Rabu, 27 Februari 2013
RECTOVERSO : Cinta yang tak terucap.
Kamis, 06 September 2012
Young Adult
Rabu, 29 Februari 2012
In a Better World

Gimana bentuk kehidupan yang lebih baik? Surga? Loh, emangnya yakin masuk surga?
Sebenarnya hidup kita ini baik-baik saja, kehidupan yang kita jalani di masa sekarang adalah masa depan dari hari-hari kita yang sudah berlalu. Kehidupan yang kita jalani sekarang adalah harapan mengenai masa lalu yang jauh lebih buruk dan serba kekurangan. Kehidupan yang kita jalani merupakan karmapala mengenai cinta di masa lalu. Kehidupan yang sudah cukup lebih baik.
Tapi bagaimana bentuknya kehidupan yang terlanjur kita anggap baik-baik saja, bisa bertahan paling tidak dalam waktu sehari penuh, dengan stabil, statis, hati kita tenang meriang? Sayangnya, sulit. Kita kurang melihat dan merasakan dalam-dalam, kita terbentur emosi dan hanyut ke dalamnya dalam mengambil keputusan. Atau kita kurang beruntung dengan ketidak cermatan dalam memilih sejak awal? Bukankah kesemuanya sudah ditakdirkan kepada kita? Dan mengapa kita masih menganggap bahwa kita membutuhkan mengemban kewajiban itu semua dan merasakan pesakitannya?
Kadang kejujuran yang dibicarakan mahal harganya menjadi keawalan mutlak bagi semua masalah yang kemudian meracau semua yang ada. kejujuran adalah cermin bagi ketakutan. Kita seperti tenggelam dalam gelembung kejahatan yang Rahwana sebar tatkala kepalanya terjepit gunung Sondara-sondari membalas dendamnya kepada Rama, menyebarkan kejahatan, tertelanbagi umat manusia, tidak sadarnya. Manusia memang mutlak merasa takut dan munafik, demikian kiranya Tuhan melakukan penciptaan. Agar kebosanan dapat dijerang dan melebur seperti air mendidih, kemudian hilang. Kita butuh semacam gelombang, dalam hal apapun.
Sifat-sifat manusia memberikan cerita, terhadap film yang baru saja saya tonton. Apalagi yang kurang? Tuhan kasih begitu banyak, dalam sisi Marrianne, ia memiliki suami tampan rupawan, bertubuh surga, berhati malaikat, dua anak laki-laki tampan, pekerjaan mapan, bahkan rumah musim panas yang terlihat seperti benar-benar surga adanya.. dan dia masih merasakan kegalauannya. Seperti kehidupan biasanya, dengan alur proses tegang menuju perceraian, semuanya bertindak sebagai orang dewasa, termasuk kedua tokoh anak utama. Filmnya menarik karena keduniaan yang ditampilkan begitu sarat, rumit, dan berkaitan. Keberkaitannya semua dibuat sangat logis dan alurnya cukup berhasil membuat was-wasan. Seakan-akan alami, sekalipun harus terganggu dengan extreme-zoom-in yang terjadi berkali-kali dan posisi kamera yang kurang halus karena terlihat ngga stabil. Tapi sebagai isi dan kualitas gambar ya baiklah.
Saya bertekad dalam hati akan menunjukkan film ini kepada anak saya. Moral yang tak kurang mengajarkan betapa kita memiliki kewajiban melakukan semua kebaikan dan menahan kesakitan yang tiada sebanding dengan kebesaran hati bagi yang memiliki pemikiran itu. Moral mengajarkan perlindungan bagi sahabat, satu-satunya orang yang ada bagi kita setelah kita kehilangan segalanya yang kita harapkan di dunia ini. Bagi sahabat yang bersama kita, ketika kita melalui proses ketidak-tahuan, hingga kita mengerti segalanya. Moral betapa keluarga menjadi satu hal yang intim sekalipun terdapat kesalahpahaman, dan kita harus tertuntut menjadi begitu sabar di dalamnya untuk menjadi lebih baik. Mencapai ke-lebih-baik-an. Seperti kekurangan sosok masing-masing, namun kemudian dipertemukan dan saling melengkapi.
Demikianlah Tuhan menciptakan film-makernya yang menjadikan kehidupan biasa-biasa tersebut menjadi satu hal yang menyentuh sensitivitas kita penontonnya, melalu sebagian dialog dan keagungan alam Tuhan ciptakan dengan shot-shot yang damai dan terlihat sejuk membayangkan berada di dalamnya. Dan terdapat lumayan semiotik melalui shot-shot tunggal yang artinya dalem.
Film kemanusiaan yang baik. Sudah seharusnya kita belajar menjadi manusia yang baik, menuju dunia yang lebih baik. Kali ini kita harus yakin, kita akan masuk surga.
Rabu, 26 Oktober 2011
Closer

