Berkali-kali saya menghadap jamban dan berpikir kepadanya, ia seperti satu hal lain mengenai buku harian tentang perasaan saya. Dan satu kali, kali itu saya seperti benar-benar menemukan kunci dari hati saya..
Saya bisa sih sebenernya langsung cari pengganti sana-sini, atau memforsir pikiran saya untuk melupakan semua kenangan yang ngga enak selama ini. Tapi saya pasif dan begitu respect sama semua yang udah pernah kejadian di hidup saya. Betapa satu hal itu udah ngerusak semua hasrat dan hidup saya, tapi saya tetep aja selalu bisa mikir, yaudahlah maafin aja. Kadang saya nyesel dilahirin begini, saya nggak bisa jahat dan benar-benar apatis, apatis rasanya cuma pantes jadi status bbm aja..Saya nggak akan ngoyo buat ngelupain satu hal yang sebenernya udah males saya sebutin. Saking konyolnya bentuk seseorang itu akhir-akhir ini sama saya. Yaudah saya ngalah aja, ibaratnya, males aja main sama orang yang lo udah ngerti dia bakal kalah. Kalo mengenai menang dan kalah perasaan ini, tinggal bilang saya kalah dan payah. Ya deh saya emang kalah dan payah. Biar puas sekalian.
Saya ngerti gimana rasanya jadi satu hal itu, dia melankolis. Saya ngerti banget bentuknya gimana. Masalahnya dulu saya percaya bener, percaya seutuhnya, nggak tau apa kepercayaan saya dimainin apa nggak di belakangnya, saya selalu percaya satu hal itu selalu jujur ke saya.
Masalah jamban dan respek, saya paling ngga bisa ngelepas gitu aja hal-hal dalam hidup saya. Jujur aja saya ini tipikal orang yang sulit, saya punya batas, dan selalu percaya Tuhan kasih semua dengan alasan.Kita punya alasan dan kekuatan buat ngerubahnya jadi lebih baik.
Saya sadar gimana perjuangan di hubungan saya dulu. Saya respek sama semua perjuangan dia. Dia berjuang loh dulu buat dapetin saya dan saya juga memperjuangkan perasaan saya yang dia perjuangin. Emangnya gampang dapetin saya yg egois dan lembek, emangnya gampang ngomong sama idealisme lo yg namanya beda itu bisa dilewatin? Tapi dia berhasil perjuangin itu semua, saya juga. Kita bahagia. Kalopun selalu dengan embel-embel BEDA AGAMA. Kita sempet jatuh cinta.
Daaan.. ngga ngerti ya, saya juga ngga bisa nyalahin kalo perasaan orang lain udah habis ke saya. Dulu di tengah perjalanan, saya juga pernah ngerasain perasaan yg habis, tapi saya juga ngehargain, karna dia pacar saya. Saya ngga bakal lepas, saya anggep itu dulu cobaan. I kept it. Dan orang itu ternyata beda, saya ngga ngerti pikirannya.
Dan orang-orang yg pernah dikecewain, cerita sama saya. Wajar lah spekulasi muncul gara-gara pengaruh siapa atau siapa, dia jg ga pernah menjelaskan yg sebenernya kok. Saya juga heran ya, bisa banget ngga ngehargain perempuan kaya gitu. Padahal kita semua lahir dari saluran kotoran perempuan, kita semua ada karena perempuan. Saya ngga ngerti aja sama orang-orang yg ga menghagain perempuannya dan kehidupan pribadinya. Salam bacok aja ya buat genk setan dan mbak-mbak perahu-perahuan kesukaannya, sempet aja ngerusak hidup saya ;)
Boy, semakin dewasa.. semakin orang punya penetapan perasaan masing-masing. Semakin seseorang menuntut untuk dihargai, ga bisa asal lo rusak gitu aja hidupnya.
Okai, saya akan memperjelas tulisan yg satu ini. Ini mengenai rindu dan mengenai proses untuk ... Kita semua punya alasan dan alasan yang bisa dingertiin adalah alasan yg masuk akal dan bisa diuraikan. Sori kalo saya belom bisa langsung tutup buku, tapi Insya Allah segera saya ikhlas ngelepas kamu secepetnya. Saya sedang menikmati perasaan ini. Sori nih kalo saya punya salah, saya nggak maksud mutusin kamu, cuma mempertegas mau kamu. See it successed, congrats eaph.
