Minggu, 18 Juli 2010

fuck

Saya muak sama diri saya sendiri. Banyakan bacot dan gak bisa nunggu. I am looking for somethin/or even a way to end this fucking thing that I ever had..
If a suicide was a legal thing, I might had been in the soil. Die
If God allowed me to do it, If God would be faith love me if I do it.. I might be not like rite now. Lost in my own mind

Rabu, 14 Juli 2010

Pembicaraan rahasia

Saya suka bikin dosa juga kok. Rata-rata dosa saya adalah ketika saya tidak mampu menahan alasan yang timbul seketika menghampiri saya. Kemudian mereka dengan pantasnya membayangi saya.
prok prok prok! Bagaiman Tuhan maha adil menciptakan makhluk kesayangannya disandingkan dengan musuhnya. Harusnya saya bisa lebih dewasa, sehingga bisa menghalau rasa menyesal selanjutnya. Tapi saya tidak akan dewasa sebelum waktunya, saya lebih nyaman menjadi saya.
Seperti yang saya katakan, saya tau Tuhan nggak akan merubah nasib kaumnya kecuali kaum tersebut yang merubahnya sendiri. Tapi saya nggak akan merubah diri saya, saya sudah begitu nyaman padanya, oke, iya, emang sekali-kali saya emang enek sama diri sendiri, tapi saya sudah begitu mengenal. Lagi, saya tidak akan merubahnya, saya akan membuang hal yang buruknya dan menggantinya dengan yan lebih baik. Dan yang kemudian akan saya pelajari adalah, bagaimana saya mempertahankan yang sudah ada, yap menjaganya. Termasuk yang juga baru saja saya bicarakan. Viva Fentiouss! :*

Tanpa Maksud, Tertawa*

Emang susah ya tipe orang surealis kayak gue. Bisanya ngomong doang, wahahaha. Bukan-bukan, ini bukan seperti yang anda bayangkan, mulai menunjukkan ketidak setiaan. Gue setia kok :)


Tapi ini mengenai “my rainbow prince”, gue ngakak kalo inget itu. Masa lalu, masa lalu yang menjerat gue sendiri, dan kemudian menyelamatkan dari segala keabsurdan hari ini. Ya, matanya teduh. Dari dulu gue kagumi, sayangnya dulu gue liat dia nggak soleh dan bukan atlit. Tapi dia juga seniman. Dulu banget teduh banget kalo dengerin lagu BCL yang cinta pertama tuh, terus ngintip dari jendela, ngeliat dia di sudut sekolah depan kelasnya di lantai 4. HAHAHAHAHAA namanya juga anak SMP yee -_- Dulu banget gue ngefens banget sama dia. Hati gue deket banget ye sama dia. Tapi sekarang, akun2 gue passwordnya masih pake unsur nama dia, akan terganti sama nama calon suami beneran nanti!Tapi sekarang mah mungkin juga udah jauh :p, iya sekaligus kan hatinya sekarang udah gue simpen buat masteng yg kelamaan itu. Wahahaha. Enggak ah, hatinya udah gue buang jauh-jauh ke mana-mana :p


Introspeksi

Harus seperti apa memperbaiki diri manusia? Saya seperti, layaknya orang-orang yang bicara mengenai anak remaja, saya labil. Tapi untuk yang satu ini saya mau menjadi terangkat ke dunia realis yg tak pernah bisa saya jangkau. Saya selalu terlalu banyak punya alasan.

Saya mau menjadi lebih baik, tapi saya nggak bisa nggak bales apa kata Momster, yap bener kata sahabat saya. Nyokap itu di mana-mana ngomongnya emang nyakitin. Saya punya alasan, jadi saya kasih jawaban, nah giliran saya ngomong, saya didamprat, giliran saya diem saya malah dibilang nyakitin hatinya. Tai banget kan?

Kebanyakan bacot, ribet banget gue pusing. Oke, gue adalah anak durhaka. Tapi please, dia nggak akan berubah sebelum menemukan dirinya sendiri udah terpuruk kaya gitu. Saya bingung. Masalah saya ternyata numpuk di dia. Astaghfirullah.

