Minggu, 30 Desember 2012

Bye 12


Awal tahun 2013 sudah di depan mata memanggil saya datang lekas-lekas. Saya tersesat di dalam situasi ketika menghadapi sebuah ruangan gelap dengan barang yang tak terhingga jumlahnya bercecer menyentuh kaki saya. Dan ketika saya menggesernya pun, kesekiannya akan langsung menyentuh saya.
Hidup semacam sebatang rokok, milik seorang yang merokok tapi bukan perokok. Cepat habis, cepat habis.
Situasi yang begitu kacau. Seperti pembicaraan yang sebelumnya. Ketika kita mengenang soal hidup tidak ada bayangan mengenainya di awal dan menjadikan kita akhirnya seperti apa.
Hidup akan tertutup, bukan ketika kita count down menghitung datangnya pagi di tahun yang baru. Tapi kematian nanti yang akan menentukannya. Takdir yang satu itu yang mengunci filosofi kita sebagai manusia. Sedangkan, hidup yang kita setapaki belum juga lurus jalan tujuannya. Dan kita mengambang pada kebisuan yang pahit, tatkala mengenangnya kembali.
Hidup seperti gudang itu. Berantakan dan penuh atas sampah kemauannya di masa lampau. Selanjutnya ia sibuk menghabiskan apa yang seharusnya ia bisa nikmati lebih lama. Sayang sekali saya tidak ada pada saat itu untuk memberikan semacam keajaiban, semacam pelukan yang mesra untuk menghapus keraguannya, menguatkannya. Sayang sekali pada saat itu saya terlalu sibuk dengan yang namanya kenyataan dan membentuk bidang ilusi lainnya, yang tidak terjanjikan juga pada akhirnya.
Kalo nanti Tuhan masih berikan saya usia. Saya mau menjaga kedua orang tua saya, adik saya, dan para sahabat saya. Saya ngga mau meninggalkan kembali hal yang tidak sepantasnya ditinggalkan. Bahkan untuk alasan apapun.
Saya begitu sedih tahun ini. Saya ditipu kaum Maya. Yahudi semakin membabi buta. Saya kehilangannya dan Ria. Saya terlalu sibuk dengan banyak hal, dan yang paling menyedihkan saya malu terhadap diri saya sendiri. Saya berubah menjadi pribadi yang dangkal, saya meninggalkan posisi saya sebagai manusia seutuhnya, saya ngga punya pattern yang kuat bahkan untuk menulis. Saya ingin sekali menjadi pribadi yang orisinil dan terus menyenangkan. Saya ngga mau jadi orang mainstream, ngga mau sama-sama an, apalagi disamain. Semoga Allah memberi usia yang panjang untuk kita semua. Amin

Jumat, 28 Desember 2012

Epilog palsu.



Tadi sore di pinggir sebuah aliran air, di tepian kabut yang hening. 

Aku mendapatkan sebuah puisi. Yang merinai di dinding kepalaku, begitu syahdu mengenang seseorang. Dipeluk angin yang melembut, aku tersipu menyadari betapa puisi itu menggelayut mesra dan tidak kunjung padam.Puisi itu semacam epilog. Dia nyata dan mengharapkan kenyataan.  

Meski tidak sedikitpun kemudian hadir, rinai-rinai dialog penutup yang muncul seperti yang diharapkan.

Tapi sepertinya memang bukan soal cinta. Aku mengaliri puisi itu dengan kehidupan yang dia harapkan. Dan aku sementara ini hidup karenanya. 

Epilog itu semu. Hingga saat ini aku ingin membukanya kembali, tapi memang lebih baik biar saja tertutup.

  

Kamis, 06 September 2012

Surat.