Film itu dapat dilihat darimanapun, saya melihat film biasanya rekomendasi dari temen-temen, atau baca majalah film langganan sekre ceria Kine Klub Fisip UNS. Dan film yang akan saya ceritakan kali ini saya dapatkan motivasi menontonnya dari sebuah blog galau milik perempuan idiot 21 tahun, Prita Raras.
Genrenya, Drama Romantis. Disingkat; Dramatis. Buat saya emang sangat-sangat dramatis. Entah, sebenernya saya nggak punya bayangan apapun selama awal menengok filmnya. Saya nggak begitu suka Julia Robert, dia cantik tapi udah tua. Ya pokoknya saya nggak begitu suka aja. Trus, karena settingnya London saya makin semangat nontonnya, saya ikutin kok tiba-tiba ilang scene yang barusan saya liat, dan berganti drastis dengan yang lainnya. Apalagi pas perkenalan tokoh Larry, saya lupa nama aktornya. Dan terjadi di scene dan pergantiannya berikutnya. Ternyata ya, emang maunya seperti itu, no jumper no blooper. Okay, dari alur yang gak jelas sudah menari-nari di kepala saya, dan setelah saya ikutin.. weldut, ternyata semua berkaitan jelas. Masuk akal dan salah dugaan saya mengira dan menganggap film ini tergolong hal-ngga-jelas.
Kali ini saya membicarakan hal-hal subjektif seperti biasanya yang saya tangkap dari film ini.
Apa ya, sebelumnya saya cerita di account twitter saya, kalo saya sempet banget nangis gara-gara satu scene yang titik-titik banget.. Yap, dramatis. Mungkin ini yang dianggap film berhasil, kebukti mereka dapet banyak penghargaan untuk film ini yang semakin menjual. Emosional banget, sebagai orang yang bisa dikatakan belom berumur kesekian, tapi saya bisa dibuat ngerti. Dan satu scene yang buat saya mbibik-mbibik itu sialnya saya pernah nyobain, rasanya lebih pedes dari rica-rica ISI.
Sebenernya sih ceritanya simple, tentang pertemuan ada konflik dan akhirnya selesai konfliknya. Ceritanya panjang dan rumit, tapi sekali lagi saya katakan kalo filmnya bener-bener cerdas. Baik dalam ide cerita dan konsep penggarapannya. Professionalitas aktornya top banget dan saya cinta banget tokoh Alice. Entah kenapa, saya ngeliatnya dia hebat banget jadi orang. Kalo saya cerita Alice nanti saya monoton banget kali ya cerita tentang tokoh kesukaan saya melulu.
Inti yang saya tangkep adalah, hanya orang jenis dewasa dan tulus yang pantes untuk dicintai. Terbukti dari gambaran di film ini yang berurut menceritakan betapa seseorang berjuang dan menyia-nyiakan cintanya. Next, bagian yang saya suka adalah bagian ketika dua lelaki tampan itu menangis, menangis karena cinta dan ketakutan. Yang satu awalnya terkesan obsessed dan benar-benar ketakutan. Yang satu karena cengeng dan ketakutan kehilangan kesempatan yang benar-benar ada untuknya, cengeng dalam makna sesungguhnya. Tokoh antagonisnya ngga diceritain sih, tapi yang jelas film ini menunjukkan kekurangan setiap tokoh dengan porsinya masing-masing, dan yang terbanyak adalah si ganteng Jude Law sebagai Daniel. He’s a kind boy and also really mean, I mean he’s too childish and yes he’s too stupid. Laki-laki itu cenderung kekanank-kanakan di hadapan orang yang ia cintai, tapi terkadang ia terlalu bodoh. Ia cenderung menganggap ia akan punya kesempatan di lain waktu, ia menganggap ia masih memiliki sosok yang mencintainya, yang membutuhkan kelaki-lakiannya. Perempuan hanya menunggu, tapi sejatinya manusia punya batasan menunggu. Dan pergi adalah jawaban bagi semua hal bodoh atas sikap kekanank-kanakan yang selalu menuntut dan enggan bertindak cepat. Tulus itu mudah, nggak berkhianat memang tidak mudah.. tapi coba berpikir dewasa, ketika kamu dalam sebuah komitmen, satu-satunya yang harus dipertanggungjawabkan adalah pembicaraanmu sejak awal. Dan kontak antara manusia yang satu dengan manusia lainnya adalah sebuah keseriusan, seperti yang dijelaskan filmnya. You have sex, you cheat me, next what? Kalo saya mah udah saya mutilasi............
Boys, realize it. Please don’t cheat your girl. She loves you. Until you touch other girl, your past, your ex, or your someone new.. And also girl, grow up. We all grow up. :)
Ya, namanya drama. Gimanapun lebih berat dibanding liat teknis shot dari film indie atau action, banyak yang harus diapresiasikan lewat curhat colongan begini. Nggak, saya nggak mau nyalahin diri saya yang melankolis pas ngeliat film ini begitu juga kalian, Selamat menonton.
Kamis, 29 September 2011
Amélie

Film Prancis keluaran lama yang lagi-lagi baru saya lihat, saya sih cenderung nggak peduli film lama atau baru buat ngeliat film, buat saya insting aja yang dinomer satuin pas ngeliat judul film yang mau diliat.
Film ini menyejukkan hati saya di siang bolong pertengahan hari-hari kuliah yang mulai melelahkan. Film ini kalo boleh saya genre-kan secara subjektif primitif, merupakan kategori film drama-komedi-fantasi *lol. Dan secara subjektif pula saya kasih bintang 4 dari 5 bintang buat film ini. Entah karena saya begitu terinspiratif sama Amélie atau karena saya benar-benar jatuh hati sama seluruh bagian film ini.
Film ini nggak melulu tentang tokoh utamanya kok, dari awal memang bisa diprediksi akan menjadi monoton mengenai Amélie, yang sejelas-selasnya kita bahkan ngga tau siapa itu Amélie, tapi di ceritanya itu sendiri pada akhirnya juga menceritakan banyak orang. Buat saya bentuk penyampaian cerita film ini cukup unik, bahkan cenderung beda, ya banyak sih film-film dengan narator, khususnya film anak-anak atau kartun, tapi yg ini bukan animasi, nah itu salah satu unsur imajinatifnya. Mengenai fantasi selanjutnya, efek-efek yang ditampilin di filmnya bagus banget, emang terkesan sok ajaib sih, tapi karena meaningful jadinya dimaafin dan justru nambah sensenya.
Sejujurnya saya super jatuh hati sama Amélie-nya, kalo menurut saya sih ya emang sebenernya film makernya itu mau menceritakan sosok almarhumah Lady Di dalam bentuk absurditas Amélie. Coba samakan karakternya, yang saya tangkap dari sosok Amélie yang begitu menyenangkan, adalah seorang anak perempuan di bawah tekanan dan berusaha menjadikan lingkungan yang penuh tekanan tersebut menjadi hal-hal yang nyaman dan menyenangkan buat dirinya. Termasuk menjadi berguna dan memenuhi impian bagi orang-orang sekitarnya. Amélie selalu punya cadangan imajinasi, dia berpikir nggak seperti yang lainnya, dan hatinya superily mulia.
Hidup saya kayak kejawab waktu nonton film ini, bukan niat nyama-nyamain yang bagian hati mulia si Amélie, aminin aja yg bagian itu... yang saya tangkep, ternyata imajinasi, pertanyaan konyol yang sempet ada di pikiran saya, bisa juga ada di pikiran orang lain, plusnya adalah dalam sosok yang saya lihat di film. Rasanya kadang aneh pas saya mengucek mata dan bilang sama diri saya sendiri.. “nduk, sadar nduk..”.. tapi ya woles lah, that’s my own imagination, urusan banget kali ya sampe orang ngatur imajinasi saya. Itu wajar kok, semua orang punya imajinasi dan bayangan kan, tingkatannya aja yang beda. Asal jangan kesandung aja trus ngga bisa bangun dari imajinasi sendiri. Realistis itu tetep identitas manusia seutuhnya, Bos..
Weldut, Amélie intinya, selain nyampein komedi satir, film ini juga ngejelasin betapa yg namanya imajinasi itu emang satu faktor penting dalam melakukan tindakan yang realistis, atau tindakan tersebut yang kemudian membentuk daya imajinasi kita agar semakin meluas dan berkembang. Manusia memilihnya.
Dalam film, Amélie cenderung menjadi perempuan yang nggak beruntung sampe jadi beruntung dijelasin di plot yang menjelaskan alur lurus sejak awal sampai akhir, sekalipun masih ada juga adegan-adegan flashback yang ditampilkan dengan sempurna melalui video-video bersetting tua. Outdoornya Paris sendiri sebagai setting utama dalam film nggak begitu ditonjolkan, kalopun ada nggak banyak orang-orang di sana, mungkin karena maksud filmnya jadul gimana gitu kan dan untuk memudahkan penggambilan gambar, tapi buat saya nggak ngefek sih, soalnya yang namanya kota-kota di Eropa kan emang cenderung bentuknya klasik dan tua-tua begitu sih. Ya gampang-gampang aja kan sebenernya. Banyak simbol-simbol juga yang ngejelasin maksud filmnya nggak secara langsung, kayak simbol bergetarnya barang-barang di cafe dengan masuknya Georgetta (kalo ga salah, jeneng e wong Prancis njelimet euy) ke toilet, nah imajinasinya penonton yang harus sering dipake buat jawab maksud tiap-tiap adegannya.
Dan mengenai hal-hal yang annoying, adalah entah ini sugesti apa nggak ya, sebel aja kalo ngeliat bagian film pas ada tokoh utama di public space trus orang-orang di sekitarnya ngeliatin, kesannya lagi syuting banget apa gimana ya. Trus, ya.......... fashionnya. Rambut dan rok di bawah lutut trus dipakein sepatu semi boot gitu, ngeliatnya, oh gimana begitu ya. Iya, namanya jaman dulu, makin nggak suka deh ya sama settingan baju jaman dulu, wanita secantik Audrey Taotou harus berpakaian begitu, untungnya cantiknya total kaya saya. Sirik, modaro.... :3
Btw, filmnya bagus..... Amélie inspiratif banget, gambar filmnya hi-quality banget ya, shootnya juga unyu sekali, demen banget scenes ngejar tas jatuh terus puter arah, serasa jadi angin.... Daaan of course sure scenes terakhir pas ketemu si ayang...... They seriously envy me.... Amélie you changed mine.......*ngegaruk-garuk kloso*
Rabu, 04 Mei 2011
Gnomeo and Juliet, last April