Terus ya hutang saya banyak banget, rekening saya tinggal ratusan rebu, muka saya bintik-bintikan hitam, dan berat badan saya naik 5 kilo kayakya, anjing banget ya. Terus saya belum bisa menunjukkan rassa mesra terbaik saya padaNya, sang kholoik yang nyiptain saya. Saya bingung harus mulai darimana.

Tapi saya ingat, ALLAH nggak akan merubah apapun dari kaumnya kalau kaumnya tersebut tidak merubah dirinya sendiri. saya tidak akan merubah apapun dari diri saya, saya akan membuang yang buruk dari diri saya. Amin.

Senin, 12 Juli 2010

Alhamdulillah

Alhamdulillah, Alhamdulillah ya Allah. Saya sangat bersyukur untuk 11 Juli tahun ini. Rasanya saya harus ingat sampai tua nanti.

Terima kasih untuk Shelma dan Intan yang membuka mata saya hari ini, melebihi dari seperti biasanya. Saya bilang, ternyata kegalauan saya bukan karena Neo-Feodalisme, tapi mengenai bagaimana saya menghadapi kefeodalismean saya menghadapi diri saya sendiri. Rasanya dominasi masih tetap dimenangkan sama yang nyata, sama tubuh, sama otak sama hati yan ternyata nggak bisa saya sinkronkan dengan tepat.

Saya sangat berterima kasih kepada kak Abdul Hakim, Shelma, PIENCE, KELUARGA BESAR TEATER 35, kak Ferdi Maly Sang Pentjilan and kak Nancy, kak Putra Cahya, kak Arif, Sule, Aruza the rebellion, Kak Anto, Kak Rhuni, Kak Rismaul, Kak Nissa, Bang DOEL, YULI, AMBON cilik and the gank, Ibu mia ayam, Ibu WarKop, Asep, Sore di lapangan 35, Nyonya Matras, AC PENJAS, Kain Firdha, Ibu Norita, SMA saya yang sempet biayain kita semua, My BELOVED Mom-ster, Metlek, Ayah dengan rantai gas, LVT LOVE, Rifai, Bagus Cahaya, Rapid Adriansyah, Sampoerna Foundation, Pak Bambang;jurinya yang nyebut kita melulu. Dan semua yang sudah saya libatkan minta doanya dan lain-lain.

Pementasan ini saya dedikasikan untuk Allah SWT, seperti nenek moyang saya di dataran Yunani sana, yang mendedikasikan karya seni bagian dari hidup mereka, bagian keindahan mereka untuk Dewanya. Sebagai rasa syukur. Untuk Negeri saya yang mendewa dengan segala kultur –ismenya. Untuk orang-orang di atas yang saya sebutkan.

Saya semakin tau diri saya hari ini. Kebiasaan, semuanya saya tumpuk jadi satu. Terima kasih yang sudah begitu mengerti saya. Terima kasih yang sudah mau berjuang dan berproses bersama-sama. Saya akan rindu ngambeknya Ike dan keramasannya, Spagethi goreng endrang yang acin, lawakan atap, mood betenya duwi dan ngeyelnya, pusingnya ngadepin Arja dengan glodoknya juga Lele dengan Ciledugnya. Ngadepin paniknya menuju pentas, riweuh godain maridha sama lele, kangen rotinya maridha, pasrahnya Gotir, Aini, dan Roro, atau Alia, sok Alaska-an di ruang penjas, ngaret ngaretan, temen-temenan kalo mau pipis, jayus yang paling kocaknya ka Akim, sok-ketidak yakinan, halah halah halalalalalalh. Semoga ini bukan pementasan terakhir, amin. Semoga seperti kata kak Cahya, semoga semakin lebih baik berkarya. Semoga makin propesional ye.

Adalah yang kemudian patut lebih disyukuri, masuknya nominasi adalah salah satu yang paling saya banggakan. Hehe, abisnya kita gak pernah dapet nominasi ya. Tapi liat kerja keras kita selama ini bok! Dapet kan kita!!!! Kita memang kereeen..

Oke saya mulai ngawur, saya ngantuk. Next page, curhat pribados.

Jumat, 09 Juli 2010

Neo-Feodalisme

Halo, apa itu feodalisme?

Tata hidup yang masih membeku di Negara saya. Kata guru fisika saya, feodalisme itu akan hilang mungkin 3 setengah abad lagi, sama seperti masa penjajakannya hadir di sini. Selamanya tidak akan hilang, mungkin juga. Yang kaya yang berkuasa, yang miskin yang terus tersingkir. Jadi, pada dasarnya feodalisme ini lebih tepat disebut menjadi kultur dari bangsa ini sendiri. sudah menjadi bagian tersendiri yang tidak terpisahkan, padahal bangsa ini jauh lebih kurus dari standar berat bangsa-bangsa lainnya. Tapi ke-blagu-annya itu tidak kurang, seperti bangsa yang sudah mencapai segalanya. Iya tho?

Feodalisme rasanya adalah bagian di mana kita harus kembali ingat kita sebagai manusia yang menuju kebaikan, kita masih memilliki unggah-ungguh yang harus ditaati. Tapi kadang feodalisme tersebut menjadikan garis perbudakan jauh terlihat lebih jelas di permukaan. Ada jarak, ada batas, ada tingkatan dari pelaku feodalisme tersebut. Kalau di sosiologi ada yang namanya strata khusus yang tidak bisa ditempuh selain anggota aslinya, seperti kasta. Tau kan kasta? Kalau Brahmana jangan sampai menyentuh waisya apalagi sudra. Kalau ningrat, ningrat aja, jangan menyentuh yang miskin-miskin, yang jongos-jongos.

Zaman dahulu, kaum bangsawan dianggap bekerjasama dengan para penjajah, barulah hadir sang anti-feodalisme. Karena itu seiring waktupun, kaum bangsawan semakin turun pamornya, dikalahkan zaman, dikalahkan internet, akademisi, orang kaya wiraswasta, dsb.

Bangsawan itu kaya. Kaya akan segalanya, dengan warna darah mereka, mereka sanggup bahkan untuk memiliki jiwa dalam benda mereka. Mereka begitu takluk dan tunduk, pada yang sudah hadir, mereka begitu setia. Tapi anggapan begitu jauh berbeda, orang-orang bicara karena melihat kan biasanya? Nah, bangsawan kalah dengan pemberita, dan sebagian jadi luntur rasa percayanya. Tapi masih tetap banyak yang mengabdi padanya. Rata-rata mereka adalah yg mengaku pahlawan budaya, hehe atau ya mungkin karena hidupnya, Bapaknya, Mboknya sudah terbiasa dikuasai hidupnya dari Keraton. Ya begitulah.

Anak bangsawan ingin jadi pengusaha saja, biar aman. Semua berbondong-bondong perlahan melepaskan jubah bangsawannya. Mereka menyentuh dasar, melihat apa yang orangtua mereka tidak lihat sebelumnya. Manusia sama adanya. Manusia bisa sama adanya. Sekarang dunia sudah adil, dan para keraton tidak perlu lagi mengurusi segalanya, sudah ada DPRD, sudah ada asuransi, polisi, dan lain-lain.
Lah, selanjutnya siapa yang kemudian mengurusi adat-adat, budaya bangsa? Siapa yang mengurusi bahkan sekatenan, dan sebagainya? Yah sebenernya masih ada, bangsawan masa kini, bangsawan yang mulai hidup normal, bangsawan yang juga masih peduli sama budayanya. Hidup sedikit-sedikit mulai normal.

Tapi bangsawan sekali lagi dengan darah birunya mampu menggugah siapapun. Ada yang ingin juga merasakan derajatnya dielu-elukan siapa saja, ada yang ingin dihormati, lalu semakin banyak orang mengaku keturunan Mataram Kuna, mengaku keturunan Hadiningrat, bla-bla.. semakin banyak yang nagih Paring Dalem Serat Kekancingan. Silsilah biar jadi keluarga raja.

