Awal tahun 2013 sudah
di depan mata memanggil saya datang lekas-lekas. Saya tersesat di dalam situasi
ketika menghadapi sebuah ruangan gelap dengan barang yang tak terhingga
jumlahnya bercecer menyentuh kaki saya. Dan ketika saya menggesernya pun,
kesekiannya akan langsung menyentuh saya.
Hidup semacam sebatang
rokok, milik seorang yang merokok tapi bukan perokok. Cepat habis, cepat habis.
Situasi yang begitu
kacau. Seperti pembicaraan yang sebelumnya. Ketika kita mengenang soal hidup
tidak ada bayangan mengenainya di awal dan menjadikan kita akhirnya seperti
apa.
Hidup akan tertutup,
bukan ketika kita count down menghitung datangnya pagi di tahun yang baru. Tapi
kematian nanti yang akan menentukannya. Takdir yang satu itu yang mengunci
filosofi kita sebagai manusia. Sedangkan, hidup yang kita setapaki belum juga
lurus jalan tujuannya. Dan kita mengambang pada kebisuan yang pahit, tatkala
mengenangnya kembali.
Hidup seperti gudang
itu. Berantakan dan penuh atas sampah kemauannya di masa lampau. Selanjutnya ia
sibuk menghabiskan apa yang seharusnya ia bisa nikmati lebih lama. Sayang sekali
saya tidak ada pada saat itu untuk memberikan semacam keajaiban, semacam
pelukan yang mesra untuk menghapus keraguannya, menguatkannya. Sayang sekali
pada saat itu saya terlalu sibuk dengan yang namanya kenyataan dan membentuk
bidang ilusi lainnya, yang tidak terjanjikan juga pada akhirnya.
Kalo nanti Tuhan masih
berikan saya usia. Saya mau menjaga kedua orang tua saya, adik saya, dan para
sahabat saya. Saya ngga mau meninggalkan kembali hal yang tidak sepantasnya
ditinggalkan. Bahkan untuk alasan apapun.
Saya begitu sedih tahun
ini. Saya ditipu kaum Maya. Yahudi semakin membabi buta. Saya kehilangannya dan
Ria. Saya terlalu sibuk dengan banyak hal, dan yang paling menyedihkan saya
malu terhadap diri saya sendiri. Saya berubah menjadi pribadi yang dangkal,
saya meninggalkan posisi saya sebagai manusia seutuhnya, saya ngga punya pattern yang kuat bahkan untuk menulis. Saya
ingin sekali menjadi pribadi yang orisinil dan terus menyenangkan. Saya ngga
mau jadi orang mainstream, ngga mau sama-sama an, apalagi disamain. Semoga Allah
memberi usia yang panjang untuk kita semua. Amin
Tadi
sore di pinggir sebuah aliran air, di tepian kabut yang hening.
Aku
mendapatkan sebuah puisi. Yang merinai di dinding kepalaku, begitu syahdu
mengenang seseorang.Dipeluk angin yang melembut, aku tersipu menyadari betapa
puisi itu menggelayut mesra dan tidak kunjung padam.Puisi
itu semacam epilog. Dia nyata dan mengharapkan kenyataan.
Meski tidak
sedikitpun kemudian hadir, rinai-rinai dialog penutup yang muncul seperti yang
diharapkan.
Tapi
sepertinya memang bukan soal cinta. Aku mengaliri puisi itu dengan kehidupan
yang dia harapkan. Dan aku sementara ini hidup karenanya.
Epilog
itu semu. Hingga saat ini aku ingin membukanya kembali, tapi memang lebih baik biar
saja tertutup.
Aku
merangkak naik ke ranjang, tubuhku biru-biru mengerang. Dan di luar sana
terdengar teriakan wanita kolot yang tak henti menyiksaku kian usiaku saat ini.
Ia menggedor pintu kamarku dengan suaranya yang nyaring dan menakutkan.
Matahari
pagi-pagi mulai mengintip dari sudut jendela di sudut ruangan, aku masih
terkapar biru-biru dan menangis. Aku belum lagi tertidur sekalipun pintu sudah
lengang dari satu jam yang lalu..
Aku
berdiri, menarik kertas.. Aku tinggalkan ia surat.
“Satu-satunya
wanita yang paling aku cintai itu Engkau. Satu-satunya wanita yang menelurkan
aku dari sebuah lubang sempit, memberikan dadanya selama dua tahun, dan tak
sedetikpun meninggalkan aku.
Satu-satunya
harapanku mengenai dunia adalah Engkau, melihat betapa bahagianya ketika aku
berikan seluruh dunia ini kepadaMu.
Satu-satunya yang
aku pikirkan di ujung dunia sekalipun adalah Engkau, melihat Tuhan memberikan
matahari di ujung samudera, hangat dan besar seperti Engkau yang selalu
membuatku merasa nyaman di seluruh dunia.
Bu, waktuku hanya
Tuhan yang tahu. Aku di dalam perjalanan menemui hidupku sendiri. Setiap jalan
yang aku cari bukan lagi Engkau yang tentukan. Aku beragama pun atau tidak,
sudah tidak seharusnya Engkau urusi aku. Aku manusia yang Engkau lahirkan sejak
lama, betapa tidak sedikitpunnya Engkau sekarang mengerti betapa Aku ingin
terlepas dari segalanya tentangMu. Mengapa tidak sedikitpun anakmu ini
melangkah sedikit lebih jauh tanpa kau sentuh, Indukku?
Aku terpaut jauh
darimu. Segalanya hari ini sudah tiada lagi seperti dulu ketika segala
peraturanmu melekat di kepalaku. Tidakkah kau lihat Ibu, hari ini sudah
zamannya laki-laki memotong alat kelaminnya sendiri untuk bisa terlihat seperti
kita. Tidakkah Engkau jera menganggap aku lemah?
Tidakkah aku
terlihat baik-baik saja ketika aku menabahkan hatiku, hatimu, hati saudaraku
melihat lelakimu pergi dengan pelacur berpantat besar yang seronok itu?
Tidakkah kau lihat betapa aku dengan tenangnya menganggap semua baik-baik saja
ketika kalian yang selalu diam kemudian mengumpat di hadapan kami? Tidakkah Kau
lihat betapa hatiku penuh dengan jahitan-jahitan jerit tangismu yang selalu
membantah apa yang aku bicarakan? Aku sudah bicara berkali-kalinya. Tidakkah
kau bisa, hilang, dan diam untuk sementara dalam hidupku.. aku ingin mati
mengingatmu. Betapa aku mencintaimu, dan tidak bisa sedikitpun aku melerai kita
berdua.
Jadi hari ini aku
akan pergi. Menabahkan hatiku sendiri berpisah dengan kekasih hatiku, berpisah
dari berkah Yang Maha Kuasa untukku, berkah yang paling sempurna.. entah apa
yang merubahmu Bu. Ego kita tak lagi satu, aku meninggalkanmu demi hidup yang
normal seperti manusia lainnya. Aku mendoakanmu sepanjang waktu. Di setiap hela
hidupku. Lekas kembali Bu, kembali memanusia..”
Matahari
semakin hangat memelukku dari balik jendela. Air-air samudera di luar sana
terdengar bergemuruh, tebing-tebing sekitarnya dibelai-belai agar meluruhkan
semua rasa tegarnya.. aku menatap kaca, mengorek mataku dengan pinsil coklat
agar terlihat hidup dan mengalihkan bengkaknya. Menyisir rambutku yang kaku,
membenahi pakaianku yang compang camping.. dan melewati batas jendela.
Menyambut air laut yang marah di pagi hari, memeluk matahari.
Aku,
seorang pelacur kelas kakap, seorang pecandu ekstasi, seorang pembunuh lelaki
penjaga hotel yang tidak melunasi hutangnya padaku..Sekaligus pembunuh hati Ibuku. Hati Ibuku
yang tinggal sekeping, hati Ibuku yang sekeras batu, hati Ibu yang selalu ingin
memiliki dan memaksaku. Menjual semua yang ada di diriku. Menjual semua
peraturannya. Hari ini, berhasil meninggalkannya.
Sebelumnya
saya berterima kasih sekali kepada ‘mbak ike’ yang mereferensikan buku ini
kepada saya. Cerita Cinta Enrico oleh Ayu Utami ini salah satu cerit kesukaan
saya banget. Bahasa dalam ceritanya detail sekali, santai, dan mudah diingat.
Sekalipun cerita ini dibangun dari cercahan memori, tapi Ayu Utami seperti
memberikan imajinasi fiksi yang segar dan menyenangkan. Sayangnya nilai kejutan
yang saya dapatkan berkurang karna sebelumnya si Ike Marike alias Shelma Aisya
nya udah ngajakin kepo barengan soal Enrico yang jadi biang keladinya di
google. Dengan kesotoy-an saya,, akhirnya saya seperti mengurut cerita dengan
imajinasi saya mengenai Enrico via google yang minim sekali hasil pencarian.
Karena beliau ini (Sang Enrico) adalah sosok yang jauh dari eksistensi macem
artis dan sebagainya, yap.. Enrico itu sebuah makhluk nyata.
Yang
saya suka adalah sosok Enrico yang diceritakan A begitu sempurnanya dan
menggemaskan. Memori yang sepenggal-sepenggal itu ngga kehilangan nilainya,
dikarenakan proses penceritaan yang sebentar itu selalu ada gaya menulis A yang
ngga terduga. Saya menikmatinya.
Selepas
dari semua penulisan yang bebas dan menyenangkan tersebut, saya menarik
kesimpulan melalui membaca buku ini bahwa kemustahilan di dunia ini semakin
hilang garisnya.. kisah cinta macam apa yang mengutamakan ranjang dan masih
bisa membuat kesan bijaksana dan mungkin terjadi, bahkan di kehidupan orang
dewasa yang biasanya berpikiran tentang tujuan hidup dan mapan-itas. Kisah
cinta macam apa yang bisa terlihat seolah-olah beneran cinta sejati padahal
hanya berjumpa di satu pertemuan yang dalam kondisi putus asa, kemudian
bertelanjang, dan tidak lagi bisa terpisah. Susah ya seniman.
Bicara
mustahil zaman sekarang, emang cuma bisa diketawain. Tuh buktinya, bujang lapuk
semacam Enrico pada akhirnya bisa memutus kebebasannya kemudian menemukan
betinanya di ujung usia tua, kemudian wanita dengan hati seperti karang dan
seapatis A bisa akhirnya memutuskan kebebasannya juga dan menikah, bahkan
melanggar sumpahnya. Cerita Cinta Enrico membuktikan bahwa Tuhan memang benar
punya rencana. Bahkan, sekalipun kita ngga pernah menduganya sedikitpun di
awalnya.
Novel
ini juga menunjukkan kepada saya, soal gaya hidup sekelumit manusia di luar
sana yang jauh dari mainstream kebanyakan, tapi hebatnya orang-orang seperti A
dan Enrico adalah tipikal manusia-manusia yang peduli mengenai moral. Nilai
plusnya adalah ketika membicarakan keTuhanan yang menurut saya dialognya sangat
absurd, tapi pada akhirnya buat kita menggeleng sekaligus mengangguk-angguk dan
bergumam.. ‘OH IYA BENER JUGA, SIAUL DEH..’ Kebebasan dalam setiap hela hidup
orang-orang yang seperti mereka adalah kebutuhan pokok, cenderung bersikap
bodo-amat dan ngga peduli, menurut saya ya emang keren.. tapi dalam kebebasan
itu dengan arifnya A masih menciptakan batas mengenai dirinya sebagai makhluk
ciptaan dan bagaimana memperlakukan Tuhannya. A ngga munafik sekalipun dia
apatis dan arogan. Ia membatasi dirinya, tapi ngga ngaruh sama tulisannya yang
membangkitkan hasrat semangat saya untuk menyiarkan rasa bebas itu juga dalam
diri saya. Bebas dalam pemaknaan saya pribadi, bukan versi A, Enrico, atau
siapapun.
Cerita
Cinta Enrico juga mengajarkan bagaimana seorang anak manusia membutuhkan 3
cinta utama dalam hidupnya, saelah.. ceritanya Enrico ini cinta sekali sama
Induknya, ia menghargai Negaranya, dan ia mencintai wanita pengganti Ibunya.
Enrico dengan penggambaran dari anak yang romantis, anak kampung yang nakal,
kemudian tertekan, sok ganteng, pekerja keras,tegas karena selalu berani mengambil pilihan yang ekstrim, dan begitu
dewasa. Oke, saya jadi berandai-andai punya Enrico versi selanjutnya, tapi yang
ngga ngajak berzina dan sudah bermain dengan berpuluh-puluh perempuan haha :))
Soal
buku, Saya suka membaca, tapi cenderung lebih sering membaca novel-novel
klasik, sastra, dan anti terjemahan. Saya suka baca majalah, artikel, bahkan
timeline orang lain. Sebenernya saya tipikal manusia klasik yang awam sama yang
namanya novel remaja percintaan macem teenlit, sekalipun iya sih dulu waktu SMP
saya rajin baca Dealova dan semacemnya karena di perpus sekolah saya yang gaul
dulu updatenya buku begituan. Saya juga ngga begitu sering membaca fiksi
fantasi modern yang belakangan ini lebih frontal bahasa kekasih-kasihannya,
saya ngga begitu suka membaca novel-novel lawakan atau non lawakan yang asalnya
dari kumpulan Tweet. Saya ngga suka baca buku soal pemerintahan, ekonomi,
matematika, dan sebagainya. Sekalipun
saya mencintai sejarah dan apapun di dalamnya.
Tapi
kebetulan, dari study visit kemarin bareng satu angkatan Komunikasi 2010 ke
Jakarta. Kita kunjungan ke beberapa televisi swasta dan beberapa acara, salah
satunya acara keren favorit saya, Kick
Andy. Saya berhasil mendapatkan satu buah buku dan pembahasannya di dalam
acara. “Nasihat untuk SBY” oleh Adnan Buyung Nasution.
Selama
acara, saya cengo’ aja selain stress
bego kedinginan sama Icha dan Ambar karna di studio suhunya saya bayangkan 1
derajat celcius, bahaha. Tapi untungnya jadi hangat di awal karna ada ada Mas
Awan G(emes) dan bandnya G.Pluck di acara tersebut, ya paling ngga nahan saya
untuk lebih lama mengenal talk show yang bikin saya kecewa di awal, karena tau
guess starnya adalah tokoh politik. Jadilah saya seadanya menyimak, kemudian
menyimak.. dan acara jadi ngga terlalu berat karna Andy F. Noya ini cerdas
banget membawa obrolan jadi simak-able dan jadi kocak. Perlahan saya mengerti
apa perbincangan bapak-bapak di depan, yang intinya membicarakan sebuah buku
yang baru Pak ABN tulis. Kesan pertama saya, “wah ini orang semacem songong apa
ember apa jahat, kok ya rahasia dibongkar-bongkar..”
Tapi,
belakangan saya tau mengapa ABN begitu berapi-apinya tampil di depan public
dengan sebuah buku controversialnya. Setelah secara umum dibahas isi bukunya
dengan jelas, di akhir acara saya mencoba mengerti dan memaafkan ABN, haha. Ya
paling ngga sebagai masyarakat, saya akhirnya tau apa yang disampaikan beliau.
Setelah
seminggu lewat, saya selesaikan bukunya dalam dua hari. Saya membaca separuh
penuh isi buku yang menurut saya memang menarik saja, meninjau isi bukunya ya
emang ‘politik banget’. Ada beberapa isu-isu sosial yang menarik di dalam buku
yang saya baca serasa anak SMA mau ujian KWN besoknya, bener-bener banget saya pahami.
Penjabaran yang dilakukan ABN di dalam bukunya bener-bener detail, lewat
dialog, bahasa yang cerdas, dan memberi kesan tajam tapi jujur. Buku ini yang
jelas bercerita mengenai pengalaman ABN sebagai Anggota Dewan Pertimbangan
Presiden Bidang Hukum (2007-2009). Dari sini kita melihat pola pikir beliau
masuk ke dalam birokrat pemimpin sebuah Negara yang disamakan dengan kapal yang
akan karam. Sebenernya, ABN ini harusnya hanya cenderung ke bidang hukum saja, tapi
kepedulian mengenai agama, sosial, bahkan pornografi yang beliau urus dan
ditulis di bukunya, benar-benar menunjukkan keahliannya sebagai seorang tokoh
yang terpandang di dunianya.
Di
buku ini ABN banyak bercerita, misalnya sebagai orang yang awam mengenai
politik pemerintah saya melihat bagaimana sikap para menteri yang digambarkan buku
ini yang sikapnya justru tidak bersikap kritis dan masih mengikuti cara feodal
yang kaku dalam rapat. Ternyata ngga cuma seminar mahasiswa yang jarang
partisipan, di buku ini dibilang para menteri pun jarang ada suaranya. Itu
satu, ABN mengungkap dalam buku ini mengenai satu kondisi yang masyarakatpun
sebenernya harus ngerti gimana kinerja pemerintahnya. Selain itu, ABN
menuliskan bagaimana Pak Presiden sebagai tanggung jawabnya memberi sikap terhadap
berbagai pendapatnya mengenai beragam masalah, Pak Presiden yang dianggap
kurang perhatian dan kadang cenderung berkepentingan terhadap kelompok
elit saja. ABN ini terlihat dalam
tulisannya adalah sosok yang dominan dan memperjuangkan apa yang beliau anggap
benar, tapi ya pasti dengan dukungan data yang selalu beliau jabarkan menyertai
pendapatnya. Dan voilanya memang sangat realistis, membacanya juga ngga terlalu
rumit menurut saya karena dengan adanya fakta berupa dialog atau penjabaran
kronologi jadi semangat pengen tau selanjutnya. Buku ini dengan sangat jelas
tokoh-tokoh di dalamnya tanpa nama samaran dan rekayasa. Jadinya seru. Haha.
Dalam
konteks konsisten, memang ABN adalah sosok yang satu tujuan dan berkemauan
keras. Tapi ya karena dominasi tersebut, beliau jadi cenderung selalu
menjabarkan kekecewaannya kepada Pak Presiden karena ngga didenger pendapatnya.
Jadi kesannya Pak Presiden salah melulu. Kalo menurut saya setelah baca buku
ini, ya emang salah kalo Pak Presiden membentuk Wantimpres tapi ngga digunakan
dengan baik, ngga ada komunikasi yang baik dan rutin, ya percuma dong.
Ibaratnya punya pembantu tapi ngapa-ngapain sendiri. Cuma, menanggapi
kekecewaan ABN menurut saya ya sometime
wajar-wajar aja kalo orang mau mengambil
keputusannya sendiri, terlebih orang tersebut memang punya kuasa. ABN
mengajarkan pembacanya buat jadi kritis dan bertindak cepat, tapi kadang saya
suka mbatin “Apaan sih” kalo baca bagian ABN yang marah-marah melulu minta
didengerin. Trus mengenai kritis-kritis itu, sayangnya di Negara kita sendiri
masih jarang ada generasi yang secara keseluruhan semuanya mudah bicara dan
berani jujur seperti yang diharapkan ABN, sesuai sama sistem feodal yang masih
berlangsung dimana-mana sampai sekarang ini makin susah bikin orang jadi lebih
partisipatif misalnya. Apalagi kalo ada duit. Toh lingkungan sekitar juga ngga
mendukung, soalnya, sifat nrimo’ dan
anteng masih menjadi titik aman dan nyaman paling utama. Dan kadang sempet ada
pikiran, toh kalo semua bicara, apa iya menjamin keadaan jadi lebih dan semakin
baik? Bukannya malah jadi membesarkan ego masing-masing, toh lagi semua jadi
mengutamakan subjektifitas pemikiran masing-masing kan? Nanti kalo begitu
jadinya, kita harus mendengar siapa?
Mungkin
buku kaya begini udah banyak, tapi karena ini buku tokoh politik pertama saya dan
saya baca sampe ngerti jadi saya kira menulis kesan saya seperti ini ya.. saya
pikir menyenangkan. Banyak cerita yang sesuai tujuan ABN menulis buku ini tersampaikan
dengan baik, yang tadinya ngga tau sebagai warga Negara akhirnya saya tau.
Mengenai ahmadiyah yang begitu bijak diuraikan ABN, mengenai berbagai UU. Ya
emang kadang tulisan di dalam buku ini mencerminan arogansi dan unsur
melebih-lebihkan sebuah masalah misalnya waktu dibahas SBY membuat Perpu trus
dibilang otoriter, padahal Perpu dadakan itu adalah wewenang Pak Presiden, ABN
mengamuk karna merasa dilangkahi, tapi setelah itu dengan mudahnya ABN
mengatakan ia tidak mempermasalahkannya lagi. Ya gimana ya. Mungkin itu salah
satu trik mengisi buku ini. Hak orang juga ya.
Buku
ini emang unik sih. ABN sangat menjunjung tinggi kebebasan, termasuk kebebasan
Pers dan dukungannya kepada media. ABN begitu mendewakan demokrasi di sebuah
Negara yang masih jauh mengenai hal itu sendiri. Emang sih sebagian udah tau
soal apa itu de-mo-kra-si tapi kalo ditinjau bagaimana kondisi sejarahnya kita
memang belum terlalu dekat dari demokrasi itu sendiri. Pemikiran masyarakat
sekarang salah kotak, contoh nyata FPI. Orang-orang hebat seperti ABN masih dianggap
kontroversional, males dideketin kalo bahasa pertemanan di sekolah. Bahasa
gampangnya:males nyari masalah. Pemikiran beliau bagus banget kalo bisa
diterapin di Negara kita, asal nanti kita dewasa punya asas tersendiri mengatur
kebebasan tersebut..
Bagi
yang suka politik-politikan dan membaca. Saya rasa pasti jadi salah satu
referensi yang lumayan untuk dibaca buku ini.
Kalo
saya katakan seberapa besar cinta saya terhadap buku-buku sastra, saya akan
menyamakan levelnya dengan betapa saya mencintai film-film di dunia ini. Sekalipun
tetep lebih kenyang membaca sastra semacam roman fiksi yang bahasanya entah
kemana-mana. Ketika saya membaca sastra, seketika fantasi itu seperti terwujud
dengan begitu nyata.
Merunut
beberapa posting mengenai hasrat membaca yang di alam goib, finally saya bisa
juga nyelesain tetralogi Pulau Buru karya Dewa Pramoedya Ananta Toer. Trus? Oh ya
ini semacam gila.
Saya
ngga peduli sih dibilang lebai dan semacemnya, kalo ternyata emang cuma saya
yang nangis baca novel semacem ini karna terkagum-kagum..dalam tempo 6 bulan di
sela semua ke(sok)sibukan saya dan passionless dalam membaca, dan keterbatasan
cari pinjaman sana-sini, yap akhirnya selesai juga.
Hmm..
gimana yah. Semiotiknya banyak banget coy, tapi saya ngga bisa diem setelah
baca karya maha dasyat ini. 2 bulan yang lalu sebelum hp keformat saya selalu
mencatat setiap quote dari buku pertama sampai ketiga, sayangnya oh.. Rumah
Kaca adalah semiotik mengenai Pangemanann sebagai tokoh utama di buku satu ini
untuk menceritakan Minke yang juga sang tokoh utama dari buku-buku sebelumnya,
Rumah Kaca menunjuk kepada pribadi Pangemanann dengan rahasianya, rumah kaca
itu menunjukkan satu hal yang terlihat tenang dan damai di luar dan membiarkan
segalanya tumbuh di dalam dengan liar. Hal itu dipendam Pangemanann dengan
masalah-masalahnya yang tumbuh dengan baik terjaga oleh sang Rumah Kaca. Dalam
4 karya buku ini, sampai di buku ke-3 saya masih mengaggumi gaya bahasa Pram
yang khas dengan segala senandung wejangan yang terselip di antara paparan
sejarah yang terbungkus indah melalui sastra yang santun dan berbudaya. Dan di
ujung buku, terpaparlah who the hell is Raden Mas Minke. Mungkin orang yang
kepo, bisa langsung googling siapa beliau dan buku-buku jahanam ini..
Saya
juga ngga habis pikir kenapa saya bisa sempet nangis. Pram semacam diciptakan
sebagai mesin waktu dan mesin cetak yang sempurna, dia seperti sudah sadar
mengenai semua relung kehidupan manusia dan buminya. Saya rasa Pram tau
bagaimana bentuknya surga dan neraka kelak, Rest In Peace, Pak.
Dan,
si Minke ini sebagai tiang berdirinya kebebasan di bumi Indonesia ini, sebagai
pelopor surat kabar dan sumber informasi manusia, sebagai satu-satunya manusia
pada masa itu yang melepas dirinya dari ilusi Jawa yang dibanggakan semua umat,
kemudian pada akhir hidupnya hanya hilang sia-sia terlupakan karena kekuatan
koloni. Raden Mas Minke, dengan kesederhanaannya, membuat cerita yang baik
mengenai dirinya sendiri dan bangsanya, dengan keterbatasan dan
keberuntungannya dia mengelola semua pikirannya menjadi bekal perjuangannya
sebagai manusia yang mendambakan kebebasan. Dari awal cerita, Minke digambarkan
sebagai sosok yang biasa, masalah demi masalah mendidiknya menjadi sosok yang
kebal. Sebagai sosok yang cerdas dan dielu-elukan masyarakat, Minke memiliki
fase sebagai manusia normal, jatuh cinta hanya dengan pesona wajah yang molek,
mengalami masa galau dan bimbang, takut, dan sebagainya, yang menunjukkan
terbentuknya seorang yang luar biasa seperti dirinya, tidak diperlukan menjadi
bayi ajaib dengan sejuta keberuntungan dan tanpa kegagalan. Manusia memiliki
kesempatan, kesempatan itu sama rata Tuhan berikan. Semua yang diinginkan
tercapai, manusia mana yang tidak merasa hidupnya sudah sempurna.. tapi ketika
sempurna berpaling dan sesuatu yang
terbiasa dengan kesempurnaan menjadi layu, walaupun hanya sementara.. dan
menjadi layu, mematikan semua benih-benih hasrat lainnya untuk menjadi sempurna
seperti sedia kalanya. Setelah diasingkan dan mematikan semua pikiran dan
keinginannya, Minke begitu layu mengahadapi masa lalu yang ia hadapi, ia mati
dalam kelemasan, tak berdaya, dan dilupakan manusia-manusia sekitarnya yang ia
perjuangkan.
Saya?
Miris, saya netes air mata nggak tau kenapa. Mungkin masih terhanyut, rasanya
seperti baca Me vs High Heels zaman SMP dulu,
zaman-dramatis-terlalu-mendalami-novel-karna-ga-ada-hiburan-lain-selain-novel-dan-friendster.
Sebagai masyarakat informasi, manusia yang bekerja setiap hari ketemu teknologi
informasi, saya merasa sangat ketinggalan zaman betapa saya ngga tau pelopor
dari koran-koran selama ini. Waktu ngga sengaja nganter Prita Ocha kemaren, ke
Monumen Pers di Solo, saya sempet liat bagaimana rupa beliau, Raden Mas Minke
dengan Medan-nya berjaya, tapi saya belum tau beliau itu Minke dalam tetralogi.
Rasanya pengen cepet pulang ke Solo dan ke MonumPers lagi sekaligus liat Koran
aslinya di ruang penyimpanan. Betapa saya kangen dan pengen ngeliat beliau
lagi.. sekalipun konon makamnya ada di Karet.. tapi mungkin akan aneh aja kalo
ziarah sendiri kan ._.
Saya
bersyukur Tuhan mengembalikan benih-benih nasionalisme paling ngga bersemi
lagi, setelah sebagian besar pudar karena terlalu sering liat pejabat kpk rusuh
di tv dan terlalu sering liat Trending Topic gak penting pake bahasa Indonesia
di Twitter. Menjadi Minke selanjutnya bukan halyang mudah, mungkin cenderung mustahil, seperti mengharapkan Surapati
selanjutnya.. menjadi seperti Pram? Ya masih berharap sih. Tapi menurut saya sosok-sosok
seperti mereka mungkin hanya Tuhan ciptakan the one and only seperti kamu #eaa
Minke
dan Pram adalah manusia-manusia yang baik dalam hal inspirasi, buku-buku ini
kaya akan informasi dan inspirasi:Tetralogi Buru, Bumi Manusia, Anak Semua
Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca. Dan sekarang saya ngerti oh karena ini
bukunya dicetak dalam segala bahasa di dunia.. RIP Fathers, saya bangga jadi
bangsa Indonesia karena kalian..