Saya mencintai London, sejak saya kelas tiga sd. Sejak saya tau dengan lebih rinci mengenai negara dingin tersebut. Ada banyak hal yang membuat saya begitu jatuh cinta kepadanya. Negara yang memiliki kelas dan gaya bicara asing yang indah. Termasuk film yg baru saja saya lihat. Gnomeo and Juliet.
Sebenarnya saya ngga begitu ngerti kenapa tiba-tiba saya jadi jatuh cinta sama film animasi. Saya mencintai semua jenis film yg berkarakter baik. Tapi bagii saya animasi puya nilai lebih untuk mengisi sabtu minggu pagi yang tanpa beban. Animasi dewasa ini mengajarkan saya lebih memabaca film dengan teliti melalui gaya kartun yang menggemaskan. Sebenernya ngga lucu, tapi bisa ketawa aja. Bahkan animasi sekarang lebih menampilkan satu hal yang berbeda.. ya zaman dulu animasi cuma sekedar pamer gambar bagus dan cerita kocak, tapi sekarang idealisme bisa muncul di animasi-animasi. Terutama mungkin ya emang sebagai misionaris satu hal tertentu ya yang dibuat sama pihak-pihak khusus. Contohnya pengajaran-pengajaran agama yang dibuat mudah melalui film animasi baik pendek maupun panjang.
Dalam Gnomeo and Juliet, saya melihat satu hal lain dalam romansa tuan Elton John di dalamnya. Ost. Filmnya dari doi semua, soalnya. Satu kehidupan lain yang ngga pernah kita sangka, mungkin-ngga-mungkin itu teerjadi, kalo di kebun ada kehidupan selain serangga-serangga dan bunga, yaitu patung-patung kurcaci.
Tau Romeo and Juliet kan? cinta, kutukan, sama perbedaan. Hal-hal yg ngga pernah diharapkan siapapun. Karena pada dasarnya manusia ngga mau dianggap buruk. Mereka selalu berharap cukup kepada yg normal.
Padahal buat mencapai satu hal yang begitu terlihat baik, kita ngga akan lepas sama hal-hal yang berkaitan dengan jalan yg berbeda. Untuk mendapatkan satu hal yg lebih kita harus menjalankan cara yg lebih. Cara yang berbeda dengan yg biasa.
Cinta itu pada dasarnya memang beda. Kita disatukan karena kita berbeda, naluri kita selalu bertanya mengenai apa yang ada padanya dan yang kurang sama kita. Karena itu kemudian kita saling melengkapi satu sama lain. Yang salah, terkadang ngga semua orang di sekitar kita punya pikiran seperti itu. Gnomeo&Juliet mengajarkan saya untuk melakukan hal yg lebih untuk mencapai cintanya.
Saya sih bukn orang yang nekat, tapi saya selalu setuju perbedaan bukan satu hal yg bisa menghalangi apapun saat ini. Pluralisme. Liberalisme. Bahkan menjadi apatis sekalipun adalah hak siapapun. Setiap orang bisa aja hal itu.
Film animasi menye-menye gini, ngajarin saya banyak hal. Si flaminggo plastik pink, yang diciptakan satu dan sama persis dengan pasangannya bisa aja kepisah dan hancur lebur hatinya (tsaaah), jauh beda sama Gnomeo&Juliet yang dipertemukan atas perbedaan.
Demikian semiotik indah saya di sabtu pagi ini. gonna post it soon. Hope it’ll inspire you to watch some goon animation movies. Love
Sabtu, 19 Maret 2011
Black Swan

