Dengar coba dengar, ketika rintik hujan usai menyambangimu senja itu.. dan matamu tergeletak dalam penantian panjang yang hilang begitu saja..
Lalu kamu terpuruk mendengar desisan tangismu, hatimu yg membiru. Sangau dan payau. Berharap ada yg memeluk dan menggenggam lekat tangan tipismu.. dan gejolaknya berputar, putar, membayangimu. Mengotori pikiranmu, prasangka nan melangkahimu, buta!
Hidup tidak lagi terlihat adil, ada deruan hati. Tapi tidak lagi mampu kau sangkal, dia di sini. Masih ada di sini. Sampai kita mati.
Dan, kau tak lagi mampu melongok pesanku.. pesanku nan basah, meriah, di ukiran-ukiran kulitmu.. sayang, padahal aku berikan itu sepenuh hati..
Tapi elegi menahanku dan kamu.. penuh tanpa relung kosong. Hingga awan mendung di luar berbaris menunggu untuk sekedar menenangkan hatimu. Awan di luar pun ingin menenangkanmu. Memelukmu dari galau nan menghancurkanmu. Ya, sejak senja itu.
Harusnnya aku tidak membauimu, di jejak fajar itu..
Sekarang, pada tepi bulanpun aku enggan tersenyum. Aku meringis, pakis, miris. Dasar jancuk, gelegek, bajingan, buangsat.. mana bisa aku lupa! Haha *kopromenjulingkanmataberputarputarnyeburkeair*
Tampilkan postingan dengan label Lantai Panggung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lantai Panggung. Tampilkan semua postingan
Minggu, 05 September 2010
Oh, Klasik!
Pernah dengar kisah klasik?
Ketika kamu hadir di hamparan aspal, debu jalanan..
Di antara Jogya menuju Sala..
Dayuan relung-relung pagi menyambut..
Dan hatimu segera terjuntai,
Disambut lampu jalanan, semerbak dan menggoyahkan tatapanmu..
Pada sejarah kota, yang diiringi jazz melankolis.
Berjalan, terus sampai ujungnya tak lagi kau temui..
Dan pikiran kotor mendapatkanmu sedang bertelanjang,
Menghadap hamparan kota yg kau jajahi..
Kau dekap, dan penuh harap..
Sedikit memberikan pagi yang damai, di antara nafsumu yg terbias..
Ketika kamu hadir di hamparan aspal, debu jalanan..
Di antara Jogya menuju Sala..
Dayuan relung-relung pagi menyambut..
Dan hatimu segera terjuntai,
Disambut lampu jalanan, semerbak dan menggoyahkan tatapanmu..
Pada sejarah kota, yang diiringi jazz melankolis.
Berjalan, terus sampai ujungnya tak lagi kau temui..
Dan pikiran kotor mendapatkanmu sedang bertelanjang,
Menghadap hamparan kota yg kau jajahi..
Kau dekap, dan penuh harap..
Sedikit memberikan pagi yang damai, di antara nafsumu yg terbias..
Label:
Agustus 2010.,
Lantai Panggung
My Jazz
Aku suka sekali music jazz. Aku suka sekali ketika ia mengaliriku.
Rasanya aliran darahku mengalir lebih deras, lebih jelas.
Tubuhku menari di apungan rasa tenang, yg menjadikan aku lebih baik.
Aku suka sekali music jazz. Aku suka sekali ketika ia menahanku.
Seakan hatiku bertolak padamu, bermimpi kehidupan yg lebih damai..
Menjadikan melankolis terdengar lebih eksklusif dan miris..
Menjadikan aku bernyanyi di dalam hati.
Menggabungkan piano, bass yang lincah, dan saxophone mendayu-dayu mengiringi.. nan gitarnya berderik-derik dengan irama yg tertahan, kemudian dilekati kembali debuhan drum-drum yg bergemerincing. Jadi satu, ketika terdengar vocal yang mendayu-dayu tapi tetap padu menjadikan aku. Jazz menjadikan yg sebenarnya diriku.
Jazz melukiskan aku di sebuah paragraph indah. Jazz adalah mengenai diriku, dan hidupku. Jazz nyanyianku tiap pagi. Jazz, ketika aku menemukan rangkaian yg tepat disebutkan sebagai music, dan menggambarkan hatiku sebenarnya. Sama ketika aku mendengar beat hip-hop atau yang menyemangatiku. Tapi jazz punya cara sendiri, cara klasik yg menidurkan aku, yang membangunkanku, yg melengkapi sedihnya aku, yang bla.. bla.. bla..
Rasanya aliran darahku mengalir lebih deras, lebih jelas.
Tubuhku menari di apungan rasa tenang, yg menjadikan aku lebih baik.
Aku suka sekali music jazz. Aku suka sekali ketika ia menahanku.
Seakan hatiku bertolak padamu, bermimpi kehidupan yg lebih damai..
Menjadikan melankolis terdengar lebih eksklusif dan miris..
Menjadikan aku bernyanyi di dalam hati.
Menggabungkan piano, bass yang lincah, dan saxophone mendayu-dayu mengiringi.. nan gitarnya berderik-derik dengan irama yg tertahan, kemudian dilekati kembali debuhan drum-drum yg bergemerincing. Jadi satu, ketika terdengar vocal yang mendayu-dayu tapi tetap padu menjadikan aku. Jazz menjadikan yg sebenarnya diriku.
Jazz melukiskan aku di sebuah paragraph indah. Jazz adalah mengenai diriku, dan hidupku. Jazz nyanyianku tiap pagi. Jazz, ketika aku menemukan rangkaian yg tepat disebutkan sebagai music, dan menggambarkan hatiku sebenarnya. Sama ketika aku mendengar beat hip-hop atau yang menyemangatiku. Tapi jazz punya cara sendiri, cara klasik yg menidurkan aku, yang membangunkanku, yg melengkapi sedihnya aku, yang bla.. bla.. bla..
Label:
Agustus 2010.,
Lantai Panggung
Jumat, 06 Agustus 2010
Answer 2
Jawabannya adalah ketika kita menunggu dengan ikhlas dan penuh keyakinan. Itu adalah jawaban yang baik. Coba lihat di mana lebih dan kurangnya kita pada posisi tersebut. Coba lihat akan seperti apa nantinya. Kalo misalnya poin baiknya jauh-jauh lebih banyak, sekalipun itu cuma bayangan, khayalan, percobaan pikiran. Itu namanya jodoh. Satu-satunya yg kita lakukan adalah, perjuangin!
Dan yakin kalo kita bisa. Tapi jangan jadi takabur, jangan menjadi seseorang yg begitu banget nunjukin kalo kita sedang dalam proses. Ini proses rahasia, proses menjadi dewasa. Dunia keras, tapi masih bisa kita lembutin kalo pada dasarnya kita ingin melembut.
Please guys, semangat! Saya salah satu orang yang pernah terhempas dari mimpi, tapi pada akhirnya Alhamdulillah saya justru sedang berada di mimpi saya saat ini. Mimpi sederhana saya, mimpi yg menghancurkan saya, mimpi yang insya Allah membangun saya, menjadikan saya yang lebih baik. Amin.
Dan yakin kalo kita bisa. Tapi jangan jadi takabur, jangan menjadi seseorang yg begitu banget nunjukin kalo kita sedang dalam proses. Ini proses rahasia, proses menjadi dewasa. Dunia keras, tapi masih bisa kita lembutin kalo pada dasarnya kita ingin melembut.
Please guys, semangat! Saya salah satu orang yang pernah terhempas dari mimpi, tapi pada akhirnya Alhamdulillah saya justru sedang berada di mimpi saya saat ini. Mimpi sederhana saya, mimpi yg menghancurkan saya, mimpi yang insya Allah membangun saya, menjadikan saya yang lebih baik. Amin.
Answer 1
Alhamdulillah saya udah nyampe Solo. Ini adalah mukjizat yang patut saya syukuri.
Kemarin-kemarin yang menjadikan saya begitu galau adalah keadaan tanpa sebuah kegiatan yang pada dasarnya memang menguras semua isi hati dan pikiran. Mengenai penantian, sebuah kepastian. Menunggu tempat sekolah lanjutan.
Saya menunggu jauh lebih lama dari teman-teman saya, teman-teman saya sudah kesampean cita-citanya masuk negeri, meskipun jarang banget yang jurusannya sesuai sama keinginannya. Saya masih harus termehek-mehek menunggu sebuah kepastian dimakan stress, menangis, dan dilematik campur putus asa. Tapi saya bangun lagi, saya bertanya sama yang lain yang sudah saya anggap dewasa, saya mencari dan berusaha tidak sendiri, saya berlari membunuh waktu sekalipun itu sia-sia. Saya tidak akan pernah bisa. Saya memang ditakdirkan untuk tetep menunggu.
Yap. Itu adalah hal yang dinamakan menunggu. Saya menangis tiap hari karena diomelin ibu saya, malu sama diri sendiri belom dapet tempat kuliahan,bingung putus asa mau apa, merasa nggak berguna. Tapi siapa yang peduli? Pada kenyataannya tidak ada yang benar-benar menjadi peduli, mengerti bagaimana isi hati saya tho? Atau ada yang begitu mengerti tapi memang pada dasarnya tidak begitu mengerti harus apa selanjutnya.
Sampai pada satu titik, saat saya benar-benar merasa hopeless, dan useless. Saya kembali lagi sama DIA, saya memang merasa selama ini nggak pernah yang namanya melupakan DIA, tapi pada saat itu saya seperti terlepas dari yang namanya.. apa ya.. semacam ketentuan yang saya lupakan. Ketentuan yg mungkin diubah dan tidak mungkin ditebak, selayaknya saya.
Setelah itu saya sadar, segala keras gimanapun usaha yg saya lakukan kalo pada dasarnya Allah SWT nggak ngizinin, that would never happen. Abis itu, saya kaya orang tobat, apa-apa saya pasrahin sama Allah, semuanya saya bismillahin, semuanya saya nazarin ya Allah saya mau jadi lebih baik lagi.
Pada saat itu saya sampe nggak punya pilihan kedua, saya fokus sama yang saya mau sejak awal saya lulus SMA itu, bahkan sebelumnya. Saya fokus, Komunikasi UNS. Ibu saya nggak tega, semenjak saya didaftarin Binus, baru tiba matahari yang saya tunggu dari Senja seabad yang lalu, matahari seutuhnya tanpa gumpalan mendung menutupinya. Fenti Anasari diterima Universitas Negeri Surakarta 11 Maret Jurusan Ilmu Komunikasi. Makasi Ya Allah SWT saya nangis lagi di warnet. Dilemanya tambah lagi karena Binus saya juga dikasih yang jurusan eksklusif.
Tapi saya sportif, saya ingat bagaimana saya begitu menginginkannya. Bagaimana saya dikecewain ditolak 2 kali. Normalnya, saya harusnya bakar itu kampus. Tapi, coba baca hati saya. Hasrat saya masih 95% membara! Haha. Bukankah itu namanya sebuah tanda.
Intinya adalah, ketika kita menginginkan sesuatu sekalipun kita begitu menginginkannya, begitu begitu mendambakannya, belum tentu itu baik buat kita, Allah SWT jauh lebih tau kita. Kecewa kan dengernya? Saya juga ngerasain gimana saya sakit dan kecewanya pas saya lagi mewek nangis curhat saya mau itu, saya dijawab “berarti itu bukan yg terbaik buat lo ti”. Demi nama semua anjing, saya kan mau itu banget!
Dan nyatanya bener, bener banget. Saya yang salah.
Jawabannya adalah :
….
Kemarin-kemarin yang menjadikan saya begitu galau adalah keadaan tanpa sebuah kegiatan yang pada dasarnya memang menguras semua isi hati dan pikiran. Mengenai penantian, sebuah kepastian. Menunggu tempat sekolah lanjutan.
Saya menunggu jauh lebih lama dari teman-teman saya, teman-teman saya sudah kesampean cita-citanya masuk negeri, meskipun jarang banget yang jurusannya sesuai sama keinginannya. Saya masih harus termehek-mehek menunggu sebuah kepastian dimakan stress, menangis, dan dilematik campur putus asa. Tapi saya bangun lagi, saya bertanya sama yang lain yang sudah saya anggap dewasa, saya mencari dan berusaha tidak sendiri, saya berlari membunuh waktu sekalipun itu sia-sia. Saya tidak akan pernah bisa. Saya memang ditakdirkan untuk tetep menunggu.
Yap. Itu adalah hal yang dinamakan menunggu. Saya menangis tiap hari karena diomelin ibu saya, malu sama diri sendiri belom dapet tempat kuliahan,bingung putus asa mau apa, merasa nggak berguna. Tapi siapa yang peduli? Pada kenyataannya tidak ada yang benar-benar menjadi peduli, mengerti bagaimana isi hati saya tho? Atau ada yang begitu mengerti tapi memang pada dasarnya tidak begitu mengerti harus apa selanjutnya.
Sampai pada satu titik, saat saya benar-benar merasa hopeless, dan useless. Saya kembali lagi sama DIA, saya memang merasa selama ini nggak pernah yang namanya melupakan DIA, tapi pada saat itu saya seperti terlepas dari yang namanya.. apa ya.. semacam ketentuan yang saya lupakan. Ketentuan yg mungkin diubah dan tidak mungkin ditebak, selayaknya saya.
Setelah itu saya sadar, segala keras gimanapun usaha yg saya lakukan kalo pada dasarnya Allah SWT nggak ngizinin, that would never happen. Abis itu, saya kaya orang tobat, apa-apa saya pasrahin sama Allah, semuanya saya bismillahin, semuanya saya nazarin ya Allah saya mau jadi lebih baik lagi.
Pada saat itu saya sampe nggak punya pilihan kedua, saya fokus sama yang saya mau sejak awal saya lulus SMA itu, bahkan sebelumnya. Saya fokus, Komunikasi UNS. Ibu saya nggak tega, semenjak saya didaftarin Binus, baru tiba matahari yang saya tunggu dari Senja seabad yang lalu, matahari seutuhnya tanpa gumpalan mendung menutupinya. Fenti Anasari diterima Universitas Negeri Surakarta 11 Maret Jurusan Ilmu Komunikasi. Makasi Ya Allah SWT saya nangis lagi di warnet. Dilemanya tambah lagi karena Binus saya juga dikasih yang jurusan eksklusif.
Tapi saya sportif, saya ingat bagaimana saya begitu menginginkannya. Bagaimana saya dikecewain ditolak 2 kali. Normalnya, saya harusnya bakar itu kampus. Tapi, coba baca hati saya. Hasrat saya masih 95% membara! Haha. Bukankah itu namanya sebuah tanda.
Intinya adalah, ketika kita menginginkan sesuatu sekalipun kita begitu menginginkannya, begitu begitu mendambakannya, belum tentu itu baik buat kita, Allah SWT jauh lebih tau kita. Kecewa kan dengernya? Saya juga ngerasain gimana saya sakit dan kecewanya pas saya lagi mewek nangis curhat saya mau itu, saya dijawab “berarti itu bukan yg terbaik buat lo ti”. Demi nama semua anjing, saya kan mau itu banget!
Dan nyatanya bener, bener banget. Saya yang salah.
Jawabannya adalah :
….
Minggu, 18 Juli 2010
masih galau
Saya mungkin nggak kuliah tahun ini. Saya ingin benar-benar menata hidup saya. Saya ingin menghilang. Kalau ada yang butuh TKW ke luar negri saya mau deh ikut. Saya mau ikut. Saya nggak kuat kalo metlek yang sebangsat itu pulang pesantren kilat bisa erat banget meluk saya nggak mau lepas dan bilang kalo dia takut ayah kenapa-kenapa. Dia sama kaya saya, takut.
Saya nggak tau, saya mungkin anak durhaka. Tapi saya selalu bilang kalau saya sayang sama ibu saya, selamanya.
Saya bener-bener nggak tau harus gimana. Terima kasih, Alhamdulillah saya dapatkan teman yang sebenar-benarnya ya Allah. Semoga KAU dengar doaku, amin.
Jadi tidak salah kan bila saya terlihat sangat riang di hadapan kalian?
Saya nggak tau, saya mungkin anak durhaka. Tapi saya selalu bilang kalau saya sayang sama ibu saya, selamanya.
Saya bener-bener nggak tau harus gimana. Terima kasih, Alhamdulillah saya dapatkan teman yang sebenar-benarnya ya Allah. Semoga KAU dengar doaku, amin.
Jadi tidak salah kan bila saya terlihat sangat riang di hadapan kalian?
Label:
Elegy,
Ibu.,
Juli 2010,
Lantai Panggung
Senin, 12 Juli 2010
Alhamdulillah
Alhamdulillah, Alhamdulillah ya Allah. Saya sangat bersyukur untuk 11 Juli tahun ini. Rasanya saya harus ingat sampai tua nanti.
Terima kasih untuk Shelma dan Intan yang membuka mata saya hari ini, melebihi dari seperti biasanya. Saya bilang, ternyata kegalauan saya bukan karena Neo-Feodalisme, tapi mengenai bagaimana saya menghadapi kefeodalismean saya menghadapi diri saya sendiri. Rasanya dominasi masih tetap dimenangkan sama yang nyata, sama tubuh, sama otak sama hati yan ternyata nggak bisa saya sinkronkan dengan tepat.
