Sabtu, 11 April 2015

Melarikan yang Harus Dilarikan.



Sama ketika kita berlari, setiap jejak yang kita setapaki. Ada takdir yang harus kita jalani dalam hidup.

Demikian ketika kita menoleh ke belakang, ada hal-hal yang terlewatkan. Sebagian melambai haru ditinggalkan, sebagian tertawa lepas dibebaskan, sebagai menderu-deru sedih tidak berkesudahan. Tapi kaki-kaki terus menjauh, menarik keras urat nadi di dalamnya. Melaju cepat mencari tujuan. Menghindar dari kesalahan.

Dan ketika kita berlari. Sebagian melihat apa yang menghalangi di ujung jalan. Sebagian menutup matanya dan menyerahkan dirinya tersungkur pada kubangan selanjutnya. Kita mengamati dalam-dalam perjalanan. Ada pula yang menghilangkan dirinya tak tentu arah.

Tidak ada yang salah dalam berlari. Semua orang ingin melarikan dirinya sejauh mungkin. Hanya, tidak ada orang yang tahu pasti seberapa jauhnya orang meninggalkannya, atau seberapa jauh dia meninggalkan banyak cerita dalam hidupnya. Yang terlihat hanya ketika ia melarikan diri, tanpa tahu sebenarnya ia hanya berjarak satu kedipan dengan pelariannya.


0 komentar: