Alhamdulillah, Alhamdulillah ya Allah. Saya sangat bersyukur untuk 11 Juli tahun ini. Rasanya saya harus ingat sampai tua nanti.
Terima kasih untuk Shelma dan Intan yang membuka mata saya hari ini, melebihi dari seperti biasanya. Saya bilang, ternyata kegalauan saya bukan karena Neo-Feodalisme, tapi mengenai bagaimana saya menghadapi kefeodalismean saya menghadapi diri saya sendiri. Rasanya dominasi masih tetap dimenangkan sama yang nyata, sama tubuh, sama otak sama hati yan ternyata nggak bisa saya sinkronkan dengan tepat.
Saya sangat berterima kasih kepada kak Abdul Hakim, Shelma, PIENCE, KELUARGA BESAR TEATER 35, kak Ferdi Maly Sang Pentjilan and kak Nancy, kak Putra Cahya, kak Arif, Sule, Aruza the rebellion, Kak Anto, Kak Rhuni, Kak Rismaul, Kak Nissa, Bang DOEL, YULI, AMBON cilik and the gank, Ibu mia ayam, Ibu WarKop, Asep, Sore di lapangan 35, Nyonya Matras, AC PENJAS, Kain Firdha, Ibu Norita, SMA saya yang sempet biayain kita semua, My BELOVED Mom-ster, Metlek, Ayah dengan rantai gas, LVT LOVE, Rifai, Bagus Cahaya, Rapid Adriansyah, Sampoerna Foundation, Pak Bambang;jurinya yang nyebut kita melulu. Dan semua yang sudah saya libatkan minta doanya dan lain-lain.
Pementasan ini saya dedikasikan untuk Allah SWT, seperti nenek moyang saya di dataran Yunani sana, yang mendedikasikan karya seni bagian dari hidup mereka, bagian keindahan mereka untuk Dewanya. Sebagai rasa syukur. Untuk Negeri saya yang mendewa dengan segala kultur –ismenya. Untuk orang-orang di atas yang saya sebutkan.
Saya semakin tau diri saya hari ini. Kebiasaan, semuanya saya tumpuk jadi satu. Terima kasih yang sudah begitu mengerti saya. Terima kasih yang sudah mau berjuang dan berproses bersama-sama. Saya akan rindu ngambeknya Ike dan keramasannya, Spagethi goreng endrang yang acin, lawakan atap, mood betenya duwi dan ngeyelnya, pusingnya ngadepin Arja dengan glodoknya juga Lele dengan Ciledugnya. Ngadepin paniknya menuju pentas, riweuh godain maridha sama lele, kangen rotinya maridha, pasrahnya Gotir, Aini, dan Roro, atau Alia, sok Alaska-an di ruang penjas, ngaret ngaretan, temen-temenan kalo mau pipis, jayus yang paling kocaknya ka Akim, sok-ketidak yakinan, halah halah halalalalalalh. Semoga ini bukan pementasan terakhir, amin. Semoga seperti kata kak Cahya, semoga semakin lebih baik berkarya. Semoga makin propesional ye.
Adalah yang kemudian patut lebih disyukuri, masuknya nominasi adalah salah satu yang paling saya banggakan. Hehe, abisnya kita gak pernah dapet nominasi ya. Tapi liat kerja keras kita selama ini bok! Dapet kan kita!!!! Kita memang kereeen..
Oke saya mulai ngawur, saya ngantuk. Next page, curhat pribados.
Senin, 12 Juli 2010
Jumat, 09 Juli 2010
Neo-Feodalisme
Halo, apa itu feodalisme?
Tata hidup yang masih membeku di Negara saya. Kata guru fisika saya, feodalisme itu akan hilang mungkin 3 setengah abad lagi, sama seperti masa penjajakannya hadir di sini. Selamanya tidak akan hilang, mungkin juga. Yang kaya yang berkuasa, yang miskin yang terus tersingkir. Jadi, pada dasarnya feodalisme ini lebih tepat disebut menjadi kultur dari bangsa ini sendiri. sudah menjadi bagian tersendiri yang tidak terpisahkan, padahal bangsa ini jauh lebih kurus dari standar berat bangsa-bangsa lainnya. Tapi ke-blagu-annya itu tidak kurang, seperti bangsa yang sudah mencapai segalanya. Iya tho?