Ada sebuah film kesukaan saya dan baru saya tonton kembali. Oke, jadi selama saya di Solo, penyakit keterlamabatan saya menonton akan semakin akut. Pertama karena bioskop di sini selera lokal dan lama, kemudian belum ada tempat-tempat surga kaya Ambas atau Glodok tempat film berceceran. Sebelumnya, akan saya jelaskan bahwa saya bukan penonton abal-abal a.k.a bajakan sejati kok, apalagi film Indonesia. Film-film asing tertentu dengan kondisi yang runyam aja yang saya lihat melalui kepingan 7 rebu perak.
Nxt, film ini rilis di Venice, September 2010 dan muncul di dunia (baca; US) pada Desember 2010, dan saya baru nonton Maret 2011. Yaelah dua bulan doang ya. Oke, selain saya upload foto dan videonya, sebagai..ehem.. anak film *brb meleleh*, saya sangat menganjurkan film ini ditonton bagi penikmat film sejati.
Buat saya film tentang psikologis ini sangat apikious baik dalam cerita dan pengambilan gambar. Semiotikanya bagi saya adalah, dunia panggung yang hingar bingar di dalam film ini begitu sistematis diceritakan, yang saya suka selanjutnya adalah Natalie Portman yang begitu profesional mendalami ballet untuk film ini sekalipun pada saat syuting, tubuhnya.. 'oh' sekali untuk ukuran wanita yang sedang mengandung.
Film ini mengisahkan pemeranan tokoh dalam sebuah pertunjukan drama-ballet. Sebagai apapun seseorang, pasti ingin menggapai karirnya dengan maksimal. Begitu yang dilakukan Nina, sebagai sebagai seorang balerina yang mengikuti audisi untuk menjadi Swan Queen, yang akan memerankan dua peran sekaligus, sebagai white swan dan black swan.
Cerita filmnya simple dan umum. Tapi kemasannya melalui Portman dan Kunis yang menarik, saya sendiri nggak menyangka filmnya akan seperti ini. Kalau endingnya mungkin semua nebak kalo Nina berhasil dalam perannya, tapi Darren Aronofsky menampilkan proses menuju panggungnya terhadap Nina dengan begitu baik.
Dan saya begitu menyukai ceritanya. Selain karena saya begitu mengerti bagaimana pergulatan diri sendiri ketika harus menjadi peran lain, dan Nina dalam film ini harus bergulat dengan 2 peran baru sekaligus yang salah satu perannya jauh dari dirinya sendiri, saya juga sangat mengagumi cara sutradara menjadikan kita berpikir lebih mengenai genre film, oke ini adalah bagian ketololan saya, yang sempat mengira ini adalah film horror. Salah, teman-teman.. film ini lebih kepada psichology thriller.. dan benernya memang ya sedikit menegangkan.
Semiotika selanjutnya adalah, ketika kita memang sedang menuju sesuatu, menuju sebuah target, memang sangat diharapkan menjadi sungguh-sungguh di dalamnya. Karena sebuah ketotalitasan itu akan menghasilkan sesuatu yang benar-benar nantinya akan jadi baik, sesuai target, bahkan menimbulkan sugesti positif yang luar biasa dari mana-mana. Dan segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini nggak akan ada yang namanya tanpa pengorbanan, baik itu hal sekecil apapun, kita selamanya akan memiliki resiko. Jadi, yang harusnya selamanya dilakukan manusia itu sendiri adalah.. hmm.. ya mungkin berdoa kepada YME agar resiko yang kita miliki tidak hanya menjadikan kita terpuruk di dalamnya, tapi menjadikan resiko tersebut sebagai acuan untuk mendapatkan resiko seminimum mungkin di kesempatan selanjutnya.
Filmnya bagus teman-teman! tanya aja om Wiki kalo ngga percaya
Kamis, 03 Februari 2011
500 days of Summer

Laki-laki dan perempuan diciptakan dengan hamparan perbedaan di sekelilingnya. Selama ini perempuan yang selalu terlihat dari luar begitu rapuh dan mendamba, sedangkan menurut pengamatan saya belakangan ini, jauh-jauh berbeda dari yang terlihat. Seorang laki-laki akan jauh lebih menjadi melankolis ketika berurusan dengan kata ke-perempuan-an. Terlebih ketika seorang perempuan tersebut adalah hal yang begitu ia harapkan sejak awal.
Saya cenderung akan menyebutnya sebagai perempuan, sedangkan kata wanita adalah lebih hormat terdengarnya dan pengertiannya. Mungkin karena saya belum menjadi seorang wanita. Kata wanita itu cenderung untuk orang dewasa.
Saya baru menonton film 500 days of Summer. Well, sedikit banyak film itu memberikan pelajaran mengenai ke-perempuan-an dan ke-laki-laki-an yang saya bicarakan sebelumnya, dalam konteks kemanusiaan loh ya. Saya semakin sadar, kita jauh berbeda. Perempuan cenderung terus meningkatkan harga dirinya ketika ia bertambah usia, menambah keidealismeannya dalam hidup, sedangkan laki-laki semakin ingin menjadikan hidup hanya lebih mudah.
Summer dan Tom dua tokoh yang bercinta dalam film ini menunjukkan adanya hal yang biasa kita simak di kehidupan sehari-hari, dan bagusnya di film ini terlihat tidak biasa. Movie maker ini jelas mau nunjukin betapa dalam waktu 500 hari dua orang yang saling jatuh dan bangun kemudian dijatuhkan lagi dan bergegas membenahi semuanya pada akhirnya. Kisah percintaan yang tidak abadi dan biasa terjadi. Setiap hubungan pada akhirnya memang mudah saja untuk diakhiri, terkecuali hubungan dengan Tuhan.
Yang saya suka dari Summer adalah alasannya yg klise dan begitu rasional, Summer tidak ingin menjalin sebuah hubungan, dan menjalin sebuah keseriusan yg berarti terhadap seserang, Summer tidak ingin menjadi bagian dari seseorang, karena menjadi hal tersebut akan sangat berat dan menyakitkan. See, tidak ada hubungan sekecilpun yang dapat diremehkan, kita semua punya alasan. Sedangkan Tom, yang terlanjur jatuh kepada Summer, sebagai laki-laki ia berusaha mendapatkan dan sekaligus terkesan tidak begitu tertarik kepada Summer. Karena itu ia menjalani hubungan dan terpacu selamanya dengan alasan Summer. Selamanya, hingga pada suatu hari Summer menangis dan pergi, dan Tom diam dan terpekur sedih selamanya sampai menemukan Autumn, yg lain.
Summer dan Tom adalah kubu yang berbeda. Saya rasa tidak ada seorang perempuan yang tidak ingin menjadi yakin atas apa yang ia lakukan dan jalanin. Termasuk Summer. Keduanya salah, karena tidak sedikitpun berusaha mendengar apa yang sebenarnya ingin diceritakan. Bukan mengenai tornado atau gempa bumi, bukan mengenai tidak pernah mengatakan I love you dan menjalani begitu saja selamanya. Pada akhirnya kita memang butuh waktu yang final untuk menyatakan ada apa sebenarnya di antara saya dan kamu, saya dan anda. Film ini mengajarkan saya untuk bicara, bicara yang tepat, bicara yang tidak lagi menyilangkan pikiran kita yang sejak awal sudah memang pada dasarnya menyilang.
Film ini melatarkan drama komedi para officer New York, modern, professional, kepada yang dewasa, dan sudah mapan, bla-bla. Tapi bagi saya film ini adalah porsi yang tepat mengenai sebuah hubungan kepada siapapun. Klasikalitas yang dihadirkan di film ini dalam bentuk Summer adalah warna baru yang baik, selain itu juga dihadirkan melalui capture gambar gedung-gedung tua, atau bar, dan toko musik maupun selera musik yang sedang dibicarakannya. Saya telat
Jumat, 12 November 2010
cin(T)a

