Minggu, 21 Februari 2010

Identitas



Dan aktor dalam negri macem Tio Pakusadewo nggak kalah seksi sama Nicholas Cage . semuanya terbukti dalam film yang dirundung galau dan baru saja saya tonton; Identitas.

Kisahnya mengenai dua tokoh utama, Adam dan perempuan tanpa identitas. Adam adalah penjaga kamar mayat, hidupnya dipenuhi dengan segala keabsurdan dan jauh dari kehidupan normal manusia lainnya. Sejak awal ditampilkan kisah Adam dan lingkungannya yang tinggal di gang Mualaf dan hidup sendiri. Adam yang begitu klise dan terlihat seperti pencari Tuhan yang biasanya, tidak beragama, di sini digambarkan sebagai orang yang begitu tertib dan santun.

Kemudian, sampai ia diberikan kesempata untuk berinteraksi secara langsung dengan perempuan tanpa identitas di Rumah Sakit tempatnya bekerja. Perempuan tanpa identitas yang mempekerjakan tubuhnya untuk Bapaknya yang hobi berak’ di kasur. Perempuan yang lebih takut denngan manusia yang hidup ketimbang tidur di depan kamar mayat, yang kemudian memilih untuk bersama Adam di dalam kamar mayat. Dan pertemuan tersebut mengantarkan kedua insane itu untuk saling mengenal, dan perempuan tanpa identitas mencoba menjual tubuhnya, dengan bertelanjang di depan Adam, dan baiknya Adam justru tak sedikitpun menghiraukannya. Adam menyelamatkannya.

Hidup yang galau, dan pelik banyak ditampilkan di sini. Tentang masyarakat pinggiran dan nasib rumah warisan Bapak-Bapaknya mau digusur, dan saat itu calon-calon dari partai yang banyak bicara sedang gencarnya berkompetisi, membuat janji. Salah satunya ASKESKIN. Adam mengusahakannya.. dan ketika tiba waktunya. Perempuan tanpa identitas hilang.

Adam menunggu, meniup harmonica. Dan perempuan itu tak datang. Di televisi dibilang dia mati, dan Adam berjumpa di kamar mayat, tempat mereka pertama tertambat. Bapaknya yang tukang berak hilang ke mana. Dokter yang suka sama pelacur, bilang kalau mayat tanpa identitas itu bukan apa-apa dan tidak patut untuk dipedulikan. Adam jatuh cinta.

Adam jatuh cinta pada perempuan tanpa identitas, perempuan yang ia kagumi, dan begitu mencintai bapaknya. Perempuan nan miris dan mandiri. Ia merenung, dirundung pilu. Ia beri identitas, hawa dan jadi isterinya. Ia bawa pulang mayatnya dan dibakar bersama dirinya.

Identitas, merupakan karya yang fenomenal dan patut untuk dijadikan referensi pilihan untuk hiburan sambil sejenak berfikir. Identitas layaknya sebuah pementasan teater, selalu ada kejutan di setiap alurnya. Ada tokoh-tokoh yang begitu konsisten menjalankan perannya, dan mereka benar-benar tidak biasa.

Sutradaranya begitu kreatif menampilkan maksud dari film ini. Sebegitunya penting identitas nan melekat dalam diri kita (ah jadi inget kan KTP gue masih di kelurahan, grr). Termasuk menyertakan sponsor yang notabene sebenarya amat mengganggu yah.. tapi, untuk kesemuanya there are 4 stars fo this movie. Semoga para sutradara di Indonesia lain dapat mencontoh nasib-nasib independent seperti ini.. menjadikan karya anak bangsa tidak lagi dianggap sebelah mata dan cuma buat cuci mata, liat cewek-cewek pakai bikini dan ngesot-ngesot. 

Me too

Sahabatku yang paling cantik tabah banget deh, orang yang dia suka pertama kali di SMA ternyata sahabatnya yang jadi tempat curhatnya selama ini jadian sama laki-laki itu!

dan sahabatku bilang,

CANTIK : Yah, gapape til.. kalo sahabat gue bahagia.. kenapa kaga..
GUA : Biar gua tampol tuh pelacur
CANTIK : Please, no..

dan aku ikut diam. wah kita sama ya.. ya udah deh, aku jua sudah memutuskan harusnya aku jua sudah ikhlas sejak awal. :'D

Sabtu, 20 Februari 2010

Kota Tua 20-Pebruari-2010

Selamat malam, hari ini begitu menyenangkan.

Sama teman-teman, sama sahabat, abang-abang kesayangan. Semuanya tertawa, kepanasan, sekaligus capek sama heelsnya; para wanita.

Senang, hujan dan flu mengiringiku menatap letihnya Jakarta di sudut tuanya. Kembali lagi ke masa lalu. Bercinta dengan kenangan nan lampau juga pelik. Mengabadikan sisa-sisa nafasku di SMA, sama teman-teman.

Lagi, galauku menyebut dia. Dia yang nggak ada. Vina juga. Dan mungkin yang lainnya.