Saya sangat berterima kasih kepada kak Abdul Hakim, Shelma, PIENCE, KELUARGA BESAR TEATER 35, kak Ferdi Maly Sang Pentjilan and kak Nancy, kak Putra Cahya, kak Arif, Sule, Aruza the rebellion, Kak Anto, Kak Rhuni, Kak Rismaul, Kak Nissa, Bang DOEL, YULI, AMBON cilik and the gank, Ibu mia ayam, Ibu WarKop, Asep, Sore di lapangan 35, Nyonya Matras, AC PENJAS, Kain Firdha, Ibu Norita, SMA saya yang sempet biayain kita semua, My BELOVED Mom-ster, Metlek, Ayah dengan rantai gas, LVT LOVE, Rifai, Bagus Cahaya, Rapid Adriansyah, Sampoerna Foundation, Pak Bambang;jurinya yang nyebut kita melulu. Dan semua yang sudah saya libatkan minta doanya dan lain-lain.
Pementasan ini saya dedikasikan untuk Allah SWT, seperti nenek moyang saya di dataran Yunani sana, yang mendedikasikan karya seni bagian dari hidup mereka, bagian keindahan mereka untuk Dewanya. Sebagai rasa syukur. Untuk Negeri saya yang mendewa dengan segala kultur –ismenya. Untuk orang-orang di atas yang saya sebutkan.
Saya semakin tau diri saya hari ini. Kebiasaan, semuanya saya tumpuk jadi satu. Terima kasih yang sudah begitu mengerti saya. Terima kasih yang sudah mau berjuang dan berproses bersama-sama. Saya akan rindu ngambeknya Ike dan keramasannya, Spagethi goreng endrang yang acin, lawakan atap, mood betenya duwi dan ngeyelnya, pusingnya ngadepin Arja dengan glodoknya juga Lele dengan Ciledugnya. Ngadepin paniknya menuju pentas, riweuh godain maridha sama lele, kangen rotinya maridha, pasrahnya Gotir, Aini, dan Roro, atau Alia, sok Alaska-an di ruang penjas, ngaret ngaretan, temen-temenan kalo mau pipis, jayus yang paling kocaknya ka Akim, sok-ketidak yakinan, halah halah halalalalalalh. Semoga ini bukan pementasan terakhir, amin. Semoga seperti kata kak Cahya, semoga semakin lebih baik berkarya. Semoga makin propesional ye.
Adalah yang kemudian patut lebih disyukuri, masuknya nominasi adalah salah satu yang paling saya banggakan. Hehe, abisnya kita gak pernah dapet nominasi ya. Tapi liat kerja keras kita selama ini bok! Dapet kan kita!!!! Kita memang kereeen..
Oke saya mulai ngawur, saya ngantuk. Next page, curhat pribados.
Terima kasih untuk Shelma dan Intan yang membuka mata saya hari ini, melebihi dari seperti biasanya. Saya bilang, ternyata kegalauan saya bukan karena Neo-Feodalisme, tapi mengenai bagaimana saya menghadapi kefeodalismean saya menghadapi diri saya sendiri. Rasanya dominasi masih tetap dimenangkan sama yang nyata, sama tubuh, sama otak sama hati yan ternyata nggak bisa saya sinkronkan dengan tepat.
Saya sangat berterima kasih kepada kak Abdul Hakim, Shelma, PIENCE, KELUARGA BESAR TEATER 35, kak Ferdi Maly Sang Pentjilan and kak Nancy, kak Putra Cahya, kak Arif, Sule, Aruza the rebellion, Kak Anto, Kak Rhuni, Kak Rismaul, Kak Nissa, Bang DOEL, YULI, AMBON cilik and the gank, Ibu mia ayam, Ibu WarKop, Asep, Sore di lapangan 35, Nyonya Matras, AC PENJAS, Kain Firdha, Ibu Norita, SMA saya yang sempet biayain kita semua, My BELOVED Mom-ster, Metlek, Ayah dengan rantai gas, LVT LOVE, Rifai, Bagus Cahaya, Rapid Adriansyah, Sampoerna Foundation, Pak Bambang;jurinya yang nyebut kita melulu. Dan semua yang sudah saya libatkan minta doanya dan lain-lain.
Pementasan ini saya dedikasikan untuk Allah SWT, seperti nenek moyang saya di dataran Yunani sana, yang mendedikasikan karya seni bagian dari hidup mereka, bagian keindahan mereka untuk Dewanya. Sebagai rasa syukur. Untuk Negeri saya yang mendewa dengan segala kultur –ismenya. Untuk orang-orang di atas yang saya sebutkan.
Saya semakin tau diri saya hari ini. Kebiasaan, semuanya saya tumpuk jadi satu. Terima kasih yang sudah begitu mengerti saya. Terima kasih yang sudah mau berjuang dan berproses bersama-sama. Saya akan rindu ngambeknya Ike dan keramasannya, Spagethi goreng endrang yang acin, lawakan atap, mood betenya duwi dan ngeyelnya, pusingnya ngadepin Arja dengan glodoknya juga Lele dengan Ciledugnya. Ngadepin paniknya menuju pentas, riweuh godain maridha sama lele, kangen rotinya maridha, pasrahnya Gotir, Aini, dan Roro, atau Alia, sok Alaska-an di ruang penjas, ngaret ngaretan, temen-temenan kalo mau pipis, jayus yang paling kocaknya ka Akim, sok-ketidak yakinan, halah halah halalalalalalh. Semoga ini bukan pementasan terakhir, amin. Semoga seperti kata kak Cahya, semoga semakin lebih baik berkarya. Semoga makin propesional ye.
Adalah yang kemudian patut lebih disyukuri, masuknya nominasi adalah salah satu yang paling saya banggakan. Hehe, abisnya kita gak pernah dapet nominasi ya. Tapi liat kerja keras kita selama ini bok! Dapet kan kita!!!! Kita memang kereeen..
Oke saya mulai ngawur, saya ngantuk. Next page, curhat pribados.
Jumat, 09 Juli 2010
H-5
halo, pementasan sudah mau dekat. Untuk menjadi ke empatnya sekaligus bukanlah hal yg mudah. Saya cukup lelah sama semuanya. Tapi saya tidak akan menjadikannya sia-sia. Saya akan berjuang sampai nanti habis waktunya, saya akan tetap berjuang menyampaikan rasa galau saya. Ini adalah arogansi saya, menjadikan sebuah rasa galau sebagai bentuk dedikasi saya terhadap hati, dan apa yang ada saat ini. Kalau saya bicara sesuatu, saya akan menghadirkannya biar semua tahu. Biar semua tahu kalau hati yang bicara ini bukan mengenai sesuatu yang hanya terlihat gaib. Saya cukup normal kok. Saya butuh waktu.
Di hari sebelum pementasan seperti inipun saya belum punya musik, dan property, saya belum siap adegan, saya belum apa-apa. Tapi saya melihatnya masih seperti dulu. Ketika dihadapkan kepada sebotol air, saya akan terus melihat air saya masih tersisa sekian, tidak membiarkan saya melihat hanya tinggal sekian. Saya janji, saya janji.
Apa yang menguatkan saya, detik-detik yang membunuh saya tersebut yang membunuh saya, detik-detik tersebut yang mengajari saya, bagaimana menghadapi mood orang-orang jelek seperti mereka, yang selalu ngedropin mood, dan yang hanya mampu membuat saya hidup kembali. Bagaimana menghadapi jalan buntu bersama mereka yang selalu ada di samping saya. Saya selalu percaya mereka, saya selalu tidak pernah percaya mereka. Tapi karena saya gila, saya ambil yang protagonist saja, saya akan selamanya percaya mereka, mereka memberikan saya lebih banyak daripada uang berlimpah.
Semiskin-miskinnya kita semua, segatel-getelnya tenggorokan kita, secere-cerenya kuat vocal kita. Kemarin saya berhasil yes berhasil pesta Ice Cream di Minggu siang yang kebocoran neraka. Ya, menggantikan minggu siang yang biasanya saya jalani di rumah, AC, Ice cream, matras, kurang DVD aja. Saya bersyukur ya Allah, kuatkan saya, sampai nanti tiba waktunya.
Terima kasih punya keluaarga seperti mereka, terima kasih telah memberi brother-land ; rumah fajar dan laki-lakinya. Saya tidak henti mengeluh, meskipun jadwal saya padat merayap, saya bersyukur ya Allah, saya berharap padaMu ya Allah, saya mau kuliah di Solo. Semoga Engkau berikan, amin. Aku percaya ya Allah, amin.