Maaf Re-Post. I do really love this movie, then after watched it I felt I forever want to share :D
Bukan, bukan karena saya tergila-gila sama musik yang sekarang lagi hebring dengan lirik ejaan. Tapi saya emang dari dulu ngebet mau liat itu film. Guys, angkat topi ya saya buat movie-makersnya. Film ini “gue banget”.
Saya dulu juga pernah punya cinta beda agama. Seperti yang ada di film ini, pada akhirnya jadinya cuma sahabatan. Saya pernah merasakan galaunya film ini. Film yang berlatar belakang konflik-tak-pernah-mati yang tumbuh subur di Negara kita. Lihat, ini juga bagian dari kultur, sama seperti feodalisme kemarin. Konflik agama adalah bagian dari Indonesia yang tak terpisahkan, sekalipun katanya kita yang Bhineka Tunggal Ika dan kuat toleransi, tapi taukah semuanya kalau konflik seperti itu tidak akan hilang selamanya (mungkin).
Masalahnya ini bukan hanya sekedar konflik perbedaan, di KTP kamu agamanya Kristen, dan di KTP saya agamanya tertulis Islam. Tapi ini mengenai ketika saya suka sama kamu dan begitu juga kamu pada saya. Saya pernah teruus-terusin mikirin bagaimana jalan keluarnya, harusnya.
Begitu juga Annisa dan Cina, tapi untungnya karena mereka jauh lebih pintar dan dewasa ketimbang saya, jadi pada akhirnya dengan idealism setinggi langit, dan hati yang terlatih mereka mampu mengatasinya. Mampu mengatasi bahwa kamu Kristen dan saya Islam. Kamu Cina dan saya Jawa.
Dalam film ini, cukup banyak lukisan-lukisan keabsurditasan hati. Yep, galau.. galau men. Hatinya orang-orang yang lagi galau, bagusnya minta ampun ditampilin sama director of photographnya, ya sutradaranya juga. Yang saya kagumi, hanya melalui scene-scene dengan hanya 2 pemain utama, film ini mampu memberikan lebih dari yang saya kira. Ya saya tau, film yang bukan hanya sekedar hiburan ada aktor tampannya, jauh lebih bermutu kan? Oke saya juga suka sama Kokoh-Kokohnya. -_- tapi yang lebih penting saya sangat mengagumi film Indonesia yg macem begini; hasil karya orang-orang yang bukan hanya sekedar ingin menjadikan Indonesia menjadi berwawasan dunia dengan menjadikan slapstick misteri sebagai tema utama. Tapi masih ada yang mendidik moral, dan mengenalkan musik-musik indie sekaligus kaya begini, yang iramanya agak aneh dan menyuram tapi menggetarkan jiwa.
Mereka jauh lebih CIN(T)A Tuhannya. Ya, ada dialog.. pertanyaan yang sudah saya pernah dengar “Mengapa kalau Tuhan mau disembah dengan satu cara, manusia harus diciptakan berbeda-beda?”
Saya rasa itu adalah bagian dari rencana Tuhan, ya saya setuju Tuhan adalah Arsitek hati dan hidup yang paling baik, yang paling sempurna. Saya jauh lebih mencintai Tuhan saya, kalau saya dibiarkan kembali bertemu sama kamu yang mengajak saya berdoa menurut kepercayaan kamu, saya akan menganggapnya itu jua adalah rancangan Tuhan, tapi kita tidak akan bersatu, tidak akan berubah, tidak akan ada benda yang berganti sebelum benda yang satunya berganti, tidak sebelum kau juga CIN(T)A Tuhanku, ALLAH SWT. Pernah dengar kan, cinta? saya tidak akan merubahnya, dan memikirkan kembali di mana letak ujungnya. Terima kasih Tuan- tuan film, kalian sudah mengembalikan saya.
Minggu, 15 Agustus 2010
Movies and me
Pagi ini adalah Minggu pagi, seperti biasanya sepi tempat tinggal baru saya. Karena perempuan-perempuan penghuninya rumahnya juga terlampau dekat. Ya, macem Jogya, Klaten dan sekitarnya.
Kali ini saya lagi males sama onlain-onlainnan. Gatau kenapa, kan jadi mubazir banget ya. Padahal udah beli pulsa paket, dan tega-tegain gak bales sms orang-orang. Belum lagi, ternyata baru saya sadari oh sadari (saya SADARI beneran nih).. uang saya tinggal goceng sampai nanti sore. Uang lima puluh ribu yg saya geletakin di kantong dalem tas ternyata udah bablas. Adoooh, gimana mau pulang ke Jakarta, sayang banget bobol atm :(
Semalem saya sakit. Gatau sakit apa, perih banget perut saya, mau muntah, dan mual terus bawaannya dari siang. Mungkin karena buka puasa pake nafsu kali ya :( .. saya langsung kangen rumah. Nggak ada lagi warung tinggal ngerosot tangga, tolak angin Ibu Apip, jamu kunyit Ibu, dan bla.. bla.. saya pake sarung ayah yg ibu sertakan waktu itu di tas saya, eh malah saya mimpi buruk tentang Ayah :( langsung aja saya update status--> dan bagusnya tetangga saya langsung komen they’re alrite there, oh gratefully!
Saya stress juga, kulit saya banyak bintik-bintik merah begini.. gara-gara kamar saya belom dilengkapi kawat nyamuk :( makanya semalem saya sampe sebegitunya suudzon kena db. Untungnya Allah masih sayang banget sama saya, saya belom saatnya dikasih sakit. Belom ada siapa-siapa di sini.
Saya nggak mau tidur, nanti mulut saya kering.. nanti saya mual lagi.. lagian kalos saya tidur ba’da Subuh, saya kebangun paling nggak jam 8 lewat. Kalo kebiasaan bisa gawat, bok!!! besok saya ospek jam setengah lapan teng..
Akhirnya saya memutuskan nonton drama Korea film-film hasil kopian dari Mbak Kos. Well, intinya adalah ini sebenarnya. Ternyata saya jauh lebih suka film-film seperti ini daripada macem series Princess-Hours , tapi saya masih tetep cinta BBF sama Full house sih.. ya tapi lagi, buat saya film-film yg langsung habis begini jauh lebih seru. Meskipun yang saya tangkep, drama Korea itu memilik tipe yg sama; laki-lakinya guanteng; sedihnya belakangan dan banget-banget; biasanya laki-lakinya yg keseringan ditinggal perempuannya; ceritanya frontal, gambarin cewek/cowok yg benar2 sedang jatuh cinta di zaman modern.. Ah! Gimana sih jelasinnya (baca:nekat); daaaaaaan so sweeeet bangeeeeeeew *gebukbantalmembabibuta*
Well, film-film macem ; Humming, A Millionaire First Love, dan A Momment to Remember are good movies!
Humming :

