Menjalin sahutan dari raut sebuah wajah, aku menunduk malu. Terdiam dan menjadi gila. Merajuk datar hati agar tidak lagi ia terjatuh di sepasang mata yang bening lagi merayu. Sayangnya angin tidak merelakan aku diam, mengajakku tersenyum di sela-selanya ia menggelitik perasaanku.Seharusnya aku melepas dulu kejiwaanku kali ini, tidak lagi bermain dengan rasa-rasa yang entah berapa menit selanjutnya akan menghilang dan meninggalkan tumpukan asa yang sia-sia kembali. Aku tidak terlepas dari bagian kali ini dan membayangkannya menjadi oase sepi yang indah, membenahi jiwaku.Angin memeluk dan terbujurlah kemudian di titik kesekian aku mengukir sebuah garis imajiner yang terlunta akan kejiwaanku yang mendamba hujan, air selamanya. Di antara nestapa yang sengaja ku ukir dengan garis tebal, hingga hiduplah aku. Rasanya begitu dingin, ketika menggila dan mengingatmu.
Rabu, 24 Juli 2013
Menggila.
Selasa, 18 Juni 2013
How I Miss You, Damn
Rasanya seperti kita menelan diri kita habis-habis. Kemudian tidak lagi ditemukan selamanya...
Hanya kepada mimpi yang dirajut siang itu, ketika kita pertama kali menjejakkan kaki di permadani rumput yang sama, menggerus mendung di atas sana. Dan kita membisikkan nama masing-masing.Rasanya sejak itu pula, aku menemukan bagian diriku yang lain. Yang sebelumnya Tuhan sembunyikan jauh-jauh dan kemudian dihadiahkan padaku di saat yang begitu indah. Sebuah rumah tanpa batas dan aku menjatuhkan diriku kepadanya dalam-dalam. Dan hanyut.
Rasanya..
Rasanya akan seperti apa nanti, kalau kita masih akan saling menyayangi sampai beberapa dekade ke depan nanti..
:") :")
Rabu, 05 Juni 2013
Hmm..
Jatuh
cinta terkadang menjadi sebuah kesalah besar yang fatal yang terjadi di antara
kita. Terlebih kepada manusia yang kerap kali mengeluh dia mudah sekali
menyerah dan mati. Manusia seperti itu butuh semangat yang tinggi, setiap
detiknya ia hidup dengan cintanya. Hanya saja, terkadang cintanya kadung rapuh,
dan segera saja ia menguasainya.
Jadi,
terkadang manusia seperti itu tidak tahu ingin kemana. Menjadi marah akan
dirinya sendiri. Mengingkari janjinya sendiri. Menjadi rapuh. Menjadi buih, dan
berusaha menjadi lupa agar hidupnya berjalan kembali. Namun, sialnya hal yang
memalukan itu cenderung nyata, tidak bisa bahkan disingkirkan. Cenderung gelap,
tidak bisa ia diterka bagaimana ia ada. Dan terlalu dekat, di hadapan matanya
yang sayu.
Jatuh
cinta di antara banyak pintu, menjatuhkan, menyesatkan dan mematahkan hati
orang-orang yang ingin menumbuhkan hatinya. Dia sudah bersumpah, ia akan
menjauhi hal semacam itu. Satu-satunya yang ia lakoni hingga saat ini dan berbuah akan
kebingungan semacam ini. Menjadikan ia hilang dan tidak menjadikan apa-apa, hanya membuahkan cemburu juga rindu. Tapi tetap tidak terjadi apa-apa.
Selama
tidak ia umbar kisah cinta bodohnya ke sosial media. Selama ia tidak
menggeleparkan dirinya sebagai perempuan murahan yang haus akan belaian
laki-laki dengan berpindah hati satu dengan lainnya secepat matahari turun ke
peradabannya di sore hari. Selama ia tidak ingin dipuja sana-sini bahkan
dengan orang-orang yang sebenarnya membencinya.. ia berjalan tenang dengan kisah bodohnya,
dengan pintu-pintu yang masih ragu ia buka.. selama belum ada yang membukakan untuknya. Pintu hatinya ia kunci serapat-rapatnya, selama ia belum tau maksud dari
cinta selain menciptakan kecewa dan rindu yang penuh siksa. Ia berjalan tenang…
Rabu, 27 Februari 2013
RECTOVERSO : Cinta yang tak terucap.
Sudah
berapa banyak kisah cinta yang diceritakan lewat film. Setuju saya, rasanya
semuanya sama, terlalu berperasaan dan menye-menye. Sampai kita merasakannya
sendiri, bukan sekedar membangun imajinasi melalui film dengan talent cantik
dan rupawan, yang sebenernya teralu dangkal untuk dirasa-rasa. Karena itulah,
orang yang membuat film drama itu merupakan orang yang sukses batinnya soal pengalaman
perasaan, plus kalo filmnya emang ngga mainstream dan mewujudkan imajinasi
penontonnya ngga sedangkal ketika mendengar ‘drama’ dan ‘cinta’ yang dijual di
awal. Beneran bikin kerasa dan lebihnya bisa bikin nangis, gitu.