Di hari sebelum pementasan seperti inipun saya belum punya musik, dan property, saya belum siap adegan, saya belum apa-apa. Tapi saya melihatnya masih seperti dulu. Ketika dihadapkan kepada sebotol air, saya akan terus melihat air saya masih tersisa sekian, tidak membiarkan saya melihat hanya tinggal sekian. Saya janji, saya janji.
Apa yang menguatkan saya, detik-detik yang membunuh saya tersebut yang membunuh saya, detik-detik tersebut yang mengajari saya, bagaimana menghadapi mood orang-orang jelek seperti mereka, yang selalu ngedropin mood, dan yang hanya mampu membuat saya hidup kembali. Bagaimana menghadapi jalan buntu bersama mereka yang selalu ada di samping saya. Saya selalu percaya mereka, saya selalu tidak pernah percaya mereka. Tapi karena saya gila, saya ambil yang protagonist saja, saya akan selamanya percaya mereka, mereka memberikan saya lebih banyak daripada uang berlimpah.
Semiskin-miskinnya kita semua, segatel-getelnya tenggorokan kita, secere-cerenya kuat vocal kita. Kemarin saya berhasil yes berhasil pesta Ice Cream di Minggu siang yang kebocoran neraka. Ya, menggantikan minggu siang yang biasanya saya jalani di rumah, AC, Ice cream, matras, kurang DVD aja. Saya bersyukur ya Allah, kuatkan saya, sampai nanti tiba waktunya.
Terima kasih punya keluaarga seperti mereka, terima kasih telah memberi brother-land ; rumah fajar dan laki-lakinya. Saya tidak henti mengeluh, meskipun jadwal saya padat merayap, saya bersyukur ya Allah, saya berharap padaMu ya Allah, saya mau kuliah di Solo. Semoga Engkau berikan, amin. Aku percaya ya Allah, amin.
Kamis, 01 Juli 2010
Ah iya!
Ah iya, ketemu!
Saya sedang belajar mengkonsistensikan diri saya, tapi saya akan selalu berusaha mendinamisasikan hidup saya sekaligus, karena saya begitu rapuh dengan sedikit hal. Makanya saya berlebihan.
Please! Berlebihan ini karena saya cinta kamu, saya nggak mau ditinggalkan teman-teman saya ketika saya bicara, saya tidak menginginkan sedikitpun kamu bosan dan pergi saja dari saya. Saya membuat pengecualian, saya ingin tetap ada, dan kamu ada, kalian ada. Tapi, ya namanya juga berlebihan. Tetep nggak menyenangkan membicarakannya.
Rasa yang membuncah akhir-akhir ini adalah buah dari berlebihan saya yang biasa kali ya. Rasa yang baru saya temukan dan saya ingin menyimpannya sampai mati, membuang yang lain, menindas kesempatan yang mungkin lainnya dapat dengan mudah saya dapatkan karena saya mau satu. Karena kalau nggak gitu, saya mikirnya seperti saya terlalu maruk dan kembali nggak fokus. Hidup harus ada pengorbanannya, hidup mau saya pilih satu, pilih yang orang lain biasa pilih, biar dianggap normal, biar gak dianggap macem-macem. Ya sudah.
Lagian saya bingung, harus bagaimana lagi menenangkan hati saya dengan berbagai tuntutan-tuntutan tersebut. Apa iya saya harus pergi lagi? pergi ke mana? Orangnya aja belum tau yang saya maksud, ya orangnya belom tentu juga mau sama saya. Aaapaaan sih lo ti.
Saya harus beranjak dari mimpi ini, sebelu saya tersungkur hilang jatuh semakin jauh ke dalamnya. Sedangkan saya akan kembali melankolis, oh tiada lagi! sahabat!
Mengenai tanggal 11, kalau saya tidak minum es, saya dan keluarga saya pasti mampu menguasai panggung kesayangan kami tersebut, belum lagi bukankah kami sudah berpengalaman. Ya. Ini bukan dihitung lagi berapa banyak penjualan tiket neng.
Masalah kuliah, dilemma. Tapi saya harus yakin, karena ini adalah pilihan terakhir yang terlambat yang saya yakini. Saya berdo’a, insya Allah, amin.
Yang saya butuhkan adalah pengontrolan diri yang baik, jangan kebanyakan cerita. Jangan suka bagi-bagi derita, orang gak suka. Ya udah jangan dibaca! :p
Ah bangsat, akhir-akhir ini saya suka meracau, saya kacau! Tapi saya, saya menjamin tidak akan ada hal yang merubah saya, terutama hal cere macam hal-hal BTS dan komentarnya, or some fucking people that came to ma life.
Oke, dengan tulisan ini saya akan membuka diri saya. Saya akan .. akan apa entahlah. Yang jelas, saya tidak akan mengulang segala kesalahan yang sama.
Saya sedang belajar mengkonsistensikan diri saya, tapi saya akan selalu berusaha mendinamisasikan hidup saya sekaligus, karena saya begitu rapuh dengan sedikit hal. Makanya saya berlebihan.
Please! Berlebihan ini karena saya cinta kamu, saya nggak mau ditinggalkan teman-teman saya ketika saya bicara, saya tidak menginginkan sedikitpun kamu bosan dan pergi saja dari saya. Saya membuat pengecualian, saya ingin tetap ada, dan kamu ada, kalian ada. Tapi, ya namanya juga berlebihan. Tetep nggak menyenangkan membicarakannya.
Rasa yang membuncah akhir-akhir ini adalah buah dari berlebihan saya yang biasa kali ya. Rasa yang baru saya temukan dan saya ingin menyimpannya sampai mati, membuang yang lain, menindas kesempatan yang mungkin lainnya dapat dengan mudah saya dapatkan karena saya mau satu. Karena kalau nggak gitu, saya mikirnya seperti saya terlalu maruk dan kembali nggak fokus. Hidup harus ada pengorbanannya, hidup mau saya pilih satu, pilih yang orang lain biasa pilih, biar dianggap normal, biar gak dianggap macem-macem. Ya sudah.
Lagian saya bingung, harus bagaimana lagi menenangkan hati saya dengan berbagai tuntutan-tuntutan tersebut. Apa iya saya harus pergi lagi? pergi ke mana? Orangnya aja belum tau yang saya maksud, ya orangnya belom tentu juga mau sama saya. Aaapaaan sih lo ti.
Saya harus beranjak dari mimpi ini, sebelu saya tersungkur hilang jatuh semakin jauh ke dalamnya. Sedangkan saya akan kembali melankolis, oh tiada lagi! sahabat!
Mengenai tanggal 11, kalau saya tidak minum es, saya dan keluarga saya pasti mampu menguasai panggung kesayangan kami tersebut, belum lagi bukankah kami sudah berpengalaman. Ya. Ini bukan dihitung lagi berapa banyak penjualan tiket neng.
Masalah kuliah, dilemma. Tapi saya harus yakin, karena ini adalah pilihan terakhir yang terlambat yang saya yakini. Saya berdo’a, insya Allah, amin.
Yang saya butuhkan adalah pengontrolan diri yang baik, jangan kebanyakan cerita. Jangan suka bagi-bagi derita, orang gak suka. Ya udah jangan dibaca! :p
Ah bangsat, akhir-akhir ini saya suka meracau, saya kacau! Tapi saya, saya menjamin tidak akan ada hal yang merubah saya, terutama hal cere macam hal-hal BTS dan komentarnya, or some fucking people that came to ma life.
Oke, dengan tulisan ini saya akan membuka diri saya. Saya akan .. akan apa entahlah. Yang jelas, saya tidak akan mengulang segala kesalahan yang sama.
Kamis, 24 Juni 2010
Sang Buronan
Aku akan buat kesemuanya ini tiba, ketika aku sampai di penjara. Di penjara waktuku. Aku adalah sang buronan, tak letih mencari relung untuk hilangkan hati dan jiwaku.. aku sang buronan, melari adalah sebuah naluri.. dan akulah buronanmu.
Aku menuntut, dan semua berhasil jua datang menuntutku. Meriuh, dan menjadikan aku bertabur pada sembilu api, dan terbawa gelombang pasang di danau yang begitu tenang, atau badai memutarku, sampai aku tak lagi mampu menjamah tanah, menjamah tanah yang ranah, lemah, dan tak mampu lagi menyambutku.
Aku bersembunyi pada lingkaran, lingkaran, pelukan nan begitu erat menghantamku. Memburuku dari segala arah, dan meriah.
HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!
Keypad A hampir hancur. Mirip, layaknya aku.
Aku masih punya Tuhan. Tuhan sembunyikan aku. Tuhan tikam aku. Tuhan tahan air mataku. Tuhan hapus segala raguku. Ya Allah maha pemberi cinta, dan yang paling aku cintai, harusnya aku seperti ini sedari dulu. Sedari aku masih pada mimpi, sedari mata-mata dunia belum lagi usai menatapku, selagi aku belum membubuhkan jari-jariku..
