Berjalan itu membukakan pintu hatimu lebih jauh lagi. Berjalan menjadikanmu melihat teriknya siang, membaca gelapnya saluran jalanan, dan peluh orang-orang yg menatapmu lekat-lekat di seberang sana.
Berjalan mengantarkanmu kepada sebuah perjalanan mengenai perasaan dan.. pelan-pelan kau akan mencapainya. Dengan peluh dan senyuman, dengan peluh dan ratapan, dengan peluh dan dentuman hatimu yg merobek segala aliran pikiran-pikiran baikmu.
Berjalan mengantarkanmu kepada masa depan yg sedang kau jalani. Membiaskan senyum ibumu tatkala engkau masih kecil, meringil, dan menyusu erat-erat. Menerbitkan wajah ayahmu yg membopong tubuhmu di kepalanya untuk melihat gajah di Ragunan. Adikmu dan buah hatinya kelak. Atau bayangan mengenai dengan siapa hidupmu kelak.
Engkau akan tahu, betapa sebuah jalan tidak ada ujungnya sekalipun bertandakan gang buntu. Kamu akan menerobosnya hingga tidak lagi ada urutan mengenai apa dan bagaimana selanjutnya yg memenuhi otakmu dengan sia-sia.
Sudah seharusnya kamu tetap berjalan. Tetap melihat di depan sana. Tidak lagi melihat ada siapa di belakangmu terus-menerus, hingga kau tersandung kerikil bongkahan meteor malam jingga itu. Hingga kau jatuh terperosok ke dalam sungai dengan dasarnya batu tajam setajam hatimu nan lesu dan beradu. Hingga kau menangis, terus menangis dan mengubur dirimu sendiri dengan duka yg sengaja kau buat.
Di jalan-jalan, belum ada yg menghampirimu. Di jalan hutan, semuanya tertawa akan rasa sakitmu, di pantai.. semua sibuk menatap laut yg tak kunjung tenang.
Berjalan ketika Matari tidak semerbak, menjadikanmu sedikit bijak. Menjadikanmu lelah dengan penantian yg tak kunjug padam dan bertemu yg dinantikan.
Jumat, 20 Mei 2011
Rumah Masa Depan
Suatu hari aku akan menemukan rumah terindah, rumah yg abadi setelah keluargaku. Rumah yg enggan melepasku ketika aku bangun pagi. Yang selalu mengecup mataku terang-terang sebelum aku terlelap, yang mencintai anak-anakku. Dan memelukku sampai ajal akhirnya benar-benat melepas kita berdua.
Rumah Terindah..
Suatu hari kita akan bangun dan benar-benar melihat apa yg ada di sekeliling kita. Apakah semuanya masih mungkin baik-baik saja ketika kita sudah sadar bahwa semuanya perlahan benar-benar lenyap, hilang, dan kemudian kita akan sendiri menatap cermin.. menyatakan bahwa kita tidak pernah menjadi lebih bodoh dari hari ini.
Semuanya akan hilang, jadi tidak seharusnya kita takut. Tidak seharusnya kita selamanya menangis. Tapi yang namanya bertahan memerlukan tangis pilu dari hati yang berada dalam penantian yg payau dan tak kunjung bertemu.
Tidak ada satupun di dunia ini yg begitu tepat menyempurnakan hidup. Selalu ada salah yang merinai di sekitarnya. Karena itulah kita hidup, kita mengenal Tuhan, kita bersyukur. Lebih bersyukur ketika kau dapatkan hela nafas itu kembali, sebagai pacuan hidupmu, dan kemudian menetapkan hatimu tidak ada lagi rumah terindah selain hatinya.
Masalah selalu menarik kita ke dalam rasa lelah, rasa ketidak sanggupan, dan segala hal buruk yg menjadikan kita semakin buruk. Tidak lagi ketika aku berada di hatimu.
