Sabtu, 30 Juli 2011

Etalaseku..

Kita tidak akan benar-benar terluka, hingga kita mensugestikan bahwa kita sudah terlualu buanyak berjuang, kepada apa yg sebenarnya sudah seharusnya kita perjuangkan. Elegi begitu dekat dengan kita, terlebih kepada tombak-tombak rindu yang mengantarmu pulang malam itu, seperti rinai air yang gemericik menemani kita malam-malam itu. Sudah seharusnya kita saling melepas, tapi rindu tak jua melepasku. Egoku bercampur dengan deruan suaramu di ujung sana, dan aku kian menangis hingga aku tak lagi kuat menahanmu. Sebenarnya, apa lagi yang harus dibicarakan? Sebenarnya aku yang harusnya tidak menangis dan mudah melepasmu jauh-jauh. Tapi aku begitu ingin menghargaimu dan begitu mengenal kamu 

Suatu hari ada anak laki-laki mencoba menyentuhku, ketika aku dirundung pilu. Dia datang memelukku lekat-lekat, tanpa sedikitpun aku menengoknya. Kemudian ia tetap mengikuti, hingga suatu hari di malam besarnya ia memintaku memeluknya. Dan seperti doa-doa yg ia tuliskan tiap harinya mengenai aku. Dalam perjanjian kecil untuk tidak saling menyakiti. Anak laki-laki itu begitu santun, ia senang memelukku dan tidur lelap-lelap di dadaku. Ia senang sekali membaca, membaca pikiranku. Tanpa ia peduli apakah akan benar ataupun akan salah. Ia yg menjadikan aku satu-satunya perempuan yang meniup pipinya dengan keras dan dia satu-satunya laki-laki yang kuizinkan memakan hidungku nan besar. Anak laki-laki itu begitu menyatu kepadaku. Anak laki-laki itu begitu bersemangat mengantarku. Lalu kubuat ia begitu tampan dalam imajinasiku, ia begitu cantik tatkala membuka semburat mata tipisnya. Dan aku mengecupnya lekat-lekat.

Suatu siang, kegalauanku datang pelan-pelan. Aku memintanya meninggalkanku, hingga ia menghapusnya perlahan. Berlanjut selanjutnya, hingga aku habis menangis. Perasaannya ia buang jauh-jauh, entah satu hal tersebut yg aku tidak lagi mengerti. Aku sejak itu mengerti laki-laki begitu lemah mengenai perasaan.
Saat egokku menggulung dan ia tak pernah lagi sedikitpun lagi di sana, anak laki-laki itu aku lepaskan jauh-jauh. Sejauh jarak khayangan menuju dasar laut. Sejauh anganku kepada dunia-dunia yg tak pernah usei. Hingga elegi menjatuhiku lagi, membuka toko dan mengisi etalasenya penuh-penuh dengan lolipop warna-warni tanpa harga-harga di hadapan anak-anak di depan toko yang haus akan kebahagiaan.
Etalasenya jadi kosong. Tebak siapa yg akan bahagia dan akan bersedih? Tebak siapa yg akan menuai karma?

God

Kamu harus bisa membedakan. Mana yg sandiwara dan diri kamu seutuhnya. Kamu harus bisa membedakan mana hatimu dan mana yg bukan milikmu. Kamu harus tau, siapa yg pamer atau yang tidak mampu. Kamu harus bedakan mana yg benar dan mana yg salah. Kamu harus bisa bedakan, mana bahasa ketakutan dan mana yang kalah sebenarnya.

Jadi, hidup adalah hal-hal yang sulit dan rumit. Kamu tidak akan mungkin membacanya baik-baik ketika kamu menjadi orang yang dipandang orang lain. Justru kamu akan memperbaikinya ketika kamu tenggelam, merayap, dan membenahi semuanya dengan tutur yang rinai dan tenang. Kamu akan menghela tiap hembusannya setiap kamu menangis tanpa siapapun dapat membacamu. Hidup ini tidak mudah, sayang. Ketika kau telah lewati hari berikutnya kau akan tau mengapa semuanya terjadi begitu cepat dan penuh penyesalan. Jadi nikmati dulu baris tangisan tiap sorenya.