Feodalisme rasanya adalah bagian di mana kita harus kembali ingat kita sebagai manusia yang menuju kebaikan, kita masih memilliki unggah-ungguh yang harus ditaati. Tapi kadang feodalisme tersebut menjadikan garis perbudakan jauh terlihat lebih jelas di permukaan. Ada jarak, ada batas, ada tingkatan dari pelaku feodalisme tersebut. Kalau di sosiologi ada yang namanya strata khusus yang tidak bisa ditempuh selain anggota aslinya, seperti kasta. Tau kan kasta? Kalau Brahmana jangan sampai menyentuh waisya apalagi sudra. Kalau ningrat, ningrat aja, jangan menyentuh yang miskin-miskin, yang jongos-jongos.
Zaman dahulu, kaum bangsawan dianggap bekerjasama dengan para penjajah, barulah hadir sang anti-feodalisme. Karena itu seiring waktupun, kaum bangsawan semakin turun pamornya, dikalahkan zaman, dikalahkan internet, akademisi, orang kaya wiraswasta, dsb.
Bangsawan itu kaya. Kaya akan segalanya, dengan warna darah mereka, mereka sanggup bahkan untuk memiliki jiwa dalam benda mereka. Mereka begitu takluk dan tunduk, pada yang sudah hadir, mereka begitu setia. Tapi anggapan begitu jauh berbeda, orang-orang bicara karena melihat kan biasanya? Nah, bangsawan kalah dengan pemberita, dan sebagian jadi luntur rasa percayanya. Tapi masih tetap banyak yang mengabdi padanya. Rata-rata mereka adalah yg mengaku pahlawan budaya, hehe atau ya mungkin karena hidupnya, Bapaknya, Mboknya sudah terbiasa dikuasai hidupnya dari Keraton. Ya begitulah.
Anak bangsawan ingin jadi pengusaha saja, biar aman. Semua berbondong-bondong perlahan melepaskan jubah bangsawannya. Mereka menyentuh dasar, melihat apa yang orangtua mereka tidak lihat sebelumnya. Manusia sama adanya. Manusia bisa sama adanya. Sekarang dunia sudah adil, dan para keraton tidak perlu lagi mengurusi segalanya, sudah ada DPRD, sudah ada asuransi, polisi, dan lain-lain.
Lah, selanjutnya siapa yang kemudian mengurusi adat-adat, budaya bangsa? Siapa yang mengurusi bahkan sekatenan, dan sebagainya? Yah sebenernya masih ada, bangsawan masa kini, bangsawan yang mulai hidup normal, bangsawan yang juga masih peduli sama budayanya. Hidup sedikit-sedikit mulai normal.
Tapi bangsawan sekali lagi dengan darah birunya mampu menggugah siapapun. Ada yang ingin juga merasakan derajatnya dielu-elukan siapa saja, ada yang ingin dihormati, lalu semakin banyak orang mengaku keturunan Mataram Kuna, mengaku keturunan Hadiningrat, bla-bla.. semakin banyak yang nagih Paring Dalem Serat Kekancingan. Silsilah biar jadi keluarga raja.
Nyatanya feodalisme tidak hilang lagi. Tumbuh lagi, di zaman yang baru ini. Dengan Neo-feodalisme, yang menyamar sebagai pahlawan bedhaya, alih-alih mengenalkan keturunan mereka sebagai penerus sejarah. Hoalah!!
Bayangkan apa yang hadir di balik ambisi? Sebuah , mmh bukan. Banyak cara untuk menemukan sang ambisi. Lemma datang. Tebak apa yang ada di kepalanya? Kata tidak!
Lemma adalah gadis remaja yang hilang saat ia harus ditujukan tuntutan menikah oleh orang tuanya. Lemma punya hidup yang normal sebelumnya sebagai remaja putri di luar rumahnya, dan terbiasa harus bersandiwara di depan Kanjeng Romo dan Ibundanya sebagai putri keturunan bangsawan jadi-jadian, santun dan menjadi patuh kepada apapun.
Anak gadis menikah jangan lama-lama, apalagi sudah ada yang meminta lalu punya derajat dan harta. Tidak peduli calon suami usianya berapa, dan istri sebelumnya ada berapa. Bagaimana menyerukan kata tidak? Bagaimana dunia menjadi tiada, rasanya jadi Lemma pasti kering seperti tanah, tidak bisa apa-apa, dan terpaksa menerima semua yang berdiri di atasnya. DIA memburunya, dunia dimenangkan Kanjeng Romonya.
Dan kali ini, Lemma tidak mampu lagi untuk tidak berkata tidak!
Tata hidup yang masih membeku di Negara saya. Kata guru fisika saya, feodalisme itu akan hilang mungkin 3 setengah abad lagi, sama seperti masa penjajakannya hadir di sini. Selamanya tidak akan hilang, mungkin juga. Yang kaya yang berkuasa, yang miskin yang terus tersingkir. Jadi, pada dasarnya feodalisme ini lebih tepat disebut menjadi kultur dari bangsa ini sendiri. sudah menjadi bagian tersendiri yang tidak terpisahkan, padahal bangsa ini jauh lebih kurus dari standar berat bangsa-bangsa lainnya. Tapi ke-blagu-annya itu tidak kurang, seperti bangsa yang sudah mencapai segalanya. Iya tho?
Feodalisme rasanya adalah bagian di mana kita harus kembali ingat kita sebagai manusia yang menuju kebaikan, kita masih memilliki unggah-ungguh yang harus ditaati. Tapi kadang feodalisme tersebut menjadikan garis perbudakan jauh terlihat lebih jelas di permukaan. Ada jarak, ada batas, ada tingkatan dari pelaku feodalisme tersebut. Kalau di sosiologi ada yang namanya strata khusus yang tidak bisa ditempuh selain anggota aslinya, seperti kasta. Tau kan kasta? Kalau Brahmana jangan sampai menyentuh waisya apalagi sudra. Kalau ningrat, ningrat aja, jangan menyentuh yang miskin-miskin, yang jongos-jongos.
Zaman dahulu, kaum bangsawan dianggap bekerjasama dengan para penjajah, barulah hadir sang anti-feodalisme. Karena itu seiring waktupun, kaum bangsawan semakin turun pamornya, dikalahkan zaman, dikalahkan internet, akademisi, orang kaya wiraswasta, dsb.
Bangsawan itu kaya. Kaya akan segalanya, dengan warna darah mereka, mereka sanggup bahkan untuk memiliki jiwa dalam benda mereka. Mereka begitu takluk dan tunduk, pada yang sudah hadir, mereka begitu setia. Tapi anggapan begitu jauh berbeda, orang-orang bicara karena melihat kan biasanya? Nah, bangsawan kalah dengan pemberita, dan sebagian jadi luntur rasa percayanya. Tapi masih tetap banyak yang mengabdi padanya. Rata-rata mereka adalah yg mengaku pahlawan budaya, hehe atau ya mungkin karena hidupnya, Bapaknya, Mboknya sudah terbiasa dikuasai hidupnya dari Keraton. Ya begitulah.
Anak bangsawan ingin jadi pengusaha saja, biar aman. Semua berbondong-bondong perlahan melepaskan jubah bangsawannya. Mereka menyentuh dasar, melihat apa yang orangtua mereka tidak lihat sebelumnya. Manusia sama adanya. Manusia bisa sama adanya. Sekarang dunia sudah adil, dan para keraton tidak perlu lagi mengurusi segalanya, sudah ada DPRD, sudah ada asuransi, polisi, dan lain-lain.
Lah, selanjutnya siapa yang kemudian mengurusi adat-adat, budaya bangsa? Siapa yang mengurusi bahkan sekatenan, dan sebagainya? Yah sebenernya masih ada, bangsawan masa kini, bangsawan yang mulai hidup normal, bangsawan yang juga masih peduli sama budayanya. Hidup sedikit-sedikit mulai normal.
Tapi bangsawan sekali lagi dengan darah birunya mampu menggugah siapapun. Ada yang ingin juga merasakan derajatnya dielu-elukan siapa saja, ada yang ingin dihormati, lalu semakin banyak orang mengaku keturunan Mataram Kuna, mengaku keturunan Hadiningrat, bla-bla.. semakin banyak yang nagih Paring Dalem Serat Kekancingan. Silsilah biar jadi keluarga raja.
Nyatanya feodalisme tidak hilang lagi. Tumbuh lagi, di zaman yang baru ini. Dengan Neo-feodalisme, yang menyamar sebagai pahlawan bedhaya, alih-alih mengenalkan keturunan mereka sebagai penerus sejarah. Hoalah!!
Bayangkan apa yang hadir di balik ambisi? Sebuah , mmh bukan. Banyak cara untuk menemukan sang ambisi. Lemma datang. Tebak apa yang ada di kepalanya? Kata tidak!
Lemma adalah gadis remaja yang hilang saat ia harus ditujukan tuntutan menikah oleh orang tuanya. Lemma punya hidup yang normal sebelumnya sebagai remaja putri di luar rumahnya, dan terbiasa harus bersandiwara di depan Kanjeng Romo dan Ibundanya sebagai putri keturunan bangsawan jadi-jadian, santun dan menjadi patuh kepada apapun.
Anak gadis menikah jangan lama-lama, apalagi sudah ada yang meminta lalu punya derajat dan harta. Tidak peduli calon suami usianya berapa, dan istri sebelumnya ada berapa. Bagaimana menyerukan kata tidak? Bagaimana dunia menjadi tiada, rasanya jadi Lemma pasti kering seperti tanah, tidak bisa apa-apa, dan terpaksa menerima semua yang berdiri di atasnya. DIA memburunya, dunia dimenangkan Kanjeng Romonya.
