Sudah
berapa banyak kisah cinta yang diceritakan lewat film. Setuju saya, rasanya
semuanya sama, terlalu berperasaan dan menye-menye. Sampai kita merasakannya
sendiri, bukan sekedar membangun imajinasi melalui film dengan talent cantik
dan rupawan, yang sebenernya teralu dangkal untuk dirasa-rasa. Karena itulah,
orang yang membuat film drama itu merupakan orang yang sukses batinnya soal pengalaman
perasaan, plus kalo filmnya emang ngga mainstream dan mewujudkan imajinasi
penontonnya ngga sedangkal ketika mendengar ‘drama’ dan ‘cinta’ yang dijual di
awal. Beneran bikin kerasa dan lebihnya bisa bikin nangis, gitu.
Rectoverso,
sebelum tayang di bioskop ini ceritanya sempet mampir ke kampus saya, lebih
tepatnya sebagai proker divisi saya ‘Ngobrol Bareng Director’ di bulan Januari
dengan empat sutradara cantik yang dateng sosialisasi film dan karir mereka
sebagai sutradara di Solo. Alhamdulillahnya, sakseus menjaring para penggemar
cewek gemes dan penonton di Solo. Sedihnya baru di akhir Pebruari saya nonton
filmnya.
Film
Rectoverso ini, film garapan artis-artis cantik yang pertama kali jadi
sutradara. That’s Marcella Zalianty sekaligus produser yang menggarap Malaikat
Juga Tahu. Cathy Sharon dengan Cicak di Dinding. Rachel Maryam menggarap
Firasat. Happy Salma dengan Hanya Isyarat. Dan Olga Lidya Curhat Buat Sahabat. Semacem
omnibus gitu, dalam satu film ada 5 cerita. Dan menurutku filmnya bagus.
Meskipun
ada beberapa bloopers, tapi mbak-mbak sutradaranya meyakinkan kita penontonnya,
bahwa membuat film adaptasi dari sabuah tulisan itu ngga dibuat main-main. Selain
dalem, talents dalam film ini adalah aktor-aktris yang aktingnya bisa banget. Mengingat
Lukman Sardi yang selalu cool dan Indra Birowo yang selalu lawak di peran-peran
luar film ini. Sehingga… waktu denger dialognya sekalian disuguhi mimik yang
bener-bener syahdu itu rasanya sesuatu banget.
Malaikat
Juga Tahu itu ngajarin saya banget kalo teman-teman yang autis itu ngga bisa
banget diremehin. Mereka bahkan punya cara yang menurutku ya istimewa ketika
dia bicara soal perasaan. Dan ketulusan mereka ngga bisa disangsikan, mereka
semacem disiplin soal perasaan, mengaturnya baik-baik.. meskipun disebut
filmnya sebaik-baiknya aturan kita sebagai manusia biasa ngga bisa sedikitpun
berlaku di hidupnya.
Cicak
di Dinding, mengajarkan saya filosofi cicak yang saya ilfeel nya sumpah demi surga
dan neraka. Kehadiran seseorang ngga bisa ditentukan, tapi cicak itu bisa
selalu ada. Dimanapun. Cicak yang menjaga manusia dari nyamuk. Cicak yang
menjaga orang yang dicintainya, di dinding maupun di pinggang.
Ada
juga Firasat yang bikin saya berisik sendiri melototin Mas Dwi Sasono. Dan sedikit
menjebak di akhir soal firasat-firasat yang digambarkan. Dan yang menyenangkan
di film ini, menemukan jawaban di akhir soal alasan kenapa-kenapanya.. jadi
penonton punya space sendiri buat menebak-nebak. Seneng-seneng tebakannya
bener. Dan di film firasat, menggambarkan bait-bait Kepasrahan Awan-nya
Larasati buat senjata nge-gombal itu romantisnya minta ampun.
Hanya
Isyarat. Yang paling sederhana dan ngga kalah dalem. Isyarat zaman sekarang
alias kode di Twitter itu ngga ada apa-apanya ya dengan isyarat di film ini,
maksudnya secara penyampaian tokohnya juga semacem kode-kode santai. Tapi pas
denger filosofi ‘punggung’, rasanya ikut miris juga. Semacam menyampaikan,“saya
adalah orang yang paling bersedih soal punggung itu, karena pada akhirnya saya
tau apa yang ngga bisa saya miliki”.
Dan..
‘Curhat Buat Sahabat’ itu sebenernya yang bikin miris. Pasti sedih banget. Ya biasa
lah, sahabatan trus yang cowok sayang banget sama ceweknya. Ceweknya gonta-ganti
pacar. Sahabatnya tetep setia. Cerita-cerita sama flashback gitu aja kasarnya
bentuk film yang ini, tapi… pembicaraannya emang dalem-dalem. Dan yang bikin
saya kerenyuh adalah ketika disandingkan air putih dan wine yang 2 sahabat ini
lagi minum. Air putih dihabisin, wine tersisa banyak. Tuh, laki-laki yang
sayangnya bener-bener tulus begitu ya. Sampe sakit, juga ditahan..
Kelima
cerita semuanya diam. Meskipun riuh di dalemnya. Tapi, kalo menurut saya mereka
semua indah. Paling ngga belajar cerita cinta yang lain yang kali ini ngga
sedangkal yang seperti ftv-ftv cinta seperti biasanya.. filmnya bagoos..