Kamis, 18 Agustus 2011
Antologi Juli Agustus 2011
Kangen, cyiin.
“Saya sempat berelegi di sebuah pagi, pagi di ke delapan belas Ramadhan. Suatu pagi saya hening melanjutkan ayat-ayat suci Al-Imran setelah fajar datang di jendela, begitu saya terbenam di dalamnya, dan di satu ayat begitu menyebut nama Tuhan dan kitab-kitabnya, Injil salah satunya. Dan seketika, deru suara saya yang bersatu sama tajwid jadi mendayu dan lirih. Tiba-tiba hati saya gemerusuk, rindu, rindu teramat dalam. Rindu kepada satu hal yang mengalihkan hidup saya sebelum ini semua. Rasanya berada di samping Tuhan dan merindukan orang lain, seperti satu hal yang.. gimana gitu rasanya..”
“Kita berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta..” – Soe Hok Gie“Dan jangan bicara mengenai perbedaan, sejak awal Tuhan membedakan kita berdua, dan dari perbedaan itu terbentuk saya dan segalanya. Saya selalu berharap saya punya laki-laki muslim yang memimpin saya sholat. Tapi seseorang sempat selalu mengingatkan saya sholat dan menjaga semua puasa saya, tanpa imam, ia menjaga saya dengan keyakinan masing-masing masih akan ada jalan untuk kita melukis tawa dan senyum bahagia menyulam masa-masa muda. Saya sempat jatuh cinta. Memotret segala cerita tiap harinya. Ya masa lalu. Saya nggak masalah, nggak pernah sedikitpun masalah.
Perbedaan adalah alasan yang semu untuk usia 19 tahun yang berpikir sejak awal meminta perempuan muslim untuk memeluknya lekat-lekat sebagai satu-satunya hal yang akan ada di pikirannya, dengan posisi lekat ia seorang Katolik yang sangat taat ibadahnya.”
Draft I won’t send forever
“Btw, jangan jadi cuek lagi, ya Yam. Berusaha jujur sekalipun susah, kalo orangnya nggak terima terus nampar dan nyubit kamu tinggal usap-usap dua menit sembuh. Berusaha terbuka sedikit sama orang lain, itu gunanya temen, hargain mereka. Kalo Ibu telfon jangan direject melulu. Menunda makan dan memforsir badan sama semua olahraga seharian itu nggak baik. Rosarionya jangan copot-lepas biar selalu ingat Tuhan. Jangan selalu lari dari masalah, semua orang nggak mau disalahkan.. nggak ada alasan untuk takut, laki-laki yang pemberani adalah laki-laki yang menghadapi Bapak Kosku dengan muka tembok terus main sampe jam 10 di hari biasa. :)”
BIG THANKS
Bersyukurnya punya Prita Raras, Ida, Icha, Ambar, bahkan Mbahmo dan Ocha. Yang pada hari-hari itu benar-benar membukakan mata hati telinga saya terhadap satu hal yang benar-benar nggak bisa terbuka sedikitpun. Bersyukur punya perempuan-perempuan hebat yang menceritakan saya begitu banyak fakta mengenai satu hal itu, bersyukur punya teman-teman di Wisma, bersyukur punya Kineklubbers, bahkan BBM. Mereka adalah hal-hal yang membangun saya hampir dua bulan ini. Bersyukur punya rumah dengan keluarga yang bentuknya absurd dan sungguh menjadikan saya seperti apa adanya kembali, dan sahabat-sahabat saya yang menjadikan saya membuka mata masih ada mereka untuk sekedar jajan atau membicarakan banyak hal-hal buruk di dunia yang semakin sepi.
29 Juli 2011
Akhir-akhir ini saya mengalami stress ringan, saya sedang berusaha lari dari semua masalah yang mengendap-endap di balik saya. Saya selalu menjadi buron, sejak saat itu. Hingga sekarang, tetap buronan.
Bagi saya, tidak ada yg lebih baik daripada sebuah pengakuan, karena itu saya menghindar. Menjadi munafik bukan hal yang baik kawan, lebih baik saya mengakui, kemudia saya menghindar untuk memperbaiki semuanya. Timbang saya menjadi mungkar dan berpura-pura.
Nggak ada satu hal yang sempurna, begitu juga dengan semua yg sudah terencana. Kita banyak mengetahui berbagai macam hal, tapi mengenai perasaan itu, rasa-rasanya nggak mudah.
