Hidup itu benar seperti panggung.
Pertama kita harus perhatikan saat yang tepat untuk kita keluar dari balik layar. Perhatikan dengan detil musik pembuka, sebagai penanda kita harus bersikap. Perhatikan langkah kian menanjak tangga panggung, jangan keluarkan suara gaduh yang menderu telinga penonton.
Perhatikan kondisi pikiran dan hati, ketika kita memulai segalanya. Sekalipun, terkadang tukang lampu lupa menyorot sudut keluar, sehingga kita butuh tindakkan improvisasi yang menyenangkan, di luar garis rencana, dan hasilnya mengejutkan.
Tujuan kita adalah menuju tepuk riuh penonton ketika layr tertutup kembali di detik terakhir. Kita bicara seolah-olah kiita akan tersengat listrik panggung bila tidak mengucapkannya sesuai dan baik-baik. Kita bergoyang, mengurai gestur, menguasai panggung. Mencapai segalanya yang ada di hidup. Depan, tengah, samping, dan ke depan. Sewaktu-waktu kita harus berlari, ternyata dialognya salah dan waktu memutar.. Semua orang di balik layar mulai berbisik berisik. Berteriak hati-hati. Dan kita buyar. Sedikit bingung, lemah. Namun bekal berbulan-bulan latihan, menguatkan. Bekal, ibadah dan kasih orangtua meyakinkan kita untuk terus menjalani kehidupan.
Kita berlari menguasai alur pementasan, dialog yang lain tidak boleh buyar dan tertinggal. Gestur jangan terlihat kaku, kali ini kita benar-benar bersandiwawara. Konflik sesungguhnya telah merajam hati kita untuk membeku, menggoda kita untuk menampilkan bentuk yang kelu, dan menuai pikiran aneh penonton. Bisa-bisa mereka curiga, musik mulai bersambar kian kemari. Mereka bingung terhadap titik yang beku di panggung. Kita harus bersandiwara. Ternyata pelarian tidak cukup, dialog sebelumnya menggantung, dan lampu terlanjur menyorot kekosongan kita. Kian kita harus menyelesaikan masalah sendiri, diam dan berpikir. Mengadah ke atas, berbisik dalam hati. Atasi semua lalu pergi. Dan jangan biarkan siapapun tahu..
Jadi kita melongok ke atas, mengadah kepada Tuhan. Black out. Di panggung harapannya mengadah kepada ruangan linghting, berharap menarik tuas black-out. Matikan semua pandangan, berikut pandangan siapapun mengenai titik yang terlanjur-terlanjur-terlanjur demikian.
Hilang sudah, selamat sudah. Sampai kita kepada peraduan, dipeluk juru dandan. Mengelus wajah, memberi minum, dan mengipasi tubuh yang basah. Tiba kita pada keselamatan, Yang di Atas menyelamatkan kita, tiba kita kepada kenyamanan. Namun panggung tetap menderu, kali ini dialognya berupa seruan dan nyanyi. Vokal-vokal mulai diadu. Kian datang masalah baru, suaranya tiba-tiba hilang. Kita sudah siap, bila sebelumnya kita sudah menyiapkan segalanya. Kita berbekal kelapangan hati dan ikhlas, kita membaca suasana dan menjadi dewasa. Di panggung, akhirnya menariklah pita suara, improvisasi tawa canda menjadi tangis gerutu yang dalam, akhirnya adalah bentuk audio visual nan ciamik. Penonton berdehem kagum.
Tata panggung tersenggol dan properti hilang. Menengoklah ke atas. Lampu teralihkan. Menengoklah ke dalam hatimu, mengingatlah kepada kuasa –Nya. Hingga semuanya terselesaikan dan diatasi dengan mengganti cadangan properti yang dibawa pemain lain nan diselipkan di antara ikat pinggang dan kolornya.
Begitu kian hadir dalam 2 jam pementasan misalnya, begitu beragam. Namun intinya kita adalah tetap seperti tujuan, menghasilkan tepuk riuh itu. Dengan beragam bekal, mental, tenggorokan, mengahafal naskah, gestur, move, vokal, titik lampu, properti, kostum, bahkan make up semuanya dipersiapkan. Demikian hidup dengan hati, otak, dan raganya. Demikian kita sanggup berpura-pura, menjadi orang lain demi melakoni tujuan kita. Bagaimana caranya hidup, semuanya telah dipersiapkan Tuhan. Kita butuh bersyukur untuk meresapinya dengan baik. Demikian panggung, bersyukur melatih mental kuat dari melihat saingan. Bersyukur melatih untuk tenang, memancing improvisasi tanpa keraguan dan cepat, mengeksekusi gerakan, dan memutus urat malu demi ekstrimitas yang kelaka akan memmbangun jiwa pementasan tersbut. Kalaupun segalanya kemudian terlihat menjadi seperti kesialan, semuanya merupakan buah dari pilihan kita. Segalanya, gerakan, null konsentrasi, meminum air es, dan hilang kontrol adalah sebagiannya kepada kecerobohan yang selanjutnya terjadi. Dan semuanya telah di atur, oleh Tuhan, The Director.