Semuanya akan hilang, jadi tidak seharusnya kita takut. Tidak seharusnya kita selamanya menangis. Tapi yang namanya bertahan memerlukan tangis pilu dari hati yang berada dalam penantian yg payau dan tak kunjung bertemu.
Tidak ada satupun di dunia ini yg begitu tepat menyempurnakan hidup. Selalu ada salah yang merinai di sekitarnya. Karena itulah kita hidup, kita mengenal Tuhan, kita bersyukur. Lebih bersyukur ketika kau dapatkan hela nafas itu kembali, sebagai pacuan hidupmu, dan kemudian menetapkan hatimu tidak ada lagi rumah terindah selain hatinya.
Masalah selalu menarik kita ke dalam rasa lelah, rasa ketidak sanggupan, dan segala hal buruk yg menjadikan kita semakin buruk. Tidak lagi ketika aku berada di hatimu.
Kamis, 19 Mei 2011
Kalau.. Kalau..
Kalau kita tidak akan bersama, jangan sedikitpun bilang akan bersama, karena ketika ada bayangan akan bersama sudah seharusnya kita tetap bersama. Bukan mengenai kemampuan, aku, dia, kamu, mereka dan yg lainnya mengenai perjanjian ini, tapi mengenai penantian yg kau buang di hadapanku riang-riang. Jadi aku akan diam seperti karang di pinggiran Drini kemarin yang begitu kuat dihampar air-air samudera selatan. Aku akan diam menilik wajah dan perangaimu sekarang yg menghadapiku. Bukankah sejak dulu aku seperti ini.
Aku egois dan picik. Lantas adakah selain itu alasan kamu untuk tetap jatuh cinta, heh?
Semuanya bukan lagi mengenai hanya aku atau kamu, tapi mengenai kita yg berjalan terus menuju segala ego. Aku selalu ingin menjadi prioritas seperti yg pernah dikatakan seseorang yg tetap akan memprioritaskan aku sebelum teman-temannya. Aku adalah orang yg paling buruk yg mencintaimu.
Aku egois dan picik. Lantas adakah selain itu alasan kamu untuk tetap jatuh cinta, heh?
Semuanya bukan lagi mengenai hanya aku atau kamu, tapi mengenai kita yg berjalan terus menuju segala ego. Aku selalu ingin menjadi prioritas seperti yg pernah dikatakan seseorang yg tetap akan memprioritaskan aku sebelum teman-temannya. Aku adalah orang yg paling buruk yg mencintaimu.
Twntysmthngandlove :8
Mengenai salah seorang sahabat saya, wanita 21 tahun yg kemarin tiba-tiba kehilangan moodnya dengan sangat buruk. Wah akhirnya saya tau percintaan usia 21 tahun yg masih abu-abu. Setau saya rata-rata orang dewasa tidak banyak memilih mengenai cinta dan pilihannya. Mereka memilih yang ada kemudian mempertahankannya sampi nanti kelak menikah, dan di usia dewasa banyaknya sudah semuanya menyibukkan diri untuk memantapkan hatinya. Tapi bagi wanita yg ingin saya ceritakan kali ini rasanya akan jauh kecewa sama bayangan mengenai kedewasaan di pucuk ‘twenty-something’.
Dulu, saya ngga percaya mbak yg satu itu sudah kepala dua. Tampilan dan komposisinya kaya anak 19 taun aja. Sampai akhirnya hidup saya seakan-akan jodoh sama dia dan makhluk swadana satu lainnya, lalu tambah lagi dua makhluk idiot lainnya yg melengkapi hidup saya.
Waktu di pantai, jujurnya saya ngerasain juga morning-shock-teraphy itu. Bayangin gimana rasanya, baru dipikirin dan bangsatnya tiba-tiba ada di sana. Kalo saya jadi si mbak 21 saya bakal langsung nanjak tebing dan rela di telan ombak laut selatan yang ganas. Atau nangis sampai mata saya berdarah bergelinang di pantai dan sampe di kakinya laki-laki itu yg sedang berkencan dengan pacarnya di tepi pantai berjarak hanya sekian meter dari saya yg mengharapkannya dan sempat menjadi harapannya.
Saya sekarang betapa ngerti, yang namanya kesetiaan itu ngga bisa dilihat dari tampilan. Hati selalu menjadi masalah bagi setiap manusia. Masalah waktu khususnya masa lalu akan menjadi boomerang bagi tiap langkah kita menjalani kehidupan. Saya begitu kagum sama kesetiaan hati orang-orang dewasa di sekitar saya, sekalipun emang terlihatnya tidak terikat kepada siapapun atau bahkan cenderung menjadi begitu flamboyan, tapi kukuh hatinya tetep ya bok!! ke sana aja terus. Saya sekaligus kagum dan kaget betapa mbak yg saya ceritakan ini begitu bisa menutupi kekurangan perasaannya a.k.a galaunya doi dari semua yg berbau publisitas, luar,bahkan orang-orang yang seboboan dan selaperan sama dia hampirrr setahun lamanya.
Mbak 21 tetep ngga bisa menjadi apatis melihat laki-laki itu. Rasanya pasti beku. Saya tau bener kok. Saya juga pernah punya ‘Ridho Rhoma’, kulitnya kaya puteri salju, perutnya buncit, badannya kaya truk Hino, rambutnya kriwel, bibirnya penuh, pipinya chubby, brewoknya kemana-mana. Sampai si Ridho Rhoma saya diembay sama sahabat terdekat saya. Weldut, kita memiliki kisah sedih yg sama mengenai ridho rhoma.
Dan yg namanya kekukuhan hati itu tidak selamanya baik. Suatu hari kita harus sadar dan benar-benar membuka hati, atau bahkan pergi jauh dari sana untuk mendapatkan hal yg lebih baik untuk melengkapi diri kita. Kekukuhan hati itu tidak lagi baik selama hanya kita yg terus berjuang. Kekukuhan hati akan tidak baik kalau selama ini kita trus mensugestikan bahwa hanya dia yg bisa meluluhkan semuanya.
Saya belajar banyak, pantai mengajarkan saya banyak, laut memberikan saya hidup lebih banyak. Purnama waktu itu memberikan pandangan seluas laut yg membentang sepanjang-panjangnya dunia. Saya akan menjadi kukuh lalu selanjutnya tidak lagi bila hanya saya yg harus lagi berjuang. Mengenai apapun.. semangat mbak 21!
Dulu, saya ngga percaya mbak yg satu itu sudah kepala dua. Tampilan dan komposisinya kaya anak 19 taun aja. Sampai akhirnya hidup saya seakan-akan jodoh sama dia dan makhluk swadana satu lainnya, lalu tambah lagi dua makhluk idiot lainnya yg melengkapi hidup saya.
Waktu di pantai, jujurnya saya ngerasain juga morning-shock-teraphy itu. Bayangin gimana rasanya, baru dipikirin dan bangsatnya tiba-tiba ada di sana. Kalo saya jadi si mbak 21 saya bakal langsung nanjak tebing dan rela di telan ombak laut selatan yang ganas. Atau nangis sampai mata saya berdarah bergelinang di pantai dan sampe di kakinya laki-laki itu yg sedang berkencan dengan pacarnya di tepi pantai berjarak hanya sekian meter dari saya yg mengharapkannya dan sempat menjadi harapannya.
Saya sekarang betapa ngerti, yang namanya kesetiaan itu ngga bisa dilihat dari tampilan. Hati selalu menjadi masalah bagi setiap manusia. Masalah waktu khususnya masa lalu akan menjadi boomerang bagi tiap langkah kita menjalani kehidupan. Saya begitu kagum sama kesetiaan hati orang-orang dewasa di sekitar saya, sekalipun emang terlihatnya tidak terikat kepada siapapun atau bahkan cenderung menjadi begitu flamboyan, tapi kukuh hatinya tetep ya bok!! ke sana aja terus. Saya sekaligus kagum dan kaget betapa mbak yg saya ceritakan ini begitu bisa menutupi kekurangan perasaannya a.k.a galaunya doi dari semua yg berbau publisitas, luar,bahkan orang-orang yang seboboan dan selaperan sama dia hampirrr setahun lamanya.
