Seseorang menjadikan saya tersenyum lagi membaca sekelumit cerita di barisan panjang ke bawah ini. Konyol, tolol.
Meyakinkan saya, bahwa ini baik.
Membuka kembali diri saya, menjadikan saya merasa lebih diterima seperti apa adanya saya.
Saya pikir sudah tidak ada lagi yang membaca tumpukan tulisan-tulisan jalang ini.
Semoga dapat inspirasi lain untuk menulis
Wah terimakasih, boss Miftah!
Rabu, 22 Juni 2011
Now is better than Yesterday
Sekarang, mana pernah peduli.
Sekarang ngga bisa kaya dulu lagi.
Seperti kamu yang merubah saya,
perlahan untuk mendapatkan karmanya selanjutnya.
Terima-kasih- sa---- :)
Selasa, 14 Juni 2011
Laut, Laut, Laut..
Pernah mendengar satu hal mengenai cinta? Selain orang-orang yg saya cintai, hal lain mengenai cinta adalah pantai. Pasir putih, air jernih, ganggang hijau, pepohonan, langit biru di atas laut, bintang dan purnama laut, dan ombak yg merinai. Saya selalu mencintai semua itu.
Saya seorang pecinta alam, sekalipun ngga penah yg namanya ikut organisasi yg berkaitan langsung di dalamnya. Saya mencintai dengan cara saya sendiri. saya tidak luput mencintai dataran tinggi atau pegunungan. Buat saya dataran tinggi memberikan rasa sejuk yang sangat menjadikan saya nyaman berada di sana, udara segar dan bau khas masyarakatnya menjadikan saya istimewa, seriously. Sekalipun alergi udara dingin, buat saya tempat-tempat seperti Puncak dan Tawangmangu tetap menjadi favorit.
Tapi, pantai tetap menjadi pilihan pertama. Khususnya barisan pantai selatan di Negara saya. Saya bukan yg pertama kali ada di sana, tapi betapa saya bersyukur saya telah mengunjunginya. Air laut pantai Indrayanti, Krakal, dan Drini mensugestikan saya seolah-olah saya memiliki kekuatan lain di dalam hidup saya. The sea so much refreshes all parts of my body and mind. Menjadikan saya menghela nafas panjang, sangat panjang ketika melihatnya kembali sekalipun dalam bentuk digital.
Laut mengajarkan saya banyak hal, mengajarkan bagaimana dengan mudah gemericik ombak yang bahkan tidak memiliki warna dapat menjadikanmu hancur seketika, atau hilang ditelannya lekat-lekat. Laut mengajarkan saya betapa pantulan benda di atasnya, sekalipun tidak sedikitpun menyentuhnya namun dapat mempengaruhi jumlah gelora riak ombaknya.
Kita semua belajar dari laut. Betapa hamparan pasir dan air cukup menjadikan kita aman seketika ketika kita di sana. Melihat bagaimana laut memberikan bau khas dan menjadikan tubuh kita terasa lamir karena hempasan angin dan garam di sana. Cuma air dan pasir dan mampu menjadikan kita begitu berbeda, bahkan mendapatkan rasa aman yang tidak sedikitpun kita dapatkan dalam kota yg hiruk pikuk diciptakan teknlologi di dalamnya.
Bagaimana belajar satu hal yg sederhana saja mampu merubah segalanya yg ada pada diri saya khususnya. Betapa satu hal yg sederhana itu bila dimanfaatkan dengan tepat dan baik mampu memberikan energi positif yg baik dan banyak kpd manusia. Sekalipun kemungkinan untuk menjadi mati di sana sangat besar.
Ah laut. Tidak jauh dari idealisme busuk. Idealisme yg tidak nyata. Fana. Menjenuhkan. Sebatas pembicaraan. Laut laut laut suatu hari
Saya seorang pecinta alam, sekalipun ngga penah yg namanya ikut organisasi yg berkaitan langsung di dalamnya. Saya mencintai dengan cara saya sendiri. saya tidak luput mencintai dataran tinggi atau pegunungan. Buat saya dataran tinggi memberikan rasa sejuk yang sangat menjadikan saya nyaman berada di sana, udara segar dan bau khas masyarakatnya menjadikan saya istimewa, seriously. Sekalipun alergi udara dingin, buat saya tempat-tempat seperti Puncak dan Tawangmangu tetap menjadi favorit.