Ini bukan sebagian. Aku terlalu lincah, menghadapimu muka teralis, muka baja.. muka pembunuh jiwa raga! Biar aku, biar.. aku takkan lagi hilangkan tandanya.. dan kau jua takkan lagi mampu menangkapku! Aku, aku akan lari selamanya, aku akan lari dari teriakan Ibu, Aku akan lari dari tuntutan seorang anak, aku akan lari dari dunia, aku akan lari dari bayang-bayang mati..
Jadi, aku akan lari, mengitari semua puisi di dunia ini. Mencari, dan dicari..
Aku menuntut, dan semua berhasil jua datang menuntutku. Meriuh, dan menjadikan aku bertabur pada sembilu api, dan terbawa gelombang pasang di danau yang begitu tenang, atau badai memutarku, sampai aku tak lagi mampu menjamah tanah, menjamah tanah yang ranah, lemah, dan tak mampu lagi menyambutku.
Aku bersembunyi pada lingkaran, lingkaran, pelukan nan begitu erat menghantamku. Memburuku dari segala arah, dan meriah.
HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!
Keypad A hampir hancur. Mirip, layaknya aku.
Aku masih punya Tuhan. Tuhan sembunyikan aku. Tuhan tikam aku. Tuhan tahan air mataku. Tuhan hapus segala raguku. Ya Allah maha pemberi cinta, dan yang paling aku cintai, harusnya aku seperti ini sedari dulu. Sedari aku masih pada mimpi, sedari mata-mata dunia belum lagi usai menatapku, selagi aku belum membubuhkan jari-jariku..
Ini bukan sebagian. Aku terlalu lincah, menghadapimu muka teralis, muka baja.. muka pembunuh jiwa raga! Biar aku, biar.. aku takkan lagi hilangkan tandanya.. dan kau jua takkan lagi mampu menangkapku! Aku, aku akan lari selamanya, aku akan lari dari teriakan Ibu, Aku akan lari dari tuntutan seorang anak, aku akan lari dari dunia, aku akan lari dari bayang-bayang mati..
Jadi, aku akan lari, mengitari semua puisi di dunia ini. Mencari, dan dicari..
Rabu, 19 Mei 2010
Seberapa Sempurnanya Hidup Saya..
Seberapa sempurnanya hidup saya di mata orang. Saya selalu bisa menjadi salah satu yang paling sempurna menganggap bahwa diri saya sangatlah tidak sempurna. Bukankah saya absurd?
Lantas mengapa saya dipertemukan dengan yang tetap absurd? Mengapa saya tetap diberikan yang paling tidak sempurna.
Ya, hal ini mengenai pementasan yang jiwanya entah kemana, kalah menyelekit ketimbang obat jerawat saya. Obat belerang emang sedikit agak perih ya. Tapi yang namanya pementasan, harusnya ada yang namanya greget, hati, yah paling dangkal rasa lah. Dan baru kali ini saya tidak mendapatkannya sekalipun. Benar-benar absurd.
Mungkin laki-laki yang pantas di samping saya adalah laki-laki normal yang setia menunggu saya dengan kelabu, dan bertanya ‘sudah cukupkah sayumu?’
Ah, saya mengacau lagi. saya mencari bagaimana jawaban dari bagaimana-bagaimana selanjutnya, tapi yang jelas adanya pada saya adalah bagaimana-bagaimana lain yang terus muncul.
Saya begitu merindu panggung, tapi taaaaaaaak beginiiiiiii.. kau khianati hati ini.. kau curangi aku..
Kemana hasrat saya? Nafsu yang memburu? Harusnya datang…
Lantas mengapa saya dipertemukan dengan yang tetap absurd? Mengapa saya tetap diberikan yang paling tidak sempurna.
Ya, hal ini mengenai pementasan yang jiwanya entah kemana, kalah menyelekit ketimbang obat jerawat saya. Obat belerang emang sedikit agak perih ya. Tapi yang namanya pementasan, harusnya ada yang namanya greget, hati, yah paling dangkal rasa lah. Dan baru kali ini saya tidak mendapatkannya sekalipun. Benar-benar absurd.
Mungkin laki-laki yang pantas di samping saya adalah laki-laki normal yang setia menunggu saya dengan kelabu, dan bertanya ‘sudah cukupkah sayumu?’
Ah, saya mengacau lagi. saya mencari bagaimana jawaban dari bagaimana-bagaimana selanjutnya, tapi yang jelas adanya pada saya adalah bagaimana-bagaimana lain yang terus muncul.
Saya begitu merindu panggung, tapi taaaaaaaak beginiiiiiii.. kau khianati hati ini.. kau curangi aku..
Kemana hasrat saya? Nafsu yang memburu? Harusnya datang…
Label:
Elegy,
Ibu.,
Lantai Panggung,
Mei 2010,
SMA
Panggungku nan Malang..
Kaca-kaca enggan merefleksikan hatiku kali ini, cermin-cermin acuh menatapku.. semua mati dihimpit kegalauan dan sugesti-sugesti datang menembusku satu.. persatu..
Dan, dunia lelah memandangiku. Arogan dan membeku. Ada lagi tambahannya?
Harusnya seperti apa dunia yang kalian ingin ciptakan? Mengapa selalu saja menjatuhkan di akhirnya? Mengapa tak kalian bangunkan kami sejak awal? Bukankah mimpi selalu sama? Bukankah jalannya semua berbeda-beda.. bukankah hasratku hanya pada Tuhan, dan semua tahu?
Mengapa bening air jua tak sanggup lagi menahan mataku. Semuanya buyar, membuih sampai ke akar.. dan aku cukup menghinamu! Betapa aku lelah mengikuti jalan yang kian berliku nan harusnya kuperosoti, luruh sejak awal. Aku tahu! Dan kita semua bisu! Mengikuti jalan-jalan ciptaan.. bukankah aku cukup memiliki alasan?
Kalau sudah waktunya, mungkinkah kata terlambat tetap menjadi mungkin? Kasian pujaan hatiku. Padahal ia menanti dari ujung tahun ingin kutapaki, namun ia akan rasakan denyutan lewat kaki palsuku, dan sepi.. tanpa rasa sedikitpun..
Maafkan aku sayang, besok aku datang menujumu.. dengan cinta yang di ujung.. yang hampir mati. Karena aku terlanjur menutup, dan tidak berusaha percaya. Bukankah orang yang dipercaya adalah orang yang terbiarkan? Tapi aku tak bebas lagi sayang, aku dan semua tak tahu maunya jadi apa..
Y a ini aku. Mengikuti kata mereka. Cukup dan tidak ingin mengetahui lebih. Harusnya ini berjalan sesuai rancana.. sampai mendung mampu menguasaiku.. sampai aku dapatkan hatiku..
Maafkan aku, gung..
Dan, dunia lelah memandangiku. Arogan dan membeku. Ada lagi tambahannya?
Harusnya seperti apa dunia yang kalian ingin ciptakan? Mengapa selalu saja menjatuhkan di akhirnya? Mengapa tak kalian bangunkan kami sejak awal? Bukankah mimpi selalu sama? Bukankah jalannya semua berbeda-beda.. bukankah hasratku hanya pada Tuhan, dan semua tahu?
Mengapa bening air jua tak sanggup lagi menahan mataku. Semuanya buyar, membuih sampai ke akar.. dan aku cukup menghinamu! Betapa aku lelah mengikuti jalan yang kian berliku nan harusnya kuperosoti, luruh sejak awal. Aku tahu! Dan kita semua bisu! Mengikuti jalan-jalan ciptaan.. bukankah aku cukup memiliki alasan?
Kalau sudah waktunya, mungkinkah kata terlambat tetap menjadi mungkin? Kasian pujaan hatiku. Padahal ia menanti dari ujung tahun ingin kutapaki, namun ia akan rasakan denyutan lewat kaki palsuku, dan sepi.. tanpa rasa sedikitpun..
Maafkan aku sayang, besok aku datang menujumu.. dengan cinta yang di ujung.. yang hampir mati. Karena aku terlanjur menutup, dan tidak berusaha percaya. Bukankah orang yang dipercaya adalah orang yang terbiarkan? Tapi aku tak bebas lagi sayang, aku dan semua tak tahu maunya jadi apa..
Y a ini aku. Mengikuti kata mereka. Cukup dan tidak ingin mengetahui lebih. Harusnya ini berjalan sesuai rancana.. sampai mendung mampu menguasaiku.. sampai aku dapatkan hatiku..
Maafkan aku, gung..