Aku merangkak naik ke ranjang, tubuhku biru-biru mengerang. Dan di luar sana terdengar teriakan wanita kolot yang tak henti menyiksaku kian usiaku saat ini. Ia menggedor pintu kamarku dengan suaranya yang nyaring dan menakutkan.
Matahari pagi-pagi mulai mengintip dari sudut jendela di sudut ruangan, aku masih terkapar biru-biru dan menangis. Aku belum lagi tertidur sekalipun pintu sudah lengang dari satu jam yang lalu..
Aku berdiri, menarik kertas.. Aku tinggalkan ia surat.
“Satu-satunya wanita yang paling aku cintai itu Engkau. Satu-satunya wanita yang menelurkan aku dari sebuah lubang sempit, memberikan dadanya selama dua tahun, dan tak sedetikpun meninggalkan aku.
Satu-satunya harapanku mengenai dunia adalah Engkau, melihat betapa bahagianya ketika aku berikan seluruh dunia ini kepadaMu.
Satu-satunya yang aku pikirkan di ujung dunia sekalipun adalah Engkau, melihat Tuhan memberikan matahari di ujung samudera, hangat dan besar seperti Engkau yang selalu membuatku merasa nyaman di seluruh dunia.
Bu, waktuku hanya Tuhan yang tahu. Aku di dalam perjalanan menemui hidupku sendiri. Setiap jalan yang aku cari bukan lagi Engkau yang tentukan. Aku beragama pun atau tidak, sudah tidak seharusnya Engkau urusi aku. Aku manusia yang Engkau lahirkan sejak lama, betapa tidak sedikitpunnya Engkau sekarang mengerti betapa Aku ingin terlepas dari segalanya tentangMu. Mengapa tidak sedikitpun anakmu ini melangkah sedikit lebih jauh tanpa kau sentuh, Indukku?
Aku terpaut jauh darimu. Segalanya hari ini sudah tiada lagi seperti dulu ketika segala peraturanmu melekat di kepalaku. Tidakkah kau lihat Ibu, hari ini sudah zamannya laki-laki memotong alat kelaminnya sendiri untuk bisa terlihat seperti kita. Tidakkah Engkau jera menganggap aku lemah?
Tidakkah aku terlihat baik-baik saja ketika aku menabahkan hatiku, hatimu, hati saudaraku melihat lelakimu pergi dengan pelacur berpantat besar yang seronok itu? Tidakkah kau lihat betapa aku dengan tenangnya menganggap semua baik-baik saja ketika kalian yang selalu diam kemudian mengumpat di hadapan kami? Tidakkah Kau lihat betapa hatiku penuh dengan jahitan-jahitan jerit tangismu yang selalu membantah apa yang aku bicarakan? Aku sudah bicara berkali-kalinya. Tidakkah kau bisa, hilang, dan diam untuk sementara dalam hidupku.. aku ingin mati mengingatmu. Betapa aku mencintaimu, dan tidak bisa sedikitpun aku melerai kita berdua.
Jadi hari ini aku akan pergi. Menabahkan hatiku sendiri berpisah dengan kekasih hatiku, berpisah dari berkah Yang Maha Kuasa untukku, berkah yang paling sempurna.. entah apa yang merubahmu Bu. Ego kita tak lagi satu, aku meninggalkanmu demi hidup yang normal seperti manusia lainnya. Aku mendoakanmu sepanjang waktu. Di setiap hela hidupku. Lekas kembali Bu, kembali memanusia..”
Matahari semakin hangat memelukku dari balik jendela. Air-air samudera di luar sana terdengar bergemuruh, tebing-tebing sekitarnya dibelai-belai agar meluruhkan semua rasa tegarnya.. aku menatap kaca, mengorek mataku dengan pinsil coklat agar terlihat hidup dan mengalihkan bengkaknya. Menyisir rambutku yang kaku, membenahi pakaianku yang compang camping.. dan melewati batas jendela. Menyambut air laut yang marah di pagi hari, memeluk matahari.
Aku, seorang pelacur kelas kakap, seorang pecandu ekstasi, seorang pembunuh lelaki penjaga hotel yang tidak melunasi hutangnya padaku..  Sekaligus pembunuh hati Ibuku. Hati Ibuku yang tinggal sekeping, hati Ibuku yang sekeras batu, hati Ibu yang selalu ingin memiliki dan memaksaku. Menjual semua yang ada di diriku. Menjual semua peraturannya. Hari ini, berhasil meninggalkannya.