Mereka begitu sempurna. Nggak ada lagi waktu untuk sekedar bertanya atau saling jumpa mata. Dia, Salah satu patahan hatiku nan lampau. Dan, lampu jalanan semerbak menebarkan jaringnya untuk terus hidup menyelami malamnya, menangis, dan menyadari sampai hari ini kamu masih sendiri, dan aku memang sendiri.

Abangku sibuk dengan cintanya, dan aku menanyakannya. Aku cukup bertahan terpaku mendengarnya kalau dia begitu sempurna, menjadi seorang pria. Tapi, sayangnya sang puannya begitu’. Abangku diam, mencekam, dan kelam. Tapi di hatinya, cuma ada sang puan.. dia begitu berhasil menjadi seorang pria di usianya yang baru ini, dia sempurna dan setia. Semoga abangku selalu dilimpahkan semua yang benar baik untuknya.

Widya sama ega. Amin

Aku sama siapa?

Abang sama Ari.

Segala tanyaku melayang pada siapa aku merajuk, hatiku menyebut sebuah kata. Kata yang lama dan membuatku buta. Aku bilang, jadinya sama mereka. Yang ada di Kota Tua. Sore ini, dipeluk gerimis nan manis. Mereka yang masih aku harap bertanya, dan meminta padaku. Dan aku melaju, terus menderu.

Rabu, 17 Februari 2010

Rasa Syukurku

Ketika kita menjadi manusia, bagian terbaiknya adalah ketika kita sempat bersyukur tentang semua yang Tuhan yang sempat sampaikan ke kita. Ada hal yang selalu tidak sedikitpun dapat kita duga, ada hal yang selalu berhasil IA sembunyikan, sekalipun kita sudah dan akan sepanjang hayat bersamaNYA. Selalu ada yang membuat saya terpekur, dan tak pernah putus mencintaiNYA.

Ada saat ketika kita menjadi sangat terpuruk dan merasa DIA pergi tak bertangggung jawab atas air mata yang kita teteskan, atau sekedar rasa ngilu di ulu hati. Itu Allah SWT Zat yang Maha segalanya. Yang saya cintai, dan tak pernah berhenti mencintai saya.

Selain kedua insan yang begitu indah hadir menghiasi hari saya sejak pertama kali saya melihat dunia, kemudian saya ditemukan dengan orang-orang yang ada di sekitar saya, yang selalu ada untuk sekedar saya peluk dan tangisi, sahabat-sahabat saya. Dan seterusnya, seterusnya.

Alhamdulillah ya Allah, makasih sudah menjaga saya untuk tetap tidak mengetahui kejutannya. Termasuk berbincang di samping ibu itu, dan dibiayai ongkosnya. Bukan, tapi lebih kepada ‘wah saya jadi merasa lebih dekat dan semakin menyesal dulu sempat begitu menyayangi anaknya. Bisa-bisa saya sayang sama semua bagiannya’. Tapi terimakasih. Saya kan sempat bilang semuanya adalah salah satu anugrah terindah yang sempat saya miliki.

Thanks God.  ameeen

ti,

"aku rasa (sepertinya) kamu merasa kehilangan, hey tapi masih ada aku, lupa pada janji yg dulu? aku masih mampu menampung tangis mu, masih mampu membuat lelucon lucu yang membuat kau sedikit tersenyum. Masih mampu menemani mu makan bakso Pak Yudi atau mie yamin Pak Yanto. Meski aku tak bisa selalu bersama kalian. Tapi ya Allah, mengapa luka ku yang belum mengering ini harus ada sahabat ku yang terluka juga. Dan kamu berlebihan. Masih ada banyak yang harus diselesaikan. Kesakitan akan membuat kamu lebih kuat. Kamu harus kuat, mau tidak mau. Aku tau kamu amat mencintai, yang kemudian terpaksa jadi membenci. Aku juga pernah. Tapi aku tak pernah bisa berpihak ti, aku juga sayang mereka, seperti aku sayang kamu. Tapi bukan berarti aku akan diam saja melihat mu begini. Coba kau paksa itu hati mu untuk tidak peduli. Paksa, meski berat, perih dan tidak enak. Cintai semua orang, seakan kamu tidak pernah bisa membencinya. Jalani masa SMA mu, yang tinggal sedikit ini dengan tawa bukan duka. Ayo coba tunjukan bahwa KTP yang sebentar lagi akan jd milik mu itu, bukan hanya simbolisasi. Aku ada jika kau ingin menangis, atau ingin menangis bersama, atau kalau kau letih menangis mari kita tertawa sampai gila seperti dulu, jangan jadi begini ti, aku mau perempuan jalang ku yang dulu kembali tersenyum. Kau boleh tarik rambut ku, meski kadang aku kesal. Asal jangan jadi yang begini, nanti malah aku yang jadi benci. Wake up girl!"

then, ini surat dari salah satu perempuan kesayangan saya.. saya rasa dia yang mulai kehilangan arah. dan setelah saya teladani isinya, saya masih nggak bisa.. saya nggak bisa bermuka dua.. saya nggak bisa pura-pura terbiasa, dan nggak ada apa-apa. tapi saya juga gak punya nafsu buat si sahabat' itu nangis atau kecewa.