Nyatanya feodalisme tidak hilang lagi. Tumbuh lagi, di zaman yang baru ini. Dengan Neo-feodalisme, yang menyamar sebagai pahlawan bedhaya, alih-alih mengenalkan keturunan mereka sebagai penerus sejarah. Hoalah!!

Bayangkan apa yang hadir di balik ambisi? Sebuah , mmh bukan. Banyak cara untuk menemukan sang ambisi. Lemma datang. Tebak apa yang ada di kepalanya? Kata tidak!

Lemma adalah gadis remaja yang hilang saat ia harus ditujukan tuntutan menikah oleh orang tuanya. Lemma punya hidup yang normal sebelumnya sebagai remaja putri di luar rumahnya, dan terbiasa harus bersandiwara di depan Kanjeng Romo dan Ibundanya sebagai putri keturunan bangsawan jadi-jadian, santun dan menjadi patuh kepada apapun.

Anak gadis menikah jangan lama-lama, apalagi sudah ada yang meminta lalu punya derajat dan harta. Tidak peduli calon suami usianya berapa, dan istri sebelumnya ada berapa. Bagaimana menyerukan kata tidak? Bagaimana dunia menjadi tiada, rasanya jadi Lemma pasti kering seperti tanah, tidak bisa apa-apa, dan terpaksa menerima semua yang berdiri di atasnya. DIA memburunya, dunia dimenangkan Kanjeng Romonya.

Dan kali ini, Lemma tidak mampu lagi untuk tidak berkata tidak!

H-5

halo, pementasan sudah mau dekat. Untuk menjadi ke empatnya sekaligus bukanlah hal yg mudah. Saya cukup lelah sama semuanya. Tapi saya tidak akan menjadikannya sia-sia. Saya akan berjuang sampai nanti habis waktunya, saya akan tetap berjuang menyampaikan rasa galau saya. Ini adalah arogansi saya, menjadikan sebuah rasa galau sebagai bentuk dedikasi saya terhadap hati, dan apa yang ada saat ini. Kalau saya bicara sesuatu, saya akan menghadirkannya biar semua tahu. Biar semua tahu kalau hati yang bicara ini bukan mengenai sesuatu yang hanya terlihat gaib. Saya cukup normal kok. Saya butuh waktu.

Di hari sebelum pementasan seperti inipun saya belum punya musik, dan property, saya belum siap adegan, saya belum apa-apa. Tapi saya melihatnya masih seperti dulu. Ketika dihadapkan kepada sebotol air, saya akan terus melihat air saya masih tersisa sekian, tidak membiarkan saya melihat hanya tinggal sekian. Saya janji, saya janji.

Apa yang menguatkan saya, detik-detik yang membunuh saya tersebut yang membunuh saya, detik-detik tersebut yang mengajari saya, bagaimana menghadapi mood orang-orang jelek seperti mereka, yang selalu ngedropin mood, dan yang hanya mampu membuat saya hidup kembali. Bagaimana menghadapi jalan buntu bersama mereka yang selalu ada di samping saya. Saya selalu percaya mereka, saya selalu tidak pernah percaya mereka. Tapi karena saya gila, saya ambil yang protagonist saja, saya akan selamanya percaya mereka, mereka memberikan saya lebih banyak daripada uang berlimpah.

Semiskin-miskinnya kita semua, segatel-getelnya tenggorokan kita, secere-cerenya kuat vocal kita. Kemarin saya berhasil yes berhasil pesta Ice Cream di Minggu siang yang kebocoran neraka. Ya, menggantikan minggu siang yang biasanya saya jalani di rumah, AC, Ice cream, matras, kurang DVD aja. Saya bersyukur ya Allah, kuatkan saya, sampai nanti tiba waktunya.

Terima kasih punya keluaarga seperti mereka, terima kasih telah memberi brother-land ; rumah fajar dan laki-lakinya. Saya tidak henti mengeluh, meskipun jadwal saya padat merayap, saya bersyukur ya Allah, saya berharap padaMu ya Allah, saya mau kuliah di Solo. Semoga Engkau berikan, amin. Aku percaya ya Allah, amin.