Cerita Cinta Enrico




Sebelumnya saya berterima kasih sekali kepada ‘mbak ike’ yang mereferensikan buku ini kepada saya. Cerita Cinta Enrico oleh Ayu Utami ini salah satu cerit kesukaan saya banget. Bahasa dalam ceritanya detail sekali, santai, dan mudah diingat. Sekalipun cerita ini dibangun dari cercahan memori, tapi Ayu Utami seperti memberikan imajinasi fiksi yang segar dan menyenangkan. Sayangnya nilai kejutan yang saya dapatkan berkurang karna sebelumnya si Ike Marike alias Shelma Aisya nya udah ngajakin kepo barengan soal Enrico yang jadi biang keladinya di google. Dengan kesotoy-an saya,, akhirnya saya seperti mengurut cerita dengan imajinasi saya mengenai Enrico via google yang minim sekali hasil pencarian. Karena beliau ini (Sang Enrico) adalah sosok yang jauh dari eksistensi macem artis dan sebagainya, yap.. Enrico itu sebuah makhluk nyata.
Yang saya suka adalah sosok Enrico yang diceritakan A begitu sempurnanya dan menggemaskan. Memori yang sepenggal-sepenggal itu ngga kehilangan nilainya, dikarenakan proses penceritaan yang sebentar itu selalu ada gaya menulis A yang ngga terduga. Saya menikmatinya.
Selepas dari semua penulisan yang bebas dan menyenangkan tersebut, saya menarik kesimpulan melalui membaca buku ini bahwa kemustahilan di dunia ini semakin hilang garisnya.. kisah cinta macam apa yang mengutamakan ranjang dan masih bisa membuat kesan bijaksana dan mungkin terjadi, bahkan di kehidupan orang dewasa yang biasanya berpikiran tentang tujuan hidup dan mapan-itas. Kisah cinta macam apa yang bisa terlihat seolah-olah beneran cinta sejati padahal hanya berjumpa di satu pertemuan yang dalam kondisi putus asa, kemudian bertelanjang, dan tidak lagi bisa terpisah. Susah ya seniman.
Bicara mustahil zaman sekarang, emang cuma bisa diketawain. Tuh buktinya, bujang lapuk semacam Enrico pada akhirnya bisa memutus kebebasannya kemudian menemukan betinanya di ujung usia tua, kemudian wanita dengan hati seperti karang dan seapatis A bisa akhirnya memutuskan kebebasannya juga dan menikah, bahkan melanggar sumpahnya. Cerita Cinta Enrico membuktikan bahwa Tuhan memang benar punya rencana. Bahkan, sekalipun kita ngga pernah menduganya sedikitpun di awalnya.
Novel ini juga menunjukkan kepada saya, soal gaya hidup sekelumit manusia di luar sana yang jauh dari mainstream kebanyakan, tapi hebatnya orang-orang seperti A dan Enrico adalah tipikal manusia-manusia yang peduli mengenai moral. Nilai plusnya adalah ketika membicarakan keTuhanan yang menurut saya dialognya sangat absurd, tapi pada akhirnya buat kita menggeleng sekaligus mengangguk-angguk dan bergumam.. ‘OH IYA BENER JUGA, SIAUL DEH..’ Kebebasan dalam setiap hela hidup orang-orang yang seperti mereka adalah kebutuhan pokok, cenderung bersikap bodo-amat dan ngga peduli, menurut saya ya emang keren.. tapi dalam kebebasan itu dengan arifnya A masih menciptakan batas mengenai dirinya sebagai makhluk ciptaan dan bagaimana memperlakukan Tuhannya. A ngga munafik sekalipun dia apatis dan arogan. Ia membatasi dirinya, tapi ngga ngaruh sama tulisannya yang membangkitkan hasrat semangat saya untuk menyiarkan rasa bebas itu juga dalam diri saya. Bebas dalam pemaknaan saya pribadi, bukan versi A, Enrico, atau siapapun.
Cerita Cinta Enrico juga mengajarkan bagaimana seorang anak manusia membutuhkan 3 cinta utama dalam hidupnya, saelah.. ceritanya Enrico ini cinta sekali sama Induknya, ia menghargai Negaranya, dan ia mencintai wanita pengganti Ibunya. Enrico dengan penggambaran dari anak yang romantis, anak kampung yang nakal, kemudian tertekan, sok ganteng, pekerja keras,  tegas karena selalu berani mengambil pilihan yang ekstrim, dan begitu dewasa. Oke, saya jadi berandai-andai punya Enrico versi selanjutnya, tapi yang ngga ngajak berzina dan sudah bermain dengan berpuluh-puluh perempuan haha :))
Novel ini bagus loh loh aku suka sekali u.u

Nasihat Untuk SBY


Soal buku, Saya suka membaca, tapi cenderung lebih sering membaca novel-novel klasik, sastra, dan anti terjemahan. Saya suka baca majalah, artikel, bahkan timeline orang lain. Sebenernya saya tipikal manusia klasik yang awam sama yang namanya novel remaja percintaan macem teenlit, sekalipun iya sih dulu waktu SMP saya rajin baca Dealova dan semacemnya karena di perpus sekolah saya yang gaul dulu updatenya buku begituan. Saya juga ngga begitu sering membaca fiksi fantasi modern yang belakangan ini lebih frontal bahasa kekasih-kasihannya, saya ngga begitu suka membaca novel-novel lawakan atau non lawakan yang asalnya dari kumpulan Tweet. Saya ngga suka baca buku soal pemerintahan, ekonomi, matematika, dan sebagainya.  Sekalipun saya mencintai sejarah dan apapun di dalamnya.
Tapi kebetulan, dari study visit kemarin bareng satu angkatan Komunikasi 2010 ke Jakarta. Kita kunjungan ke beberapa televisi swasta dan beberapa acara, salah satunya acara keren favorit saya,  Kick Andy. Saya berhasil mendapatkan satu buah buku dan pembahasannya di dalam acara. “Nasihat untuk SBY” oleh Adnan Buyung Nasution.
Selama acara, saya cengo’ aja selain stress bego kedinginan sama Icha dan Ambar karna di studio suhunya saya bayangkan 1 derajat celcius, bahaha. Tapi untungnya jadi hangat di awal karna ada ada Mas Awan G(emes) dan bandnya G.Pluck di acara tersebut, ya paling ngga nahan saya untuk lebih lama mengenal talk show yang bikin saya kecewa di awal, karena tau guess starnya adalah tokoh politik. Jadilah saya seadanya menyimak, kemudian menyimak.. dan acara jadi ngga terlalu berat karna Andy F. Noya ini cerdas banget membawa obrolan jadi simak-able dan jadi kocak. Perlahan saya mengerti apa perbincangan bapak-bapak di depan, yang intinya membicarakan sebuah buku yang baru Pak ABN tulis. Kesan pertama saya, “wah ini orang semacem songong apa ember apa jahat, kok ya rahasia dibongkar-bongkar..”
Tapi, belakangan saya tau mengapa ABN begitu berapi-apinya tampil di depan public dengan sebuah buku controversialnya. Setelah secara umum dibahas isi bukunya dengan jelas, di akhir acara saya mencoba mengerti dan memaafkan ABN, haha. Ya paling ngga sebagai masyarakat, saya akhirnya tau apa yang disampaikan beliau.
Setelah seminggu lewat, saya selesaikan bukunya dalam dua hari. Saya membaca separuh penuh isi buku yang menurut saya memang menarik saja, meninjau isi bukunya ya emang ‘politik banget’. Ada beberapa isu-isu sosial yang menarik di dalam buku yang saya baca serasa anak SMA mau ujian KWN besoknya, bener-bener banget saya pahami. Penjabaran yang dilakukan ABN di dalam bukunya bener-bener detail, lewat dialog, bahasa yang cerdas, dan memberi kesan tajam tapi jujur. Buku ini yang jelas bercerita mengenai pengalaman ABN sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hukum (2007-2009). Dari sini kita melihat pola pikir beliau masuk ke dalam birokrat pemimpin sebuah Negara yang disamakan dengan kapal yang akan karam. Sebenernya, ABN ini harusnya hanya  cenderung ke bidang hukum saja, tapi kepedulian mengenai agama, sosial, bahkan pornografi yang beliau urus dan ditulis di bukunya, benar-benar menunjukkan keahliannya sebagai seorang tokoh yang terpandang di dunianya.
Di buku ini ABN banyak bercerita, misalnya sebagai orang yang awam mengenai politik pemerintah saya melihat bagaimana sikap para menteri yang digambarkan buku ini yang sikapnya justru tidak bersikap kritis dan masih mengikuti cara feodal yang kaku dalam rapat. Ternyata ngga cuma seminar mahasiswa yang jarang partisipan, di buku ini dibilang para menteri pun jarang ada suaranya. Itu satu, ABN mengungkap dalam buku ini mengenai satu kondisi yang masyarakatpun sebenernya harus ngerti gimana kinerja pemerintahnya. Selain itu, ABN menuliskan bagaimana Pak Presiden sebagai tanggung jawabnya memberi sikap terhadap berbagai pendapatnya mengenai beragam masalah, Pak Presiden yang dianggap kurang perhatian dan kadang cenderung berkepentingan terhadap kelompok elit  saja. ABN ini terlihat dalam tulisannya adalah sosok yang dominan dan memperjuangkan apa yang beliau anggap benar, tapi ya pasti dengan dukungan data yang selalu beliau jabarkan menyertai pendapatnya. Dan voilanya memang sangat realistis, membacanya juga ngga terlalu rumit menurut saya karena dengan adanya fakta berupa dialog atau penjabaran kronologi jadi semangat pengen tau selanjutnya. Buku ini dengan sangat jelas tokoh-tokoh di dalamnya tanpa nama samaran dan rekayasa. Jadinya seru. Haha.
Dalam konteks konsisten, memang ABN adalah sosok yang satu tujuan dan berkemauan keras. Tapi ya karena dominasi tersebut, beliau jadi cenderung selalu menjabarkan kekecewaannya kepada Pak Presiden karena ngga didenger pendapatnya. Jadi kesannya Pak Presiden salah melulu. Kalo menurut saya setelah baca buku ini, ya emang salah kalo Pak Presiden membentuk Wantimpres tapi ngga digunakan dengan baik, ngga ada komunikasi yang baik dan rutin, ya percuma dong. Ibaratnya punya pembantu tapi ngapa-ngapain sendiri. Cuma, menanggapi kekecewaan ABN menurut saya ya sometime wajar-wajar aja kalo  orang mau mengambil keputusannya sendiri, terlebih orang tersebut memang punya kuasa. ABN mengajarkan pembacanya buat jadi kritis dan bertindak cepat, tapi kadang saya suka mbatin “Apaan sih” kalo baca bagian ABN yang marah-marah melulu minta didengerin. Trus mengenai kritis-kritis itu, sayangnya di Negara kita sendiri masih jarang ada generasi yang secara keseluruhan semuanya mudah bicara dan berani jujur seperti yang diharapkan ABN, sesuai sama sistem feodal yang masih berlangsung dimana-mana sampai sekarang ini makin susah bikin orang jadi lebih partisipatif misalnya. Apalagi kalo ada duit. Toh lingkungan sekitar juga ngga mendukung, soalnya, sifat nrimo’ dan anteng masih menjadi titik aman dan nyaman paling utama. Dan kadang sempet ada pikiran, toh kalo semua bicara, apa iya menjamin keadaan jadi lebih dan semakin baik? Bukannya malah jadi membesarkan ego masing-masing, toh lagi semua jadi mengutamakan subjektifitas pemikiran masing-masing kan? Nanti kalo begitu jadinya, kita harus mendengar siapa?
Mungkin buku kaya begini udah banyak, tapi karena ini buku tokoh politik pertama saya dan saya baca sampe ngerti jadi saya kira menulis kesan saya seperti ini ya.. saya pikir menyenangkan. Banyak cerita yang sesuai tujuan ABN menulis buku ini tersampaikan dengan baik, yang tadinya ngga tau sebagai warga Negara akhirnya saya tau. Mengenai ahmadiyah yang begitu bijak diuraikan ABN, mengenai berbagai UU. Ya emang kadang tulisan di dalam buku ini mencerminan arogansi dan unsur melebih-lebihkan sebuah masalah misalnya waktu dibahas SBY membuat Perpu trus dibilang otoriter, padahal Perpu dadakan itu adalah wewenang Pak Presiden, ABN mengamuk karna merasa dilangkahi, tapi setelah itu dengan mudahnya ABN mengatakan ia tidak mempermasalahkannya lagi. Ya gimana ya. Mungkin itu salah satu trik mengisi buku ini. Hak orang juga ya.
Buku ini emang unik sih. ABN sangat menjunjung tinggi kebebasan, termasuk kebebasan Pers dan dukungannya kepada media. ABN begitu mendewakan demokrasi di sebuah Negara yang masih jauh mengenai hal itu sendiri. Emang sih sebagian udah tau soal apa itu de-mo-kra-si tapi kalo ditinjau bagaimana kondisi sejarahnya kita memang belum terlalu dekat dari demokrasi itu sendiri. Pemikiran masyarakat sekarang salah kotak, contoh nyata FPI. Orang-orang hebat seperti ABN masih dianggap kontroversional, males dideketin kalo bahasa pertemanan di sekolah. Bahasa gampangnya:males nyari masalah. Pemikiran beliau bagus banget kalo bisa diterapin di Negara kita, asal nanti kita dewasa punya asas tersendiri mengatur kebebasan tersebut..
Bagi yang suka politik-politikan dan membaca. Saya rasa pasti jadi salah satu referensi yang lumayan untuk dibaca buku ini.

Rumah Kaca, The Last Buru's Series




Kalo saya katakan seberapa besar cinta saya terhadap buku-buku sastra, saya akan menyamakan levelnya dengan betapa saya mencintai film-film di dunia ini. Sekalipun tetep lebih kenyang membaca sastra semacam roman fiksi yang bahasanya entah kemana-mana. Ketika saya membaca sastra, seketika fantasi itu seperti terwujud dengan begitu nyata.
Merunut beberapa posting mengenai hasrat membaca yang di alam goib, finally saya bisa juga nyelesain tetralogi Pulau Buru karya Dewa Pramoedya Ananta Toer. Trus? Oh ya ini semacam gila.
Saya ngga peduli sih dibilang lebai dan semacemnya, kalo ternyata emang cuma saya yang nangis baca novel semacem ini karna terkagum-kagum..dalam tempo 6 bulan di sela semua ke(sok)sibukan saya dan passionless dalam membaca, dan keterbatasan cari pinjaman sana-sini, yap akhirnya selesai juga.
Hmm.. gimana yah. Semiotiknya banyak banget coy, tapi saya ngga bisa diem setelah baca karya maha dasyat ini. 2 bulan yang lalu sebelum hp keformat saya selalu mencatat setiap quote dari buku pertama sampai ketiga, sayangnya oh.. Rumah Kaca adalah semiotik mengenai Pangemanann sebagai tokoh utama di buku satu ini untuk menceritakan Minke yang juga sang tokoh utama dari buku-buku sebelumnya, Rumah Kaca menunjuk kepada pribadi Pangemanann dengan rahasianya, rumah kaca itu menunjukkan satu hal yang terlihat tenang dan damai di luar dan membiarkan segalanya tumbuh di dalam dengan liar. Hal itu dipendam Pangemanann dengan masalah-masalahnya yang tumbuh dengan baik terjaga oleh sang Rumah Kaca. Dalam 4 karya buku ini, sampai di buku ke-3 saya masih mengaggumi gaya bahasa Pram yang khas dengan segala senandung wejangan yang terselip di antara paparan sejarah yang terbungkus indah melalui sastra yang santun dan berbudaya. Dan di ujung buku, terpaparlah who the hell is Raden Mas Minke. Mungkin orang yang kepo, bisa langsung googling siapa beliau dan buku-buku jahanam ini..
Saya juga ngga habis pikir kenapa saya bisa sempet nangis. Pram semacam diciptakan sebagai mesin waktu dan mesin cetak yang sempurna, dia seperti sudah sadar mengenai semua relung kehidupan manusia dan buminya. Saya rasa Pram tau bagaimana bentuknya surga dan neraka kelak, Rest In Peace, Pak.
Dan, si Minke ini sebagai tiang berdirinya kebebasan di bumi Indonesia ini, sebagai pelopor surat kabar dan sumber informasi manusia, sebagai satu-satunya manusia pada masa itu yang melepas dirinya dari ilusi Jawa yang dibanggakan semua umat, kemudian pada akhir hidupnya hanya hilang sia-sia terlupakan karena kekuatan koloni. Raden Mas Minke, dengan kesederhanaannya, membuat cerita yang baik mengenai dirinya sendiri dan bangsanya, dengan keterbatasan dan keberuntungannya dia mengelola semua pikirannya menjadi bekal perjuangannya sebagai manusia yang mendambakan kebebasan. Dari awal