Dan kali ini, Lemma tidak mampu lagi untuk tidak berkata tidak!
H-5
halo, pementasan sudah mau dekat. Untuk menjadi ke empatnya sekaligus bukanlah hal yg mudah. Saya cukup lelah sama semuanya. Tapi saya tidak akan menjadikannya sia-sia. Saya akan berjuang sampai nanti habis waktunya, saya akan tetap berjuang menyampaikan rasa galau saya. Ini adalah arogansi saya, menjadikan sebuah rasa galau sebagai bentuk dedikasi saya terhadap hati, dan apa yang ada saat ini. Kalau saya bicara sesuatu, saya akan menghadirkannya biar semua tahu. Biar semua tahu kalau hati yang bicara ini bukan mengenai sesuatu yang hanya terlihat gaib. Saya cukup normal kok. Saya butuh waktu.
Di hari sebelum pementasan seperti inipun saya belum punya musik, dan property, saya belum siap adegan, saya belum apa-apa. Tapi saya melihatnya masih seperti dulu. Ketika dihadapkan kepada sebotol air, saya akan terus melihat air saya masih tersisa sekian, tidak membiarkan saya melihat hanya tinggal sekian. Saya janji, saya janji.
Apa yang menguatkan saya, detik-detik yang membunuh saya tersebut yang membunuh saya, detik-detik tersebut yang mengajari saya, bagaimana menghadapi mood orang-orang jelek seperti mereka, yang selalu ngedropin mood, dan yang hanya mampu membuat saya hidup kembali. Bagaimana menghadapi jalan buntu bersama mereka yang selalu ada di samping saya. Saya selalu percaya mereka, saya selalu tidak pernah percaya mereka. Tapi karena saya gila, saya ambil yang protagonist saja, saya akan selamanya percaya mereka, mereka memberikan saya lebih banyak daripada uang berlimpah.
Semiskin-miskinnya kita semua, segatel-getelnya tenggorokan kita, secere-cerenya kuat vocal kita. Kemarin saya berhasil yes berhasil pesta Ice Cream di Minggu siang yang kebocoran neraka. Ya, menggantikan minggu siang yang biasanya saya jalani di rumah, AC, Ice cream, matras, kurang DVD aja. Saya bersyukur ya Allah, kuatkan saya, sampai nanti tiba waktunya.
Terima kasih punya keluaarga seperti mereka, terima kasih telah memberi brother-land ; rumah fajar dan laki-lakinya. Saya tidak henti mengeluh, meskipun jadwal saya padat merayap, saya bersyukur ya Allah, saya berharap padaMu ya Allah, saya mau kuliah di Solo. Semoga Engkau berikan, amin. Aku percaya ya Allah, amin.
Di hari sebelum pementasan seperti inipun saya belum punya musik, dan property, saya belum siap adegan, saya belum apa-apa. Tapi saya melihatnya masih seperti dulu. Ketika dihadapkan kepada sebotol air, saya akan terus melihat air saya masih tersisa sekian, tidak membiarkan saya melihat hanya tinggal sekian. Saya janji, saya janji.
Apa yang menguatkan saya, detik-detik yang membunuh saya tersebut yang membunuh saya, detik-detik tersebut yang mengajari saya, bagaimana menghadapi mood orang-orang jelek seperti mereka, yang selalu ngedropin mood, dan yang hanya mampu membuat saya hidup kembali. Bagaimana menghadapi jalan buntu bersama mereka yang selalu ada di samping saya. Saya selalu percaya mereka, saya selalu tidak pernah percaya mereka. Tapi karena saya gila, saya ambil yang protagonist saja, saya akan selamanya percaya mereka, mereka memberikan saya lebih banyak daripada uang berlimpah.
Semiskin-miskinnya kita semua, segatel-getelnya tenggorokan kita, secere-cerenya kuat vocal kita. Kemarin saya berhasil yes berhasil pesta Ice Cream di Minggu siang yang kebocoran neraka. Ya, menggantikan minggu siang yang biasanya saya jalani di rumah, AC, Ice cream, matras, kurang DVD aja. Saya bersyukur ya Allah, kuatkan saya, sampai nanti tiba waktunya.
Terima kasih punya keluaarga seperti mereka, terima kasih telah memberi brother-land ; rumah fajar dan laki-lakinya. Saya tidak henti mengeluh, meskipun jadwal saya padat merayap, saya bersyukur ya Allah, saya berharap padaMu ya Allah, saya mau kuliah di Solo. Semoga Engkau berikan, amin. Aku percaya ya Allah, amin.
Jumat, 02 Juli 2010
Saya suka Ketoprak

Saya suka sekali ketoprak. Eh, sebelumnya saya akan katakana kalo saya begitu mencintai KACANG, YESSS PEANUT!
Jadi ketika saya dikasih pilihan ketoprak, sate, gado-gado, bakso, atau ayam kampung. Saya tidak akan pernah memilih ayam kampung dan saya akan memilih keempatnya sekaligus. Tunggu,tunggu, oke, saya memang gendut. Tapi, siapa yang tidak setuju dengan rasa gurih kacang yang diulek sama cabe yang banyak terus dikasih bawang putih terus dikasih kecap yang manissssss banget, ketupatnya yaang empuk, tauge-tauge yang segar tapi layu, dan tahu yang lembutt, ditambah kerupuk oren yang dewa banget, adalah makanan yang nggak semua orang nolak? Sama kayak gado-gado, tapi gado-gado itu jauh lebih nampol kalo bener ada telur rebusnya, berasa ada lauk, dan sayuran yang krenyes-krenyes gitu yang bikin nafsu. Oke, makanan dengan bumbu kacang memang paling nikmat, apalagi kalo kecapnya plus plus, dan kerupuk sama bawang gorengnya kering-kering layu kena kuah. HAHAHAHAH!
Jadi, pada intinya mulailah bersikap ramah kepada gerobak nan menyambutmu tiap malam di depan gang. Dengan 10 rebu, gerobak melalui abangnya akan memberikan kebahagiaan duniawi yang tidak kalah menariknya dibandingkan dufan, man! Apa banget ya saya, saya lagi nafsu banget, mau nambah!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Bangsat
Bangsat, si G beneran ngadat, kayaknya ada yg ganjel deh di bawahnya. Zz
h-10
saya latihan, tapi lebih tepat dikatakan membuang waktu. Yang paling perih adalah ketika kata ‘harus’ menjadi ditujukan kepada pembagian peran. Saya harus menjadi keempatnya sekaligus. Menjadi tukang tulis, astrada, fenti, dan Lemma, belum lagi bantu Ike jadi wapimpro, sok ngatur-ngatur anak-anak.
Saya adalah yang pertama yakin mengenai keprofessionalitasan mereka. Mereka bisa hidup hanya dengan mengkreativitasikan uang goceng mereka, merayu mba warteg dengan paket goceng, mereka bisa sekaligus berperan ganda; sebagai anak perempuan pembantu ibunya, ojek pengantar, kemudian jadi anak teater, lalu kembali ke perannya. Mereka memulainya dengan sederhana, karena itu perpisahan kecil ini saya buat, selain karena rindu pribadi pada bulungan. Karena itu semua saya begitu menyayangi sekaligus mengagumi mereka. Terima kasih urutan setelah Allah SWT, saya haturkan kepada Bang Junet a.k.a Bang Abdul Hakim, yg telah mengeluarkan imaji saya dari kepala, dan buat panggung bicara. Selanjutnya kepada SHELMA AISYA, yang buat saya yakin saya bisa selamanya. Yang buat saya merasa saya harus tampak tidak terlalu bodoh mendengarkan ocehan THE SIGITnya, makasi ikendut. Terima kasih buat PIENCE my whole heart, firda marida emban marimban, Gotir, dan angkatan 12, dan semuanya. Hah? Belum pementasannya, ya? Aduh!
Saya terlalu lelah. Saya terlalu lelah untuk terus mengolah vokal, tapi saya juga harus mencari paku untuk sekedar pasang kelambu, atau saya harus merasa marah kalau Dwi gak konsentrasi. Ya Allah sayangku, semoga nggak sia-sia. Selamanya itu yang saya punya dan saya yakini.
Seperti moyang saya di dataran Yunani, pementasan ini nantinya buat Dewa. Buat sang Kholik yang memiliki saya dan belahan jiwa saya. Oke maksudnya kan saya mau curhat tentang toprak, kok malah nyambung ke sini ya? zz
h-10
saya latihan, tapi lebih tepat dikatakan membuang waktu. Yang paling perih adalah ketika kata ‘harus’ menjadi ditujukan kepada pembagian peran. Saya harus menjadi keempatnya sekaligus. Menjadi tukang tulis, astrada, fenti, dan Lemma, belum lagi bantu Ike jadi wapimpro, sok ngatur-ngatur anak-anak.
Saya adalah yang pertama yakin mengenai keprofessionalitasan mereka. Mereka bisa hidup hanya dengan mengkreativitasikan uang goceng mereka, merayu mba warteg dengan paket goceng, mereka bisa sekaligus berperan ganda; sebagai anak perempuan pembantu ibunya, ojek pengantar, kemudian jadi anak teater, lalu kembali ke perannya. Mereka memulainya dengan sederhana, karena itu perpisahan kecil ini saya buat, selain karena rindu pribadi pada bulungan. Karena itu semua saya begitu menyayangi sekaligus mengagumi mereka. Terima kasih urutan setelah Allah SWT, saya haturkan kepada Bang Junet a.k.a Bang Abdul Hakim, yg telah mengeluarkan imaji saya dari kepala, dan buat panggung bicara. Selanjutnya kepada SHELMA AISYA, yang buat saya yakin saya bisa selamanya. Yang buat saya merasa saya harus tampak tidak terlalu bodoh mendengarkan ocehan THE SIGITnya, makasi ikendut. Terima kasih buat PIENCE my whole heart, firda marida emban marimban, Gotir, dan angkatan 12, dan semuanya. Hah? Belum pementasannya, ya? Aduh!
Saya terlalu lelah. Saya terlalu lelah untuk terus mengolah vokal, tapi saya juga harus mencari paku untuk sekedar pasang kelambu, atau saya harus merasa marah kalau Dwi gak konsentrasi. Ya Allah sayangku, semoga nggak sia-sia. Selamanya itu yang saya punya dan saya yakini.
Seperti moyang saya di dataran Yunani, pementasan ini nantinya buat Dewa. Buat sang Kholik yang memiliki saya dan belahan jiwa saya. Oke maksudnya kan saya mau curhat tentang toprak, kok malah nyambung ke sini ya? zz
Kamis, 01 Juli 2010
May My Last Be!
“Ada hal-hal yang menggalaukan hatimu, di kala kau sedang sangat berbahagia sekalipun..”
Hujan waktu itu membisiki saya, biar tetesanku mendinginkanmu, sampai kau sadari hanya ada mereka di sampingmu, sampai buronan-buronan itu yang benar-benar di dekatmu, sampai pada masanya kau kawin!
Oke, tombol g’ saya rusak. Mungkin juga karena efek hujan nan membiru kemarin.
Saya hanya diam, dirundung pilu. Sengaja saya buat pilu, karena saja juga tidak begitu baik pada saat itu. Badan saya panas, tenggorokan saya layaknya disusungkan oleh kayu-kayu jati rongsokan yang telah disirami minyak-minyak, dan dibakar habis di dalam relungannya. Badan saya lemas, hilang ingatan, habis ditebas, kemudian terasa ada sekumpulan kera menggelayuti kepala saya. Pak.. pak.. pak! Kepala saya butuh apinya, biar semua habis. Hilang, mati, dan padam sendirinya. Saya bertanya bagaimana saya harus memulainya, bagaimana saya mengontrolnya.
Saya sudah berjanji sama diri saya sendiri, saya tidak akan memulainya kembali. Sejak saya 17 tahun. Oke, dan kemarin Marlboro light punya ike memulainya. Bagus. I was smoke.
Hujan menyumpahi saya. Ibu sudah tau saya pernah merokok. Saya berfikir akan ada yang kecewa kalo saya memulainya. Tapi saya fikir, dia tak lagi peduli. Ya sudah saya mulai. Saya mulai menarik, mengharumi dengan racauan di hati saya, dengan teriakan sumpah serapah di benak saya. Tolol. Artinya saya menikmati, saya ingat bagaimana saya mengucap goodbye terakhir sama black dan sebatang dunhill terakhir saya waktu itu. Ah, pada intinya saya memang suka rasanya yang menyaru pada kopi, atau sekedar aroma menthol ketika menyentuh rongga-rongga hidupnya, ketika berfikir mengenai apa yang orang fikirkan ketika melakukannya, menyadari otak bekerja lebih cepat dan lebih naïf, atau menyadari akan berisiko gagal punya anak kembar ketika terus menyemburkannya. Betapa saya ingin terus menghabiskanmu.
Buat saya itu hanya cobaan, hanya godaan yg berhasil melewati saya. Kemarin saya sakit, kemarin saya begitu rapuh dipeluk hujan, dan lagi elegi hati saya masih hadir di sana, belum tuntutan-tuntutan yang menuntutmu sejak dulu belum habis. Ya Allah.
Saya bukan perokok, tapi saya merokok. Kalau hujan tak mampu menepis beban saya. Kalau sudah dua bulan, asma saya nggak kambuh lagi, kalau saya bilang mau merokok. Saya akan merokok.