Ceritanya realistis sekaligus surealis. Intinya sih yg kita rasain ketika kehilangan seseorang, yg awalnya kita mau dia hilang, tapi ketika kita sadar dia hilang beneran, rasanya sesedih filmnya huhu (APAN BANGET SIH)
A Millionaire First Love :

Ini ceritanya lebih remaja, tentang orang kaya yg ketemu cinta pertamanya. Just find it guys!
A Moment to Remember :

ANJAY JUN WOO SUNG GUANTENG PUSS!! check the review by other <-- klik
BUAT PECINTA GALAU MELAU MACEM SAYA GAK AKAN NYESEL *LOL
Jumat, 06 Agustus 2010
Suburban Girl
Actually I do not really understand what it means. The movie just scened about what an editor is doing. About how can Brett met her idol, Archie. Archie is a senior editor, and a friend of Brett’s aunty. In my country, Archie just like a phedophil. He dates many women more younger than him. And Brett fall in love with him. Not just because Archie is a chief of a great publisher company, but for Brett; Archie would give her a chance to increase her job, editing.
Archie thought Brett, how can you write something that it ever written by someone before. It’s about when you have to focus about what you have to think at the time. The movie just told me about what an editor must be. And it said that ; “most editors are failed writers, but so are most writers.” –T.S Elliot
As an editor you must be looks like my first editor; Kak Ferdy! You must see how specific what you want to edit. You must see where is the coma must be, or the P symbol placed. Okay,but New York and TVRI is so much different. That what I saw in themovie, when you say no, it must be no, New York editors must be a critically talk about everything. Sometime, they just look more controversial than the writers.
And out-of-thetopically, the movie just showed about, again, a choice. Even Brett loves Archie so much, and he screamed at the hospital : “I AM HIS GIRLFRIEND AND I HAVE SEX WITH HIM” but finally Brett realized that she only looked Archie as her teacher, not more. And they canceled their marriage.
A love is need to edited, sometime.
So, I think. It’s about an editor that fell in love an it must be edited too, and she is a girl from suburban city. Is that?

I need my own editor, but he won’t be an oldest man. :D
Rabu, 04 Agustus 2010
Wall. E

Kampungan kali ya kalo saya baru nonton Wall. E. selain karena saya malas melihat film-film baru, saya bena-benar baru ada hasrat untuk menontonnya. Jadinya, saya baru kesempetan’ buat nonton filmnya utuh.
Saya rasa mereka benar-benar begitu benar kalo film ini mereka bilang patut dijadikan recommended-movie. Bener kok bagus, bagus buat saya khususnya. Seberapa harusnya kita semua lebih mencintai bumi, dan menghargai rangkaian kawat baja, dan gabungan mesin, alias robot macem Wall. E lah yang justru sanggup mempertahankan hidup di bumi. Sekalipun Cuma ngere-arrange kehidupan yg udah selesai kiamat. Saya jadi tidak bisa membayangkan bagaimana hidup harus berakhir. Saya jadi ingat Laras, teman saya yang kemarin terbujur kaku, biru, di kamar jenazah.
Bagaimana? Hidup nyatanya di dunia ini nggak lebih baik. Kita semua punya cara masing-masing menghadapi hidup. Tapi, kuatkah kita, saya khususnya kalau saya diberi hidup sampai massa nanti Wall. E datang. Sampai nggak ada lagi oksigen yang bening.
Tapi, kalau saya sendiri yang sadar nggak mungkin juga semuanya ini bertahan. Kita semua harus punya kesadaran dan lebih bisa mensyukuri hidup. Pilih mana tetap hidup atau hanya memilih aman dan menjadi overweight di luar angkasa?
My valentine is you. I don’t know.

My valentine is you. I don’t know.
I just watched something awesome, it’s about love, that so ME. I am the one that so much melancholist or something you said mellow or whatever. I love the romance one, I love movies.
Valentine’s day was a good movie, okay that wasn’t because it’s a romantic one and I like to watch that genre. But it’s a true good movie, it’s like “LOVE ACTUALLY” that I ever watched before. United of love stories, and I think it’s the secuel of “LOVE ACTUALLY”, and that’s good I guess so.
The movies like those, are about to teach us to realize that in this fucking world still there is something amazing that called as love. Believe or not, we still in. we live our life just because it, we survive also because it.
And also because people that I adore so much in this movie, Anne Hathaway, and Ashton Kutcher, then I think I have to start to love Jennifer Garner, just because she looks so cute like me. Hihi.
Okay, I amma sentimental girl, so I hope you aren’t . the stories were about you feel so lucky cause you in love with your bestfriend, then Hi-school life that could be better without sex, longlife love, about love with someone refused us, or a gay athlete love, and the most I love was the words that the movie told to me that LOVE IS ABOUT WHEN YOU RECEIVE ALL PARTS OF YOUR COUPLE, NOT ONLY HIS GOODNESS THAT EASY FOR YOU TO LOVE IT, BUT ALL THAT HIS/HER BADSIDE, YOU HAVE TO BE MIGHT TO LOVE IT, UNDERSTAND.
Well, after all my dramatic life. I found some pleasure, my last lover, MY MOVIES. I founda love. I found a life by movie. Thank God.. now I see, when we forget something, we miss something, then when we find it back it’ll be make our self better
My first valentine is Gerry D’fa my first boy that said, “would you be my girlfriend?”. Then the memorizing me again was someone that told me “I’ll always by your side forever”, my best second valentine Esananda Jodie Alfianto. Then I hadn’t valentines more, because afer the second time, my religion’s teacher said “you do not allowed to celebrate it more!!” so my mom did it. -_____-
Kamis, 24 Juni 2010
Cinderella Man

Cinderella Man. That was a drama, and that was you must called as the best romantic Boxer-Husband-Wife life.
I don’t know who is Braddock, but Russel Crowe perfectly let me knew who is he. Russel Crowe is a perfect daddy-figure.
It was about, something in life. You have the upside, or you never know you’ll get the downside. Life, neverone could know detail what will happen. It was also about Jimmy’s life. He is a great man, a great boxer, he was one of the world champion at Boxing. He dedicated his life to his wife, children. And as you know, he is a wise man, he fighted for his life, even he had down and didn’t has anything, anymore in this world at his age. He even sacrificed his life to world war.. people called him as the Cinderella Man, everyone in the town love him.
Finally, I have to make the conclusion… hmm what? I got a mess feeling from last nite..
Okay. As a wife you have to love your husband and your children, even they are really will or have sucking your life. You know, sometime we have to see what people not see. We have to!
Love Actually is around
Seperti kisah-kisah cinta lainnya. Tapi yang saya suka dari film ini adalah setting awal zaman Millenium a.k.a zaman 2000an nggak begitu terlihat jadul sekali. Dan yang saya suka, di sana banyak ditampilkan karena memang ditampilkan di Inggris, jadii banyak deh orang Inggrisnya. Everybody loves England-Man :D.
Dengan mengambil kasus yang umum, tapi menurut saya banyak hal-hal yang apik yang disampaikan di film. Karena kata Ike saya cengeng ketika menonton film, jadi wajar juga kali ya kalo saya nangis. Terharu juga sih, pas diajarin sama film, ketika seorang sahabat mengakui Love Actually’nya adalah sahabatnya, managernya yang selama ini ada untuknya. Bagi umat Kristian, event christmast yang begitu special dijadikan moment untuk menyatakan cinta sejati mereka, pemeran-pemeran dari film ini. Intinya sih bukan mommentnya kapan, tapi bagaimana cara perasaan itu tersampaikan dan menjadi sebuah hal yang.. apa ya.. making some happiness kali yak, hehe.
About me again!
My love actually is only about my bestfriends, now. Cheers
Jumat, 28 Mei 2010
The Motorcycle Diaries