jadi saya maunya, biasa aja. kalau saya nggak suka saya akan menunjukkannya sekalipun nggak secara langsung. tapi saya akan bersikap kalo saya nggak suka. saya nggak sanggup jadi munafik lagi. tapi terima kasih banyak, atas perhatiannya.

dan, saya maunya pulang dianterin sampe depan gang sekolah, minimal :(

Selasa, 16 Februari 2010

No Reservation

hey, there is a good movie again for you.. this was awesomee
and especially when you watch it, with your valentine. even it has bein old, 2007 but this movie still succes makin that smile. love :))))

about love, ambition, and the important; foods :D

Sabtu, 13 Februari 2010

Selamat Senja Tuhan

Selamat senja Tuhan. Hari ini saya bicara sama sahabat saya. Dan kembali saya mendoktrinnya tentang dia. Tetap si dia, dua tahun yang lalu. Sahabat saya yang lain juga bilang, dia yang sudah mati. Menghilang.

Kadang saya terus memaksa diri saya menciptakan alasan, apapun itu tentang dia. Sekalipun cuma ilusi, imaji, bahkan mimpi. Atau sekedar apalah namanya… saya terus meyakinkan diri saya kalau dia tetap masih ada. Tapi semuanya seakan telah menjadi kesatuan yang sulit dipisahkan, dan sangat kompleks. Dan saya masih menerka dan selalu berusaha menciptakan alasan lainnya.

Saya jadi ingat yang selalu menjadi berani di antara kita. Yang menenangkan saya ketika harus remedial KWN lagi, kemudian menjadi sosok yang selalu mengajarkan saya selalu jujur sekalipun sama pahitnya ketika kita berbohong. Lalu, yang mengenalkan ada hal yang indah di dunia ini selain persahabatan; film dan The Sigit, sampai saya terjatuh mencintai salah satunya, sampai saat ini. Ada lagi, tentang semangat belajar karena laskar pelangi, tentang novel-novel keren independent, tentang ANTI-GLOBAL WARMING, tentang Beyonce, tentang mamanya yang kayak ibu peri yang sayang banget sama dia, tentang segala arah yang selalu ia ceritakan dan selalu ingin ia capai.

Tentang mimpi. Tentang bioskop dan studio band yang kita cita-citakan bersama. Tentang nafsu makan yang selalu menyatukan kita semua. Tentang tubuh idealnya. Tentang orang-orang yang sejak dulu juga merindukannya. Tentang puasa sunnah yang selalu ia tawarkan, atau paksaan shalat Zuhur bersama di Musholla. Tentang niat bolosnya yang tidak pernah sekalipun ia laksanakan dengan saya, tentang rokoknya yang terbatas.

Ya Tuhan. Dia menyadari bahwa dia begitu tidak sederhana. Dia perempuan, dan dia sakit. Dia sempat menunjukkan sama saya kalau dia cukup mampu menjadi manusia.
Dan saya tetap nggak mengerti kenapa semudah ini segalanya beralih, imannya, hatinya. Padahal dia hidup sama saya, dan ibu saya tau tentang dia.

Yang selalu saya sesali, kenapa saya nggak sempat bilang “Jangan baca buku dunia Sophie!’ atau sekedar mengingatkan betapa indahnya bersalaman setelah mengucap salam di akhir shalat Zuhur. Kenapa saya nggak sempat bilang jangan mainin Tuhan saya..
Kenapa harus perempuan yang itu. Kenapa harus dia, yang sempat mencerahkan hidup saya dan terjatuh dalam kubangan. Kenapa dia begitu jadi tolol. Dan kenapa harus ada pria yang selalu ia agungkan itu.

Dan, saat ini. Semua orang menganggapnya jauh berbeda dan lebih menyeramkan dari bentuk awalnya. Saya tau dia juga nggak akan peduli. Semua orang bilang dia sudah mati, dimakan tembakau. dan lagi, hanya saya.
Hanya saya yang masih repot menghitung berapa pahalanya yang tersisa. Cuma saya yang nggak bisa menahan rasa sayangnya ke dia seperti orang lain. Cuma saya yang bego dan brengsek yang mikirin dia masih ada.

Cuma gue ma, yang masih yakin lo bisa,dan masih ada ma, masuk UI, dan jadi traveler yang punya anak cantik. Yang nanti makin cantik pake jilbab kalau udah nikah kaya nyokap lo yang ndut’. Jadi sutradara, dan semuanya yang pernah ada di benak kita semua. Cuma gue ma, yang masih repot mikirin gimana ngurangin rokok lo, ngedoktrin orang-orang sekitar lo buat bujuk lo shalat, ngurangin rokok, atau sekedar bujukin pulang. Cuma gue ma, pake cara kotor gini. Gue percaya, sampai kapanpun lo bisa cari gue ma. Gue percaya semua yang akan elo ceritain ke gue.

RIP OUR IKE