Sepertinya hari berjalan biasa-biasa saja.
Hingga langkahmu tersandung batu. Batu kecil nan menangis.
Menangis menatur sepatumu.
Kau gerami. Dan ia tersedu, melaju.
Hingga engkau jatuh melihatnya di sana.
Tangisannya nan sendu, meraung-raung. Pilu.
Kemudian engkau berusaha memeluknya.
Diam. Diam...
15 jam kau menungguinya..
Dan tak jua ia menanggalkan tangisnya
Tak jua langit berpihak padamu.
Dia terus hujan
Dan enggan mendatangkan pelangi.
Langitmu hais, gelap-gelap
Dan angin mencium-cium kulitmu..
Memanggilkan nyonya elegi yang lain
Memanggilkan tanah-tanah yang becek,
Meluap dan melontarkanmu gulungan tanah.
Mukamu jadi penuh amarah
Dan kamu berpikir
Hari ini tidak baik
Aku menangisi sebuah batu,
Sebuah batu kecil nan menjegalku
Dan ia merusak hariku.
Sekalipun aku tidak berharap bahkan menjamahnya
Dengan ujung lingkingku
Dengan ujung alis mataku
Tapi ia di sana, tanpa harapan..
Dan ia menangisiku.
Oh, demi hujan!
Rabu, 23 Maret 2011
Permisi, elegi!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar