Kamis, 29 September 2011

Oktober y u no dateng cepet-cepet.................

Sudah mau Oktober, asyik.. sebentar lagi makan Indomie. Indomie goreng dua bungkus pake kornet saos sambel telor rebus cabe dan koyor rasanya udah nggak sabar nunggu kalian.

Oktober, ulang tahun Ibu. Dan menjalani hidup yang kiranya akan semakin membosankan...Semoga dapet banyak film yang lebih inspiratif.. Yeah, my life depends on the movies..

Semoga bisa ngurangin juga makan pedes-pedes di Oktober nanti, amin...

Amélie





Film Prancis keluaran lama yang lagi-lagi baru saya lihat, saya sih cenderung nggak peduli film lama atau baru buat ngeliat film, buat saya insting aja yang dinomer satuin pas ngeliat judul film yang mau diliat.

Film ini menyejukkan hati saya di siang bolong pertengahan hari-hari kuliah yang mulai melelahkan. Film ini kalo boleh saya genre-kan secara subjektif primitif, merupakan kategori film drama-komedi-fantasi *lol. Dan secara subjektif pula saya kasih bintang 4 dari 5 bintang buat film ini. Entah karena saya begitu terinspiratif sama Amélie atau karena saya benar-benar jatuh hati sama seluruh bagian film ini.

Film ini nggak melulu tentang tokoh utamanya kok, dari awal memang bisa diprediksi akan menjadi monoton mengenai Amélie, yang sejelas-selasnya kita bahkan ngga tau siapa itu Amélie, tapi di ceritanya itu sendiri pada akhirnya juga menceritakan banyak orang. Buat saya bentuk penyampaian cerita film ini cukup unik, bahkan cenderung beda, ya banyak sih film-film dengan narator, khususnya film anak-anak atau kartun, tapi yg ini bukan animasi, nah itu salah satu unsur imajinatifnya. Mengenai fantasi selanjutnya, efek-efek yang ditampilin di filmnya bagus banget, emang terkesan sok ajaib sih, tapi karena meaningful jadinya dimaafin dan justru nambah sensenya.
Sejujurnya saya super jatuh hati sama Amélie-nya, kalo menurut saya sih ya emang sebenernya film makernya itu mau menceritakan sosok almarhumah Lady Di dalam bentuk absurditas Amélie. Coba samakan karakternya, yang saya tangkap dari sosok Amélie yang begitu menyenangkan, adalah seorang anak perempuan di bawah tekanan dan berusaha menjadikan lingkungan yang penuh tekanan tersebut menjadi hal-hal yang nyaman dan menyenangkan buat dirinya. Termasuk menjadi berguna dan memenuhi impian bagi orang-orang sekitarnya. Amélie selalu punya cadangan imajinasi, dia berpikir nggak seperti yang lainnya, dan hatinya superily mulia.

Hidup saya kayak kejawab waktu nonton film ini, bukan niat nyama-nyamain yang bagian hati mulia si Amélie, aminin aja yg bagian itu... yang saya tangkep, ternyata imajinasi, pertanyaan konyol yang sempet ada di pikiran saya, bisa juga ada di pikiran orang lain, plusnya adalah dalam sosok yang saya lihat di film. Rasanya kadang aneh pas saya mengucek mata dan bilang sama diri saya sendiri.. “nduk, sadar nduk..”.. tapi ya woles lah, that’s my own imagination, urusan banget kali ya sampe orang ngatur imajinasi saya. Itu wajar kok, semua orang punya imajinasi dan bayangan kan, tingkatannya aja yang beda. Asal jangan kesandung aja trus ngga bisa bangun dari imajinasi sendiri. Realistis itu tetep identitas manusia seutuhnya, Bos..
Weldut, Amélie intinya, selain nyampein komedi satir, film ini juga ngejelasin betapa yg namanya imajinasi itu emang satu faktor penting dalam melakukan tindakan yang realistis, atau tindakan tersebut yang kemudian membentuk daya imajinasi kita agar semakin meluas dan berkembang. Manusia memilihnya.

