Tampilkan postingan dengan label Book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Book. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Januari 2012

Bumi Manusia

Kesukaan saya terhadap seniman ini terletak di segala sudut. Pramoedya Ananta Toer, adalah sekelumit mengenai keindahan dunia. Ia begitu mengejarkan banyak mengenai sastra kepada dunia.. Seperti cerita saya mengenai buku-bukunya sebelumnya, saya baru saja menyelesaikan salah satu dari tetralogi besarnya, BUMI MANUSIA.

Hampir semua naskahnya mengenai masa lalu dengan ke-kolonial-an dan segala macam kejahiliyahan di masa penjajahan. Ia begitu luwes menceriterakan bagaimana keadaan zamannya memperlakukannya, dan tiada sedikitpun kesan mengenai kemonotonan. Sepertinya, selalu ada sisi yang dikupas begitu dalam melalui kalimat yang cerdas, puitis, sekaligus membuat kita berpikir dan merasakan betapa keagungan Tuhan menciptkan feenomena dalam cerita tersebut dan akal dari penulis yang membuatnya. Pram begitu agung, pantas saja Shelma begitu mati mencintainya.

Bumi manusia bercerita mengenai Mingke. Mingke dan cintanya, Mingke dan hidupnya, Mingke dengan segala ke-Jawanismenya dan Belandanya. Buku ini saya kenal ketika saya menjadi penggemar Pram di masa awal Selma sudah menggilainya. Dulu, saya sama sekali tidak berhasrat kepada penulisnya, ia begitu merubah Selma.. Saya menikmati semua untaian kata-katanya, seperti biasa. Dan saya belum berhasilpun membacanya, apalagi keempatnya..Tetralogi yang saya habiskan sampai detik ini hanya sekedar Laasakar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Dan alhamdulillah, hasrat itu datang lagi untuk kali ini..

Bumi manusia memiliki banyak tokoh di dalamnya dengan keberagaman yang menyesuaikan bentuk, kondisi hidup Mingke di dalamnya. Dan kehadiran tokoh-tokoh tersebut dengan motif dan latar belakang yang tepat menjadikan buku ini semakin bicara, tidak sekedar dari sudut Mingke sebagai tokoh utama melihat. Setting yang digambarkan begitu detail, dan kemudian sastra memudahkan semuanya untuk diungkapkan. Bahasanya begituuuuuuuuu indah. Dan saya jatuh cinta. KOK BISA SIH, saya gemes sendiri. Tokoh Mingke yang dengan tegap gagah dan begitu muda seakan mudah dilihat oleh Pram yang pada saat itu dengan keterbatasannya di pulau Buru. Kultur yang begitu melekat, menampakkan nasionalisme yang kental dan tegar. Sosok masa depan begitu ada pada diri Mingke dan seolah-olah semua bentuk kehidupan sekarang telah diramalkan melalui sosok Mingke. Konflik dalam novel ini merupakan konflik sederhana kehidupan pribumi terhadap kolonialisme yang labil dan penuh kuasa, perseteruan mengenai status dan menuntut satu sama lain. Mengenai pandangan subjektif dan bagaimana menyakinkannya, barang satu dua hal yang jarang terjadi di dunia seperti Nyai dan Annelies begitu indah, sementara di luar sana menilai jauh sebaliknya. Keberuntungan dan kegigihan Mingke adalah poin-poin utama dalam novel ini, betapa ia mencintai bumi manusianya dengan sederhana. Betapapun ia begitu gigih mempertahankan apa yang ada di dalam benaknya. Betapa cerdasnya, dan sungguh betapa beruntungnya ia. Betapa seharusnya kemudian saya berbangga dengan status saya sebagai Jawa, sekalipun ada poin di mana saya tidak bisa menerima, kepada hal-hal yang bicara mengenai segala kekolotan Jawa yang selalu-harus-selamanya berdasarkan hierarki. Tingkatan. Yang di bawah tetaplah di bawah. Hanya bisa menerima. Hanya bisa mengalah. Jawa itu sabar, Jawa Mingke mengenai 5 hal, Wisma, Wanita, Turangga, Kukila, dan Curiga. Dan filosofinya begitu indah, keindahan tersebut yang pada akhirnya saya ambil kesimpulan mengapa para leluhur bertahan dan mempertahankan. Mengapa kita semua sebagai Jawa seharusnya bertahan. Bumi manusia ini rasanya sudah semakin kosong, semakin hilang, tanpa budi dan rasa para manusianya, kelimanya menunjukkan pedoman.

Novel ini bagus. Bagus sekali. Iramanya bernyanyi terpadu, dan sang penulis berhasil menjadikannya sebagai ilmu pengetahuan yang lengkap. Hati saya tak kian berhenti merasa terderu..

Jumat, 18 Maret 2011

Bukan Pasar Malam




Dari dulu sebenernya saya adalah pembaca terbaik sekaligus terburuk. Saya akan membaca sesuai harapan dan aliran saya, Iya kadan baca sesuka hati saya, tapi sebenernya saya pembaca segala kok. Yak, kecuali tulisan mengenai barisan angka-angka. Dari dulu saya juga ngga niat sama yg namanya angka, sekalipun nilai matematika saya yah cukup berpengalaman lah sama nilai 90 atau bahkan 100 dari kecil. Oke, ngga penting.

Semenjak saya menjadi mahasiswa, harus saya akui saya jarang sekali membaca buku. Saya sangat jarang sekali menulis lagi, oke. Banyak hal-hal baru yg menarik minat dan rasa penasaran saya sebagai manusia muda untuk ada di dalamnya, kemudian berusaha mengeksplorasi milik saya sendiri. Jadi, kesukaan saya yg telah menjadi identitas saya tsb, keduanya kini saya abaikan, saya tinggalkan, saya (agak) lupakan. Dan akhirnya saya sendiri yg merasa kehilangan. Saya merasa menemukan diri saya dalam kedua hal tersebut dan bicara jujur mengenai kehidupan saya.





Kali ini saya menemukan buku lain dari Mr. Pram, sebagai Pramis yg tidak terlalu teradiksi.. saya selalu mengagumi bahasa, kata, dan jiwa yg ada dalam setiap buku Pram. Padahal orangtua itu sudah jauh mendahului saya, luput dari dunia fana ini. bahkan saya tidak begitu mengenal beliau, jauh berbeda dengan manusia seperti Ike.

Bukan Pasar Malam, sebuah roman lama, yg kemudian bernasib sama dengan buku-buku Pramoedya lainnya, dianugerahi dan dicetak ulang. Menemukan saya kepada kehidupan lain, menginformasikan lagi scene-scene terbaru mengenai masa lampau. Masa lalu yg selalu ada mengenai Pramoedya Ananta Toer.
Cerita ini sebenarnya sederhana saja tapi Pramoedya berhasil memakainya untuk memotret situasi sosial ekonomi rakyat yang menderita akibat konflik politik. Pramoedya dengan piawai memakai suasana personal kemudian menggunakan tokoh Aku dalam buku ini sebagai penganta dan tokoh bapak untuk menggambarkan derita rakyat - kemiskinan, kematian, kesedihan - akibat revolusi fisik.

Roman, buat saya roman hanya akan mengenai masa lalu dan Pram. Bahasa beliau sungguh membuat saya jatuh cinta, beliau adalah sastrawan, seniman, dan penulis favorit saya di dunia. Setelah sastra, Komik Doraemon, gober bebek, monica, buku-buku travelling, novel fiksi, saya kemudian menyukai jenis buku seperti ini. Oke, dan roman yg satu ini tidak sedahsyat roman-roman sebelumnya, cukup membosankan karena diiringi sejarah-sejarah yg kerap kali dibahas di setiap roman yg ada mengenai Indonesia dalam masa penjajahan.

