Tampilkan postingan dengan label Favorithing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Favorithing. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Februari 2013

Milk Bath, treats me alright..


February is always be mine. Selama hampir dua bulan ini, rasanya liburan panjang mahasiswa rantauan yang pulang ke rumah ngga afdol tanpa treatment yang ngebantu banget meluruskan otak sekaligus perasaan, selain rileksasi. Setelah sebelumnya dikasi dana buat ngebersihin muka, dapet modal lagi buat manjain tubuh itu rasanya seneng banget. Inget kalo di Solo, sampe sekarang belom nemuin tempat lulur dan facial yang cucok. Dan, tinggal di Solo menjadikan saya perempuan yang berkulit lebih kusam entah kenapa alesannya. Padahal air di ibukota sama di Solo, orang selalu prefer yang jauh dari kota Jakarta. Mandipun kadar semangatnya masih balance kalo dirasa-rasa..
Woman’s heavens are that body massage, scrubbing, masking, and milk bath.. berhubung yang bleaching emang ngga sehat. Tapi ketahuilah, sebagai perempuan rasanya nikmat banget dapet perlakuan nyaman bertubi-tubi dari body spa.. efek dari umur sekarang mikirnya pun,meski ngga langsung kinclong, rasanya badan kalo bersih itu priceless banget...


Minggu, 22 Januari 2012

Bumi Manusia

Kesukaan saya terhadap seniman ini terletak di segala sudut. Pramoedya Ananta Toer, adalah sekelumit mengenai keindahan dunia. Ia begitu mengejarkan banyak mengenai sastra kepada dunia.. Seperti cerita saya mengenai buku-bukunya sebelumnya, saya baru saja menyelesaikan salah satu dari tetralogi besarnya, BUMI MANUSIA.

Hampir semua naskahnya mengenai masa lalu dengan ke-kolonial-an dan segala macam kejahiliyahan di masa penjajahan. Ia begitu luwes menceriterakan bagaimana keadaan zamannya memperlakukannya, dan tiada sedikitpun kesan mengenai kemonotonan. Sepertinya, selalu ada sisi yang dikupas begitu dalam melalui kalimat yang cerdas, puitis, sekaligus membuat kita berpikir dan merasakan betapa keagungan Tuhan menciptkan feenomena dalam cerita tersebut dan akal dari penulis yang membuatnya. Pram begitu agung, pantas saja Shelma begitu mati mencintainya.

Bumi manusia bercerita mengenai Mingke. Mingke dan cintanya, Mingke dan hidupnya, Mingke dengan segala ke-Jawanismenya dan Belandanya. Buku ini saya kenal ketika saya menjadi penggemar Pram di masa awal Selma sudah menggilainya. Dulu, saya sama sekali tidak berhasrat kepada penulisnya, ia begitu merubah Selma.. Saya menikmati semua untaian kata-katanya, seperti biasa. Dan saya belum berhasilpun membacanya, apalagi keempatnya..Tetralogi yang saya habiskan sampai detik ini hanya sekedar Laasakar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Dan alhamdulillah, hasrat itu datang lagi untuk kali ini..

Bumi manusia memiliki banyak tokoh di dalamnya dengan keberagaman yang menyesuaikan bentuk, kondisi hidup Mingke di dalamnya. Dan kehadiran tokoh-tokoh tersebut dengan motif dan latar belakang yang tepat menjadikan buku ini semakin bicara, tidak sekedar dari sudut Mingke sebagai tokoh utama melihat. Setting yang digambarkan begitu detail, dan kemudian sastra memudahkan semuanya untuk diungkapkan. Bahasanya begituuuuuuuuu indah. Dan saya jatuh cinta. KOK BISA SIH, saya gemes sendiri. Tokoh Mingke yang dengan tegap gagah dan begitu muda seakan mudah dilihat oleh Pram yang pada saat itu dengan keterbatasannya di pulau Buru. Kultur yang begitu melekat, menampakkan nasionalisme yang kental dan tegar. Sosok masa depan begitu ada pada diri Mingke dan seolah-olah semua bentuk kehidupan sekarang telah diramalkan melalui sosok Mingke. Konflik dalam novel ini merupakan konflik sederhana kehidupan pribumi terhadap kolonialisme yang labil dan penuh kuasa, perseteruan mengenai status dan menuntut satu sama lain. Mengenai pandangan subjektif dan bagaimana menyakinkannya, barang satu dua hal yang jarang terjadi di dunia seperti Nyai dan Annelies begitu indah, sementara di luar sana menilai jauh sebaliknya. Keberuntungan dan kegigihan Mingke adalah poin-poin utama dalam novel ini, betapa ia mencintai bumi manusianya dengan sederhana. Betapapun ia begitu gigih mempertahankan apa yang ada di dalam benaknya. Betapa cerdasnya, dan sungguh betapa beruntungnya ia. Betapa seharusnya kemudian saya berbangga dengan status saya sebagai Jawa, sekalipun ada poin di mana saya tidak bisa menerima, kepada hal-hal yang bicara mengenai segala kekolotan Jawa yang selalu-harus-selamanya berdasarkan hierarki. Tingkatan. Yang di bawah tetaplah di bawah. Hanya bisa menerima. Hanya bisa mengalah. Jawa itu sabar, Jawa Mingke mengenai 5 hal, Wisma, Wanita, Turangga, Kukila, dan Curiga. Dan filosofinya begitu indah, keindahan tersebut yang pada akhirnya saya ambil kesimpulan mengapa para leluhur bertahan dan mempertahankan. Mengapa kita semua sebagai Jawa seharusnya bertahan. Bumi manusia ini rasanya sudah semakin kosong, semakin hilang, tanpa budi dan rasa para manusianya, kelimanya menunjukkan pedoman.