Label:
Elegy,
Lantai Panggung,
Mei 2010,
SMA
ME NOW MEI
Setelah menjadi alumni, hehe. Setelah berhasil menyelesaikan momok dalam diri saya, setelah berhasil menyelesaikan ketakutan dalam diri saya. Akhirnya. Akhirnya. Akhirnya.
Saya beralih pada hati saya, ternyata masih begitu banyak yang harus saya selesaikan. Atau mungkin terpaksa dan sengaja sekaligus saya mau selesaikan. Menganggur adalah bukan cita-cita seseorang. Harusnya ada yang lebih menghasilkan yang bisa saya kerjakan, tapi saya mah udah bocah-bocah aja. Mau kerja, adanya jadi SPG.. ngerasa belom siap mental aja dikecengin kalo Nicho lewat depan saya nantinya..
Saya beralih ke panggung. Saya mencari hati saya yang hilang. Rindu dan cukup rindu. Alhamdulillah udah banyak lagi anugrah yang Tuhan sampaikan ke saya. Saya dikasih kesempatan bertemu sama keluarga-keluarga yang lama saya tinggalkan.
Jadi, tiap hari saya belajar untuk persiapan mencapai cita-cita saya. Semoga saya tembus UMB dan SNMPTN amin ya Allah. Selanjutnya saya persiapan untuk pementasan, 2 pementasan sekaligus sepamer-pamernya. Saya memasak sarapan tiap hari buat metlek’ bantuin ibu saya. Persiapan cetak BTS. Persiapan perpisahan kali yah aha. Belajar nyetir lagi. Nyari pacar.
So, this is me now. I’m 17 years old, had graduate from my hi-school, have many pals, and had knew I have some people that read on my posting-blog
Saya beralih pada hati saya, ternyata masih begitu banyak yang harus saya selesaikan. Atau mungkin terpaksa dan sengaja sekaligus saya mau selesaikan. Menganggur adalah bukan cita-cita seseorang. Harusnya ada yang lebih menghasilkan yang bisa saya kerjakan, tapi saya mah udah bocah-bocah aja. Mau kerja, adanya jadi SPG.. ngerasa belom siap mental aja dikecengin kalo Nicho lewat depan saya nantinya..
Saya beralih ke panggung. Saya mencari hati saya yang hilang. Rindu dan cukup rindu. Alhamdulillah udah banyak lagi anugrah yang Tuhan sampaikan ke saya. Saya dikasih kesempatan bertemu sama keluarga-keluarga yang lama saya tinggalkan.
Jadi, tiap hari saya belajar untuk persiapan mencapai cita-cita saya. Semoga saya tembus UMB dan SNMPTN amin ya Allah. Selanjutnya saya persiapan untuk pementasan, 2 pementasan sekaligus sepamer-pamernya. Saya memasak sarapan tiap hari buat metlek’ bantuin ibu saya. Persiapan cetak BTS. Persiapan perpisahan kali yah aha. Belajar nyetir lagi. Nyari pacar.
So, this is me now. I’m 17 years old, had graduate from my hi-school, have many pals, and had knew I have some people that read on my posting-blog
Jumat, 07 Mei 2010
Buronan Tersayang
Terlalu indah ketika kita dihadapkan sama masa lalu. Karena sebenar-benarnya masa lalu adalah lebih banyak hal-hal yang terlalu sangat mudah untuk dirindukan kembali, meskipun tidak sedikit juga hal-hal konyol bin nyolotin yang males banget untuk sekedar diingatkan.
Buronan Detik adalah awal kehidupan, awal kefanatikan. Awal dari cinta tingkat tinggi, sama hal yang juga absurd, dan betah nggak betah udah tetap harus dijalani. Begitu banyak utang yang bercecer, waktu kesita, suara sana sini, tangis sana sini, dan semuanya bertahun-tahun sudah saya lewati. Kita lewati. Para buronan.
Oh ya. Ingat seperti kata Vincent; Satu-satunya yang mampu menjadikan saya orgasme, cuma panggung. Cuma di panggung saya begitu mungkin memenuhi hasrat yang ada di setiap tetes darah saya, mungkin. Saya begitu bersyukur telah melaluinya, tapi bukankah lebih baik untuk segera membenahinya, segera mnegubur sisa-sisa buruknya? Bukankah lebih baik untuk melanjutkannya, lanjutkan mimpinya? Bukankah semua berawal darinya? Bukankah kita saling cinta dan akan selalu saling menjaga? Sekalipun tatapan matapun dapat membunuh hati masing-masing dari kita, segala curiga bisa dijadikan pedang penghantar panas bara emosi diri masing-masing, kemudian saling membunuh dengan tangis akhirnya. Dan selanjutnya, seperti yang selalu saya harapkan. Kita bersama, bukan lagi saya bersama kalian.
Terima kasih telah membangun rentangan garis dari Tuhanku, kalian begitu menghidupiku. Dengan kesederhanaan, dengan tawa, atau sekedar puisi. Terima kasih atas cintanya, terima kasih telah mengenalkanku pada panggung, dan lampunya. Terima kasih, Teater 35 tersayang, terima kasih Pience- yang paling saya kasihi.
Saya berdo’a semoga kita dapat memperbaikinya. Semoga kita dapatkan kemenangannya. Kemenangan untuk menguasai hati kita yang mudah diburon. Semoga kita dapat mendedikasikannya dengan baik, seperti alumni-alumni yang mendidik kita.. seperti bulan malam itu yang begitu terang dan jadi saksinya, seperti butiran pasir di kasur yang menyelimuti kita, seperti tangisku yang memecah dialog kita. Oh itu bagian yang menyakitkan! Jadi, karna sudah banyak saksinya. Saya sayang kalian :3 cheeew
Buronan Detik adalah awal kehidupan, awal kefanatikan. Awal dari cinta tingkat tinggi, sama hal yang juga absurd, dan betah nggak betah udah tetap harus dijalani. Begitu banyak utang yang bercecer, waktu kesita, suara sana sini, tangis sana sini, dan semuanya bertahun-tahun sudah saya lewati. Kita lewati. Para buronan.
Oh ya. Ingat seperti kata Vincent; Satu-satunya yang mampu menjadikan saya orgasme, cuma panggung. Cuma di panggung saya begitu mungkin memenuhi hasrat yang ada di setiap tetes darah saya, mungkin. Saya begitu bersyukur telah melaluinya, tapi bukankah lebih baik untuk segera membenahinya, segera mnegubur sisa-sisa buruknya? Bukankah lebih baik untuk melanjutkannya, lanjutkan mimpinya? Bukankah semua berawal darinya? Bukankah kita saling cinta dan akan selalu saling menjaga? Sekalipun tatapan matapun dapat membunuh hati masing-masing dari kita, segala curiga bisa dijadikan pedang penghantar panas bara emosi diri masing-masing, kemudian saling membunuh dengan tangis akhirnya. Dan selanjutnya, seperti yang selalu saya harapkan. Kita bersama, bukan lagi saya bersama kalian.
Terima kasih telah membangun rentangan garis dari Tuhanku, kalian begitu menghidupiku. Dengan kesederhanaan, dengan tawa, atau sekedar puisi. Terima kasih atas cintanya, terima kasih telah mengenalkanku pada panggung, dan lampunya. Terima kasih, Teater 35 tersayang, terima kasih Pience- yang paling saya kasihi.
Saya berdo’a semoga kita dapat memperbaikinya. Semoga kita dapatkan kemenangannya. Kemenangan untuk menguasai hati kita yang mudah diburon. Semoga kita dapat mendedikasikannya dengan baik, seperti alumni-alumni yang mendidik kita.. seperti bulan malam itu yang begitu terang dan jadi saksinya, seperti butiran pasir di kasur yang menyelimuti kita, seperti tangisku yang memecah dialog kita. Oh itu bagian yang menyakitkan! Jadi, karna sudah banyak saksinya. Saya sayang kalian :3 cheeew
Label:
Bestfriends-Things,
Lantai Panggung,
Mei 2010,
SMA
Rabu, 28 April 2010
Aku melihat raungannya.
Ia begitu rapuh, dan berpeluh. Aromanya kubayangkan mentari jatuh padanya, tengik dengan abunya, dan mengibar setiap langkahnya..
Dan petikan suaranya..dan matanya yang tak usai menatapku..lalu dentuman tabuhnya… ia ingin berkuasa di dunia, ia meneriakkan apa yang mau ia curahkan.. ia begitu kuat dengan legam kulitnya..
Dan tubuh ringkihnya, layaknya banci kurus nan rela disodomi tuan-tuan berpunya.. dan mau segalanya. Percayalah padaku, ia tak begitu meyakinkan untuk menjadi seorang laki-laki..
Tapi ia akan selalu dipuja, laki-laki terpuja. Dari senyumnya yang mengiris, menusuk hatiku lekat-lekat, dan tak ingin menjauh dari belaian mata coklatnya..