Tapi, pantai tetap menjadi pilihan pertama. Khususnya barisan pantai selatan di Negara saya. Saya bukan yg pertama kali ada di sana, tapi betapa saya bersyukur saya telah mengunjunginya. Air laut pantai Indrayanti, Krakal, dan Drini mensugestikan saya seolah-olah saya memiliki kekuatan lain di dalam hidup saya. The sea so much refreshes all parts of my body and mind. Menjadikan saya menghela nafas panjang, sangat panjang ketika melihatnya kembali sekalipun dalam bentuk digital.
Laut mengajarkan saya banyak hal, mengajarkan bagaimana dengan mudah gemericik ombak yang bahkan tidak memiliki warna dapat menjadikanmu hancur seketika, atau hilang ditelannya lekat-lekat. Laut mengajarkan saya betapa pantulan benda di atasnya, sekalipun tidak sedikitpun menyentuhnya namun dapat mempengaruhi jumlah gelora riak ombaknya.
Kita semua belajar dari laut. Betapa hamparan pasir dan air cukup menjadikan kita aman seketika ketika kita di sana. Melihat bagaimana laut memberikan bau khas dan menjadikan tubuh kita terasa lamir karena hempasan angin dan garam di sana. Cuma air dan pasir dan mampu menjadikan kita begitu berbeda, bahkan mendapatkan rasa aman yang tidak sedikitpun kita dapatkan dalam kota yg hiruk pikuk diciptakan teknlologi di dalamnya.
Bagaimana belajar satu hal yg sederhana saja mampu merubah segalanya yg ada pada diri saya khususnya. Betapa satu hal yg sederhana itu bila dimanfaatkan dengan tepat dan baik mampu memberikan energi positif yg baik dan banyak kpd manusia. Sekalipun kemungkinan untuk menjadi mati di sana sangat besar.
Ah laut. Tidak jauh dari idealisme busuk. Idealisme yg tidak nyata. Fana. Menjenuhkan. Sebatas pembicaraan. Laut laut laut suatu hari
Laut laut laut, suatu hari aku akan menjangkaumu lebih erat. Aku akan memelukmu lebih lama. Suatu hari aku akan menerpa hamparan pasirmu dengan lekat-lekat ku tanamkan hatiku di sana.
Laut laut laut, suatu hari aku akan membicarakan dia kepadamu. Suatu hari aku akan membawa anakku memelukmu. Suatu hari langitmu akan begitu dalam menadahiku dengan awan.. menjaga agar cinta kita terpaut dengan aman, tanpa tuan matari yg melirik panas.
Laut laut laut, suatu hari semua bebanku akan kau telan lagi. Samudera-samudera akan membicarakan kita lagi. Batu karang akan menebur ombakmu lagi..
Laut laut laut..
Rabu, 01 Juni 2011
Lau
Saya cuma merenung melihat papan penuh paparan cahaya di hadapan saya. Kelunya sudah saya keluarkan semua. Saya nggak tau harus gimana dan saya bilang sama diri saya sendiri, I don’t need even somebody here, tapi herannya saya bilang sama diri saya kalo saya butuh Prita Raras. *emot mengeluh*
Saya memang butuh diam, berkaca kepada diri saya. Saya mendata bagian mana yg salah dan terus kurang. Bagian mana yg menjadikan saya terus menangis selama ini. I am not the perfect one but I amma the perfect perfectionist one. I need everything can be fine at all, from the small thing, my dreams, life, campus, then you. How limited my life..
Saya bukan manusia yg tepat untuk dijadikan seperti ini. Saya begitu sayang sama kamu, tapi saya nggak tau caranya, saya ngga bisa mempertahaninnya. Saya nggak bisa mempertahanin satu hal yang begitu aja ngelepas saya. Yang masih menjadikan saya sama dengan yg lainnya. Bukankah saya cukup manusiawi? Bukankah saya cukup sama dengan puan-puan lainnya?
Saya sempatkan bertanya sama Tuhan, apa seharusnya sudah 18 tahun dan cinta masih menjadi hal yang sulit, cinta masih sanggup membuat saya menangis.. cinta menjadikan saya mengelap muka dengan celana yang telah saya pakai 3 hari menyangkut di balik pintu, karena begitu banyak air yang meluap di atasnya. Cinta menjadikan saya punya rahasia, cinta menjadikan saya terus berpikir buruk, cinta menjadikan saya menunggu, cinta menjadikan berbasa-basi, cinta menjadikan saya terus menangis usai daily show BigBrother. Oke yang terakhir adalah efek media televisi secara langsung, acara drama itu mempengaruhi otak saya semakin meliuk-liuk.
Saya nggak bisa menjelaskan, tapi kali ini jadi begitu sulit.. sulit..sangat silit. Saya bukan sosok dewasa, saya nggak mau jadi sosok yg sok dewasa. Gimanapun, kamu adalah sosok baik di masa childhood saya, kamu mengajarkan banyak, dan jelas banyak menangisi saya. Di satu sisi saya bisalah bilang sama diri saya buat tahan semuanya, tapi setelah itu saya sadar ngga ada yang bisa saya harapkan. Sosok yang begitu saya rindukan, sudah seutuhnya hilang dan nggak berusaha mempertahankan saya. Trus?
Wah terima kasih, saya bukan perajuk yang baik untuk urusan itu. Saya hanya berbisnis kepada orang yang sayang sama saya dengan tulus. Saya mengharapkan suatu hari saya mendapatkannya.
Saya begitu menghargai semua kenangan, hadiah, dan waktu yang begitu banyak kamu berikan buat saya. Sementara itu berarti banyak buat saya. Salah saya yang nggak bisa pertahanin sosok itu. Sekarang pergi, saya jadi mengamuk pada diri saya sendiri. Salah itu manusiawi, mungkin saya salah.. tapi akan menjadi lebih salah kalau kamu menyesal di suatu hari nanti ketika kamu benar-benar melepas saya karena hal ini. Kamu begitu tahu saya..
Saya minta maaf. Saya nggak bisa jadi seperti yang ada di pikiran kalian semua, selamat membaca kegalauan. Semoga menular.. *meludah*
Saya memang butuh diam, berkaca kepada diri saya. Saya mendata bagian mana yg salah dan terus kurang. Bagian mana yg menjadikan saya terus menangis selama ini. I am not the perfect one but I amma the perfect perfectionist one. I need everything can be fine at all, from the small thing, my dreams, life, campus, then you. How limited my life..
Saya bukan manusia yg tepat untuk dijadikan seperti ini. Saya begitu sayang sama kamu, tapi saya nggak tau caranya, saya ngga bisa mempertahaninnya. Saya nggak bisa mempertahanin satu hal yang begitu aja ngelepas saya. Yang masih menjadikan saya sama dengan yg lainnya. Bukankah saya cukup manusiawi? Bukankah saya cukup sama dengan puan-puan lainnya?
Saya sempatkan bertanya sama Tuhan, apa seharusnya sudah 18 tahun dan cinta masih menjadi hal yang sulit, cinta masih sanggup membuat saya menangis.. cinta menjadikan saya mengelap muka dengan celana yang telah saya pakai 3 hari menyangkut di balik pintu, karena begitu banyak air yang meluap di atasnya. Cinta menjadikan saya punya rahasia, cinta menjadikan saya terus berpikir buruk, cinta menjadikan saya menunggu, cinta menjadikan berbasa-basi, cinta menjadikan saya terus menangis usai daily show BigBrother. Oke yang terakhir adalah efek media televisi secara langsung, acara drama itu mempengaruhi otak saya semakin meliuk-liuk.
Saya nggak bisa menjelaskan, tapi kali ini jadi begitu sulit.. sulit..sangat silit. Saya bukan sosok dewasa, saya nggak mau jadi sosok yg sok dewasa. Gimanapun, kamu adalah sosok baik di masa childhood saya, kamu mengajarkan banyak, dan jelas banyak menangisi saya. Di satu sisi saya bisalah bilang sama diri saya buat tahan semuanya, tapi setelah itu saya sadar ngga ada yang bisa saya harapkan. Sosok yang begitu saya rindukan, sudah seutuhnya hilang dan nggak berusaha mempertahankan saya. Trus?
Wah terima kasih, saya bukan perajuk yang baik untuk urusan itu. Saya hanya berbisnis kepada orang yang sayang sama saya dengan tulus. Saya mengharapkan suatu hari saya mendapatkannya.
Saya begitu menghargai semua kenangan, hadiah, dan waktu yang begitu banyak kamu berikan buat saya. Sementara itu berarti banyak buat saya. Salah saya yang nggak bisa pertahanin sosok itu. Sekarang pergi, saya jadi mengamuk pada diri saya sendiri. Salah itu manusiawi, mungkin saya salah.. tapi akan menjadi lebih salah kalau kamu menyesal di suatu hari nanti ketika kamu benar-benar melepas saya karena hal ini. Kamu begitu tahu saya..
Saya minta maaf. Saya nggak bisa jadi seperti yang ada di pikiran kalian semua, selamat membaca kegalauan. Semoga menular.. *meludah*
Langganan:
Postingan (Atom)