Novel ini bagus. Bagus sekali. Iramanya bernyanyi terpadu, dan sang penulis berhasil menjadikannya sebagai ilmu pengetahuan yang lengkap. Hati saya tak kian berhenti merasa terderu..

A Book

Sebuah buku kembali menyadarkan saya mengenai membuka mata terhadap dunia yang kemudian menjadi semakin fana tanpanya, sebelumnya. Kira-kira hampir setahun kemarin saya lengkap tiada menyentuh sastra, setahun penuh saya tidak menyentuh panggung bahkan menikmatinya sebagai jiwa. Hampir setahun saya jauh dan bertarung menghadapi kenyataan yang menderu. Setahun lamanya saya menjadi tidak produktif, pasif, dan terlalu nyata. Setahun saya tidak membaca buku, buku sesungguhnya. Betapa rindu saya terhadap kepenulisan dan bacaan yang sesungguhnya, untuk urusan kali ini kita benar-benar harus menjauhkannya dari pengertian sekedar timeline Twitter atau blog Tumblr.

Saya berniat kembali kepada masa lalu saya. Masa lalu yang indah, yang saya bangun secara naluriah. Dan berjalan kepada hidup saya begitu lama dan melimpah. Bukan kepada masa lalu yang bersifat sementara dan menjauhkan dari diri saya yang sebenar-benarnya. Sudahlah, sudah seharusnya saya tidak lagi menyesal, termasuk menuliskan kalimat sebelum penanda akhir dari kalimat ini. Semuanya berkah dari Tuhan..

Ternyata hidup tidak sekedar yang belakangan ini saya tangisi. Hidup kembali terbuka tatkala kita kembali dimana kita memulainya.. Bukan sekedar kita bicara mengenai kelabilan sebuah pemikiran bangsa, bangsa ababil. Namun kembali kepada rasa nyaman, rasa nyaman yang selama ini, yang sejak awal, yang selalu kita kenal dan kenang.

Membaca. Salah satu kelangenan sejak saya masih balita. Sejak SD hingga bangku SMP saya selalu mendapat penghargaan atas pembaca terbanyak di sekolah. Tas, buku, jam tangan, bahkan beasiswa.. Membaca yang menemukan saya kepada cinta. Menemukan saya kepada rinaian kata-kata dan harapan kepadanya. Bahkan membaca yang mendidik saya menulis menghasilkan keuangan sementara yang kemudian saya khianati atas nama kesenangan baru yang menghampiri yang nilainya jauh lebih dangkal. Sekalipun dengan mudahnya saya dapatkan dalam waktu yang semengerjapkan mata. Betapa berangnya saya terhadap diri sendiri yang begitu menauh terhadap semua ini..

Dan terima kasih kepada Pram, yang kemudian saya menjadi penganut resminya kali ini. Setelah usai menikmati salah satu masterpiecenya yang telah begitu lama saya dambakan, dalam momen dimana kembalinya saya dari kejahiliyahan dari masa kehilangan atas jati diri saya yang lama.. Terimakasih, hasrat dan ilmu pengetahuanmu, menjadikan saya membuka mata atas diri saya yang lama. Iya, sekali lagi. Yang saya tinggalkan... Saya merintis, mencari kembali jati diri saya, menemukan yang baru dan menemukan yang lama saya tinggalkan. Saya nggak akan menyentuh siapapun yang tidak saya kehendaki sejak awal, terkecuali Kamu yang dari tahun ke tahun selalu mengehendaki saya. Hidup saya indah dan tidak mudah, nggak seharusnya siapapun berusaha masuk dan merusaknya.