Rabu, 26 Oktober 2011

Closer


Sebelumnya saya cuma sering liat cover film ini di tiap rental-vcd langganan saya. Saya nggak begitu tertarik, karena emang sampulnya nggak atraktif. Yang atraktif aja belom tentu saya sewain..

Film itu dapat dilihat darimanapun, saya melihat film biasanya rekomendasi dari temen-temen, atau baca majalah film langganan sekre ceria Kine Klub Fisip UNS. Dan film yang akan saya ceritakan kali ini saya dapatkan motivasi menontonnya dari sebuah blog galau milik perempuan idiot 21 tahun, Prita Raras.

Genrenya, Drama Romantis. Disingkat; Dramatis. Buat saya emang sangat-sangat dramatis. Entah, sebenernya saya nggak punya bayangan apapun selama awal menengok filmnya. Saya nggak begitu suka Julia Robert, dia cantik tapi udah tua. Ya pokoknya saya nggak begitu suka aja. Trus, karena settingnya London saya makin semangat nontonnya, saya ikutin kok tiba-tiba ilang scene yang barusan saya liat, dan berganti drastis dengan yang lainnya. Apalagi pas perkenalan tokoh Larry, saya lupa nama aktornya. Dan terjadi di scene dan pergantiannya berikutnya. Ternyata ya, emang maunya seperti itu, no jumper no blooper. Okay, dari alur yang gak jelas sudah menari-nari di kepala saya, dan setelah saya ikutin.. weldut, ternyata semua berkaitan jelas. Masuk akal dan salah dugaan saya mengira dan menganggap film ini tergolong hal-ngga-jelas.

Kali ini saya membicarakan hal-hal subjektif seperti biasanya yang saya tangkap dari film ini.
Apa ya, sebelumnya saya cerita di account twitter saya, kalo saya sempet banget nangis gara-gara satu scene yang titik-titik banget.. Yap, dramatis. Mungkin ini yang dianggap film berhasil, kebukti mereka dapet banyak penghargaan untuk film ini yang semakin menjual. Emosional banget, sebagai orang yang bisa dikatakan belom berumur kesekian, tapi saya bisa dibuat ngerti. Dan satu scene yang buat saya mbibik-mbibik itu sialnya saya pernah nyobain, rasanya lebih pedes dari rica-rica ISI.

Sebenernya sih ceritanya simple, tentang pertemuan ada konflik dan akhirnya selesai konfliknya. Ceritanya panjang dan rumit, tapi sekali lagi saya katakan kalo filmnya bener-bener cerdas. Baik dalam ide cerita dan konsep penggarapannya. Professionalitas aktornya top banget dan saya cinta banget tokoh Alice. Entah kenapa, saya ngeliatnya dia hebat banget jadi orang. Kalo saya cerita Alice nanti saya monoton banget kali ya cerita tentang tokoh kesukaan saya melulu.

Inti yang saya tangkep adalah, hanya orang jenis dewasa dan tulus yang pantes untuk dicintai. Terbukti dari gambaran di film ini yang berurut menceritakan betapa seseorang berjuang dan menyia-nyiakan cintanya. Next, bagian yang saya suka adalah bagian ketika dua lelaki tampan itu menangis, menangis karena cinta dan ketakutan. Yang satu awalnya terkesan obsessed dan benar-benar ketakutan. Yang satu karena cengeng dan ketakutan kehilangan kesempatan yang benar-benar ada untuknya, cengeng dalam makna sesungguhnya. Tokoh antagonisnya ngga diceritain sih, tapi yang jelas film ini menunjukkan kekurangan setiap tokoh dengan porsinya masing-masing, dan yang terbanyak adalah si ganteng Jude Law sebagai Daniel. He’s a kind boy and also really mean, I mean he’s too childish and yes he’s too stupid. Laki-laki itu cenderung kekanank-kanakan di hadapan orang yang ia cintai, tapi terkadang ia terlalu bodoh. Ia cenderung menganggap ia akan punya kesempatan di lain waktu, ia menganggap ia masih memiliki sosok yang mencintainya, yang membutuhkan kelaki-lakiannya. Perempuan hanya menunggu, tapi sejatinya manusia punya batasan menunggu. Dan pergi adalah jawaban bagi semua hal bodoh atas sikap kekanank-kanakan yang selalu menuntut dan enggan bertindak cepat. Tulus itu mudah, nggak berkhianat memang tidak mudah.. tapi coba berpikir dewasa, ketika kamu dalam sebuah komitmen, satu-satunya yang harus dipertanggungjawabkan adalah pembicaraanmu sejak awal. Dan kontak antara manusia yang satu dengan manusia lainnya adalah sebuah keseriusan, seperti yang dijelaskan filmnya. You have sex, you cheat me, next what? Kalo saya mah udah saya mutilasi............

Boys, realize it. Please don’t cheat your girl. She loves you. Until you touch other girl, your past, your ex, or your someone new.. And also girl, grow up. We all grow up. :)

Ya, namanya drama. Gimanapun lebih berat dibanding liat teknis shot dari film indie atau action, banyak yang harus diapresiasikan lewat curhat colongan begini. Nggak, saya nggak mau nyalahin diri saya yang melankolis pas ngeliat film ini begitu juga kalian, Selamat menonton.

Jumat, 21 Oktober 2011

What A Munyu Christmast will be, My Bieber

It's the most beautiful time of the year
Lights fill the streets spreading so much cheer
I should be playing in the winter snow
But I'mma be under the mistletoe

I don't want to miss out on the holiday
But I can't stop staring at your face
I should be playing in the winter snow
But I'mma be under the mistletoe

With you, shawty with you
With you, shawty with you
With you under the mistletoe

Everyone's gathering around the fire
Chestnuts roasting like a hot July
I should be chillin' with my folks, I know
But I'mma be under the mistletoe

Word on the street santa's coming tonight,
Reindeer's flying through the sky so high
I should be making a list, I know
But I'mma be under the mistletoe

With you, shawty with you
With you, shawty with you
With you under the mistletoe

With you, shawty with you
With you, shawty with you
With you under the mistletoe

The wise men follow the stars (The wise men follow the stars)
They way I followed my heart
And it led me to a miracle

Don't you buy me nothing (don't you buy me nothing)
I am feeling one thing, your lips on my lips
There's a very, Merry Christmas

It's the most beautiful time of the year
Lights fill the streets spreading so much cheer
I should be playing in the winter snow (I know)
But I'mma be under the mistletoe

I don't want to miss out on the holiday
But I can't stop staring at your face
I should be playing in the winter snow
But I'mma be under the mistletoe

With you, shawty with you
With you, shawty with you
With you under the mistletoe

With you, shawty with you
With you, shawty with you
With you under the mistletoe

(Kiss me underneathe the mistletoe)
Kiss me underneathe the mistletoe
(Show me baby that you love me so)
Oh, oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh, oh

(Kiss me underneathe the mistletoe)
Kiss me underneathe the mistletoe
(Show me baby that you love me so)
Ohhh, ohhh,


Justin Bieber- Mistletoe

Kamis, 20 Oktober 2011

:/

Menurut kalian, bagaimana spesifikasi keindahan? Sebuah rangkaian kalimat yang menusuk perasaan, sebuah paragraf mengenai cinta, sebuah wacana mengenai kearifan yang mendidik, sebuah buku mengenai kebijaksanaan dan perasaan damai?

Buat saya, kala seorang manusia bisa terpaku memandang sebuah tulisan di hadapannya dan menjadikannya ia berpikir lebih, mengenai hidupnya, maupun seseorang di tulisan tersebut, adalah keindahan.

Ehmm.. buat saya.. Ini penyebutan bagi hal-hal dramatis tatkala saya membaca sebuah tulisan. Rasanya seperti melihat satu hal yang benar-benar indah, indah banget. Nggak puitis seperti biasanya, yang membunga-bungakan hati saya, tapi lebih kepada satu hal yang bahkan cenderung sangat realis. Satu hal yang dulu amat sangat saya hindari dan saya sempat saya pikirkan sebagai satu hal yang nggak pantes lah buat saya tengok, bahkan sejenak.

Rasanya seneng aja liat sebuah penilaian meskipun subjektif tentang seseorang tanpa harus gembar-gembor sana-sini, dan yang jelas penilaian tersebut emang sangat sebanding dengan kualitas yang ada. Dia cerdas, sangat cerdas. Saya bangga banget sekarang bisa kenal. Bangga banget.

Bahagia banget liat barisan gambar-gambar cemerenceng' di mana-mana. Gambar-gambar itu seolah meledek ketidak-mampuan saya menyentuhnya secara langsung, menemuinya dekat-dekat seperti penangkapnya.

Mereka memanggil saya dan saya hanya duduk. Mengagumi, bahkan sudut-sudutnya. Satu hal tanpa gerakan, suara, terlebih efek. Semuanya dalam satu tampilan dan selayaknya inti dari kesemuanya, mereka bercerita, di dalamnya sebagian hidup, bercerita mengenai sejarahnya, sebagian mengenai masa depannya. Kesemuanya bercerita dan mengalahkan keseriusan saya bicara dalam semua hal.. mereka jauh-jauh lebih dalam dan bermakna...

Indah dan luar biasa, kira-kira begitu gambarannya. Saya benar-benar terkagum-kagum. Tanpa harus menyentuhnya saya bisa terbentuk seperti itu, dan itu yang menjadikan saya nyaman dan aman. Sekalipun sedikit menyiksa, denyut-denyut bicara yang lain, tapi saya mencoba ikhlas dan profesional terhadap dramatisasi dan kerancuan ini..

Selasa, 11 Oktober 2011

Oktober 2011

Selamat hari lahir wanita kesayanganku, Mbok Pecel.

Selamat ulang tahun, Bu. Maafin kakak yang nggak bisa peluk, cium, dan nyanyi ‘selamat ulang tahun’ yang Ibu selalu lakuin kalo kakak, vita, atau ayah ulang tahun. Kakak nggak bisa pulang..

Selamat ulang tahun, Bu. Semoga ALLAH SWT selalu melindungi Ibu dari segala mara bahaya dan penyakit. Semoga Ibu, Ayah, dan Metlek selalu sehat di rumah. Semoga selalu diberkahi kesehatan, ilmu, dan rezeki yang banyak, semoga salon rame terus biar kakak juga kecipratan ya rezekinya, amin :D

Selamat ulang tahun, Bu. Terima kasih buat semua yang Ibu udah kasih ke kakak. Terima kasih udah jadi Ibu yang super sabar dan begitu sayang sama aku. Terima kasih udah pilihin semua yang terbaik buat kakak, dari ujung rambut sampe ujung kaki. Terima kasih selalu cerewetin aku, selalu inget makanan kesukaanku, dan selalu kepo’ sama hidupku di Solo tiap harinya. Terima kasih udah jadi singa betina terganas yang mendidik aku dengan baik. Ibu sosok yang sempurna.

Selamat ulang tahun, Bu. Maafin kakak yang belum jadi anak yang bener-bener bisa di-andelin ya. Tapi kakak usaha buat Ibu dan Ayah, doain anak monyetmu ini bisa berhasil dan suatu hari nanti nggak nyusahin Ibu dan Ayah lagi. Maafin kakak yg belom bisa kasih apa-apa ke Ibu. Maafin kakak yang belum bisa dewasa, kakak lagi usaha banget biar jadi kakak yang baik juga buat Vita. Maafin kakak yang jarang telfon ya Bu, hemat beb..........

Selamat ulang tahun, Bu. Kakak lagi nggak ada kerjaan nulis, ngga punya duit buat beliin Ibu panci presto yang bisa bolak-balik kaya di tv, jadi cuma sekedar bunga. Semoga Ibu suka ya, selamat bersenang-senang hari ini.Sehat-sehat di sana ya, jangan makan sambel kebanyakan ya, tiap hari harus makan nasi ya Mbok jangan sok diet, jangan sering-sering badmood ya kasian Metlek dan Ayah...

Kakak sayaaaaaaaaaaaaang Ibu, I love you, Mbok Pecel so much :*

Thank more God..

Saya bukan tipikal orang yang benar-benar bisa terus-terusan hidup prihatin, sekalipun saya dalam proses mencobanya. Sebagai anak kos, yang bahkan makan pun harus usaha sendiri dan menyediakan semua kehidupan sendiri, rasanya nggak gampang gitu aja memutuskan semua kebutuhan yg sebelumnya dianggap penting. Intinya, sebenernya saya belom bisa seutuhnya hidup miskin,tiap hari makan nasi kucing dan tempe goreng terus menerus. Harusnya saya sudah biasa. Sekalipun saya nggak pernah dibiasakan untuk hidup seperti itu. Oke, itu masalah saya.

Bulan Oktober kali ini, sebelumnya buat saya pailit banget. Berawal, dari ulangtahun orang kesayangan saya nomor satu di dunia. Saya nggak ngerti maunya dia apa, jatah saya jadi anak kos juga pas-pasan buat hidup sama ngegaul di Solo. Alhasil saya mengalami masa randomitas tingkat dewa. Ibu saya, kalo ditanya, maunya apa? Jawabannya ngelenye’, “Ibu maunya anak-anaknya bisa bahagia”. Lah, masa saya mau ngasih foto ketawa. Itu lebih garing kan.. Satu-satunya iklan yang bener-bener ditengok pas doi nonton tv bareng saya, terakhir pas saya liburan di rumah adalah, panci yang bisa dibolak-balik yg diiklanin hepi salma. Diar! Rasanya mustahil, tanpa penghasilan saya bisa ngadoin dia begitu. Makanya saya inisiatif, cari bunga. Ternyata bunga yang kalo diinjek langsung moncor itu jauh lebih mahal dari makanan saya selama seminggu. Walhasil saya nggak jadi niat kasih kado apa-apa, berikut alesan pas hari- H, Ibu kemungkinan masih di Lampung. Karena niatnya saya nggak jadi ngado, duitnya buat hairspa dan beli hair tonic. Eh, tiba-tiba nemu toko bunga online, namanya Toko Bunga Jakarta. Keadaan dukung banget buat beliin doi bunga. Nekat, beli mawar bertangkai-tangkai plus baby flowernya, berikut saya sertakan surat, nggak tau juga sih bentuknya, pokoknya saya pesen sembari wanti-wanti hati saya buat semangat hidup miskin sampai habis bulan.

Akhirnya duit saya habis. Besoknya, saya tulis surat untuk Tuhan. Tempel di Noteboard betapa saya berharap mendapat kekuatan lebih untuk menghadapi Oktober yang sebelumnya kelam buat saya. Dan nulis catetan kecil di bawahnya; “Tuhan, aku tau Engkau baca ini *emotikon menangis deras*”... Kring, hape saya bunyi..

“Kakak di mana sayang?”

“Di Kosan, lagi belajar” (nyenengin hati dan kondisi memang sedang belajar...)

“Ibu kirim uang bla bla bla buat beli minyak wangi, beli makanan yang kakak pengen.. ya kak ya..”

“Aku kirim bunga, bukan buat minta uang loh Bu..”

“Yah bukan itu maksud Ibu, uangnya bla bla bla..”

Deg, setelah pembicaraan itu. Saya bener-bener merefleksikan diri saya ke cermin laptop depan saya. Sempet menjadi melankolis, dan menangis. God, was it Yours? Gimana rasanya ngerasain keajaiban? Semenit yang lalu baru saya tulis, rasanya saya langsung dapet kekuatan itu.. Rasanya malu nggak terkira, saya langsung mikir, pantes nggak ya buat saya yang hobi ngeluh begini. Dan sejujurnya ya emang saya pernah mikir, siapa tau kalo Ibu saya kasih hadiah, dia bisa seneng, dan siapa tau ngasih saya duit. Saya sempet mikir satu hal yang nggak ikhlas begitu, sekalipun cuma sepintas.. dan Tuhan ngabulin pikiran sepintas itu. Padahal nggak baik banget pikiran sepintas begitu...