Mbak 21 tetep ngga bisa menjadi apatis melihat laki-laki itu. Rasanya pasti beku. Saya tau bener kok. Saya juga pernah punya ‘Ridho Rhoma’, kulitnya kaya puteri salju, perutnya buncit, badannya kaya truk Hino, rambutnya kriwel, bibirnya penuh, pipinya chubby, brewoknya kemana-mana. Sampai si Ridho Rhoma saya diembay sama sahabat terdekat saya. Weldut, kita memiliki kisah sedih yg sama mengenai ridho rhoma.
Dan yg namanya kekukuhan hati itu tidak selamanya baik. Suatu hari kita harus sadar dan benar-benar membuka hati, atau bahkan pergi jauh dari sana untuk mendapatkan hal yg lebih baik untuk melengkapi diri kita. Kekukuhan hati itu tidak lagi baik selama hanya kita yg terus berjuang. Kekukuhan hati akan tidak baik kalau selama ini kita trus mensugestikan bahwa hanya dia yg bisa meluluhkan semuanya.
Saya belajar banyak, pantai mengajarkan saya banyak, laut memberikan saya hidup lebih banyak. Purnama waktu itu memberikan pandangan seluas laut yg membentang sepanjang-panjangnya dunia. Saya akan menjadi kukuh lalu selanjutnya tidak lagi bila hanya saya yg harus lagi berjuang. Mengenai apapun.. semangat mbak 21!
Rabu, 04 Mei 2011
Gnomeo and Juliet, last April

Saya mencintai London, sejak saya kelas tiga sd. Sejak saya tau dengan lebih rinci mengenai negara dingin tersebut. Ada banyak hal yang membuat saya begitu jatuh cinta kepadanya. Negara yang memiliki kelas dan gaya bicara asing yang indah. Termasuk film yg baru saja saya lihat. Gnomeo and Juliet.
Sebenarnya saya ngga begitu ngerti kenapa tiba-tiba saya jadi jatuh cinta sama film animasi. Saya mencintai semua jenis film yg berkarakter baik. Tapi bagii saya animasi puya nilai lebih untuk mengisi sabtu minggu pagi yang tanpa beban. Animasi dewasa ini mengajarkan saya lebih memabaca film dengan teliti melalui gaya kartun yang menggemaskan. Sebenernya ngga lucu, tapi bisa ketawa aja. Bahkan animasi sekarang lebih menampilkan satu hal yang berbeda.. ya zaman dulu animasi cuma sekedar pamer gambar bagus dan cerita kocak, tapi sekarang idealisme bisa muncul di animasi-animasi. Terutama mungkin ya emang sebagai misionaris satu hal tertentu ya yang dibuat sama pihak-pihak khusus. Contohnya pengajaran-pengajaran agama yang dibuat mudah melalui film animasi baik pendek maupun panjang.
Dalam Gnomeo and Juliet, saya melihat satu hal lain dalam romansa tuan Elton John di dalamnya. Ost. Filmnya dari doi semua, soalnya. Satu kehidupan lain yang ngga pernah kita sangka, mungkin-ngga-mungkin itu teerjadi, kalo di kebun ada kehidupan selain serangga-serangga dan bunga, yaitu patung-patung kurcaci.
Tau Romeo and Juliet kan? cinta, kutukan, sama perbedaan. Hal-hal yg ngga pernah diharapkan siapapun. Karena pada dasarnya manusia ngga mau dianggap buruk. Mereka selalu berharap cukup kepada yg normal.
Padahal buat mencapai satu hal yang begitu terlihat baik, kita ngga akan lepas sama hal-hal yang berkaitan dengan jalan yg berbeda. Untuk mendapatkan satu hal yg lebih kita harus menjalankan cara yg lebih. Cara yang berbeda dengan yg biasa.
Cinta itu pada dasarnya memang beda. Kita disatukan karena kita berbeda, naluri kita selalu bertanya mengenai apa yang ada padanya dan yang kurang sama kita. Karena itu kemudian kita saling melengkapi satu sama lain. Yang salah, terkadang ngga semua orang di sekitar kita punya pikiran seperti itu. Gnomeo&Juliet mengajarkan saya untuk melakukan hal yg lebih untuk mencapai cintanya.
Saya sih bukn orang yang nekat, tapi saya selalu setuju perbedaan bukan satu hal yg bisa menghalangi apapun saat ini. Pluralisme. Liberalisme. Bahkan menjadi apatis sekalipun adalah hak siapapun. Setiap orang bisa aja hal itu.
Film animasi menye-menye gini, ngajarin saya banyak hal. Si flaminggo plastik pink, yang diciptakan satu dan sama persis dengan pasangannya bisa aja kepisah dan hancur lebur hatinya (tsaaah), jauh beda sama Gnomeo&Juliet yang dipertemukan atas perbedaan.
Demikian semiotik indah saya di sabtu pagi ini. gonna post it soon. Hope it’ll inspire you to watch some goon animation movies. Love
Absurditas
Ada satu hal mengenai hidup. Absurditas.
Dalam sebuah pementasan, saya membuat, berproses, dan memerankannya absurditas itu. Saya mengenalnya melalui realitas yang melintas di depan mata saya selama ini. saya pikir sesuatu yg jarang dibicarakan, adalah satu hal yg sulit untuk kembali ditemukan. Nyatanya, satu hal yang tidak terlihat mungkin saja begitu dekat dengan kita.
Absurditas adalah mengenai hal-hal abstrak yang tidak bisa kita visualisasikan melalui pembicaraan satu jam saja, saya mengenal pintu absurditas membutuhkan sekiranya 100 hari. Dan menampilkannya bersama orang-orang yg saya cintai dalam sebuah pentas. Dan menjadikan cinta.
Suatu hari ada yg menghubungi saya karena sebuah drama. Bicara mengenai langit, dan membuatkan puisi mengenai jendela. Ada yang menyemangati saya mengenai detik-detik kelulusan sekolah menengah, makhluk absurd.
Dia datang dan memanggil saya di tengah hutan jati dengan rindu yang menggebu. Dan saya membalas pesan-pesannya di pasar-pasar dengan Ibu-ibu yang bertelanjang kaki. Dia membacakan saya buku-buku sastra dan cita-citanya menjadi seorang penyair yan melihat wanitanya di panggung. Dia menjadikan sementara dunia berpihak kepadanya. Dan saya tidak lagi tenang membaca puisinya. Saya takut kehilangan puisi-puisinya karena jarak-jarak hati yang tidak begitu dekat. Jadi saya meminta seseorang itu untuk pergi, sebaiknya meninggalkan kenyataan yang hampir terbangun dari makhluk-makhluk seperti kita akan jauh lebih baik.
Jadi, saya tinggalkan hati yang sudah beku dan tidak lagi biru. Saya temui sebuah hal yang jauh dengan pikiran absurd. Saya temui kenyataan. Sekalipun tidak seindah mimpi-mimpi abstrak yg telah lalu. Meskipun banyak bait yg menuntun saya kembali.
Saya menjalani sepenuh hati, kemudian menutup masa-masa aneh. Saya berjalan dengan pikiran yang baik mengenai masa sekarang. Saya tidak akan mengungkit masa lalu, sejak saya menjadi milik laki-laki itu. Saya tidak berpikir bagaimana menyimak masa depan yang harusnya tidak pantas saya tekan dari sekarang. Misteri akan tetap misteri selama kita berkeyakinan bahwa Tuhan masih ada. Dan saya menghargai.
Biar kelak ketika saya baca ini, saya akan mengerti bagaimana mengenang satu hal dan selanjutnya dengan besar hati menutupnya dan tidak mengusik masa yg aka datang selanjutnya. bagaimana masa lalu terbaca, indah, tidak begitu disesali, dan menjadi pengalaman baik untuk hidup selanjutnya. Terima kasih, Jendela.
Dalam sebuah pementasan, saya membuat, berproses, dan memerankannya absurditas itu. Saya mengenalnya melalui realitas yang melintas di depan mata saya selama ini. saya pikir sesuatu yg jarang dibicarakan, adalah satu hal yg sulit untuk kembali ditemukan. Nyatanya, satu hal yang tidak terlihat mungkin saja begitu dekat dengan kita.
Absurditas adalah mengenai hal-hal abstrak yang tidak bisa kita visualisasikan melalui pembicaraan satu jam saja, saya mengenal pintu absurditas membutuhkan sekiranya 100 hari. Dan menampilkannya bersama orang-orang yg saya cintai dalam sebuah pentas. Dan menjadikan cinta.
Suatu hari ada yg menghubungi saya karena sebuah drama. Bicara mengenai langit, dan membuatkan puisi mengenai jendela. Ada yang menyemangati saya mengenai detik-detik kelulusan sekolah menengah, makhluk absurd.
Dia datang dan memanggil saya di tengah hutan jati dengan rindu yang menggebu. Dan saya membalas pesan-pesannya di pasar-pasar dengan Ibu-ibu yang bertelanjang kaki. Dia membacakan saya buku-buku sastra dan cita-citanya menjadi seorang penyair yan melihat wanitanya di panggung. Dia menjadikan sementara dunia berpihak kepadanya. Dan saya tidak lagi tenang membaca puisinya. Saya takut kehilangan puisi-puisinya karena jarak-jarak hati yang tidak begitu dekat. Jadi saya meminta seseorang itu untuk pergi, sebaiknya meninggalkan kenyataan yang hampir terbangun dari makhluk-makhluk seperti kita akan jauh lebih baik.
Jadi, saya tinggalkan hati yang sudah beku dan tidak lagi biru. Saya temui sebuah hal yang jauh dengan pikiran absurd. Saya temui kenyataan. Sekalipun tidak seindah mimpi-mimpi abstrak yg telah lalu. Meskipun banyak bait yg menuntun saya kembali.
Saya menjalani sepenuh hati, kemudian menutup masa-masa aneh. Saya berjalan dengan pikiran yang baik mengenai masa sekarang. Saya tidak akan mengungkit masa lalu, sejak saya menjadi milik laki-laki itu. Saya tidak berpikir bagaimana menyimak masa depan yang harusnya tidak pantas saya tekan dari sekarang. Misteri akan tetap misteri selama kita berkeyakinan bahwa Tuhan masih ada. Dan saya menghargai.
Biar kelak ketika saya baca ini, saya akan mengerti bagaimana mengenang satu hal dan selanjutnya dengan besar hati menutupnya dan tidak mengusik masa yg aka datang selanjutnya. bagaimana masa lalu terbaca, indah, tidak begitu disesali, dan menjadi pengalaman baik untuk hidup selanjutnya. Terima kasih, Jendela.
Beda, Jauh Berbeda, eh?
Bayangan dan kenyataan itu ternyata jaraknya dekat sekali. Saya selalu membayangkan hal-hal yang bahkan seharusnya ngga terbayangkan, tapi justru pada akhirnya menjadi kenyataan. Dan rasanya setiap kenyataan itu tidak lebih baik dari bayangan. Sekalipun bentuknya imaji, menjadi bayangan yang dalam arti tidak terwujud, jauh lebih aman ketimbang kita menyentuh yang namanya kenyataan dan selanjutnya justru membelit kita dengan untaian hasil bayangan yang selama ini kita ciptakan. Sudahlah terima saja kalau kita hanyalah makhluk pencipta bayangan dan terlibat di dalamnya.