Me here hug you tightly
Yours, God.

Jumat, 22 Juli 2011

Musik

Pernah mendengar musik adalah salah satu inspirasi terbesar dalam hidup? Buat saya inspirasi dapat dihadirkan di seluruh sudut hidup, dari sudut nol derajat sampai sudut pantat. Percaya kan pantat ada sudutnya? Oke abaikan.

Musik kadang dengan mudahnya mematahkan hati saya, musik seringnya memperlambat jiwa raga saya. Musik di Negara saya seringnya soal cinta, padahal mendayu-dayu dan pasaran, tapi tetep aja kalo ngerasa lagu atau musiknya kaya dejavu sama hidupnya sendiri, pasti diulang-ulang terus dan mbibik-mbibik sepanjang zaman. Ya musik cinta memang selamanya membawa elegi. Saya nggak mangkir, saya kadang suka berdesis-desis nyanyi lagu menye-menye di antara kegiatan kepembantuan saya di rumah, ya masak, ngepel, atau bahkan nyuapin alien satu di rumah.

By the way, saya selalu suka sama satu jenis musik, namanya jazz. Meskipun Bapake dan Nyonya Pecel (baca: Mbok saya) bukan seniman atau musisi handal ala-ala Memes dan Adi Ms, tapi saya selalu suka jenis musik klasik tersebut. Ya sejak saya SMP zaman awal-awal kenal Maliq & The Essentials, lagu terdiam. Musisi jazz yang pertama saya kenal. Soalnya sebelumnya, jaman dulu saya cuma kenal Westlife sama Mariah Carey, yah lagu-lagu yg ada di kaset BIG, BIGGER kompilasi yang gambarnya burger. Maklum jaman dulu ga kenal mp3, buka internet aja dulu cuma ngecek friendster.

Sampai saya dewasa, acaelah.. menuju SMA saya baru kenal deh tuh lain-lainnya musik. Tapi pada akhirnya lagi sampai saat ini, ternyata selera saya nggak berubah. Banyak musisi dengan jenis musik jazz tapi anehnya saya nggak suka. Jazz cenderung absrak dan warnanya jauh. Di orang awampun lebih terkenal marjinal rocker-metal-gahoel gitu timbang orang-orang tau Angga dkk.

Bukannya saya nggak buka mata hati telinga nih, saya emang tipikal setia sama beginian, sama semua aspek dalam hidup saya juga (oke abaikan lagi). Saya masih suka musiknya musisi kesukaan saya, dibilang yang itu-itu aja sih saya bodo amat. Tapi selain itu berawal dari satu kesukaan, akhirnya saya nemuin lagi makhluk-makhluk klasik dari Sore ze band, band kesukaan saya.
Mereka pembawa musik eksperimental kalo saya bilang, alunan jazznya puitis dan nggak pasaran. Mereka bawa musik tradisional juga melalui keroncong, btw musik jadulnya juga malah nggak nyaruin sama musik-musik yg ada zaman sekarang. Lirik-lirik absurditasnya menjadikan kita berpikir lebih soal lagunya, kaya nyaranin dalam hidup kadang kita bener-bener harus mencerna dengan baik apa yg ada.

Saya suka banget satu lagu dari jaman awal SMA dulu, judulnya etalase. Nanti saya ceritain lebih. Sore buat saya sama seperti makna sebenarnya, ngasi keteduhan lebih bagi siapapun yg udah lama ditempa sama panasnya siang. Sekalipun semua temen saya kadang suka bilang kalo denger lagu sore pasti ngantuk, tapi buat saya dibuai kengantukan sambil penuh pikiran itu nikmat, kalo kita berpikir salah, kita masih bisa merasakan samos libres alias bebes lepas, ngga harus disalahkan siapapun, karena kondisi kengantukan tersebut.

