kosong rahasia semacam tempat ini, mengeluh, mengaduh, dan begitu romantis.
I wonder what happened to me. I was so mysterious. But I love em. Very much.
HAHAHA
Dear old Fenti, someday you’ll read
it.
Me here. Your self. At twenty two. Have
graduated from the major you always wished before. I’ve got so many experiences
about life. I lived our dreams. Enjoy the rest of our life. Still being a picky
woman, just because I always remember about our commitment how precious we are.
Still search the man who’ll be your love of life. And still being your mother’s
captive.
Menemukan kembali tempat ini. Dan seperti
biasa sangat ingin kembali ke dalamnya. Tapi tidak tahu lagi apa yang harus
dibicarakan. Klasik dan menyenangkan. Hanya bertambah tua. Masih bergantung
kepada orangtua. Belum dilamar. Dan masih memiliki mimpi yang sama.
Oke baik, mulai selanjutnya aku
akan berpura-pura sebagai pemilik sejati dari blog ini. Akan aku bicarakan
kembali cerita-cerita konyol dalam hidup ini. Baiklah.
By the way, I’ve found the place
that I really want to be there. You shall be there!!! Someday. I’ll fight for
you since this day happens to us.. you’ll be there. We will..
Sabtu, 31 Agustus 2013
Apatheis
Sekarang
gue sedikit ngerti kenapa ada keyakinan bernama Atheis dan sekian banyak orang
masih jadi pengikut kentalnya. Setelah luntang-lantung di bumi untuk beberapa
tahun ini, rasanya pilihan menjadi tidak percaya apa-apa adalah pilihan yang
terbaik. Berhubung emang karena gue makhluk apatis yang sensitif, bersentuhan
dengan apa-apa rasanya ngga lebih baik dari tidak terkena masalah apapun karena
berjalan di jalan yang tepat, jalan atas kemauan sendiri. No, it isn’t point
about the real religion.
Ini
masalah sikap.
Ketahuilah,
menjadi manusia normal bukan hal yang gampang. Merasa naif terhadap diri
sendiri, ketika merefleksikan diri sendiri kepada masa lalu dan imajinasi akan
seperti apa gue selanjutnya. Menjadi baik atau buruk, menjadi normal atau
semakin.. yah begitulah. Sayangnya semua orang tetep milih buat jadi normal,
jadi kita akan terus berjalan sesuai apa yang orang lain jalankan. Menjadi berbeda
masih sangsi, bahkan mau mengungkapkannya aja udah takut setengah mati. Merasa ngga
pantes dan bingung gimana harus mulainya. Emang sih kedengeran tolol, tapi
bukan main emang susahnya setengah mati menjadikan pikiran kita hidup sesuai
dengan skema yang tergambar sebelumnya di otak atau di mimpi kita. Ngga gampang
men ngerubah something yang udah pernah kita ‘curse’ untuk bangkit lagi dan
merubah hidup. We do really need to grow up, tapi gimana caranya.
Sabtu, 17 Agustus 2013
Moonrise Kingdom
Sebenernya soal menonton film saya udah ketegori
ketinggalan zaman. sebagai anak film, kerasanya udah asing sama yang namanya
bahas scene, semiotic, angle, bahkan aktornya. Semenjak Running Man merinai di
otak dari awal tahun ini, film itu jadi kekasih yang diduakan. Mungkin posisinya
sama kaya dulu menduakan teater dan menulis. Ha-ha. Semakin tua, rasanya
sepakat banget hiburan itu bentuknya harus sejuta persen efisien. Ketawa dan
sedikit mikir dalam waktu satu setengah jam menggantikan film yang bisa lewat
dua jam dan harus memecahkan teka-teki, atau lebih parahnya lagi malah ngga ada
teka-tekinya. Saking dangkalnya. Tapi demikianlah hidup, kalo sudah digariskan
pada satu hal, mau kemanapun garis selanjutnya suatu saat akan berujung
kepadanya lagi.