Rectoverso,
sebelum tayang di bioskop ini ceritanya sempet mampir ke kampus saya, lebih
tepatnya sebagai proker divisi saya ‘Ngobrol Bareng Director’ di bulan Januari
dengan empat sutradara cantik yang dateng sosialisasi film dan karir mereka
sebagai sutradara di Solo. Alhamdulillahnya, sakseus menjaring para penggemar
cewek gemes dan penonton di Solo. Sedihnya baru di akhir Pebruari saya nonton
filmnya.
Film
Rectoverso ini, film garapan artis-artis cantik yang pertama kali jadi
sutradara. That’s Marcella Zalianty sekaligus produser yang menggarap Malaikat
Juga Tahu. Cathy Sharon dengan Cicak di Dinding. Rachel Maryam menggarap
Firasat. Happy Salma dengan Hanya Isyarat. Dan Olga Lidya Curhat Buat Sahabat. Semacem
omnibus gitu, dalam satu film ada 5 cerita. Dan menurutku filmnya bagus.
Meskipun
ada beberapa bloopers, tapi mbak-mbak sutradaranya meyakinkan kita penontonnya,
bahwa membuat film adaptasi dari sabuah tulisan itu ngga dibuat main-main. Selain
dalem, talents dalam film ini adalah aktor-aktris yang aktingnya bisa banget. Mengingat
Lukman Sardi yang selalu cool dan Indra Birowo yang selalu lawak di peran-peran
luar film ini. Sehingga… waktu denger dialognya sekalian disuguhi mimik yang
bener-bener syahdu itu rasanya sesuatu banget.
Malaikat
Juga Tahu itu ngajarin saya banget kalo teman-teman yang autis itu ngga bisa
banget diremehin. Mereka bahkan punya cara yang menurutku ya istimewa ketika
dia bicara soal perasaan. Dan ketulusan mereka ngga bisa disangsikan, mereka
semacem disiplin soal perasaan, mengaturnya baik-baik.. meskipun disebut
filmnya sebaik-baiknya aturan kita sebagai manusia biasa ngga bisa sedikitpun
berlaku di hidupnya.
Cicak
di Dinding, mengajarkan saya filosofi cicak yang saya ilfeel nya sumpah demi surga
dan neraka. Kehadiran seseorang ngga bisa ditentukan, tapi cicak itu bisa
selalu ada. Dimanapun. Cicak yang menjaga manusia dari nyamuk. Cicak yang
menjaga orang yang dicintainya, di dinding maupun di pinggang.
Ada
juga Firasat yang bikin saya berisik sendiri melototin Mas Dwi Sasono. Dan sedikit
menjebak di akhir soal firasat-firasat yang digambarkan. Dan yang menyenangkan
di film ini, menemukan jawaban di akhir soal alasan kenapa-kenapanya.. jadi
penonton punya space sendiri buat menebak-nebak. Seneng-seneng tebakannya
bener. Dan di film firasat, menggambarkan bait-bait Kepasrahan Awan-nya
Larasati buat senjata nge-gombal itu romantisnya minta ampun.
Hanya
Isyarat. Yang paling sederhana dan ngga kalah dalem. Isyarat zaman sekarang
alias kode di Twitter itu ngga ada apa-apanya ya dengan isyarat di film ini,
maksudnya secara penyampaian tokohnya juga semacem kode-kode santai. Tapi pas
denger filosofi ‘punggung’, rasanya ikut miris juga. Semacam menyampaikan,“saya
adalah orang yang paling bersedih soal punggung itu, karena pada akhirnya saya
tau apa yang ngga bisa saya miliki”.
Dan..
‘Curhat Buat Sahabat’ itu sebenernya yang bikin miris. Pasti sedih banget. Ya biasa
lah, sahabatan trus yang cowok sayang banget sama ceweknya. Ceweknya gonta-ganti
pacar. Sahabatnya tetep setia. Cerita-cerita sama flashback gitu aja kasarnya
bentuk film yang ini, tapi… pembicaraannya emang dalem-dalem. Dan yang bikin
saya kerenyuh adalah ketika disandingkan air putih dan wine yang 2 sahabat ini
lagi minum. Air putih dihabisin, wine tersisa banyak. Tuh, laki-laki yang
sayangnya bener-bener tulus begitu ya. Sampe sakit, juga ditahan..
Kelima
cerita semuanya diam. Meskipun riuh di dalemnya. Tapi, kalo menurut saya mereka
semua indah. Paling ngga belajar cerita cinta yang lain yang kali ini ngga
sedangkal yang seperti ftv-ftv cinta seperti biasanya.. filmnya bagoos..
Senin, 18 Februari 2013
Milk Bath, treats me alright..