Saya mikir gimana kalo misalnya saya bener-bener pure mikirin buat dia bahagia doang. Gusti, saya malu. Saya malu sama diri saya yang sempet berpikir seperti itu, saya malu menerima berkah-Mu. Saya nggak tau harus gimana, saya ingin lebih bersyukur, saya mau merubah diri saya.. Saya akan menikmati Oktober ini lebih baik, amin..

Rabu, 05 Oktober 2011

Menjadi Masa Depan..

Kalau kita sudah benar-benar beranjak dewasa

Kita tidak akan lagi peduli mengenai lontaran buih kata-kata

Kita tidak akan lagi saling menengok untuk sebuah tangis

Kita tidak lagi akan saling memeluk untuk mengangkat kepalamu

Kita tidak akan lagi saling bicara

Kita diam, jauh, dan palsu...



Jadi, bagaimana harusnya?

Kedewasaan mencerai berai kita, kedewasaan menarik aku, kedewasaan memisahkan mereka. Kedewasaan mengusir canda tiap harinya. Dan kita terbenam dalam skeptisme subjektif mengenai kehidupan yang kita jalani. Kita tanpa menengok, jauh-jauh hilang ingatan..

Kita berjalan, menyusur jalan yang menjauh dari semuanya. Kita terbenam dalam belaian imaji masing-masing dan mengejarnya tanpa kamu menengok aku. Tanpa kita semua saling menengok, membicarakan apa inginku dan yang kamu mau!

Kita berpikir, sampai pagi kemudian hari menjemput dan mempertemukan kita kembali.. Ketika aku tak lagi mampu mengajak mereka bicara, dan kita semua diam. Sudah saatnya memang menjadi bentuk yang mencekam, kelam.. dan tak satupun di antara kita muncul ke permukaan..

Biar kita tertidur, biar aku tertidur.. Hingga suatu hari kita akan saling membangunkan kembali... Bersama pikiran nan kita sepakati....

"Menjaga hati sahabatku, ku curi waktu untuk bertemu
Rasakan perih sahabatku, membuang waktu untuk cemburu
Terbersit barang sedetik kita jauh
Hilanglah kita jatuh
Terbersit barang sedetik kita jatuh
Kau tersungkur, tersungkur, dan jauh
Lalu ku tersungkur, tersungkur, dan jauh, dan jatuh

Habiskan hati sahabatku, mencari ragu untuk dibunuh
Menangkap nyali sahabatku, mengisi jantung seakan candu
Petik sakit, percayai, sangka baik, takkan sulit
Beri, trima, senyum, hina, sakit, rasa, tawa sahabat....."

Frau- Salahku, Sahabatku



Senin, 03 Oktober 2011

Keroncong Rencong!


Solo bagi saya adalah satu kebudayaan. Sebuah kota dengan nuansa penuh Jawani dan santun.. Solo adalah nafas bagi seni dan orang-orang yang memeluknya, buat saya hal ini akan berlanjut selamanya..

Tentang musik, saya adalah penggemar banyak jenis musik. Saya salah satu penggemar keroncong, saya begitu jatuh cinta sama lagu Bengawan Solo, dan buat saya musik-musik keroncong lainnya adalah warna yang senada dan sama indahnya seperti jazz, mengandung makna-makna dalam siratannya yang bersemangat seperti musik rock, dan menjadi trend bagi setiap kalangan, merujuk musik pop. Keroncong adalah budaya yang indah..

Solo Keroncong Festival, setelah saya turun dari kegiatan penuh saya di hari Jumat sampai jam setengah delapan kira-kira, Slamet Riyadi jadi begitu padat seperti Tanah Abang, di belokan Ngarsopuro sudah tertutup sepeda-sepeda bermesin yang berbaris mengantar pemiliknya masuk ke dalam taman dan panggung. Semuanya bersatu padu manggilin saya, sayangnya saya masih galau.. Kaki saya sensitifnya lagi kumat dan janji besok pagi adalah satu hal yang buruk, karena saya nggak punya persiapan untuk Sabtu pagi. Tapi alhasil jiwa-jiwa haus musik saya membelokkan saya di Keprabon city dan mengantar saya pada keheningan nan riuh di Ngarsopuro.

Apa sih Keroncong? Musiknya orang tua, belom lagi bahasa Jawa, terusnya pasti mendayu-dayu kelabu aja. Dispersepsi yang menyenangkan, saya begitu lancar buat nyebutinnya..... Dan nyatanya salah besar saya, selain ada Hudson IMB yang menjadi bintangnya yang satu-satunya saya tau, seniman orkes keroncongnya sendiri ternyata anak muda semua (bagian yang saya liat loh ya.....) plus gantengnya. Saking memesonakan saya, saya sempat mengatur puisi-puisi mengenai gesekan biola laki-laki yang menderu di atas panggung sana. Musiknya juga menarik, aransemen-ed. Alternatif, ya iya juga lah ya....

Begitu ramainya Ngarsopuro, dibuatlah sebuah visualisasi lain untuk memenuhi penglihatan penonton, melalui layar dari tembusan proyektor, terbagilah mata-mata pengunjung. Yang saya liat, begitu membantu kok, karena bentuk panggung di sana daya pandangnya memang sempit karena memanjang. Di sisi-sisi Ngarsopuro dalam acara Solo Keroncong Fetival 29-30 September 2011 tersebut banyak yang saya perhatikan. Entah karena hobi pribadi adalah nyacat kali ya, hiburan lain buat saya di tempat yang dikategorikan crowded ya emang orang-orangnya, buat saya menyenangkan melihat berbagai macam interaksi dan menebak karakter tiap orang yang menatap saya, atau bahkan yang ga ngeliat saya sedikitpun karena berjarak 5 meter dari saya. Prediksi saya salah..... Keroncong sudah menduniawi, setiap kalangan yang saya perhatikan ada di sana. Tua, muda, beruang, ataupun muka-muka kere seperti saya waktu itu. Semua berkumpul seperti terpanggil untuk mendengar laju keroncong yang membahana.. Yang menyita perhatian saya, banyak ya yang berpasang-pasangan, bukan-bukan.. bukan nyindir saya single dan kece sendiri ya, tapi pasangannya ini mayoritasnya adalah orang-orang tua yang masih keliatan kaya pacaran pas kuliah, mana dandanannya necis dan santai banget lah ya. Berasa liat Eva Arnaz lagi pacaran sama Alm. Kasino di film Warkop DKI dulu. Ya, buat orang zaman dulu Keroncong kan pengganti boy/girl band zaman sekarang, eksisnya nggak mau kalah mungkin ya, buat mereka ini ajang bernostalgia, syukur-syukur istri/suaminya sama kaya yang waktu zaman dulu diajak nonton Keroncongan..... Guys, they really envy me. Mereka selon aja duduk geletakan di tengah jalan nonton bayangan proyektor menyatu sama yang lain. Pasangan-pasangan tua itu......... ngalahin mahasiswa zaman baru pacaran karena cinta lokasi, atau cinta-cinta manapun..

Oke kembali ke laptop. Saya nggak sempet nonton keseluruhan acara, kaki saya menarik-narik untuk pulang, perut saya mbribik buat beli takoyaki, kebab, atau wedang ronde... padahal saya bener-bener lagi hemat beb. Oke. Saya pulang di pertengahan acara. Setengah acara sebelumnya, saya hanya memperhatikan orang-orang, memperhatikan slide show dari proyektor, mendengar samar-samar keroncongan di panggung utama. Yap, sound systemnya sangat berkualitas rendah, itu yang disayang-sayangkan. Keseluruhannya menarik, nilai dari bintang lima, saya kasih tiga sebagai mahasiswa kere butuh hiburan yang ngefans sama begitu banyak bentuk kebudayaan dan pada saat menonton dilanda rindu akan kasur dan makanan nikmat.. Keroncong malam itu, mengenai Alm. Gesang, mengenai rindu, mengenai syahdu, pasangan tua, lelaki biola, mengenai cintaku pada Solo.