Dalam film, Amélie cenderung menjadi perempuan yang nggak beruntung sampe jadi beruntung dijelasin di plot yang menjelaskan alur lurus sejak awal sampai akhir, sekalipun masih ada juga adegan-adegan flashback yang ditampilkan dengan sempurna melalui video-video bersetting tua. Outdoornya Paris sendiri sebagai setting utama dalam film nggak begitu ditonjolkan, kalopun ada nggak banyak orang-orang di sana, mungkin karena maksud filmnya jadul gimana gitu kan dan untuk memudahkan penggambilan gambar, tapi buat saya nggak ngefek sih, soalnya yang namanya kota-kota di Eropa kan emang cenderung bentuknya klasik dan tua-tua begitu sih. Ya gampang-gampang aja kan sebenernya. Banyak simbol-simbol juga yang ngejelasin maksud filmnya nggak secara langsung, kayak simbol bergetarnya barang-barang di cafe dengan masuknya Georgetta (kalo ga salah, jeneng e wong Prancis njelimet euy) ke toilet, nah imajinasinya penonton yang harus sering dipake buat jawab maksud tiap-tiap adegannya.
Dan mengenai hal-hal yang annoying, adalah entah ini sugesti apa nggak ya, sebel aja kalo ngeliat bagian film pas ada tokoh utama di public space trus orang-orang di sekitarnya ngeliatin, kesannya lagi syuting banget apa gimana ya. Trus, ya.......... fashionnya. Rambut dan rok di bawah lutut trus dipakein sepatu semi boot gitu, ngeliatnya, oh gimana begitu ya. Iya, namanya jaman dulu, makin nggak suka deh ya sama settingan baju jaman dulu, wanita secantik Audrey Taotou harus berpakaian begitu, untungnya cantiknya total kaya saya. Sirik, modaro.... :3

Btw, filmnya bagus..... Amélie inspiratif banget, gambar filmnya hi-quality banget ya, shootnya juga unyu sekali, demen banget scenes ngejar tas jatuh terus puter arah, serasa jadi angin.... Daaan of course sure scenes terakhir pas ketemu si ayang...... They seriously envy me.... Amélie you changed mine.......*ngegaruk-garuk kloso*


Selasa, 20 September 2011

huFFtHhhh hUhuHuu

Dearest alter ego,

Saya kembali merasakan elegi sebelumnya, suatu hari saya akan sadar mengapa semuanya terjadi sama saya. Saya nggak habis pikir, di zaman sekarang justru keprimitifan begitu meluas, emosional tiap orang semakin menggebu-gebu ketika mereka sadar mereka punya pilihan atau alternatif dalam bersikap. Tapi selama ini yang saya hadapin, mereka nggak pernah punya benar-benar alasan untuk menampik saya, karena saya begitu beralasan dalam menghadapi semuanya.

Ketika semuanya sibuk berkoar mengenai demokratisasi pikiran, menempuh totalitas liberal dalam kehidupan, masih aja hal-hal yang.. apa ya.. konyol lah. Dear, opini adalah bahasa tubuhmu, bahasa yang ngga sempat kita lakukan dengan tindakan, bahasa yang mewakili ego dalam diri kita. Kita semua berhak beropini apalagi memiliki alasan. Karena toh pada akhirnya kita juga akan bicara, sekalipun kacau, dan merusak. Ya, asal ngerti batas lah..

Saya pernah mengatakan di antara kita memiliki kepentingannya masing-masing, dan buat saya memang ada batasan untuk melakukan itu semua. Ada pandangan-pandangan lain dan sportifitas itu dibutuhkan.

Kalau saya salah saya selalu mengaku dan minta maaf. Tapi saya enggan menarik apa yang sudah saya lemparkan, karena buat saya bentuk ambiguitas dari semua lontaran di setiap akun dunia maya milik saya adalah ciri khas bagi diri saya sendiri untuk bicara, demikian saya menjaga diri saya, hasrat otak saya. Yaudah lah lo anggep banget sih, emangnya saya sih siapa, bukan siapa-siapa. Setiap orang yang kepengaruh sama saya, nggak sengaja saya lakukan. That’s real me. Sejak saya SMA, saya juga berusah menjadi apatis dan sok melapangkan dada ngeliat hal-hal yang anarkis bahan cenderung frontal, dari foto ataupun bahasa orang-orang yang tai kucing banget, yaudah lah buat saya itu toh hidup-hidupnya dia, kalo dia benar-benar nggak suka sama saya dan keluarga saya, menyebutkan nama jelas, baru saya ajakin main smack-downnya. Tuh, bahasa saya ambigu dan lebai. Masih aja dibaca...

