Kamis, 20 Agustus 2009

My hairs, what?

Oh yea, this is the finest thing. I got the short again. Not bad, i feel better. Ummh, people talked, it looks cute for me. Yea, they talked about my childist' too.
Hey ya, just the day before yesterday i looked like an adult without bang, then i have it now. Hmm
And now too, im back to when i was 14. About the last time in my jhs to the first time in my shs. Hemm
Im thinkin about what i love in that past:
Basket,Jambrong&Lonce,Ali Kasiha,Friendster,Biologi, JDC.

Then, all things that made me disgust:
M38,Ali Kasiha's friends,X2's Subjects,Bu Atik,Friendster.

Its simple. Im missin all that time. And my fuckin new haircut suggestin me to get all of them. Thanks God, i got his facebook account. He's soo handsome. And i love my hairs, even it makes me more chubby than before. And im sure an adultness cant seeing from the hairs, i can show it from my heart. LOL :d

Minggu, 16 Agustus 2009

Kadar

Muka-muka bianglala.
Aku merancu
dalam utuh
bebatuan lagi rapuh
dan akupun runtuh.
Putar-putar menangisi
dalam sepuan di awang-awang
aku riang
lalu jadi meriang
berang dalam perang

Aku berhenti atas semua ini.

Sabtu, 15 Agustus 2009

Sadar

Lalu aku terjaga
diam terus diam akupun menjaga
aliran airnya harus tetap ada
biar nafasku terus sedia

Hidupku penuh dia
sedangkan, ada jutaan jentik yg siap kutetaskan
aku induknya
terlalu sering acuhkan.

Cacing bergemul, menantiku
Aku merindu
nafasmu, dan gestur meliat mu.
Gentong MCK, tenang tanpa erotisme
tiada lagi yg menyusuri muka-mukanya.

Aku sembarang saja
Merata, tak tahu apa-apa
Sedangkan yg lainnya menantiku dengan cinta

Kamis, 13 Agustus 2009

De Buron.

Semuanya jadi bertanya-tanya. Aku menderita, aku punya pinta.
Habislah, aku mati. Akhirnya aku mati. Sudah kering peluh lagi air mataku.
Kamu yang mampu mengendalikanku, aku tersipu lalu aku menangis ingat kamu.
Aku ragu, panik, tapi aku diam. Aku buron atas takdirku, atas apa yg hatiku ucapkan. Aku munafik.
Kamu yang selalu berhasil membuatku beriman, teduh mengadu pada Tuhan. Kamu yang selalu berhasil menenangkanku. Memeluk dalam mimpi, dan membiaskan senyum.
Kamu tahu, aku terharu. Kamu diam membatu.

Semuanya jadi terkontaminasi. Jurnal penyesuaian adalah kamu, lalu perubahan sosial mengikutimu, perjuangan setelah kemerdekaan segalanya tentang kamu, terus sampai matriks mengalir kamu.

Aku lelah, tih.

Minggu, 09 Agustus 2009

Karima

Dulu gue masih sama Ali Kasiha, titik.
Terus, kata temen gue dia(bkn ali) suka sama gue. Yaudah, gue cek.
Hmm, orangnya baik, manis, lucu, pinter, gaul, tajir, romaantis lagi. Gue berdesir.
Ada ya yg mau sama gue?
Terus, gue dismsin, dikirimin pulsa, dianter jemput, pokoknya orangnya baik banget deh sama gue, sama sahabat gue.
Gue tebar pesona, temen-temen gue heboh segambreng nyomblangin dia sama gue. Satu angkatan tau.
Terus, dia nembak gue. Gue tolak, masih ada Ali Kasiha.
Terus, dia nembak gue. Gue tolak, masih ada Ali Kasiha.
Terus, dia nembak gue. Gue tolak, ragu.
Gue stressed juga, semua yg ada di gue dihubungkan dengan dia.
Contoh
Gue :
Nyet, anterin gue pulang dong!
Monyet :
Yah, entar si *A@1% marah lagi sama gue.
Gue :
Grr

Padahal ngga semuanya harus dihubungkan dengan gue kan, gue masih berharap sama Ali Kasiha.
Orang bilang, gue itu mau-nggak-mau. Gimana, gue nganggep dia kaya abang-abangan gue, dan sebenernya gue ngga berharap lebih.
Temen-temen jadi pada gedek sama gue, karena gue dianggap jahat. Yah, kecuali sohib2 gue, yg ngerti gue banget(i love you mamens!).
Tapi, gue sadar gue ternyata sayang sama dia. Makanya, gue nyesel. Gue nyesel, dia udah punya pacar dan jadi menjauh dari gue.
Suatu saat, gue sms dia. Gue kangen sama dia dan karna dia udah punya pacar, jadi gue ngerasa aman tanpa takut dia kaya dulu.
Ternyata dia masih sayang sama gue, yaudah berlanjut HTS, terus gue udahan. Takut, dan fikiran gue bercabang.


Gue suka sama orang. Awalnya secret admirer. Waktu itu gue bener-bener ga mau ada yg tau.
So, i always wrote them, my poems to him on my private blog. Aha, ada yg kena jaring, ketauan temen gue. Bertambah yg tau.
Gue ga smsan lama, ga kirimin pulsa, ga anter-jemput, dan ga ngapa-ngapain si orang. Gue malu, eh malah dibilang jaim.
Lama-lama si Orang tau, tau muka gue, tau gue yg sama sekali ngga ada apa-apanya sama maunya, tau tulisan murahan gue buatnya. Si orang tau gue.
Gue tau gebetannya, sampe harapannya.
Gue baru pernah bicara 4 kata sama si orang, dan itu cuma sekali.
Temen-temennya heboh segambreng ngeledekin gue sama si Orang. Gue suka liat mukanya merah. Satu angkatan tau.
Semua yg ada di gue atau si orang selalu dihubung-hubungin. Padahal ga selalu harus gitu juga kali. Kasian si orang risih, seolah-seolah statusnya officially mine, padahal deket juga engga sama gue. Temen gue bilang si Orang mau-nggak-mau ke gue. Kalo menurut gue, si Orang cuma nggak mau kehilangan fans, dan gue emang belom bisa seutuhnya berhenti padahal sikonnya begini. Gue munafik.
Udah. Gue juga ngga tau selesainya.

See, beda banget. Gue, dia, dan si Orang.
Enggak akan pernah sama endingnya, yg satu selesai yg satu gantung. Jadi gue nggak percaya ini karma.
Tapi kalopun ini karma.. Gue nyerah. Emang sakit banget deh, tapi gue berdoa biar gue ga egois suatu saat. Gue berdoa semoga si orang ga usah kena karma suatu saat.

Sabtu, 08 Agustus 2009

Diam.
Aku tidak mau jadi seniman.
Cukup saja bisa makan
Kau tak lagi perlu riskan
Iya, biarkan saja
Aku begini adanya
Tidak ada yg mau jatuh cinta
Karena aku bukan seniman
Aku menggigil takut ketahuan
Diam.
Aku bukan seniman..

Rabu, 05 Agustus 2009

Please mom

Aku menyebutnya purnama, bunda.
Wajahku tersipu, tapi biru membeku.
Aku merajuk, bila kelak kau tak kunjung tunduk.
Badai juga sudah aku lawan, sampai aku berawan. Hampir tak lagi menawan
Aku terus berlari, sampai tak lagi aku rasa ini dua pasang kaki.
Aku menangis bunda, cerita pada purnama.
Untuk siapa lagi, aku mengamati dari atas panggung tentang bumi.
Aku ingin kamu, peluk aku.
Datang, menyerang.
Kemudian kamu diam, lalu bilang..
"..itu anakku.. yang pulang larut dan tak pernah makan malam.."