February
is always be mine. Selama hampir dua bulan ini, rasanya liburan panjang
mahasiswa rantauan yang pulang ke rumah ngga afdol tanpa treatment yang
ngebantu banget meluruskan otak sekaligus perasaan, selain rileksasi. Setelah
sebelumnya dikasi dana buat ngebersihin muka, dapet modal lagi buat manjain
tubuh itu rasanya seneng banget. Inget kalo di Solo, sampe sekarang belom
nemuin tempat lulur dan facial yang cucok. Dan, tinggal di Solo menjadikan saya
perempuan yang berkulit lebih kusam entah kenapa alesannya. Padahal air di
ibukota sama di Solo, orang selalu prefer yang jauh dari kota Jakarta. Mandipun
kadar semangatnya masih balance kalo dirasa-rasa..
Woman’s
heavens are that body massage, scrubbing, masking, and milk bath.. berhubung
yang bleaching emang ngga sehat. Tapi ketahuilah, sebagai perempuan rasanya
nikmat banget dapet perlakuan nyaman bertubi-tubi dari body spa.. efek dari
umur sekarang mikirnya pun,meski ngga langsung kinclong, rasanya badan kalo
bersih itu priceless banget...
Minggu, 17 Februari 2013
#MeWithMyBestFriends
You know, you always have people that you won't forget whenever it'll be. Just because their love to you, then you can't be with them bcs you love them so. For me, 8 years until now without fake relationship around us, it makes me feel so proud of our way girls.. Thanks, for accepted me like the real way I am. Me love you so girls xoxo<3 p="">
Kelas Unggulan sebelom kepisah :)
Abis nemenin nganter surat cinta buat gebetan eug<3 p="">
3>
3>
Anak Kelas 2 SMP yang nekat ke Bogor bertiga doang.. nyobain kereta. The first time buat Once!
Perpisahan di Taman Bunga Puncak, tetep ngga mau misah :")
One of our meeting when we're on Hi School
Menuju kuliah :O
Kuliahan tingkat kedua
Buka puasa terakhir kemaren
Last Holiday
God knows I'm trying
Sejujurnya
saya cuma males menjadi Orang-Jujur-yang-Kemudian-Diremehkan-dan-Hanya-Memuaskan-Orang-Orang-Kepo-dan-Tukang-Ikut-Ikut
sih.
Mungkin
itu adalah alasan yang paling kuat mengenai kenapa saya jarang mengeditorialkan
diri saya di dalam blog ini. Saya sudah semakin tua, rasanya mini blogger sudah
paling efisien merefleksikan perasaan dan jiwa raga saya, dan berpuisi
tiba-tiba menjadi mainstream karena begitu banyak sudah saat ini orang mencoba
apa yang tidak seharusnya mereka coba. Ngga, ngga ngejudge kok. Emangnya dosen
gue yang dengan senang hati bilang tulisan orang lain jelek. Sedangkan sendirinya
bahkan belom mengkonsepkan subjektivitasnya soal ‘melihat’ orang lain.
Sudah
menuju 3 tahun saya tinggal di Surakarta. Ngga genap sih, kan masih sering
bolak-balik. Saya sekarang seneng banget terjebak sama hal-hal instan. Kegiatan
menyenangkan zaman sekarang ini semuanya, sifatnya semu. Dibela-belain seneng,
di ujung, rasanya tetep sama: ngga memuaskan. Makanya saya selalu bersikap
seolah-olah.. ya memang sedang di ujung tanduk. Saya membalik diri saya jadi
orang yang.. apa ya.. ibaratnya lelet lah gitu. Sensitivitas saya mati, bagi
perasaan-perasaan tertentu yang dalam.
Liburan
di Jakarta kali ini adalah liburan yang benar-benar mahasiswa. Sebelum pada
akhirnya, kita diperlihatkan lebih luas lagi soal dunia tua. Senengnya masih
bisa marathon ngelepas kangen, berhasil quality time sama sahabat-sahabat dari
TK-sampe SMA yang sayangnya masih pol-polan ngga berubah. Poor me, belom ketemu
Abang sama anak-anak Sligro.
By
the way, dalam dua bulan terakhir senengnya lagi bisa ngurusin dua acaranya
@Kineunssolo. Ngobrol Bareng Director Rectoverso dan Pemutaran Kecil Mata
Tertutup. Trus selain itu saya juga urus magang-gang-gang yang suratnya ngga
jadi-jadi. Padahal saya mau memanfaatkan liburan panjang ini buat mengurus
semuanya.
Porsi
liburannya sebenernya cukup. Cuma kadang cek-cok rumah tangga menghancurkan hati
saya. Untungnya baby Aisyah brighten up my life back. Saya anak yang
berbahagia, cuma emang kadang orangtua saya lebainya ampun-ampunan aja. But that’s
a life. I’m ready, back to campus life..
Langganan:
Postingan (Atom)
