Ringkiiiiiiih! Bolehkah aku memelukmu, bolehkah aku membelai rambutmu.. bolehkah aku merasakan hasratmu.. bolehkah langitku mencapaimu.. bolehkah kusatukan panggungnya..
Tuan nan kecil, bolehkan?
Jawabnya, tergantung deritamu. Dan aku menjawab lagi, aku ogah menderita.
Kalau begitu sampaikan pada dunia, dan biarkan ceritanya.. biarkan ceritanya sampai pada mimpimu.. biarkan aku jatuh-jatuh.. sekalipun hanya di bayanganmu saat bercermin.
Dan petikan suaranya..dan matanya yang tak usai menatapku..lalu dentuman tabuhnya… ia ingin berkuasa di dunia, ia meneriakkan apa yang mau ia curahkan.. ia begitu kuat dengan legam kulitnya..
Dan tubuh ringkihnya, layaknya banci kurus nan rela disodomi tuan-tuan berpunya.. dan mau segalanya. Percayalah padaku, ia tak begitu meyakinkan untuk menjadi seorang laki-laki..
Tapi ia akan selalu dipuja, laki-laki terpuja. Dari senyumnya yang mengiris, menusuk hatiku lekat-lekat, dan tak ingin menjauh dari belaian mata coklatnya..
Ringkiiiiiiih! Bolehkah aku memelukmu, bolehkah aku membelai rambutmu.. bolehkah aku merasakan hasratmu.. bolehkah langitku mencapaimu.. bolehkah kusatukan panggungnya..
Tuan nan kecil, bolehkan?
Jawabnya, tergantung deritamu. Dan aku menjawab lagi, aku ogah menderita.
Kalau begitu sampaikan pada dunia, dan biarkan ceritanya.. biarkan ceritanya sampai pada mimpimu.. biarkan aku jatuh-jatuh.. sekalipun hanya di bayanganmu saat bercermin.
Label:
April 2010,
Lantai Panggung,
Relationship,
SMA,
Subject-
Sabtu, 17 April 2010
Selamat Menikmati
Selamat menikmati pagimu, seperti senja kemarin nan aku cintai.. seperti bumi yang membeku beberapa jam yang lalu.. dan menyerupai aku yang enggan membarisi bait-baitku..
Bila jawabannya telah hadir, itu bukan jawaban sesungguhnya. Sungguh.
Bila jawabannya telah hadir, itu bukan jawaban sesungguhnya. Sungguh.
hidup
Biarkan hidup menjadi hidup, jangan paksakan hidup jika ia tidak akan hidup sekalipun terpaksa.
Jalani mau Tuhan, biar kita aman. Bukankah untuk ini kita diciptakan.
Sekalipun selalu ada jalan, di mana jalan tersebut menjanjikan ia akan bersama selamanya, menemani hidup kita sepanjang hayat. Tapi tidak ada satupun yang abadi di dunia ini spesifikasinya, sekalipun itu sebuah tipuan.
Coba tolong dengarkan hatimu yang bimbang, jangan biarkan dia hilang dan lagi di ambangnya..
Ketika ia hilang, hidupmu hilang. Dan titelmu sebagai manusia, mati. Hilang tertelan bumi.
Coba tolong luapkan hatimu, jangan menekannya. Nanti membeku jadi penyakit manusia.
Jika ia beku, tidak ada lagi yang dapat mencairkanmu.. dan hantaman badai akan menutupmu selamanya..
Biarkan sebuah hidup terdedikasikan untuk hidup yang lainnya, itu akan menenangkanmu.. dan yang sesungguhnya yang akan memelukmu erat, kecuali dia berkhianat.
Biarkan senja hilang menelan hidupmu, jingganya akan menyejukkan matamu. Dan semua yang ada di dunia menatapnya, melepasmu dengan harapan esok bersua kembali. Meskipun tak ada sedikitpun harapan kau kembali..
Tapi!
Ini dunia, fana. Dan belum seseorang pun mengatakannya ini adalah miliknya. Zaman juga mengakuinya. Karena aku belum tunduk, karena aku belum berhenti hidup. Karena aku belum manggung’ di GKJ dan di GBB.
Setiap manusia menarik semua harapan dan ingin menjadi di salah satunya. Penguasa. Kalau tertinggal, akan jauh tertinggal. Melarat, dan berak-pun bisa jadi susah. Dari kecil punya Ibu, menuntut minta dirubah nasibnya, biar bisa bertahan menanti maut. “biar kamu bisa sekolah, dan beli pulsa..” , dan aku meminta biar bisa naik haji sama-sama. Kalau semua tertahan, akan terjatuh. Kalau hati beku, akan hilang. Sedangkan bertahan layaknya menaruh pensil mekanik di atas ponsel. Dia akan selalu terjatuh, tapi kalau aku tahu caranya, akupun dapat hidup di dunia ini.
Jalani mau Tuhan, biar kita aman. Bukankah untuk ini kita diciptakan.
Sekalipun selalu ada jalan, di mana jalan tersebut menjanjikan ia akan bersama selamanya, menemani hidup kita sepanjang hayat. Tapi tidak ada satupun yang abadi di dunia ini spesifikasinya, sekalipun itu sebuah tipuan.
Coba tolong dengarkan hatimu yang bimbang, jangan biarkan dia hilang dan lagi di ambangnya..
Ketika ia hilang, hidupmu hilang. Dan titelmu sebagai manusia, mati. Hilang tertelan bumi.
Coba tolong luapkan hatimu, jangan menekannya. Nanti membeku jadi penyakit manusia.
Jika ia beku, tidak ada lagi yang dapat mencairkanmu.. dan hantaman badai akan menutupmu selamanya..
Biarkan sebuah hidup terdedikasikan untuk hidup yang lainnya, itu akan menenangkanmu.. dan yang sesungguhnya yang akan memelukmu erat, kecuali dia berkhianat.
Biarkan senja hilang menelan hidupmu, jingganya akan menyejukkan matamu. Dan semua yang ada di dunia menatapnya, melepasmu dengan harapan esok bersua kembali. Meskipun tak ada sedikitpun harapan kau kembali..
Tapi!
Ini dunia, fana. Dan belum seseorang pun mengatakannya ini adalah miliknya. Zaman juga mengakuinya. Karena aku belum tunduk, karena aku belum berhenti hidup. Karena aku belum manggung’ di GKJ dan di GBB.
Setiap manusia menarik semua harapan dan ingin menjadi di salah satunya. Penguasa. Kalau tertinggal, akan jauh tertinggal. Melarat, dan berak-pun bisa jadi susah. Dari kecil punya Ibu, menuntut minta dirubah nasibnya, biar bisa bertahan menanti maut. “biar kamu bisa sekolah, dan beli pulsa..” , dan aku meminta biar bisa naik haji sama-sama. Kalau semua tertahan, akan terjatuh. Kalau hati beku, akan hilang. Sedangkan bertahan layaknya menaruh pensil mekanik di atas ponsel. Dia akan selalu terjatuh, tapi kalau aku tahu caranya, akupun dapat hidup di dunia ini.
Rabu, 07 April 2010
2 April 2010
Mengenai hati yang temaram di pertengahan sore menjelang pagi, ini.
Aku selalu terngiang kepada tempat yang remang ini. Di depanku ada Surya Baru. Di sisi kiriku ada dia. Dan di antaraku ada mereka. Awan yang jatuh kepadaku dan menyelimuti segenap mata hatiku. Awan yang selalu ingin kugapai.
Di saat ini suara yang terdengar begitu syahdu lantas menimang hati, mendengarkan dentuman-dentuman tawa dan irama yang meluncur dari bibirku. Aku menatapnya, tukang bernyanyi bertato, begitu pilu, dan tertahan. Ada rasa yang terpendam ketika aku melihatnya memetik dawai gitar yang sudah digemai amplifier.ada derita di matanya, aku yakin. Dan dia tahu semua lagu favoritku.
Aku fikir dia ali, orang yang pertama kali aku gilai. Ali yang lama mati, hidup lagi mau minta maaf, dan bernyanyi sepuas hati menatapku, malu-malu.
Sore yang menyenangkan. Langit di atas selalu tersenyum melihat, ketika aku di posisi ini. Di antara ide-ide yang bergerilya dan tidak pernah terbaca, dan tidak pernah menjalar. Tapi, namanya Teater 35 orang-orangnya gila dan bikin rindu semua.
Rasa-rasanya suara orang yg mirip Ali, berhasil mengiringiku lepas bersama orang yang kucintai ini. Dan bersamanya aku memulainya. Aku berjanji akan mencapai mimpi itu, sekalipun aku harus menangis lagi sesunggukan. Tapi aku meyakini sesuatu yang dimulai dengan basmalah dan impian yang baik hasilnya akan baik. Amin ya Allah. Bukannya Allah maha adil, dan aku selalu terlibat akan semua karunia DIA di dunia? Iya.
02 April 2010 kofdul
Aku selalu terngiang kepada tempat yang remang ini. Di depanku ada Surya Baru. Di sisi kiriku ada dia. Dan di antaraku ada mereka. Awan yang jatuh kepadaku dan menyelimuti segenap mata hatiku. Awan yang selalu ingin kugapai.
Di saat ini suara yang terdengar begitu syahdu lantas menimang hati, mendengarkan dentuman-dentuman tawa dan irama yang meluncur dari bibirku. Aku menatapnya, tukang bernyanyi bertato, begitu pilu, dan tertahan. Ada rasa yang terpendam ketika aku melihatnya memetik dawai gitar yang sudah digemai amplifier.ada derita di matanya, aku yakin. Dan dia tahu semua lagu favoritku.
Aku fikir dia ali, orang yang pertama kali aku gilai. Ali yang lama mati, hidup lagi mau minta maaf, dan bernyanyi sepuas hati menatapku, malu-malu.
Sore yang menyenangkan. Langit di atas selalu tersenyum melihat, ketika aku di posisi ini. Di antara ide-ide yang bergerilya dan tidak pernah terbaca, dan tidak pernah menjalar. Tapi, namanya Teater 35 orang-orangnya gila dan bikin rindu semua.
Rasa-rasanya suara orang yg mirip Ali, berhasil mengiringiku lepas bersama orang yang kucintai ini. Dan bersamanya aku memulainya. Aku berjanji akan mencapai mimpi itu, sekalipun aku harus menangis lagi sesunggukan. Tapi aku meyakini sesuatu yang dimulai dengan basmalah dan impian yang baik hasilnya akan baik. Amin ya Allah. Bukannya Allah maha adil, dan aku selalu terlibat akan semua karunia DIA di dunia? Iya.
02 April 2010 kofdul
Rabu, 04 November 2009
SDD
Haloo lama tak sua, dengarkan saya mau bicara, saya menemukan sosok baru nan romantis puitis dan mungkin dapat menjadi inspirasi bagi siapa yg mencari idola di minggu ini! Hihi
Sajaknya menjadi salah satu yg terus saya damba sejak dulu. Saya berfikir ada yg memusikalisasikan atau bahkan membisikkan khusus pada saya tentang nya. Hahahahaha
Jadi saya yg norak baru melihat buku kumpulan karyanya, tenang deh kali ini bukan pak Nikolas keg a.k.a pak Atik sang seniman geografi saya yg cerdas.
Tapi mengenai, Sapardi Djoko Damono, dengan salah satu sajaknya yg menjadi kesenangan saya
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(1989)
hehehehe thaaaats why im so in love with the opus. Sederhana tapi itu saya. Beliau seniman, orang Jawa, dari Solo. Seumuran Yangkung saya yang sudah alm. Beliau tokoh akademikus, dan menjadi pengajar di FIB UI yang angker :'( why why why gitu loooh.
Saya jadi mimpi tentang sosok laki-laki seperti beliau, terus-terusan mimpi, hayo siapa tahu mimpi saya, haha
Sebenarnya ini bukan resensi atau sekedar rujukan, tapi buat penggemar puisi, kalau lagi ngga ada kerjaan yaaah sempatkanlah membacanya. Salah satu bukunya yg berjudul salah satu sajak jua dalam bukunya ; Hujan Bulan Juni.
Hihi ;)
Sajaknya menjadi salah satu yg terus saya damba sejak dulu. Saya berfikir ada yg memusikalisasikan atau bahkan membisikkan khusus pada saya tentang nya. Hahahahaha
Jadi saya yg norak baru melihat buku kumpulan karyanya, tenang deh kali ini bukan pak Nikolas keg a.k.a pak Atik sang seniman geografi saya yg cerdas.
Tapi mengenai, Sapardi Djoko Damono, dengan salah satu sajaknya yg menjadi kesenangan saya
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(1989)
hehehehe thaaaats why im so in love with the opus. Sederhana tapi itu saya. Beliau seniman, orang Jawa, dari Solo. Seumuran Yangkung saya yang sudah alm. Beliau tokoh akademikus, dan menjadi pengajar di FIB UI yang angker :'( why why why gitu loooh.
Saya jadi mimpi tentang sosok laki-laki seperti beliau, terus-terusan mimpi, hayo siapa tahu mimpi saya, haha
Sebenarnya ini bukan resensi atau sekedar rujukan, tapi buat penggemar puisi, kalau lagi ngga ada kerjaan yaaah sempatkanlah membacanya. Salah satu bukunya yg berjudul salah satu sajak jua dalam bukunya ; Hujan Bulan Juni.
Hihi ;)
Label:
Lantai Panggung,
November 2009,
SMA
Minggu, 18 Oktober 2009
Nelly feat Kelly - dilema
Sebuah kisah klasik namanya sejenis komplikatik. Ceritanya menggelitik, mengeruk ulu hati.
Dan menjamah semua ujung-ujung urat nadiku.
Oke, namanya dilematik. Kata nya jatuh dari serapan asing. Ia membisikkan dua hidup.
"Mau yg ini atau yg itu nti?"
aku diam
"Ayo, waktumu akan segera mencapaimu"
aku membuka, suara
Tidak ada yg kupilih, apa jaminan atas mereka? Bukankah mereka tidak mengenal bola mataku? Dan, mereka tidak menyentuh ujung jariku. Selanjutnya, aku tak terjamin atas mereka.
"Tolol, kau pilih saja lah!"
Kian nanti demi ibuku. Aku takkan rela kau kalahkan.
"Kau tahu aku telah mengabutimu, bagaimana kau akan lari, heh? "
Tak ada yg berharap lari, aku akan menikam, mati. Menjemputmu.
"Pilih !"
Aku sudah memilih.. Aku mengalah, pada kecebong layaknya kamu.
"katakan padaku, apa yg kau pilih"
Aku tidak memilih, ma
"kamu menyesal"
Hening, hening. Sungguh klasik. Sampai pada sang buritan, dan banyak terdengar jeritan..
Aku kembali, aku pilih yg tepat dan rajin shalat. Kamu jangan datang lagi ya..
"kau telah menghalauku, dan menjawabku. Aku pergi (dengan bahagianya)"
Nan, pada akhirnya, ia tetap butuh pilihan. Hanya saja terlalu munafik, kala ia lagi menampik. Dan sang waktu tetap menunggu.. Jadi tidak lagi harus diburu.
Dan, bukannya sama saja. Karena, ketika kita tidak memilih sebuah pilihan tetap saja kita telah memilih.
Jadi harusnya nyonya dilematik dalam klasik ini, mati. Kita hampiri bukan hindari.
Dan menjamah semua ujung-ujung urat nadiku.
Oke, namanya dilematik. Kata nya jatuh dari serapan asing. Ia membisikkan dua hidup.
"Mau yg ini atau yg itu nti?"
aku diam
"Ayo, waktumu akan segera mencapaimu"
aku membuka, suara
Tidak ada yg kupilih, apa jaminan atas mereka? Bukankah mereka tidak mengenal bola mataku? Dan, mereka tidak menyentuh ujung jariku. Selanjutnya, aku tak terjamin atas mereka.
"Tolol, kau pilih saja lah!"
Kian nanti demi ibuku. Aku takkan rela kau kalahkan.
"Kau tahu aku telah mengabutimu, bagaimana kau akan lari, heh? "
Tak ada yg berharap lari, aku akan menikam, mati. Menjemputmu.
"Pilih !"
Aku sudah memilih.. Aku mengalah, pada kecebong layaknya kamu.
"katakan padaku, apa yg kau pilih"
Aku tidak memilih, ma
"kamu menyesal"
Hening, hening. Sungguh klasik. Sampai pada sang buritan, dan banyak terdengar jeritan..
Aku kembali, aku pilih yg tepat dan rajin shalat. Kamu jangan datang lagi ya..
"kau telah menghalauku, dan menjawabku. Aku pergi (dengan bahagianya)"
Nan, pada akhirnya, ia tetap butuh pilihan. Hanya saja terlalu munafik, kala ia lagi menampik. Dan sang waktu tetap menunggu.. Jadi tidak lagi harus diburu.
Dan, bukannya sama saja. Karena, ketika kita tidak memilih sebuah pilihan tetap saja kita telah memilih.
Jadi harusnya nyonya dilematik dalam klasik ini, mati. Kita hampiri bukan hindari.
Label:
Lantai Panggung,
Oktober 2009,
SMA
Langganan:
Postingan (Atom)
