Awal tahun 2013 sudah
di depan mata memanggil saya datang lekas-lekas. Saya tersesat di dalam situasi
ketika menghadapi sebuah ruangan gelap dengan barang yang tak terhingga
jumlahnya bercecer menyentuh kaki saya. Dan ketika saya menggesernya pun,
kesekiannya akan langsung menyentuh saya.
Hidup semacam sebatang
rokok, milik seorang yang merokok tapi bukan perokok. Cepat habis, cepat habis.
Situasi yang begitu
kacau. Seperti pembicaraan yang sebelumnya. Ketika kita mengenang soal hidup
tidak ada bayangan mengenainya di awal dan menjadikan kita akhirnya seperti
apa.
Hidup akan tertutup,
bukan ketika kita count down menghitung datangnya pagi di tahun yang baru. Tapi
kematian nanti yang akan menentukannya. Takdir yang satu itu yang mengunci
filosofi kita sebagai manusia. Sedangkan, hidup yang kita setapaki belum juga
lurus jalan tujuannya. Dan kita mengambang pada kebisuan yang pahit, tatkala
mengenangnya kembali.
Hidup seperti gudang
itu. Berantakan dan penuh atas sampah kemauannya di masa lampau. Selanjutnya ia
sibuk menghabiskan apa yang seharusnya ia bisa nikmati lebih lama. Sayang sekali
saya tidak ada pada saat itu untuk memberikan semacam keajaiban, semacam
pelukan yang mesra untuk menghapus keraguannya, menguatkannya. Sayang sekali
pada saat itu saya terlalu sibuk dengan yang namanya kenyataan dan membentuk
bidang ilusi lainnya, yang tidak terjanjikan juga pada akhirnya.
Kalo nanti Tuhan masih
berikan saya usia. Saya mau menjaga kedua orang tua saya, adik saya, dan para
sahabat saya. Saya ngga mau meninggalkan kembali hal yang tidak sepantasnya
ditinggalkan. Bahkan untuk alasan apapun.
Saya begitu sedih tahun
ini. Saya ditipu kaum Maya. Yahudi semakin membabi buta. Saya kehilangannya dan
Ria. Saya terlalu sibuk dengan banyak hal, dan yang paling menyedihkan saya
malu terhadap diri saya sendiri. Saya berubah menjadi pribadi yang dangkal,
saya meninggalkan posisi saya sebagai manusia seutuhnya, saya ngga punya pattern yang kuat bahkan untuk menulis. Saya
ingin sekali menjadi pribadi yang orisinil dan terus menyenangkan. Saya ngga
mau jadi orang mainstream, ngga mau sama-sama an, apalagi disamain. Semoga Allah
memberi usia yang panjang untuk kita semua. Amin