Sabtu, 30 Januari 2010

stupid girl stupid girl

GAK TAU HARUS LARI KE MANA HARUS HILANG KE MANA HARUS MENJERIT PADA SIAPA HAHAHAHAH

elegi panggung

Namanya peran. Kalau di panggung kita berperan, dan saya mencintai hal itu. Saya begitu merindukan panggung. Dan saya masih di panggung.

Dan akhirnya kata tamak yang menyelubungi ketika kita berfikir siapa yang harus berperan di pojok sana atau di bawah lampu merah. Aku mau ini! Aku mau itu!

“Diam! Tolol kalian semua”

Pak sutradara marah, dan saya menangis di bangku penonton. Melihat yang lain bisa mendapat peran di sana. Diledek sama tukang pel auditorium. Teriak. Tapi dalam hati
Dawai-dawai biola membunuh saya, dan dentingan piano menelusupi saya. Lalu ada bayang-bayang lighting mewarnai muka saya yang terhempas dari panggung.

“Mereka tetap menari. Aku mau.”

Hentakan kaki saya menuju gelak tawa para kecoak. Saya menarik urat mencari jalan kembali. Meliuk, dan membuka vokal.

Saya dilirik, namun tetap pelik.

Namanya peran. Dilihat ratusan pemuda-pemudi, bapak-ibu, dan saudara-saudari. Usai dua hari menjelang pementasan, dan lampu lampu sudah siap terpasang, lagi layar violet penuh menutupi panggung.. dan sore hari melintas pada wajah saya dan mereka..

"Aku mati, untuk dia Pak Sutradara.. biar gelombang puas memangsaku dan temukan aku di teluk emas, di ujung dunia.."

"Aku begitu mencintai panggung, dan tak mampu hidup tanpanya.."

"Biar aku menelanjangi diriku dan menggelun setiap sudutnya.."

"Aku selalu rindu di tiap detik hidupku.."

"Aku mau peran itu."

Lalu Pak Sutradara bilang, “sudah, sana mati..”

Namanya peran. Dan aku begitu mengerti tentangnya. Karena sudah separuh abad, aku bersamanya. Si tua Bangka itu tau apa-ap dan segala. Saya tau ia seperti biasa.

Saya merenung di atas panggung.

"Gung.. aku cinta sama kamu.. tapi biarkan mereka saja ya yang merajahimu.. nanti kita bercinta lagi.. kalau aku ditemukan di tanjung emas.. biar mayatku mati di atasmu.. aku janji kita coba gaya baru, dan pakai pengaman.."

Saya meracau, memerankan panggung seperti om Bernard kemarin malam. Tak ayal mendesah lesu.

Hari pementasan. Panggungnya licin. Assisten sutradara mati tergelincir, lampu mati menjatuhi tukang lampu, dan dawai-dawai biola enggan bergeming. Semua mati.. dan layar violet jenuh.. jatuh..

Saya datang. Dan semua tenang. Semuanya berteriak lagi, dan jenset ternyata hidup lagi. Kebetulan sekali.

Kata si tua Bangka, "dia cintanya sama kau. Naik sana geluti dia.. ayo keluarkan egomu, dan jangan lupa nafas perut.. mulai adegan tiga, bagian favoritmu, menari.."

"bolehkah"

"iya sana" Hening. "yak lighting siap.. nyala.. layar bukaa.. act.."

Saya menari terus menari, sampai lampu tak henti menyoroti. Panas, dan terhempas.. tapi jatuh di atasnya.. panggung.
Sekarang orang di belakang panggung bergumam, kostum, make up, property, dan dawai-dawai biola. Membicarakan saya, mereka mengagungi kecintaan saya sama panggung, dan panggung cinta saya akhirnya..

Adalah yang jalang dan munafik, sekarang dihukum sama si tua Bangka pak Sutradara.
Yang cinta, dan jujur dapat yang cinta dan yang jujur…







dan saya memutuskan bersyukur lagi..

Senin, 25 Januari 2010

Senin Galau

Halo. Ini hari Senin. Dan hari ini begitu melelahkan.

Aku pernah bilang, orang yang paling mengerti aku adalah orang yang sama sekali terlihat tidak pernah mengerti adanya aku.

Hari ini kejadian lagi. Harusnya aku abaikan perempuan nan lebih sensitive daripada aku itu. Harusnya aku tak mengacak rambut keringnya, hingga ia tak membebaniku. Aku ini karung beban. Aku sensitive layaknya dia. Aku api sekaligus air nan menghanyutkanmu. Karena perempuan itu, salah satu di antaranya. Dan segalanya yang ada padaku saat itu, tak mengizinkan kita terpaut satu, dan mengalah. Jadi, aku pergi. Meninggalkan anak-anakku yang lain.

Berteriak mengucap salam pada ibuku, dan kerutanku ynan berbaris menyambutnya. Aku lari pada pijakan, dan memeluknya erat. Dan aku hanya diam, diburu nafsu. Tembok-tembok bisu kupukuli dengan hasrat, berat. Dan aku selalu menyebutNYA, namun IA menenangkanku dengan bisikanNYA.

Aku terpekur. Jadi, aku terlelap. Tidur, membenahi pikiran kotorku. Ibu mengetuk pintuku, bertanya, membelaiku, dan menggodaku. Embak, sms ;ka’ fenti kenapa?!lw leh tw?sapa tw lwhbs crta ntar jd dikit lega!, tak kuhiraukan. Cuma sms dari abang, dan aku sedikit ringan.

Adaaaa aja. Ya udah lah. Bersyukur kur kur zz

Minggu, 24 Januari 2010

The Forbidden Door



Well, I got Pintu Terlarang.
Film yang saya sendiri kurang menangkap maknanya. Tapi, sumpah ya ini film.. photo directnya keren banget, yang paling keren adalah visualisasian kota tua Jakarta, menjadi kota antah berantah nan indah. Si orang gila Joko Anwar berhasil menampilkan sesuatu dan menguaknya. Dari sebuah hal yang tabu menjadi sedikit mudah dimengerti tapi tetap misterius.
Bagaimana film ini menjaga pensaran para penontonnya, dari awal hingga akhir. Sejak saya menekan tombol close ke dvd sampe saya mengembalikan keeping-keping Cdnya. Saya masih belum menangkap utuh dari film ini, idiot.

Jadi ceritanya ini reviewnya saya ambil dari

Diangkat dari novel thriller karya Sekar Ayu Asmara, dikenal sebagai penulis yang selalu memiliki kecenderungan berpikir 'melenceng' dari garis normal, bercerita tentang Gambir (Fachri Albar) seorang pematung muda yang sukses namun selalu tampak resah dan gelisah dengan segala pencapaiannya. Gambir juga diceritakan selalu disetir oleh sang istri Talyda (Marsha Timothy), ibunya (Henidar Amroe), koh Jimmy sang sponsor (Tio Pakusadewo) maupun sahabatnya Dandung (Ario Bayu). Di tangan mereka kehidupan Gambir selalu terombang-ambing tanpa pegangan yang jelas.

Awalnya film ini menyajikan suasana supranatural yang kuat, kala Talyda memaksa Gambir untuk memasukkan janin hasil hubungan luar nikah mereka ke dalam perut patung hamil karya Gambir. Semenjak itu seperti mendapatkan daya tarik baru, semua patung Gambir (yang telah dititipi janin) seakan-akan berubah menjadi menarik dan bernyawa.

Namun ternyata alur cerita tidak mengijinkan film ini terjebak menjadi sebuah horror klise seperti yang terkira. Karena akhirnya perlahan-lahan perhatian penonton dialihkan ke berbagai potongan adegan masa lalu tentang penyiksaan seorang anak serta keberadaan pintu terlarang dari sebuah ruangan yang dibuat sang istri dalam rumah baru mereka.

Di sini kebrilianan cerita asli dan penyutradaan Joko Anwar bergabung menghadirkan beragam twist yang tidak terkira dan membuat penonton menarik nafas. Terutama adegan mencekam di mana Gambir harus menghabisi orang terdekatnya dan bagaimana ending cerita membuat penonton mengerti mengapa semua ini harus terjadi.

Walau untuk penggambaran beberapa adegan masih terlihat pengaruh sutradara Hideo Nakata berdasar pada novel laris karya Koji Suzuki, Ringu, gaya Joko Anwar membesut tampilan fotografis dan serta elemen grafis boleh dipuji. Pemilihan karakter warnanya pun sangat mendukung dan cukup unik dalam mendukung permainan emosi penonton.

Tidak seperti film Indonesia lain yang sering kedodoran dalam unsur screenplay, logika umum ataupun detil kerangka waktu, Pintu Terlarang bisa dibilang cukup rapi dalam hal ini. Sekalipun ada sedikit kejanggalan atau stereotype kuno tentang aplikasi kehidupan mewah, twist cerita yang dibuat di akhir film membuat kita memaafkan banyak 'kejanggalan' tersebut.

Brilian!!!

Good movie, tapi saya emang gak suka sama film yang genrenya orang-orang psikopat kaya begini. Heran banget ya, film-film orang Indonesia kok kalo kerennya minta ampun kaya begini selalu deh ceritanya macem-macem yang gak bisa bikin nyaman nontonnya. Aduh request dong pak sutradara tolong bikini saya film yang genrenya komedi atau romantis macem begini dong. Artisnya, visualisasinya, ooooh

Jumat, 22 Januari 2010

Mereka Bilang Saya, Monyet!

Mereka bilang saya monyet, adalah salah satu film yang fantastis buat saya. Adalah bagaimana menciptakan sesuatu yang minor dan tidak semua orang kehendaki, hadir begitu saja dengan tatanan rapi dan berani.

Saya menanggapi hasil karya yang satu ini merupakan cerminan hidup yang saya sempat bayangkan untuk terjadi di hidup saya sendiri.
Menjadi binal, puas merokok, alcohol, pulang malam, bareng temen, punya pacar seniman, terlebihh seorang penulis. Yang terkecuali yang mereka sebut ‘ngewe’

Oh ya! Saya tahu gimana rasanya hidup jadi ancur, hidup jadi begitu mudah dengan jual badan langsung dapet apartemen, sekarang saya tahu bagaimana sesungguhnya orang yang sering saya anggap keren yang mejeng di coffeeshop hi class adalah pelacur tingkat tinggi, saya tau gimana rasanya jadi ibu sekaligus bapak.

Saya tau antiklimaksnya. Makanya saya terus berharap jadi orang yang terus bersyukur, jadi orang yang selalu mengerti orang lain, dan gak nuntut orang lain untuk ngerti saya.

Minggu, 17 Januari 2010

kalau sakit :(

Hari ini sakit lagi. Endah sakit, lelakinya endah juga, aku sakit, lelaki itu juga sakit. Sakit semuanya, otaknya, hatinya, jantungnya, tubuhnya.
Radangku kambuh, tubuhku ini sarangnya para radang. Dari tenggorokan, sampai usus. Kata ibu ngga boleh namanya sentuh saos, apalagi mie instant.
Ibuku selalu tau pada akhirnya. Karena aku adalah orang nan paling bodoh sedunia. Orang yang mengulang kesalahan yang sudah pernah terjadi.
Segala cairan ada di tubuh, yang hidup ketika ibu sentuh. Yang lain tak bergeming, utuh.
Aku mau mati. Firasatku benar, hari kemarin.
Dan, aku bersyukur Tuhan masih mencintaiku.

Kacau.
Meracau.

Minggu, 10 Januari 2010

normal post

Halo, saya sudah selesai menangis. Dan letih tentang kesemuanya yang sedang maupun sudah terjadi. Alhamdulillah, saya masih punya bekal hidup di dunia, sekalipun saya terus membatini, menekan hasrat-hasrat saya untuk menjadi kufur. Saya masih beriman insya Allah.

Bukankah yang seperti ini yang mereka anggap permainan Tuhan, saya lelah menganggap diri saya lebay, saya lebih tepatnya akan menganggap Tuhan yang lebay, atau makhluk yang saya sebut ibu di seluruh waktu saya adlah yang paling lebay yang pernah ada.
Awalnya saya hanya letih menatap senja, dia begitu indah lalu meninggalkan saya begitu saja. Tapi, mengapa harus ada jejak-jejak yang tertinggal? Malam, dan langit bentuknya tetap sama, mengapa sang senja tidak merubahnya, dengan bentuk yang sekaligus absurd mungkin.. sehingga saya tak lagi sempat mengingat bahwa ia telah meninggalkan saya. Hati saya benar-benar tersayat tatkala mendengar kata memori, dan ingat kalian sudah pergi. Saya sama siapa?

Bulir-bulirnya menyentuh kulit saya dan mengingatkan bahwa jangan coba berani mencintai seseorang sebelum meyakini diri sendiri bahwa sudah berani kehilangan seseorang tersebut.

Selanjutnya, saya ingin merangkai kata membentuk kalimat tanya, yang saya fikir orang yang membaca akan membela saya seutuhnya dan menjawab its okay baby, your mother just too much..

Wajar kan seandainya saya membutuhkan teman? Pulang bimbel, terus rapat panitia bts, setelah itu lari ke citywalk lihat pameran buku, dan berkeliling mutiara cari jajanan kecil, dan pulang ke rumah ayu.. sekedar bersua dengan ranjangnya, tertawa lantas menangis, dan akhirnya hujan menghalangi saya pulang, ayah saya menyindir untuk menginap, dan pada akhirnya saya tetap pulang –sebelum azan isya!- dan ditanya menghisap rokok apa dan saya tetap dihina. Saya ngga terima.
Menikmati shower, dengan vertigo, dan sesak di ulu hati. Kepala memikul beban yang harusnya ini beban sang jantung hati. Its called stress. Alhamdulillah

Bulir-bulirnya menyentuh kulit saya dan mengingatkan bahwa semua pesakitanmu, adalah hasil karyamu sendiri. Merubah moodmu, melepas kontrolnya, dan sedikit campur tangan Tuhan, nan mengenai takdir. kun fa ya kun.

Tuhan, kapan ya saya jadi normal?

Kamis, 07 Januari 2010

bing bang

Halo!
Ini masalah kebimbangan saya kembali. Ini tentang mimpi dan sesuatu yang tidak akan pernah pasti.
Saya mengambil PMDK untuknya.
Di daerah.
Di kampung saya.

Saya suka sama suasana yang baru, masalahnya layaknya nama saya.. saya akan menjadi selalu bimbang. Ganju, terayun.. mengambang bak banyu ning kali. Terbawa sana-sini.

Saya mencoba meyakini. Dapat ilmu dan gampang cari kerja sana-sini. Jadi perempuan yang lebih manusiawi, dan juga ngga ketinggalan hal-hal yang trendin di Jakarta ini.


Jadi saya berharap tentang doa-doa, tempat kost yang nyaman, sebuah shopping mall, dan tidak ada lagi sedikitpun doktrin, lagi. 

Jumat, 01 Januari 2010

my delight new year eve

Mata Berdebu - Sore
Jum’at, 1 Januari 2010
03.03

Selamat pagi. Nafsu saya mengiring saya sampai di sini, menanti azan subuh pertama di pelupuk 2010.

Dengan nafas yang terburu hilang, mata dan bibir yang terlanjur kelu. Dan luka juga kecewa mengalir dalam darah saya. Terlalu sesak, dan membuat saya mual.
Waktu saya lihat bulan, saya mencari hanya empat bintang di sekitarnya. Nggak mau lebih. Artinya lambang kalian.

Waktu saya liat bulan, saya menangis meratapi sejarah kelam kita tentang new year eve kita sebelumnya. Tentang mimpi-mimpi kita, lalu ke pada botol harapan yang Anggin sudah beli.

Waktu saya lihat bulan saya melaju, menatapi kalian. Mimpi. Kisah. Dan tetap sejarah.

Saya nggak buat harapan konyol layaknya setahun yang lalu, saya nggak jadi ceritain ke kalian rahasia yang saya simpan setahun dan semalam ini, dan saya gagal mendengar milik kalian. Lagi, saya gagal memeluk kalian. Padahal sudah tiga tahun, melakukan hal yang sama, tragedi Irma kalah sama insiden barusan.

Saya nggak kecewa sama Tuhan. Saya nggak mau jadi komunis. Setelah saya fikir-fikir, saya hanya kecewa sama mimpi-mimpi saya, saya terlalu larut kepadanya. Dan sebegitunya saya, karena mereka cinta pertama saya di SMA.

Saya nggak suka perubahan yang ini. Saya nggak cemburu. Saya bukan nggak suka gimana-gimana.

“..hari ini kita kumpul ya di rumahku.. jam lima sore.. terus kita ke plangi.. cari kopi.. atau tempat shisa rasa anggur.. terus kita ke swalayan.. kita jajan ini..itu.. ini.. nanti patungan yah.. selanjutnya, pulang yuk sudah mau jam sebelas.. nanti seafoodnya dingin lagi kaya tahun lalu dan mamanya Sagni sudah lama menunggu..
Kita makan sepuasnya ya.. jangan ada yang cemberut ya.. nanti di foto-foto.. lalu ada kembang api.. kita pegangan tangan lagi ya.. berdoa sama Yang Kuasa, bilang kita minta apa.. dan angin malam mengusung ke kamar.. menulis.. dan bermimpi.. menuntut rahasia yang ada, sejenak menghina embah atau menggoda Lemma dengan penggemar 94uL-nya.. karena aku boleh nginep.. kita pajamas party ya.. shalat subuh.. baru kita tidur yaa”


Byarr!,


Saya lelah bermimpi, membuat harapan yang terlalu memasungi..tapi nggak bisa lagi dihampiri.. bukan jadi pesimis. Saya tetap optimis, meski nggak ada lagi Pience di malam tahun baru. Kuncinya bersyukur.
Saya berdoa semoga harapan mereka tercapai, amin. Cengeng!