Merasa kehilangan bukan sebuah perasaan yg baik. Termasuk ketika kau hirup sekaligus tujuh batang rokokmu, dan menghirup lekat-lekat kopi hingga tak ada lagi bentuknya kepada mug-mug sial, dan di suatu siang yg gersang tatkala tubuhmu sedang ringkih kemasukan angin-angin pelarianmu, kau menangis deras di sela lagu kesayanganmu. Mengingat apa yg ada di genggamanmu, dan kau merasa payau akan rindu. Tidak ada yg mampu kembali kau salahkan. Itu ego. Egomu yg ria, ego yg merindu dan syahdu. Bukankah kau akan segera menikmatinya..
Jadi ketika pikiranmu menjadi buntu seketika, melihat semuanya menjadi biru lalu kelabu. Dan kau tidak lagi mengingat apapun, nikmati saja. Suatu hari ketika semuanya menjadi normal, kau akan tersenyum lagi di dalam pelukan orang-orang yang mencintaimu tanpa henti.
Mengenai cinta yg terhenti, itu urusan Tuan Karma. Jangan mengurusinya, peluk saja lekat—lekat. Seperti manusia yg kembali menjadi abu, satu hal itu akan kembali. Kembali hilang, seperti etalase jendela yg menangisiku siang itu. Seperti sales kartu kredit itu, datang dan pergi.
Semoga stress saya lekas pulih, amin.
Syahdu
Ibuku selalu membicarakan aku, kemudian suaranya menjadi syahdu. Betapa ia mengharapkan aku..
Kemudian, dan kemudian. Kelak ketika aku membicarakanmu kembali, ketika suaraku sudah habis lepas, menahan jerit-jerit di relung gontai nan menggantung di dalam dadaku.
Ketika aku membicarakanmu kembali, kelak hasratku kepadamu sudah benar-benar padam.
Dan tidak lagi aku ragu menahan karma untuk datang kepadamu..
Aku ingin terlepas melalui mata hatimu yang buruk, lantas aku akan merinai di antaranya dengan deruku nan sekaligus melenyapkan segala yang ada kepada diriku..
Pada hari itu kamu melepas dengan segala rasa takutmu dan segala tiang munafikan yang terbentuk lekat dalam ukiran rahang-rahang halusmu.
Seandainya aku adalah aku yang kamu sempat pikirkan, jelaslah aku tidak akan memintamu membacakan semua elegi lagi kepadaku.
Aku tidak lagi akan menjadi syahdu, sayang. Kiranya seperti ketika aku sempat bersyukur atas takdir yang Tuhan sebar di antara kita, seperti lagi yang kamu ajarkan. Aku tidak akan lagi menjadi syahdu..
Aku akan menjadi satu hal yang baru yang mencoba menerima bentuk ketakutanmu, bentuk pengaruhmu yang begitu menyedihkan, bentuk jelas pecundang yang melekat erat di tubuhmu. Dan aku akan menjadi satu hal baru nan mengagumi sosok Ibumu.
Kemudian, dan kemudian. Kelak ketika aku membicarakanmu kembali, ketika suaraku sudah habis lepas, menahan jerit-jerit di relung gontai nan menggantung di dalam dadaku.
Ketika aku membicarakanmu kembali, kelak hasratku kepadamu sudah benar-benar padam.
Dan tidak lagi aku ragu menahan karma untuk datang kepadamu..
Aku ingin terlepas melalui mata hatimu yang buruk, lantas aku akan merinai di antaranya dengan deruku nan sekaligus melenyapkan segala yang ada kepada diriku..
Pada hari itu kamu melepas dengan segala rasa takutmu dan segala tiang munafikan yang terbentuk lekat dalam ukiran rahang-rahang halusmu.
Seandainya aku adalah aku yang kamu sempat pikirkan, jelaslah aku tidak akan memintamu membacakan semua elegi lagi kepadaku.
Aku tidak lagi akan menjadi syahdu, sayang. Kiranya seperti ketika aku sempat bersyukur atas takdir yang Tuhan sebar di antara kita, seperti lagi yang kamu ajarkan. Aku tidak akan lagi menjadi syahdu..
Aku akan menjadi satu hal yang baru yang mencoba menerima bentuk ketakutanmu, bentuk pengaruhmu yang begitu menyedihkan, bentuk jelas pecundang yang melekat erat di tubuhmu. Dan aku akan menjadi satu hal baru nan mengagumi sosok Ibumu.
Langganan:
Postingan (Atom)