Ide-ide saya, kondisi mereka sbg band indie juga kali ya yg pada akhirnya membentuk mereka bisa sekreatif gitu, sekalipun kadang bunyinya suka angker, saya seneng banget bisa dapertin makna dan kebebasan sendiri setelah dengerin lagu-lagunya. Ibarat sensasi nih ye.

Weldut, itu cerita saya, BTW lagi, bagi pecinta musik, temukan makna lebih dari musik situ yak biar inspirasi yg didapet bisa maksimal hehe. Kita nggak wajib berkarya, yang wajib itu apresiasinya, jangan lupa untuk terus menghargai para pemusik kita. *BRB NADAH KALENG*

Sabtu, 16 Juli 2011

Ayo Renovasi

Ada hal yang lebih baik dari sakit hati? Tuhan sering bicara, kita yang jarang mendengarkanNya. Setiap manusia memiliki patahan-patahan sendiri terhadap hatinya, kemudian mereka membangunnya kembali. Kita semua punya waktu untuk memainkan drama kecil ini. Yang kita butuhkan hanya kekuatan untuk menghentikan tangis sejenak dan mengadu ke siapapun yang menarik kita, kita akan melihatnya betapa semuanya menjadi baik-baik saja, di luar penglihatan kita.


Saya tidak lebih baik dari siapapun, bahkan saya pernah bilang kalo saya yang terburuk. Saya hanya enggan disalahkan atas apa yang tidak saya lakukan dengan kesalahan, saya adalah salah satunya yang selalu mengusahakan semuanya dengan benar, sekalipun cenderung melampaui batas dan tidak masuk akal, saya membuat semuanya beralasan dan itu semua cukup bagi saya. Saya menyedihkan dan miris, tapi saya enggan peduli dengan pikiran buruk orang selamanya mengenai saya.


Tapi tidak lebih miris bagi siapapun yang kemudian berusaha menjatuhkan saya dengan arogansinya, siapapun yang menyangka saya akan selamanya menyesal. Saya tidak sempurna, saya membutuhkan hal-hal yang baik untuk melengkapi saya, saya bisa saja sejak awal menjadi batu yang segera meninggalkan sungai nan terus dan biasa mengaliri saya, yang kemudian membawa saya kepada dasar-dasar samudera yang menemukan saya dengan yang lainnya ataupun aliran tersebut kembali. Tapi saya masih nyaman dan saya enggan beranjak, mungkin karena Tuhan juga masih enggan menjatuhkan deras hujan yang menjadikan sungai semakin deras menghantam saya.


Saya masih percaya, deras airnya akan membentuk permukaan saya menjadi lebih halus. Namun di satu sisi, akan jauh lebih baik rasanya ketika saya memikirkan sosok laut yang lebih tenang dan dalam yang akan menidurkan saya di dasarnya, bukan?
Saya akan seperti ini kalau ada alasannya, entah bagaimana perasaan seseorang yang sedang merapihkan hatinya kemudian disampaikan pernyataan bahwa ia tidak lagi dicintai oleh satu hal yang sedang ia berusaha perbaiki? Rasanya memang tidak salah, tapi yang jelas itu jauh lebih menyakitkan daripada berada di terpaan sinar ultraviolet tanpa saringan atmosfer yang bergabung dengan jenjangan panas bumi yang murka melalui letusan ribuan gunung berapi di atasnya. Oke, berlebihan.Tapi, itu adalah perasaan yang buruk. Saya belajar banyak, kawan. Toh dari awal bukan saya yang memintanya, saya hanya menjaga rejeki saya, kalo emang bukan rejekinya nggak bisa kan dipaksa, seperti kata seseorang. :)


Berkaca sejenak ya teman-teman, nggak ada alasan yang baik untuk menyakiti hati siapapun dengan segala hal dan pikiran yang kamu miliki, dengan arogansimu, dengan guyonanmu. Semakin dewasa, semakin banyak yang akan menjadi pertanyaan, suatu hari kita akan ditanyakan kepada hidup, malaikat, bahkan Tuhan. Temukanlah, dan jadikan itu idealisme hidupmu, bukan menemukan yg orang lain telah temukan kemudian kau samakan dengan jalan hidupmu secar utuh. Seorang penjiplak idealisme tidak lebih baik daripada maling ayam yg tobat di jalan pulang kemudian mengembalikan ayam curian kepada pemiliknya. Make your own life better :)