Semuanya berhak menghapus atau bahkan membenci saya, kalo pun contohnya saya nggak suka sama orang, ketika saya bicara di mana-mana, saya nggak akan menyebutkan namanya, saya menjaga perasaan, biarin deh ngerasa sono ngerasa, itu karakter saya. Mereka membaca, kege-eran sendiri, dan protes teriak-teriak di muka saya. Padahal mereka bahkan nggak mengerti apa yang saya bicarakan. Sudah kejadian berkali-kali.. Semua akun dunia maya dan pembicaraan saya memang kontroversial, it’s okay, terima kasih.

Saya hanya kecewa, kecewa sekali kepada pihak-pihak yang begitu menyakitkan hati saya ketika mereka menampik. Mungkin egoisme dalam diri saya. Mungkin itu adalah kritik, farenya saya emang harus terima. Hal-hal tersebut yang mendewasakan saya untuk menulis.

Saya bicara begitu banyak dengan cermin pagi ini, saya begitu kekanak-kanakan, saya hanya nggak mau dianggap salah.

Saya bertindak setelah berpikir. Ini bukan sebuah alasan yang dibuat-buat loh, hanya emosional, kali saya mengakuinya.

Ya, suatu hari saya berharap saya menemukan alasan yang selanjutnya, lebih jelas. Dikritik sama orang kesukaan itu emang ngga baik buat hati. Kepikiran terus, taik. Beda rasanya ketika diprotes orang sampai ngelabrak saya di kelas karena ngga suka sama tulisan saya atau dipanggil kepala jurusan karena ke....... seseorang membaca tweet saya. Sekian, terima kasih lagi.

Minggu, 18 September 2011

September 3rd weak

Minggu ketiga September berjalan begitu lambat, sekalipun saya sudah melalui banyak hal.. tapi tetep kerasa banget betapa leletnya Minggu tersebut. Kira-kira hampir dua minggu saya menyentuh Solo kembali, kali ini bersama Big Pedro dan begitu banyak tugas.

Jadwal kuliah saya yang super ngepet mewarnai kehidupan saya sehari-hari. Kegiatan Kine-klub tempat lain untuk bernaung di Solo, diburu dalam waktu seminggu. Dua kegiatan inti, open-recruitment dan workshop untuk penulisan review. Seminggu penuh saya...... Oke nggak usah dibahas, kita ambil pandangan positif, dengan adanya kegiatan padat-sepadat-padatnya itu bisa mendekatkan tali silaturahmi yang udah samar-samar di keluarga Kine, ya sekalipun emang nggak sempet ngumpul semua, masih bahagia banget saya bisa lah paling nggak ketemu Girbaldi Cornellis Manoppo, alias Mas Megai -__- , lawakannya mewarnai otak saya yang kaku bin jiwa raga saya yang lemah lesu. Alhamdulillah yah, setelah melewati masa tiga hari inti, Kine Klub 2011 sudah direkruit, melalui serangkaian seleksi ketat oleh para menteri, dari jam 7 sore berkumpul sampai jam 6 pagi dilewati para screener miliih generasi Kine selanjutnya. Semoga aja ya adek-adek selanjutnya ngga gathil dan bisa jadi adek-adek kesayangan yang kompak. Next, acara workshop membukakan halaman baru bagi saya kenal Kine, yaitu kenal Mas Wayan Diananto yang super rumpi dan kocak banget pas sharing untuk jadi pembicara. He amazed me so much, saya pikir cuma penggambaran Mas Megai aja yg too much mengenai doski (oke, mas megai lagi) eh ternyata, bener-bener rumpi banget cuy. And I love his other way to share, yang jelas karena dia juga pecinta film dan punya cara tersendiri untuk menilai film. Dia respect sama film luar dan Indonesia karena pekerjaannya juga nuntut itu semua, sekalipun dia ngga suka, tapi dia tetep masih bisa bicara mengenai film tersebut dan diterima dengan baik. Sempet mikir pengen jadi kaya doi suatu hari nanti, kerjaannya enak banget. Invite sana-sini buat nonton. Oke, sekalipun untuk jadi netral kepada hal yang ngga banget dan harus bisa nulis satu hal yang baik dalam deadline adalah NERAKA, pengalaman saya, terima-kasih.

Dan dari workshop, saya juga disempatkan buat nonton The Blind Side. Film yang sudah saya pengenin banget buat nonton dari zaman kapan, tapi nggak pernah sempet. Guys, it’s recommended for you. It’s really a good drama movie. J

Kemudian, tugas oh tugas. Saudara-saudara, laptop saya yang sudah tua ini merajuk-rajuk ingin dibawa ke dokter komputer, installernya error semua. Bajingannya, saya membutuhkan file pdf. untuk mencari jurnal-jurnal jamban yang bikin saya terharu biru. Mata kuliah saya semakin menjurus, tugas-tugas semakin professional, baiknya dosen-dosennya ngga seabsurd masa-masa dua semester kemaren, hari ini masuk besoknya nggak. Fine, I am tryin on.

Demikian lah kehidupan saya seminggu penuh, uang-uang habis untuk beli buku dan melakukan banyak hal, badan saya yang super ringkih jatuh-jatuhan sakit, nonton film juga cuma sempet tiga kali dalam seminggu, karena ngga sempet punya ‘pleassure time me’ lebih banyak. Dan mengalami kerontokan super akut.....

Selasa, 06 September 2011

Indomi

Menemukan jati diri itu nggak semudah masak indomi sekalipun pake telor rebus yang bentuknya sempurna kaya mata sapi. Menemukan mereka butuh waktu puluhan tahun yang susyah biyanget. Orang-orang yg sukses buat saya adalah orang-orang yang menghargai proses dari pencarian jati dirinya tersebut, meskipun mereka udah jadi seseorang’, tapi ga lupa gimana masa-masa perjuangan, dan pada akhirnya, jati dirinya itu kaga useless dan hidupnya jadi stabil karna digunain dengan bijaksana.

Zaman sekarang, ketika hidup udah banyak pilihannya, sekalipun setiap orang udah berumur, tetep aja bisa kemakan labilitas alias ngambil keputusan yang gak jelas, yang emang udah disediain sama keadaan zaman sekarang pilihan-pilihan buat nentuin keputusannya. Alternatif bukan satu hal yang sulit kaya batuk menahun yang nggak sembuh-sembuh, kompetisi yang kuat antar manusia nuntut semuanya bergerak cepet dan gak mau ketinggalan hal-hal yang update. Makanya nggak jarang, keraguan itu banyak munculnya.

Gimana ya, kalo kita sebagai korban dari kelabilitasan seseorang tersebut juga pasti bingung ngejelasinnya, sedangkan kita sendiri gak bisa jamin kalo kita nggak bakal kemakan omongan kalo kita nggak bakal labil.

Buat saya labilitas itu ndongkolinnya nggak karu-karuan. Saya juga sempet benci sama diri saya yang nggak bisa menentukan satu hal dengan cepat dan tetap terus-terusan. Kadang saya mikirnya “yaudah lah emang itu yang gue butuhin sekarang, kalo emang bentuknya harus begitu ya udah terima aja...” padahal sebelumnya saya kenceng mikir “Pokoknye gue kaga terima kalo misalnya sampe begitu, gimanapun gue ga bakal terima sampe kapanpun..”. Keadaan sekarang gampang nyelametin semua keputusan, sekalipun seringnya bakalan nyesel di akhir gara-gara ya kebanyakan pilihan.. Yang bener ketika kita ngambil pilihan kedua itu sebenernya adalah sugesti, kalo kita bisa jadi begitu yakin sama opsi kedua, itu artinya emang sebenernya kita belom bikin keputusan di awalnya. Biasanya pemikiran kedua alias opsi kedua tersebut datang melalui faktor-faktor yang gak jelas, bisa dari ketakutan temporari alias nervous dari keputusan pertama, atau bisa jadi karena dari awal emang buru-buru dan gak mau rugi. Atau lagi, bisa jadi mungkin karena pasrah, gak punya pemikiran sendiri, GAMPANG KEPENGARUH SAMA ORANG-ORANG YANG BAHKAN GA NGERTI SIAPA DIRINYA, gampang nyerah sama keadaan, gara-gara malu atau emang sadar dirinya payah.