Dan setiap buku yg saya baca akan memberikan sesuatu kepada saya. Sekalipun dari sebuah barisan huruf-huruf yang tertulis masal di dalamnya. Dalam buku, Bukan Pasar Malam, sekalipun merupakan buku lama, menjelaskan bahwa dunia ini tiidak sekedar dunia seperti pasar malam, di mana seorang-seorang datang, kemudian seorang-seorang pergi, dan sisanya orang-orang lain yg menunggu dan menjadi sisa kemudian membersihkan hasil-hasil dari orang-orang yg datang dan pergi begitu saja. Yang saya tafsirkan adalah, dunia harusnya jadi tempat menetap bagi manusia, tidak sekedar singgahan, di mana manusia itu bisa memberikan sedikit banyak hal baik terhadap dunia itu sendiri agar manusia hidupnya atau bahkan hidup manusia lainnya dapat menjadi lebih baik atau bahkan lebih bermanfaat. Saya memaknainya dengan baik, saya memikirkannya loh teman-teman! :D


Oke, postingan kali ini adalah mengenai buku yg baru saja saya baca. Terima Kasih.

Rabu, 07 April 2010

Gadis Pantai




Kali ini saya mau bercerita mengenai buku yang say abaca. Dari SD sampe SMP saya nggak pernah yang namanya nggak dapet gelar ‘yang terbanyak membaca buku’. Dulu waktu SD saya dapetnya buku-buku, terus pas SMP saya sempet dapet tas sama jam tangan lah apa lah.(bangga hahah) yang lebih menyenangkan kalo dapet gelar gituan saya dipanggil pas upacara, apalagi pas SMP. Kalo saya dipanggil, Ali pasti ngeliat saya, haha.

Waktu SMA saya jarang baca, satu tahun cuma paling 40 buku kali ya, udah termasuk buku pelajaran, atau sekedar artikel- artikel internet. Majalah sama Koran aja saya jarang baca, akhir-akhhir ini. Kalo dulu 1 semester saya tercatat minjem buku 99 buku kalo nggak salah. Ckck zaman memang mudah merubah seseorang. Di SMA saya begitu banyak menemukan hal-hal yang sebelumnya nggak pernah saya temuin, jadi saya keasyikan. Tapi, ternyata saya emang cinta sama buku, sama kalimat, paragraf, dan sejenisnya. Dan ceritanya kali ini saya menemukan jalan pulang.

Buku itu kunci dari sebuah mimpi, bekal saat bergosip sama orang-orang, atau pamer ilmu pengetahuan yang sederhana. Buku bisa merubah cara kita sendiri dalam menghadapi sesuatu, buku dapat mengaliri tiap hitungan langkah kita kemanapun, buku dapat menguatkan iman, menemani di jamban atau di pasar.

Saya dipinjemin sama Aisya sebuah buku Bapaknya. Dari dulu sih saya suka tulisannya Pak Pram ini, tapi saya cuma baca di internet atau nggak ngerobek sikit di Gramed dan baca depannya aja. Oh ya, dulu say amah kalo punya duit buat beli buku, sekarang saya makin pelit buat beli buku doang. :8

Kali ini saya membaca untuk menguatkan saya tentang Lemma, sampulnya yang khas dan warna cover bukunya yang menyejukkan hati menjadi bagian dari alasan untuk terus menyelesaikannya.

Buku ini mengenai feodalisme Jawa, yang sangat miris. Diiringi periodeisasi sejarah yang begitu melengkapi ceritanya menjadi amat klasik dan nyata. Buku ini member cerminan masa lalu yang begitu nyata perbedaannya dari yang priyayi dengan orang-orang kampong nelayan. Ari sebuah prestise yag nantinya jadi sebuah penghinaan dan masih menjadi kepedihan yang berlanjut. Judulnya Gadis Pantai, oleh Pramoedya Ananta Toer.

Sekarang saya sudah mengerti benar mengapa neng Aisya begitu mencintainya. Saat ini saya akan lebih mencintai karyanya Mister Pram.

Buku ini menjadi jalan pulang untuk saya kembali menciintai karya sastra yang murni yang tercetak dalam sebuah buku. Sekalipun hanya fiksi, buku ini dengan kalimat-kalimatnya mampu menggambarkan dengan sempurna mengenai gadis pantai dan nasibnya, juga kehidupan pada zaman itu.

Bravo, lah!