Melihat
jalan-jalan yang layu dipijak dan begitu kesepian. Sementara dengung debu yang
tanpa henti menyeruak isi kepala. Berputar-putar dengan nada riang.
Mencari-cari apa yang hatinya sedang butuhkan..
Seperti
etalase yang sendu. Kosong namun tetap penuh harapan kepada pelanggan-pelanggan
yang murung melewatinya. Pohon baru yang ditanam di tengah kota begitu malas
untuk menegakkan batang-batangnya. Tertidur menggapai tanah. Daun-daun yang
rontok di kakinya, merenggas dan gosong dimakan jalanan.. dan angin musim panas
perlahan kemudian datang..
Lampu
kota menyala di siang bolong, melawan terik sang matari yang jenuh bersinar..
kulit-kulit dari gedung tua di sudut jalan terbang kian kemari, menua dan
usang. Sehingga yang melihatnya, penuh haru dan heran apa yang ada di dalamnya,
masih begitu kukuh dengan kisah-kisah yang terlahir di dalamnya.
Dalam
secangkir kopi di tengah kedai yang begitu sepi menyayat hati. Diiringi deru
kipas angin yang termakan debu. Pinggiran roti yang ditinggalkan. Tercelup
basah, seperti sepatu hitam yang kukenakan, kuyup mengenaskan terkena cipratan
sedan-sedan yang melaju kencang ketika aku menyusuri trotoarnya.
Secangkir
kopi di hadapanku tak berhenti memanggil agar aku tak henti menghirup aromanya.
Mengagumi butiran-butiran hitam yang berbekas di sudut bibirku. Rasanya manis
seperti coklat, yang barangkali orang-orang bilang rasanya pahit seperti hidup.
Panas. Membekas. Dan begitu nikmat ketika menyentuh lorong-lorong kerongkongan,
menjalar ke kepala. Membangunkan yang mati. Dan membuat kita mencari-cari apa
yang kita ingin rasakan padanya. Kopi yang menjadikan seorang menjadi begitu
perasa.
Seperti
yang aku saksikan. Jiwa-jiwa yang sendu. Yang lelah dengan fakta bahwa betapa
jauhnya kita sudah berjalan di bumi yang tua ini.
Disuguhkan
puing-puing sisaan zaman yang menyedihkan, namun mau tak mau harus ditelan.
Semua orang saat ini begitu menyedihkan. Tidak mampu tapi dijalankan. Tidak
pantas tapi ingin diakui. Punya kuasa namun menghabisi. Didengarkan tapi tak
sanggup mendengar.
Kenapa
tidak semua orang menjadi secangkir kopi panas yang dipenuhi susu saja? Membagi
dirinya untuk yang lain. Seperti seisi kota yang terisi dengan meriah, tidak
terpisah. Menjadi satu hal yang dicintai banyak orang, tanpa harus menunjukkan
jiwa yang lemah, tua, dan kesepian. Semua orang ingin memilikinya, tanpa harus
menunjukkan banyak hal.
Hidup
begitu mudah dijalankan ketika kita benar merasakan apa yang didalamnya. Tidak
sebatas pada hirupan pertama. Tidak berdasarkan sekelebat aroma. Tapi ketika
kita benar meletakkannya pada sumber-sumber perasa dan mengenali betul
bagaimana rupanya. Dan bagaimana kita menjalankannya. Hidup yang penuh candu,
manis sekaligus pahit. Hidup adalah bagaimana kita menenangkan waktu yang
menjalarinya, yang menuntutnya menjadi habis.. namun tertahan kuat dan
menunjukkan utuh isinya.. berpacu dengan waktu seperti menahan ektraksi kopi.
Hidup bertahan untuk tetap mengisi dan terisi.. supaya tidak diacuhkan. Hidup
seharusnya berhati-hati, berantisipasi. Seperti ketika kita memburu gelas kopi
yang panas.
Gelas
kopi yang bergaris-garis. Meninggalkan bekas-bekas batas yang aku hirup. Saat
ini aku menikmati filosofi kopi ku sendiri.
0 komentar:
Posting Komentar