Tapi ini adalah sebuah kehidupan yang Tuhan limpahkan, dengan bayangan kita hanya menjadi makhluk yang mengais mimpi di liang-liang dasar laut. Tidak ada yang berhasil menemukan apa-apa di dalam sana. Bagi kebanyakan manusia lain. Tapi kita makhluk bayangan, kita nggak aan pernah tau bahkan bahwa di dasar laut sana ada secercah kebahagiaan, entah bertemu Surga dan Tuhannya, atau kebahagiaan realita yang dicari kebanyakan manusia tersebut, menyebut mutiara-mutiara yang diburu manusia-manusia lainnya. Kita belum mencoba.
Dan seringnya merasa bayangan tersebut selalu menjadi sesuatu yang terencana, berbeda ketika kita membaca realita. Realita terjadi tiba-tiba. Ketika kita memutuskan sesuatu tanpa melihat yang lain, sepintas, dan melintas.. kemudian keputusan itu menjadi frontal, tidak biasa, kelu, aneh, abnormal. Jauh berbeda dengan yang dianggap kebanyakan dengan realita bukan. Kenyataan itu yang sudah dianggap etis, tradisi, normal, biasa, dan terus berjalan. Kita mengambil keputusan dengan tiba-tiba dan akhirnya sadar keputusan tersebut adalah sesuatu yang dulu lekat kita bayangkan dan kita mustahilkan adanya. Manusia naif.
Manusia, bisakah menahan melakukan apa yang dianggap sebuah bayangan saja tidak dapat menjadikanmu apa-apa? Kita semua terjadi begitu saja. Baik bayangan maupun kenyataan.
Mulai kali ini saya tidak akan mengabaikan kemudian me-mustahilkan bayangan tersebut dalam kehidupan saya. Saya memilih kenyataan dan bayangan sekaligus. Mereka benar-benar memberi pengaruh dalam dunia kegalauan saya. Sumpah, saya udah eneg banget sama yang namanya galau. Asau!
Tapi ini adalah sebuah kehidupan yang Tuhan limpahkan, dengan bayangan kita hanya menjadi makhluk yang mengais mimpi di liang-liang dasar laut. Tidak ada yang berhasil menemukan apa-apa di dalam sana. Bagi kebanyakan manusia lain. Tapi kita makhluk bayangan, kita nggak aan pernah tau bahkan bahwa di dasar laut sana ada secercah kebahagiaan, entah bertemu Surga dan Tuhannya, atau kebahagiaan realita yang dicari kebanyakan manusia tersebut, menyebut mutiara-mutiara yang diburu manusia-manusia lainnya. Kita belum mencoba.
Dan seringnya merasa bayangan tersebut selalu menjadi sesuatu yang terencana, berbeda ketika kita membaca realita. Realita terjadi tiba-tiba. Ketika kita memutuskan sesuatu tanpa melihat yang lain, sepintas, dan melintas.. kemudian keputusan itu menjadi frontal, tidak biasa, kelu, aneh, abnormal. Jauh berbeda dengan yang dianggap kebanyakan dengan realita bukan. Kenyataan itu yang sudah dianggap etis, tradisi, normal, biasa, dan terus berjalan. Kita mengambil keputusan dengan tiba-tiba dan akhirnya sadar keputusan tersebut adalah sesuatu yang dulu lekat kita bayangkan dan kita mustahilkan adanya. Manusia naif.
Manusia, bisakah menahan melakukan apa yang dianggap sebuah bayangan saja tidak dapat menjadikanmu apa-apa? Kita semua terjadi begitu saja. Baik bayangan maupun kenyataan.
Mulai kali ini saya tidak akan mengabaikan kemudian me-mustahilkan bayangan tersebut dalam kehidupan saya. Saya memilih kenyataan dan bayangan sekaligus. Mereka benar-benar memberi pengaruh dalam dunia kegalauan saya. Sumpah, saya udah eneg banget sama yang namanya galau. Asau!
Langganan:
Postingan (Atom)