Minggu, 10 Juli 2011

Mati suri di taman- Sore

Ada yang aneh di sebuah sudut mataku.
Wanita yang menelanjangi mataku, matanya deras, dan disambar deru air sungai di belakangnya. Ia terpaku di belakang batu..
Wanita bercermin lewat air yang melaluinya..
Air membelainya hangat-hangat dan wanita menjatuhkan lengan-lengannya kepada langit
Ia mengadah kepada Tuhan yang ia anggap ada..
Ia berlindung pada tiupan angin yang menusuknya dalam-dalam

Wanita itu adalah aku, sebuah roman ciptaan Tuhan. Ia membuka dirinya kepada alam dan berharap satu hal mengikatnya lekat-lekat tanpa ia harus membelikannya sebotol perekat. Wanita itu hampir mati dideru kelam pikirannya, ia mendesah penuh harapan. Ia hanya ingin melewati perasaan dan waktu yang samakin hari menyiksanya.. Ia mencari dunia. Ia mati di tengah perjalanan.

“Tolong, ada yang ingin aku bicarakan. Tidakkah engkau berkasihan kepada hidupku yang telah layu. Aku akan menyusul Tuhan kali ini, menyusul mata-mata yang telah melewati kita semua, tolong berikan mauku..”

“Mau apa?”

“Mau cinta, Tuan. Waktuku akan segera habis, matari akan merenggutku dengan sinarnya. Aku akan merinai seiring suara-suara dunia yang meninggi dan menjemputku esok hari. Aku hanya ingin menjadi cinta, bagi siapapun, dan mati tanpa harus merasa bersalah kepada apapun, kemudian dirindukan, dan aku tidak lagi berkesedihan, pasti akan menjadi cerita yg menarik di akhirat, nanti..” ia tersenyum renyah..

“Aku tidak mengenal apa itu cinta..”

“Cinta, Tuan? Cinta itu ketika kita memadu hasrat, membutuhkan satu sesama lain.. Seperti matamu yang selalu aku butuhkan untuk memperhatikan bentuk tubuh dan jiwaku.. seperti engkau yang butuh aku sebagai pijakanmu hidup.. tempatmu terlelap..”

“Aku tidak butuh cinta.”

“Aku butuh Tuan. Aku tidak ingin melihat wajah-wajah murung di sekitaran sungai ketika aku membasuh seluruh tubuhku. Aku tidak ingin lagi berbicara kepada beruang yang akan menerkamku tentang hatiku yang hilang.. Aku ingin dicintai dengan baik Tuan..”

“Tidak, aku tidak bisa lagi meraihmu.”

Wanita berjalan gontai menjauh.

Baiklah, demikian wanita itu perlahan menaiki awan menuju jalan lain menghapus gelora penantiannya. Hingga akhirnya ia mendalami laut hingga dasarnya menemukan pucuk yang hilang, menyejukkan hatinya selamanya. Ya, awannya mencair dan melepasnya di tengah samudera. Ia ditelan gelombang-gelombang kesukaannya, hingga pada dasarnya ia ditemukan kesejatiannya. Dengan satu hal yang baru atau kepada air-air sungai yang selalu membasuhnya di masa lampau nan bermuara, kemudian menemukannya. Laut mengembalikan segalanya kepada wanita. Wanita harus melewati perasaan dan waktu yang panjang untuk pengembaliannya itu..

Jakarta, Juli 2011- Wanita dengan mata gelap yang berdiri di hadapanku siang itu.

Rabu, 06 Juli 2011

Berlibur Melebur

Halo Happy Holiday, ada yang merindukan saya? Jelas, mata kamu yang terpaku pada layar ini pasti sedang mencari-cari saya, hehe. Tenang, saya juga merindukan kalian. :) Sudah lama saya tidak bicara di Blog, lahan datar yang tidak pernah sedikitpun benar-benar terlihat flat karena yang punya adalah makhluk kejam seperti saya.