Tapi saya janji, kalau hujan tak mampu lagi memeluk saya dan menghentikannya, biar saya panggil tuan langit sekaligus yang memeluk saya. Saya tidak akan biarkan saya lupa sedikitpun. Saya akan merokok di saat genting. Hidup saya tiada genting. Saya tidak merokok sepertimu!
Hujan waktu itu membisiki saya, biar tetesanku mendinginkanmu, sampai kau sadari hanya ada mereka di sampingmu, sampai buronan-buronan itu yang benar-benar di dekatmu, sampai pada masanya kau kawin!
Oke, tombol g’ saya rusak. Mungkin juga karena efek hujan nan membiru kemarin.
Saya hanya diam, dirundung pilu. Sengaja saya buat pilu, karena saja juga tidak begitu baik pada saat itu. Badan saya panas, tenggorokan saya layaknya disusungkan oleh kayu-kayu jati rongsokan yang telah disirami minyak-minyak, dan dibakar habis di dalam relungannya. Badan saya lemas, hilang ingatan, habis ditebas, kemudian terasa ada sekumpulan kera menggelayuti kepala saya. Pak.. pak.. pak! Kepala saya butuh apinya, biar semua habis. Hilang, mati, dan padam sendirinya. Saya bertanya bagaimana saya harus memulainya, bagaimana saya mengontrolnya.
Saya sudah berjanji sama diri saya sendiri, saya tidak akan memulainya kembali. Sejak saya 17 tahun. Oke, dan kemarin Marlboro light punya ike memulainya. Bagus. I was smoke.
Hujan menyumpahi saya. Ibu sudah tau saya pernah merokok. Saya berfikir akan ada yang kecewa kalo saya memulainya. Tapi saya fikir, dia tak lagi peduli. Ya sudah saya mulai. Saya mulai menarik, mengharumi dengan racauan di hati saya, dengan teriakan sumpah serapah di benak saya. Tolol. Artinya saya menikmati, saya ingat bagaimana saya mengucap goodbye terakhir sama black dan sebatang dunhill terakhir saya waktu itu. Ah, pada intinya saya memang suka rasanya yang menyaru pada kopi, atau sekedar aroma menthol ketika menyentuh rongga-rongga hidupnya, ketika berfikir mengenai apa yang orang fikirkan ketika melakukannya, menyadari otak bekerja lebih cepat dan lebih naïf, atau menyadari akan berisiko gagal punya anak kembar ketika terus menyemburkannya. Betapa saya ingin terus menghabiskanmu.
Buat saya itu hanya cobaan, hanya godaan yg berhasil melewati saya. Kemarin saya sakit, kemarin saya begitu rapuh dipeluk hujan, dan lagi elegi hati saya masih hadir di sana, belum tuntutan-tuntutan yang menuntutmu sejak dulu belum habis. Ya Allah.
Saya bukan perokok, tapi saya merokok. Kalau hujan tak mampu menepis beban saya. Kalau sudah dua bulan, asma saya nggak kambuh lagi, kalau saya bilang mau merokok. Saya akan merokok.
Tapi saya janji, kalau hujan tak mampu lagi memeluk saya dan menghentikannya, biar saya panggil tuan langit sekaligus yang memeluk saya. Saya tidak akan biarkan saya lupa sedikitpun. Saya akan merokok di saat genting. Hidup saya tiada genting. Saya tidak merokok sepertimu!
Ah iya!
Ah iya, ketemu!
Saya sedang belajar mengkonsistensikan diri saya, tapi saya akan selalu berusaha mendinamisasikan hidup saya sekaligus, karena saya begitu rapuh dengan sedikit hal. Makanya saya berlebihan.
Please! Berlebihan ini karena saya cinta kamu, saya nggak mau ditinggalkan teman-teman saya ketika saya bicara, saya tidak menginginkan sedikitpun kamu bosan dan pergi saja dari saya. Saya membuat pengecualian, saya ingin tetap ada, dan kamu ada, kalian ada. Tapi, ya namanya juga berlebihan. Tetep nggak menyenangkan membicarakannya.
Rasa yang membuncah akhir-akhir ini adalah buah dari berlebihan saya yang biasa kali ya. Rasa yang baru saya temukan dan saya ingin menyimpannya sampai mati, membuang yang lain, menindas kesempatan yang mungkin lainnya dapat dengan mudah saya dapatkan karena saya mau satu. Karena kalau nggak gitu, saya mikirnya seperti saya terlalu maruk dan kembali nggak fokus. Hidup harus ada pengorbanannya, hidup mau saya pilih satu, pilih yang orang lain biasa pilih, biar dianggap normal, biar gak dianggap macem-macem. Ya sudah.
Lagian saya bingung, harus bagaimana lagi menenangkan hati saya dengan berbagai tuntutan-tuntutan tersebut. Apa iya saya harus pergi lagi? pergi ke mana? Orangnya aja belum tau yang saya maksud, ya orangnya belom tentu juga mau sama saya. Aaapaaan sih lo ti.
Saya harus beranjak dari mimpi ini, sebelu saya tersungkur hilang jatuh semakin jauh ke dalamnya. Sedangkan saya akan kembali melankolis, oh tiada lagi! sahabat!
Mengenai tanggal 11, kalau saya tidak minum es, saya dan keluarga saya pasti mampu menguasai panggung kesayangan kami tersebut, belum lagi bukankah kami sudah berpengalaman. Ya. Ini bukan dihitung lagi berapa banyak penjualan tiket neng.
Masalah kuliah, dilemma. Tapi saya harus yakin, karena ini adalah pilihan terakhir yang terlambat yang saya yakini. Saya berdo’a, insya Allah, amin.
Yang saya butuhkan adalah pengontrolan diri yang baik, jangan kebanyakan cerita. Jangan suka bagi-bagi derita, orang gak suka. Ya udah jangan dibaca! :p
Ah bangsat, akhir-akhir ini saya suka meracau, saya kacau! Tapi saya, saya menjamin tidak akan ada hal yang merubah saya, terutama hal cere macam hal-hal BTS dan komentarnya, or some fucking people that came to ma life.
Oke, dengan tulisan ini saya akan membuka diri saya. Saya akan .. akan apa entahlah. Yang jelas, saya tidak akan mengulang segala kesalahan yang sama.
Saya sedang belajar mengkonsistensikan diri saya, tapi saya akan selalu berusaha mendinamisasikan hidup saya sekaligus, karena saya begitu rapuh dengan sedikit hal. Makanya saya berlebihan.
Please! Berlebihan ini karena saya cinta kamu, saya nggak mau ditinggalkan teman-teman saya ketika saya bicara, saya tidak menginginkan sedikitpun kamu bosan dan pergi saja dari saya. Saya membuat pengecualian, saya ingin tetap ada, dan kamu ada, kalian ada. Tapi, ya namanya juga berlebihan. Tetep nggak menyenangkan membicarakannya.
Rasa yang membuncah akhir-akhir ini adalah buah dari berlebihan saya yang biasa kali ya. Rasa yang baru saya temukan dan saya ingin menyimpannya sampai mati, membuang yang lain, menindas kesempatan yang mungkin lainnya dapat dengan mudah saya dapatkan karena saya mau satu. Karena kalau nggak gitu, saya mikirnya seperti saya terlalu maruk dan kembali nggak fokus. Hidup harus ada pengorbanannya, hidup mau saya pilih satu, pilih yang orang lain biasa pilih, biar dianggap normal, biar gak dianggap macem-macem. Ya sudah.
Lagian saya bingung, harus bagaimana lagi menenangkan hati saya dengan berbagai tuntutan-tuntutan tersebut. Apa iya saya harus pergi lagi? pergi ke mana? Orangnya aja belum tau yang saya maksud, ya orangnya belom tentu juga mau sama saya. Aaapaaan sih lo ti.
Saya harus beranjak dari mimpi ini, sebelu saya tersungkur hilang jatuh semakin jauh ke dalamnya. Sedangkan saya akan kembali melankolis, oh tiada lagi! sahabat!
Mengenai tanggal 11, kalau saya tidak minum es, saya dan keluarga saya pasti mampu menguasai panggung kesayangan kami tersebut, belum lagi bukankah kami sudah berpengalaman. Ya. Ini bukan dihitung lagi berapa banyak penjualan tiket neng.
Masalah kuliah, dilemma. Tapi saya harus yakin, karena ini adalah pilihan terakhir yang terlambat yang saya yakini. Saya berdo’a, insya Allah, amin.
Yang saya butuhkan adalah pengontrolan diri yang baik, jangan kebanyakan cerita. Jangan suka bagi-bagi derita, orang gak suka. Ya udah jangan dibaca! :p
Ah bangsat, akhir-akhir ini saya suka meracau, saya kacau! Tapi saya, saya menjamin tidak akan ada hal yang merubah saya, terutama hal cere macam hal-hal BTS dan komentarnya, or some fucking people that came to ma life.
Oke, dengan tulisan ini saya akan membuka diri saya. Saya akan .. akan apa entahlah. Yang jelas, saya tidak akan mengulang segala kesalahan yang sama.
Langganan:
Postingan (Atom)