Toh, semua orang punya hak sih ya. Nah melalui sisi yang sering dikecewain gara-gara labilnya seseorang, bisa saya jabarin rasanya dilabilin itu kaya naik roller coaster di final destination empat, mati di tengah jalan pas keretanya lagi kayang. Jatoh ke bawah, eh bawahnya kebon duren lagi panen. Ancur deh lo.Bayangin, lo punya harapan tapi harapan lo tiba-tiba dibalik gitu aja. Salah banget kalo lo mikirnya nyia-nyiain perasaan orang lain begitu aja adalah nggak salah, nanti pas lo lagi dirundung kangen dan kepikiran orang yang lo sia-siain itu, bakalan lo merinding seluruh badan. Saya pernah kok di posisi keduanya.

Jadi, buat penghuni timeline twitter khususnya, tempat paling rame bakal curhat, ngegaul, pamer, makan, ngejayus, pdkt, putus,ngegombal, dan segalanya.. para penghuni sarang galau, saya berharap nih.. semoga ya ababilisme jaman suku quraisy yang menyesatkan umat nggak kambuh lagi di zaman kita, udah seharusnya, apalagi sebagai orang muda nih, plis banget, ngambil keputusan itu jangan ngoyo keburu-buru kaya bencong ngeliat trantib. Jangan sok frontal kalo pada dasarnya kita emang murni cuman berbentuk vertikal atau horizontal, artinya, nggak usah lah yang namanya ikat-ikut sana-sini tapi sebenernya emang bukan diri kita. Sok-sokan, bagus kaga. Percaya sama saya, bakal susah buat pertanggung jawabin semuanya.

Saya sih bukan tipikal orang yang sedikit ngomong, saya nulis gini juga bukan karna saya bukan ababil, tapi saya begini karena keadaan orang-orang di sekitar saya, nah baru saya sadar kan. Kadang saya anggep ini semua adalah konsekuensi, tapi rasanya nggak fair’ kalo nggak ada yang bisa bicara dan membicarakan apa yang semua rasain kan, yah paling nggak saya bicara untuk diri saya sendiri... Semoga aja ya segera kita semua ditaubatkan dengan labilitas yang tidak bertanggung jawab. Karena kita pemuda, udah seharusnya kita nggak punya rasa takut dan berani tanggung jawab, apalagi soal omongan doang. Kalo kita sempet dan mampu buat mikirin, kenapa enggak buat kita juga ngelakoninnya. Males sih, yah tapi woles lah. Semua orang bakal maafin kita-kita yang bertanggung jawab, guys. Apalagi sungguh-sungguh. Inget aja sekalipun siapapun bebas bicara, harimau itu nggak kenal kenyang buat mangsa yang nyerahin diri sendiri di depan matanya. #ngaco #abaikan.

Moedik

Dari kecil orangtua saya selalu membiasakan mudik ke kampung halaman, maklum deh selain karena mereka orang perantauan, ada hal lain yang selalu saya banggain juga dari mereka, mereka adalah orang-orang yg selalu melek sama sodara-sodaranya. Sekalipun kadang emang nyapein, Perjalanan mengajarkan keprihatinan tingkat tinggi buat menempuh satu hal atau banyak hal lain yang nggak terduga, dan emang buat saya nyenengin.