Gael Garcia ganteeeng~
Film mengenai explorer dan pecinta alam. Yang main laki-laki tampan sekali ; Gael Garcia Bernal dan Rodrigo de la Serna. Mereka travelers yang keren kaya si Alexander di Into The Wild. Granado dan Alberto. Mereka orang-orang medical yang cinta alam sama negaranya, jadi mereka keliling bagian-bagian Selatan Amerika. Dari Chilli sampai Venezuela.
Mereka orang-orang yang mengabdi, dan melihat banyak yang orang lain nggak pernah liat. Mereka menetas hal-hal yang membatasi dengan orang-orang yang memiliki keterbatasan, khususnya penderita Lepra. Mereka melihat deskriminasi yang seharusnya ditiadakan, yang seharusnya mereka semua bisa bersama dengan orang-orang yang selalu dianggap lebih rendah. Mereka berjuang tanpa uang. Sama, untuk alam.
Pada intinya, saya suka filmnya.
Akhirnya juga, saya dapat mengklasifikasikan film yang saya suka. Saya suka film yang apa ya.. kalo kata anak kecil ada pemandangan bagusnya. Ya kalo buat saya mah, yang ada pemandangan menggairahkan gitu, kaya para aktornya yang seksi-seksi, yang kumel-kumel dan terlihat independent. :D Then, I really really love nature views, I love beach, mountain, or even a big tree in the movie. I really wish someday, I’ll be there, feel what the movie feels.
Kalau Granado dan Alberto berfikir keliling Am-Sel adalah karena mereka ingin menambah gairah hidup mereka, dan tidak ingin menjadi manusia tua yang jenuh. Mereka juga dalam survey yang baik, mereka meneliti sekaligus kehidupan yang mereka lewati. Dan, yang terbaik dalam film ini adalah, film ini mengenai bagaimana meraih “Cita-cita yang umum dan mimpi yang sama”..
Good! I have a same dream too. I want to be an explorer too, I want to reach something like them, or other explorer. Pada kenyataannya, kita pergi untuk mendapatkan sesuatu, untuk mencapai sesuatu. Meskipun pada ujungnya nanti hanya untuk diceritakan kepada anak cucu.
Saya mau keliling pulau Jawa, yah atau enggak keliling Indonesia, atau juga paling banter keliling Eropa atau keliling dunia lah. :D Saya terlalu tertarik sama makhluk ciptaan Allah;manuusia. Makanya kalo nggak jadi public relation, atau sebelum jadi wanita karier, punya usaha dan punya anak, saya berniat jadi ahli antropologi, tapi nggak mau kaya bu sudi.
Saya yakin, tujuan yang lebih mantep’nya akan segera saya temui. Saya mau nikmati alam Negeri saya, yang selalu orang-orang bicarakan, saya mau tanning-skin alami, saya mau foto di mana-mana, saya mau jadi makin cinta sama alam, saya mau mengenal orang-orang dengan pribadinya, saya mau seperti mereka; melihat yang tidak terlihat; sebenernya saya nggak mau lihat jin jahat secara langsung. Amin ya Allah.
Kalau seumpamanya kantong memungkinkan, dan fikiran Ibu masih jernih. Kalau Anak Krakatau atau Merapi tak bicara, saya akan berangkat. Kalau saya ada mitra dan ada niat yang masih kuat seperti kasur yang selalu saya tiban saat ini.. !
Gracias, Ernestito!
Sabtu, 17 April 2010
He's Just NOT That Into You

Actually I don’t understand about what’s really on my mind. Its too tired to talk about men. I have no a man yet. But, I will someday. He will be there with me, all the time, I believe. I never ask him to marry me, except if I have 26 years old.
He’s not just that into you, is something weird and the most perfect.. ummh you know.. like the complete knowledge about men. A relationship, or a kiss, a life, women and their men. I didn’t see about even a romantic part, because that was not a romantic, it was poor, and ya there were parts that made you fun too see that, it never thought by everyone about what will happen.
I feel the movie was boring, but the movie was a one of a great movie too. I know what a real man, man and its not a boy. And I think its so west’, aha I was thinking about men here, my country(oh ya our country was mentioned on this movie, they mean ‘mbok2 Indonesia’), yeah maybe in Jakarta, in the city, the urban, the office workers, they may look like men on the movie, but not all men like that.
About faithful, or being sure about the marriage, I think men here are better than on the movie. But if you go there, maybe USA, or somewhere, you may meet a man with all mentioned on the movie.
I am not.
Minggu, 28 Maret 2010
Into the wild

I want to around the world, every part of the earth. My Indonesia, Asia, Europe, America, Africa, or even Alasca.. as a backpacker? Yes. As a traveler? Yes. As an adventurer? No. I won’t be like one of that craziest man, Christopher McCandles, a.k.a Supertramp.
I love him, I love his story, I love when he naked, I love when all people love him. I love all the way he took.. except when he killed a moose and when he ate that poor lizard. I love her first girl. I love Emille Hirsch that very handsome to be like him. Yess, on the movie I knew him. Alex Supertramp.
He went, escaped, from all part of his life. Live the nature, with no money, no smoke, no tv, or facebook. He had everything that actually he could get it always, he had rich parents, loveable sister, 24000$, and Harvard University. So, what did he thought to leave all of them?
To got his freedom. And he did, he reached. Everyone loves him, except the police in the train. Yeah, all adventurers with their backpack and never touch a soap, would seems like a .. yeah you know. He arrived all that territories, then got all the rivers, saved his money, and went to his destination, Alasca.
Okay, I love to be a traveler, someday. And it will be sweet if I could around the Europe with him. Being a most poor backpacker-couple, it’s alright. I want to know that world, I want to know if my geographic’s teachers told me about all the magic is true or not. Meander, Moraine, Cliff, all the mountain, all the rocks, all the city, and all the country. I want to laying down on the most green grass of the great Savana in the world, with the sweet tea, book, and jazz. I want to making a big sand-castle in Victoria’s desert with its hell climate. I want to being naked=nekad rolling on with the waves in the lonely shore. I want to touching all the ponor in the karst mountain. I want to getting my own poundsterling, talking about love with my UK man. I want to make a glass of es campur in the north pole. I want to be jungle girl in my own country. Huauauaua. Yeah I want to getting all that way, but they won’t be the dangerous travel, but if they may in my life, yeah even only the half, I want that dreams come true with a happiness way, not too scary or dangerously, or poisonessly. – amien.
When I come back, I have back my life normally. I will have targets. I won’t leave my family, even I hate them so much. I love nature, but now I love people more.. and I forever love God, Chris..
And if we have dreams, we just being sure to get it..
bIG fiSh