Bagaimana kalau kali ini kita berkisah mengenai kehidupan saya akhir-akhir ini di rumah? Sebagai mahasiswi perantauan, hari-hari tanpa kuliah kali ini saya manfaatkan pulang ke rumah, beradu kepada kehidupan sebelumnya. Saya pulang ke Jakarta, ke Tangerang, ke hati orang-orang yang merindukan saya. Sejujurnya saya sangat menikmati hari-hari belakangan ini, sekalipun rasa capeknya ngga ketulungan, terutama karena saya masih gemes sama Baby Pedro jadi sering saya bawa ke mana-mana, main ke mana-mana. Selain jadi anak kesayangan ala ala ratu sejagad yang baru pulang kembali, yak ngerti kan gimana saya suka pamer sana-sini kalo dimanjain orangtua saya sekalipun itu udah sering banget dan biasa aja.. ya makanan lah, wejangan lah, apelah.. nyatanya saya juga ngga tega sama umur, sama badan, sama betis, eh.. jadilah saya menerjunkan diri saya ke dunia perbabuan.. jadi supir, ojek, pembantu, baby sitter, dan bla-blah-blaahh.

Saya udah tua, Ibu saya udah lebih tua. Percuma dilahirin kalo ngga ngasih timbal balik sama orang-orang yang sudah membesarkan saya dengan baik seperti ini. Ya kalo ngga ada mereka saya bahkan ngga tau Tuhan dan agama, saya ngga akan tau yang namanya sambel terasi dari mbok pecel adalah jenis makanan paling ngekoss, paling surga di dunia atau ngerti yang namanya dialihkan kesalahan sama orang egois melulu adalah perasaan paling ngehe. Eaa..

Jadilah saya akhir-akhir ini menikmati rumah, nyiapin sarapan ayah dan metlek, nyuciin baju kalo ngga ada tukang cuci, nyapu ngepel, dan anter ibu kerja. Syukurnya bulan depan perusahaannya Ibu yang BUSUK’ itu akan segera ditutup. Jadilah saya akan semakin dituntut sana-sini. Ya sudah saya perkirakan.

Hidup saya ngga mudah, Boy. Saya juga mengalami hal-hal buruk. Kalo diceritain, berarti isi blog ini akan seperti isi blog masa SMA saya, haha. Ya masalah bakal terus ada selama kita masih di panggung Tuhan ini, percaya atau nggak dalam sehari awalnya numpluk sampe besok-besoknya, dari orangtua yang hidup seumur hidup sama saya selama ini, sahabatan bertahun-tahun, dan pacaran sama orang kaya tai yang baru berapa bulan.

Saya nahanin aja, nggak tau mau ngadu sama siapa. Buat ibadah, kadang ngerasanya juga ngga konsen. Makanya saya berusaha sabar, ya biarin sakit-sakit ditahan. Semuanya punya waktunya, dan mungkin kali ini adalah waktu saya untuk menjadi terpuruk. Terimakasih cobaannya mantap kaya soto mbok giyem, sambel tiga sendok, jeruk nipis, kecap, sosis basah, paru, tempe goreng panas, es teh, dan klepon. Percaya atau nggak barusan saya ngeces beneran, jadi kangen Solo. Beda sekali dengan saat ini, percayalah, nungguin slurpee masuk freezer sangat beku di atas kasur sambil ngeblogging sembari diteriakin anak kecil yg nyuruh lo makan otak ayam adalah hal terbusuk di pagi hari. Maaf aja saya punya otak dan ngga doyan otak apapun jenis binatangnya. Oh ya, satu lagi. Liburan kali ini kadang suka terusik sama busuknya kelakuan dan otaknya Metlek si manusia ketek -..-

So Guys, #mukaalay.. nikmati liburan anda dengan baik, dan jangan lupa nonton Teater 35, Selasa 19 Juli 2011 di GOR Bulungan, dengan judul pementasa “When The Sunlight Goes Down..” You rock, guys! #mukagaul