Mudik itu adalah cara lain menikmati waktu lebaran, sekalipun emang nyapein, bikin ngga sabaran, bikin kuping budek, kehidupan rasanya jadi nggak stabil; dari solat, makan nggak karuan, mandi lah, sampe lotionan, dan lain-lainnya ketunda gara-gara ya emang lagi di jalan. tapi rasanya ngga ada yang bisa ngalahin waktu-waktu di perjalanannya, ngeliat banyak hal yang baru, kampung yang jauh beda sama kota zombie, makanannya, ketemu sodara-sodara yang notabene orangnya asli baik sama keluarga saya, oleh-oleh, belom lagi kalo mbok pecel lagi gatel ngajakin belanja, plus tambahan thr............. wih senengnya.

Selain mudik, orangtua juga sering ngajak ke rumah kenalan mereka yang bahkan jauh banget dari kampung saya sendiri, atau bahkan dulu sering nganter orang-orang yang ngasuh saya. Sekalipun bensin menohok banget, atau kadang suka banyak juga konflik-konfliknya, abis itu diem-dieman di mobil, tapi nantinya kita seneng sendiri ngeliat daerah baru, orang-orang jualan yang aneh-aneh, dan senengnya dijamu makanan khas yang joss.

Satu hal yang paling berjasa dalam setiap perjalanan keluarga bahagia ini -_- adalah si Norah Jones, kijang tua ayah yang kecenya ampun-ampunan. Rasanya saya bersyukur punya doi, ya emang karena cuma si NJ yang kita punya. NJ itu jauh banget kalo yg namanya disamain para matic-ers atau mobil-mobil yang unyu-unyu banget warna metaliknya, cuma aja si NJ ini pajaknya nggak berat dan petualangannya sama kita ke banyak daerah yang bikin dia nggak ternilai harganya. Belom lagi doi yang udah tua moody banget dan Ayah yang sayang banget sama doi, sama deh kaya saya perlakuin Pedro. Ayah suka memperlakukan si Norah Jones ini kaya manusia..... “Mobil itu harus ada istirahatnya..” ..

Dan bicara mengenai perjalanan sama orangtua begini, rasanya saya masih punya utang sama Ayah. Belom bisa bawa si NJ nggantiin Ayah, padahal juga jarang dan hampir nggak pernah juga lewat jalur selatan dengan primadona angker si Nagrek pas pulang kampung, tapi rasa takut nabrak angkot dulu menjadikan saya terus-terusan trauma. Walhasil, Ayah ngga punya co-driver, alhamdulillahnya doi jagonya jago banget bawa NJ, apalagi kebutannya. Cuma kalo udah malem aja Ayah suka annoying banget. Maklum, kalo perjalanan malem kita bertiga kan langsung tepar, doi sendirian ngusi ngantuk, dan biasanya bangunin saya, korban utama. Ngomongin tol baru lah, megangin pala saya yang senderan lah, atau parahnya nyetel radio dan ngencengin gitu aja karena ngerti speakernya ada di deket kepala saya yang senderan di pintu. Dari driver ke bagian konsumsi, senengnya mudik adalah pembajakan Indomaret deket rumah dan warung ayah. Dari yang namanya nori, roti, biskuit, permen, minuman sekardus, dan koka kola berliter-liter, belom nanti balik bawa makanan yg aneh-aneh lagi, oleh-oleh.:D. Belom lagi cerita-cerita baik fakta maupun gosip di perjalanan, serunya kalo berempat udah ngegosip nanti saling nunjuk satu sama lain, makjlebnya gak ketulungan. Dan cerita-cerita baru yang kita dapet dari perjalanan, yang akhirnya bikin kita belajar jadi lebih baik lagi.

Kalo perjalanan begitu, rasanya kita berempat jadi deket banget. Saya yang anak manja dan selalu dimanja dari kecil sampe sekarang udah jadi mahasiswa kalo perjalanan begini rasanya akan selalu jadi anak kecil lagi, apalagi bapake yang jadi super manjain saya. Makin egois saya, gara-gara begini kali ya*lol.. Alhamdulillah, betapa saya bersyukur tlah melalui banyak perjalanan, apapun jenisnya, bersama makhluk-makhluk aneh seperti mereka dalam setiap perjalanan adalah berkah Allah yang nikmatnya nggak karuan, yang setiap tahunnya selalu saya nantikan. :D