Ada yang belum menonton bigfish?
Biar saya ceritakan makna filmnya, hehe
Bigfish adalah bagaimana kita menjalani, menciptakan, menjalani hidup yang renta milik kita. Ya, hidup yang selalu diberi pilihan sama Tuhan, mau yang dianggap orang tidak biasa dan absurd tapi sangat menyenangkan, atau kita tetap pada alur dan menjalani yang normal selamanya.
Tokoh utamanya namanya Edward Bloom, ia adalah seorang ayah, dan pandai bercerita. Ia selalu menceritakan kepada puteranya mengenai hal-hal dalam hidupnya dalam pilihan yang absurd. Yang ketika kita semuanya mendengar, atau melihat akan merasa hal-hal tersebut tidak masuk akal, dan hanya pantas menjadi pengantar malam bagi usia anak-anak.
Tapi Edward tetap Edward, dia tetap terus bercerita. Sekalipun belahan hatinya selalu menuntutnya untuk menjadi sedikit normal. Tapi ia akan selamanya menjadi bigfish’ tersebut yang tidak akan pernah sedikitpun bisa ditangkap dengan umpan apapun, kecuali para belahan jiwanya.
Edward tetap Edward, yang menjadi selalu percaya. Yang ambisinya lebih besar daripada tubuhnya. Yang hatinya lebih besar daripada sahabatnya, yang mimpinya lebih besar daripada kota-nya. Edward dicintai semua orang, Edward tidak pernah takut mengambil peluang berbahaya sekalipun di depan matanya. Edward Bloom dan semua kisah klasiknya. Yang memilih menjalani hidup dengan segala kebahagiaan, segala hal yang tak sedikitpun menjadi beban dalam hidupnya. Edward yang tak sedikitpun menyerah sampai akhir hayatnya..
Sampai akhirnya, puteranya harus percaya dengan semua hal yang selalu ia anggap sebagai kemunafikan yang indah belaka.
Wah ini film top markotop. Hayo segera menuju rental, hehehe
Sabtu, 13 Maret 2010
The Kite Runner

Ada sebuah film yang sukses menarik hati saya dari mimpi. Hehe lebay.
Mengenai persahabatan, kesetiaan, budak dan majikan.
Film ini jelas menarik urat kemanusiawian saya untuk menjadi lebih sentimental. Banyak bagian yang menjadi begitu haru dan beku. Terutama ketika saya sadar pemeran Hassan kecil adalah anak kecil yang begitu menggemaskan dan mengingatkan saya pada sesuatu.
Kisahnya mengenai tokoh utama Hassan dan Amir. Film ini banyak mengambil gambar dari Kabul, Afghanistan, Pakistan, sampai California.
Hassan kecil adalah budak dari Amir Jan anak dari pengusaha kaya yang sangat benci Komunis. Amir jan sangat pengecut, dan Hassan yang selalu datang dan melindunginya. Hassan selalu menyediakan sarapan untuknya, Hassan selalu menemani Amir di segala kesempatannya, Hassan selalu membenarkan segala yang Hassan bicarakan, Hassan selalu mengejar layang-layang untuk Amir.
Yang membentuk haru adalah, keberhasilan menciptakan tokoh Hassan pada usianya yang menjadi begitu setia, dan jujur. Dia begitu setia, dan terlihat seperti anak yang sangat tabah. Sumpah ya saya haru biru kalo ingat Hassan.
Hassan selalu membanggakan Amir yang pengecut sangat pengecut. Hassan akan memperjuangkan layangan biru untuk Amir yang dikejarnya. Sekalipun Hassan juga selalu dikejar oleh lingkungan yang menganggapnya kaum Hazara yang harus dimusnahkan, sekalipun Hassan dihancurkan, dipukuli, disodomi, diludahi, ia akan selalu mempertahankan layangan biru. Hassan akan terus diam dan memukuli dirinya sendiri dengan buah yang Amir lempar ke tubuhnya dan memintanya untuk membalas. Hassan akan terus mendengar cerita Amir.
Amir ingin memisahkannya. Hassan pergi. Dan, tak lama, komunis memisahkan Amir dan Ayahnya dengan Kabul, Afghanistan. Mereka menyambung hidup di California. Sampai akhirnya Amir telah menghadirkan impian hidupnya, bukunya, istrinya, dan segalanya telah ia dapatkan.
Kemudian, adalah hari yang memanggilnya untuk segera memperbaiki. Ada hari yang membuka rahasianya.
Film ini menggambarkan bagaimana kesetiaan manusia khususnya dari etnis Arabian, yg cenderung digambarkan layaknya amplitudo yang ekstrim pada iklim mereka. Ada hal-hal yang sangat bertolak belakang, namun hal-hal tersebut benar-benar sukses terlihat ekstrim. Khususnya kehidupan di Afghanistan yang digambarkan, telah memberikan alasan mengapa saya selalu melihat di tempat lain, orang-orang khususnya Amerika sangat membenci mereka.
Saya banyak-banyak istighafar deh, saya baru tau janggut adalah hal yang menentukan anda patut untuk masuk ke wilayah atau tidak, atau menjual kakimu yang sebagian adalah hal terbaik yang kau dapatkan untuk mendapatkan uang banyak, atau menjadikan anak laki-laki menjadi selir pemuas hasratmu adalah sebuah kenormalan, atau manggantung tubuh saudaramu di jalan adalah jalan terbaik untuk paling tidak menunda hari ini kepalamu yang akan dipenggal.
Banyak kultur yang menari di film ini, banyak view’ yang sama seperti film lainnya yang membuat kita semua takjub, ada sebuah happy ending’ yang tepat dan menyenangkan untuk melihatnya. Banyak pesan moral yg dapat dipetik, setidaknya untuk lebih bertanggung jawab, memperbaiki kesalahan.. apa ya.. this is one of a great movie. You have to watch!