cerita, Minke digambarkan sebagai sosok yang biasa, masalah demi masalah mendidiknya menjadi sosok yang kebal. Sebagai sosok yang cerdas dan dielu-elukan masyarakat, Minke memiliki fase sebagai manusia normal, jatuh cinta hanya dengan pesona wajah yang molek, mengalami masa galau dan bimbang, takut, dan sebagainya, yang menunjukkan terbentuknya seorang yang luar biasa seperti dirinya, tidak diperlukan menjadi bayi ajaib dengan sejuta keberuntungan dan tanpa kegagalan. Manusia memiliki kesempatan, kesempatan itu sama rata Tuhan berikan. Semua yang diinginkan tercapai, manusia mana yang tidak merasa hidupnya sudah sempurna.. tapi ketika sempurna  berpaling dan sesuatu yang terbiasa dengan kesempurnaan menjadi layu, walaupun hanya sementara.. dan menjadi layu, mematikan semua benih-benih hasrat lainnya untuk menjadi sempurna seperti sedia kalanya. Setelah diasingkan dan mematikan semua pikiran dan keinginannya, Minke begitu layu mengahadapi masa lalu yang ia hadapi, ia mati dalam kelemasan, tak berdaya, dan dilupakan manusia-manusia sekitarnya yang ia perjuangkan.
Saya? Miris, saya netes air mata nggak tau kenapa. Mungkin masih terhanyut, rasanya seperti baca Me vs High Heels zaman SMP dulu, zaman-dramatis-terlalu-mendalami-novel-karna-ga-ada-hiburan-lain-selain-novel-dan-friendster. Sebagai masyarakat informasi, manusia yang bekerja setiap hari ketemu teknologi informasi, saya merasa sangat ketinggalan zaman betapa saya ngga tau pelopor dari koran-koran selama ini. Waktu ngga sengaja nganter Prita Ocha kemaren, ke Monumen Pers di Solo, saya sempet liat bagaimana rupa beliau, Raden Mas Minke dengan Medan-nya berjaya, tapi saya belum tau beliau itu Minke dalam tetralogi. Rasanya pengen cepet pulang ke Solo dan ke MonumPers lagi sekaligus liat Koran aslinya di ruang penyimpanan. Betapa saya kangen dan pengen ngeliat beliau lagi.. sekalipun konon makamnya ada di Karet.. tapi mungkin akan aneh aja kalo ziarah sendiri kan ._.
Saya bersyukur Tuhan mengembalikan benih-benih nasionalisme paling ngga bersemi lagi, setelah sebagian besar pudar karena terlalu sering liat pejabat kpk rusuh di tv dan terlalu sering liat Trending Topic gak penting pake bahasa Indonesia di Twitter. Menjadi Minke selanjutnya bukan hal  yang mudah, mungkin cenderung mustahil, seperti mengharapkan Surapati selanjutnya.. menjadi seperti Pram? Ya masih berharap sih. Tapi menurut saya sosok-sosok seperti mereka mungkin hanya Tuhan ciptakan the one and only seperti kamu #eaa  

Minke dan Pram adalah manusia-manusia yang baik dalam hal inspirasi, buku-buku ini kaya akan informasi dan inspirasi:Tetralogi Buru, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca. Dan sekarang saya ngerti oh karena ini bukunya dicetak dalam segala bahasa di dunia.. RIP Fathers, saya bangga jadi bangsa Indonesia karena kalian..