Belakangan ini karena saya ngga banyak nonton film,
saya juga jadi ngga pernah nulis soal film-film yang baik, yang pernah saya
tonton. Film terakhir-terakhir yang super keren saya tonton adalah Sang Penari
karya Ifa Isfansyah yang tampil menyedihkan di acara saya sendiri. Sang Penari
berhasil menarik hati saya dengan tema sekian tahun lalu yang Indonesia Banget. Sejarah itu ngga
selalu ditunjukkan dengan cara yang monoton, Mas Ifa pinter banget mengenalkan
sejarah ‘kita’ lewat Sang Penari dengan improvisasi yang ketangkep sama
generasi zaman sekarang. Sayangnya, untuk menonton film ini memang luar biasa
terbatas, dvdnya juga ngga banyak beredar, jangankan download. Film yang memang
harus dijauhkan dari pembajakan. By the way, saya juga habis menonton Salmon Fishing
in the Yemen by Lasse Hallstrom film yang digarap berlatar belakang Inggris dan
Timur Tengah yang menyibak kemustahilan di dalam keheningan memancing. Menurut
saya, selain dimanjakan dengan shot-shot dengan film ini kita belajar soal
banyak hal dari kegiatan memancing yang selama ini dilihat sebelah mata aja. Dan
Where Do We Go Now? Film Arabic yang mengangkat tema gender yang miris
sekaligus kocak. I enjoyed them.. recommended deh hehe.
Oke, sebagian adalah prolog alaynya. Berikut adalah
maksudnya. Hehe
Yang baru saja saya tonton adalah Moonrise Kingdom
(2012). Scene dalam filmnya nyaris sempurna, plus lagi karena berhasil mengecoh
orang Indonesia semacem saya yang nggak tau soal kepulauan di Amerika sana dan
akhirnya menyangka bahwa film ini berlatar di Inggris. Setting tahun 1965
dibawa di film ini dengan baik, mungkin dimudahkan dengan setting tempat yang berada
di tempat terpencil yang masih punya bangunan-bangunan klasik di sana, selain
itu properti dan kostum yang digarap serius, termasuk gereja, rumah, dermaga,
sampai mobil patroli. Lucu deh.
Alur ceritanya, tentang first love dua anak kecil
Sam dan Suzy. Keduanya digambarkan sebagai trouble maker yang membuat kacau
satu pulau tempat mereka tinggal. Sebagai karakter yang melengkapi, yaitu Sam
sebagai yatim piatu dan tinggal di kamp pramuka dan Suzy sebagai anak perempuan
satu-satunya dari 4 bersaudara yang tinggal di rumah sempurna dan mengetahui
Ibunya memiliki hubungan khusus dengan Kepala Polisi setempat. Cerita utamanya
sih perjalanan mereka menunju their ‘Moonrise
Kingdom’ di sebuah pantai yang mereka kira akan jauh dari kehidupan mereka
sebelumnya yang menjenuhkan dan
menyedihkan, tapi dari perjalanan mereka ditemukanlah perhatian yang
lain. Brotherhood, parents love, juga perhatian orang-orang satu pulau yang
berusaha menemukan mereka. Plot dalam
film ini terlihat ringkas semacem 500 Days of Summer, petunjuk dalam film hanya
berdasarkan shot-shot singkat dan bahkan langsung disampaikan oleh Mr-Red-Coat yang
mengaku sebagai guru katografi Sam. Sebenernya saya juga bingung, Mr-Red-Coat
ini semacem imajinasi atau buah pikiran dari Sam. Mengingat Sam semacam anak
jenius yang memiliki masalah emosi, dan mungkin juga mental, berikut Suzy. Keduanya
digambarkan begitu kuat pada usianya. Di film ada beberapa scene khas, yaitu
panning buat menunjukkan beberapa aktivitas dalam waktu yang bersamaan, seperti
kegiatan para Scout-Boys atau kegiatan honeymoon Sam dan Suzy.
Menurut saya, Moonrise Kingdom menunjuk kepada
sebuah tempat. Yak pantai tempat Sam dan Suzy menuju. Ingat ketika film di awali
diperlihatkan sebuah lukisan rumah tempat Suzy tinggal, juga Scout Camping
tempat Sam tinggal. Dan yang terakhir lukisan Sam di rumah Suzy. Dengan imajinasi
Suzy yang kuat dan kemampuan Sam, they built it. Tema artistik memiliki peran
di film, baik lukisan atau karya-karya sastra yang banyak ditampilkan di dalam
scene. Moralnya? Hmm.. mungkin
menunjukkan supaya kita berkeyakinan seperti Sam atau Suzy yang pada akhirnya
paling ngga berhasil mencapai Moonrise Kingdom seperti yang mereka bayangkan. Hal-hal
yang belum seharusnya dicapai anak-anak, tapi ya memang sudah dicapai oleh
karakter jenius seperti mereka. Yang masih ngga saya ngerti imaginer love
semacam ini kenapa harus ditunjukkan dengan kehidupan anak-anak ya? Kalo mau
menunjukkan bagaimana seorang anak mencari perhatian sih masih nyambung, tapi
kalo menunjukkan anak laki-laki dan anak perempuan yang berusia sekitar 10
tahunan jatuh cinta, lari dari rumah, saling mengirimi gambar telanjang, menusuk
temannya menggunakan gunting, French kiss di tepi pantai yang kemudian tidur
bareng, atau kemudian menikah di bawah umur. Hmm. Sebagai penonton film
sejujurnya film ini ngga menyisakan kesan yang dalam buat saya, meskipun dapat
rating 7.8/10 dari IMDb.
Selasa, 13 Agustus 2013
Grow up..
Menjelaskan adalah bagian yang rumit saat ini. Setiap jengkalnya sulit untuk disentuh
bagaimana, sesungguhnya, keadaannya. Sayangnya, kita sama-sama mengenal betul
dan enggan beranjak. Entah mungkin karena belum tahu arahnya. Dan ketika aku
mencoba menerka selanjutnya, sebagian menghilang dan sebagian melekat erat di
kulit. Sampai ketika aku menengok dan tertarik ke sedalam-dalamnya putaran air
yang menghisapku hilang, dan di antaranya terdapat kamu yang menarik keluar. Mengingatkan
bahwa seharusnya ada bagian yang tidak semestinya musnah, di dalam aku. Dan sadar
adalah aku bukan jawaban yang baik. Bahkan untuk pikiranku sendiri.
Maka
aku bertanya kepada kamu, cermin kepalaku. Yang membaca mengenai segala khayal
yang merinai di otak. Sampai ke pelupuknya dan menghayati setiap kata yang
ingin aku bicarakan. Padahal sudah seluruh hidup aku tak pernah peduli. Adakah aku
menjadi kepala besar yang arogan dan menjadi yang tersulit di benakmu? Sementara
kita tertawa pada satu paham yang sama. Pada satu jarak yang sama. Perantara kata.
Perantara perasaan. Kita menjadi baik-baik saja. Jangan saling mengecewakan.
Rabu, 24 Juli 2013
Menggila.
Menjalin sahutan dari raut sebuah wajah, aku menunduk malu. Terdiam dan menjadi gila. Merajuk datar hati agar tidak lagi ia terjatuh di sepasang mata yang bening lagi merayu. Sayangnya angin tidak merelakan aku diam, mengajakku tersenyum di sela-selanya ia menggelitik perasaanku.Seharusnya aku melepas dulu kejiwaanku kali ini, tidak lagi bermain dengan rasa-rasa yang entah berapa menit selanjutnya akan menghilang dan meninggalkan tumpukan asa yang sia-sia kembali. Aku tidak terlepas dari bagian kali ini dan membayangkannya menjadi oase sepi yang indah, membenahi jiwaku.Angin memeluk dan terbujurlah kemudian di titik kesekian aku mengukir sebuah garis imajiner yang terlunta akan kejiwaanku yang mendamba hujan, air selamanya. Di antara nestapa yang sengaja ku ukir dengan garis tebal, hingga hiduplah aku. Rasanya begitu dingin, ketika menggila dan mengingatmu.
Langganan:
Postingan (Atom)



